Seorang Anak Bernama Thomas

Kau tahu nama saya tepatnya Anaci. Hanya oleh beberapa kawan, mereka biasa menyapa saya dengan sebutan khusus. Ada Ana, ada Aci, ada Naci, ada Anice, ada Nach, ada Cici. Semua sapaan itu bagi saya adalah cara ungkapan kasih mereka yang berbeda-beda untuk saya. Saya mengapresiasinya. Sebab sapaan-sapaan itu semuanya tentu ada hubungannya dengan nama asli saya, Anaci. Namun sore ini saya baru tiba-tiba ingat kalau sewaktu kecil saya pernah juga dipanggil dengan nama ‘Thomas’. Nama untuk anak laki-laki.

Nama itu sempat disematkan ke saya hampir beberapa tahun lamanya. Mereka yang memanggil saya dengan sebutan Thomas nyaris teman-teman sekampung saya yang laki-laki. Di mana saja dan dalam keadaan apa saja entah itu formal ataupun tidak, pasti setiap kali berpapasan, dari mulut mereka dengan spontan saja terlontar, “Thomas, apa kabar?” Atau “Hai, Thomas, dari mana?” atau “Eh, Thomas mau ke mana?”

Anehnya, saya mau saja menanggapi mereka dengan menjawab apa yang mereka tanyakan.
***

Nama itu tidak ada kaitannya dengan Thomas yang ada di Injil. Sebab saya bukan tipe orang yang melihat dulu baru percaya, justru sebaliknya terkadang refleks saya suka percaya-percaya saja omongan orang bahkan hanya candaan atau bualan yang dilontarkan orang. Tapi tentu ini bukan untuk kau tahu lantas kau manfaatkan segala situasi dan kesempatan untuk kau terus-terusan bercanda atau membual. Semudah-mudahnya saya mau percaya, saya punya juga detektor andal yang tak orang lain ketahui.

***

20160208_175533Tadi sudah sempat  saya bilang, saya baru mengingat kembali nama Thomas itu sore ini. Benar. Baru sore ini. Ketika di depan rumah, saya sedang memangkas ranting pohon mawar yang mengering sementara adik laki-laki bungsu saya berusaha menjangkau buah delima yang tergantung di pohonnya di dekat pagar, tiba-tiba lewat seorang anak laki-laki kecil yang teramat manis. Ia berjalan lebih dahulu di depan ibunya yang membawa dua ember pakaian sambil menoleh-noleh ke arah kami.

Anak itu sebenarnya sudah sering lewat bila hendak berbelanja di kios di dekat rumah. Sebab ia manis, dan saya suka matanya yang bulat berbinar-binar itu, adakalanya ia  saya isengi dan kalau ia sampai menampakkan ekspresi takut, baru ia saya senyumi dan dekati dan antar ia baik-baik agar terus lewat. Saya tak tahu itu anak siapa.

Sore tadi itulah bersama ibunya, mereka menegur dan berlalu. Saya menoleh kepada adik saya, bertanya siapa mereka.

“Itu istri Thomas dengan anaknya.”

“Anak dan istri Thomas, pantas manis,” saya hanya bergumam.

“Tentu. Bapaknya ganteng, mamanya tak kalah cantik,” adik saya menanggapi gumaman saya.

“Sewaktu SD-SMP, saya pernah dipanggil Thomas,” saya berujar di sela-sela memangkas ranting mawar kering.

Mendengar itu, adik saya yang sementara bersiap melompat menjangkau buah delima sontak berhenti. Ia menatap saya. “Kenapa dipanggil Thomas?”

***
Baiklah. Tentu kau sudah meraba-raba dari mana asal mula panggilan Thomas yang disematkan kepada saya. Kalau yang kau maksud adalah bapak dari sang bocah yang sering lewat di depan rumah itu, maka sudah jelas kau benar. Tapi, yang perlu kau ketahui, dengan orang yang bernama Thomas itu, sejak kami kecil hingga sekarang kami bahkan jarang berkomunikasi. Paling kalau berpapasan, kami hanya bertegur sapa dan lewat.

Padahal kami bertetangga dan daerah tempat tinggal saya ini termasuk dalam bilangan kampung. Bukan di kota yang bahkan bersebelahan petak pun tak saling mengenal. Rumah kami mungkin hanya berjarak tak sampai 300 meter. Melewati satu rumah ke arah selatan untuk ke perempatan. Kemudian dari perempatan, melewati dua rumah lagi ke arah barat maka itu adalah rumahnya. Bahkan dengan jarak sependek itu, anak-anaknya tak pernah saling bicara. Padahal dengan anak-anak lain, yang rumahnya berjauh-jauhan sampai berkilo-kilopun terasa dekat dan saling mengenal dekat satu sama lain.

***

Semuanya bermula dari ketika duduk di kelas 5, ada seorang anak laki-laki tetangga saya yang duduk di bangku SMP pertama-tama memanggil saya dengan sebutan Thomas. Saya heran dan bingung kenapa saya dipanggil demikian. Katanya kemudian, bukannya saya ini pacar Thomas. Saya berkerut kening karena perkataan itu. Siapa Thomas dan Thomas mana yang ia maksud? Ada banyak anak laki-laki bernama Thomas baik di kampung maupun di sekolah, SD atau SMP. Ia lantas meneruskan, Thomas, tetangga kami, yang masih duduk di kelas 4 itulah yang bercerita padanya bahwa dia pacar saya.

Tentu saya menyanggah. Apa-apan ini. Kami satu sekolah dan beda kelas. Tak ada apa-apa di antara kami. Apalagi harus ada istilah itu yang untuk kami anak-anak SD adalah semacam istilah tabu. Tapi, sang kakak SMP itu cuek saja dan ia terus memanggil saya dengan sebutan Thomas setiap kali berpapasan. Selanjutnya, sebab ulah kakak SMP itulah, panggilan itu semakin menyebar dan justru makin gencar. Anak laki-laki lain yang mendengar saya dipanggil Thomas, mereka pun ikut-ikutan memanggil demikian. Sementara itu, si pemilik nama asli tetap menjalani aktivitasnya sehari-hari. Ia tetap berperilaku sebagaimana adanya dia. Santai, tenang, sopan, dan ramah.

***

Cerita tentang asal mula saya dipanggil dengan nama Thomas sampai di sini. Akan tetapi saya seperti merasa terdorong menambahkan sedikit mengenai diri Thomas waktu itu. Terhadapnya saya tak pernah menaruh dendam karena entah benar entah tidak, dia pernah bercerita demikian kepada sang kakak SMP itu. Saya tidak marah. Sebab sebagaimana adanya, ia tetap memang anak yang sopan dan ramah.

Ia pun seorang yang selama saya kecil tak pernah mengganggu atau menggoda saya sebagaimana anak laki-laki lainnya.

Bahkan pernah suatu kali ketika saya di kelas 3 SMP, siang-siang sepulang sekolah, kami sementara dalam perjalanan pulang menuju rumah. Tiba-tiba di belakang kami, ada Thomas dan seorang anak baru. Anak baru itu adalah salah seorang cucu raja yang bersekolah di Kupang dan baru pindah ke sekolah yang sama dengannya di SMP Katolik. Ia  baru datang beberapa hari mengikuti ibunya menghuni kembali bekas sonaf  tepat di depan rumah kami. Anak baru itu mencoba mengganggu kami. Waktu itu, bersama dua orang teman perempuan, kami berjalan sambil mengobrol. Anak baru itu justru sengaja menyerobot ke tengah-tengah kami dan berjalan persis di samping saya. Dua kawan saya menghindar ke pinggir dan justru saya ditinggal jalan berdua. Thomas justru dari belakang memanggil namanya dan menegurnya. Katanya si anak baru itu terlalu lancang untuk seorang kakak kelas. Konon kemudian baru diketahui, anak baru itu bukan pindah karena mengikuti ibunya. Justru karena banyak pelanggaran ia lakukan sampai yang ekstrim adalah ia mengancam ataukah memukul guru sehingga dikeluarkan dari sekolah. Kedua orang tuanya memindahkannya ke kampung sekalian untuk merawat sonaf yang nyaris terbengkalai. Mengetahui latar belakang anak baru itu, baru dalam hati terbersit juga rasa salut saya pada anak bernama Thomas Hanya karena semenjak SD kami sudah tak pernah saling bicara maka itu saya pun mendiamkan saja.

william-shakespeare-name-quotes-wallpaper-10939

Sumber ilustrasi: www.baltana.com

Begitu saja kenangan tentang nama Thomas sewaktu SD-SMP (sewaktu SMA dst saya tak tahu lagi atau lupa saya di mana dia di mana intinya tak ada ingatan tentang itu). Menyudahi tulisan ini, saya hanya ingin terangkan kalau saya hanya iseng menuliskan pikiran saya dan ternyata bisa sepanjang ini. Tapi biarlah dalam blog ini ia dimasukan ke Merakayakan Keseharian sebagai salah satu ungkapan syukur kepada Sang Pemberi Hidup yang membuat keseharian saya kaya akan cerita… 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s