“Mata yang Enak Dipandang” Ahmad Tohari

DSC_0387_thumb[1]

“Bagaimana aku bisa mengenali mata orang-orang yang suka memberi?”
“Mata orang yang suka memberi memang beda.”
“Seperti apa bedanya?”
“Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.”

Begitu kutipan dialog versi saya membaca “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari. Membaca cerpen ini saya merasa ada kedekatan tertentu antara kami. :p ๐Ÿ˜€

Kedekatan pertama, kalau ditanya ada bagian-bagian di muka saya yang paling saya sukai, maka salah satunya adalah mata. Sejak bisa membedakan mana mata mana mulut mana hidung, saya mengakui saya suka mata saya. Saya pun suka sekali melihat mata orang-orang yang menurut saya bagus.

Di antara tetangga-tetangga di kampung saya, ada satu keluarga yang mata anak-anak mereka sangat bagus. Antara mereka dan sesama sepupu mereka. Mungkin itu dari keturunan sang nenek atau ba’i. Mata mereka bulat seperti bola pimpong, dianugerahi bulu mata yang panjang tebal dan melengkung ke atas. Bila dipandang lebih jauh ke dalam, bola mata mereka seperti bersinar dan ada layar bergambar sehingga bisa dianggap sebagai tivi yang siap ditonton.

Sewaktu kecil pula, entah umur berapa, ketika membaca koran yang dibeli bapak saya, ada berita tentang mata seorang artis yang katanya akan ditawarkan beberapa miliar kalau dia mati. Seperti yang dikatakan di koran itu, sang artis memiliki mata sangat bagus. Karena penasaran saya sampai memelototi gambar itu beberapa lama karena ingin tahu sebagus apa matanya, tapi tidak ketemu-ketemu juga bagian apa dari matanya yang bagus. Artis itu adalah artis india Aishwarya Rai.

Selain AishwaryaRay, ada pula artis atau aktor lain di Indonesia yang saya suka bahkan mengidolakannya ‘tu mati punya’ gara-gara melihat matanya di tv dan koran ditambah pula kesukaannya akan peran-peran yang berkaitan dengan buku terutama sastra. Siapa lagi kalau bukan the one and only, Nicholas Saputra? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Dalam buku ini pula, pada cerpen pertama, melalui kisah seorang pengemis tua yang buta dan penuntunnya, Ahmad Tohari menggambarkan orang yang suka memberi memiliki mata yang enak dipandang. Mungkin menurutnya, mata orang-orang baik hati memiliki pancaran tersendiri sehingga bisa keluar kesimpulan dari orang-orang cilik tersebut.

Kedekatan kedua, kalimat pembuka cerpen, ‘Di bawah matahari pukul satu siang, Mirta berdiri di seberang jalan depan stasiun’ menjadi gambaran yang manis dan terasa begitu akrab apalagi bagi saya orang Kupang di bawah langit Kupang. Saya merasa seolah sayalah yang tengah berdiri di bawah matahari pukul satu siang itu. Tak dikatakan di sini musim hujan atau kemarau, tapi kira-kira sudah terbayangkanlah bagaimana rasa panasnya bila bunyi kalimatnya seperti itu.

Kedekatan yang ketiga terlihat dalam dialog antara Mirta dan Tarsa, sang penuntun. Membaca kedunguan dan kepolosan dan kecemasan Tarsa, sebagaimana tokoh Rasus dkk dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang mengencingi tanah sekitar batang singkong, tokoh bocah-tokoh yang ada dalam kepala saya seperti berlesatan keluar ingin menunjukan diri. Mereka ingin diakui bahwa mereka pun ada dan tak kalah berkesan dari Tarsa ataupun Rasus. Baiklah, semoga mereka segera mewujud. Biar puas dan lega mereka dan saya pun tak dibuat pusing tujuh keliling gara-gara kericuhan mereka.

Demikian hanya ‘Mata yang Enak Dipandang‘ dalam kumpulan cerpen ini ย yang saya ambil. Cerpen lainnya yang berjumlah 14 ini pun tak kalah menarik. Masing-masing menghadirkan keunikannya sendiri tanpa kehilangan ciri khas penulisnya, bertemakan kehidupan orang-orang kecil dengan latar kampung yang di desa ataupun kampung di tengah kota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s