Refleksi Wawancara ‘Literasi Media’*

*[Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses (wikipedia)]

Rabu, 3 Agustus 2016, saya diwawancarai seseorang terkait literasi media di kalangan pelajar SMP. Topik ini berkaitan dengan studi doktoralnya. Orang tersebut sedang menjalani masa pendidikan di salah satu PTN di Bandung.

Saya tahu sekali saya bukan orang yang berkompeten di bagian ini. Saya seorang yang jarang menonton televisi. Selain di rumah tak ada televisi, saya juga tidak punya cukup waktu duduk berhadap-hadapan dengan benda itu. Hanya sesekali saya menonton kalau di akhir pekan saya berkunjung ke rumah om saya. Itupun lebih sering acara olahraga dan film di jam-jam yang agak larut. Demikian saya tidak begitu yakin menjadi narasumber yang baik. Saya nyaris bilang tidak siap ketika diberitahu kepsek.

Namun alasan yang ia kemukakan kalau sebelumnya ia sudah menghubungi KPID Prov NTT, dan dari situlah nama saya didapat. Mungkin karena saya salah satu peserta seminar “Literasi Media” yang diadakan KPID Prov NTT dua atau tiga tahun lalu. Jelas saya harus siap. Saya punya tanggung jawab untuk berbagi.

Sedikit yang saya ingat tentang materinya, kita harus selektif terhadap tayangan media khususnya televisi. Media televisi punya pengaruh yang besar kepada masyarakat. Sekarang, tak hanya anak-anak dan remaja yang dengan mudah dipengaruhi televisi, tapi bahkan juga orang dewasa. Begitu kuat pengaruhnya sampai-sampai tayangan yang tidak penting dan tak layak pun mesti disiarkan dalam waktu yang lama dan berulang-ulang. Seakan-akan kita mau saja dijejalkan dengan berbagai macam kebohongan. Kita seakan terbuai dan terhibur dengan tipuan-tipuan palsu yang terus diberondongkan di depan mata kita. Tak sampai di situ. Di dalam layanan iklan pun, tidak jarang ada eksploitasi-eksploitasi terselubung yang mengandung SARA juga gender. Saya ingat di seminar waktu itu juga ditayangkan salah satu contoh iklan parfum yang memang jelas sekali terbaca bentuk eksploitasinya.

Refleksi saya terkait wawancara tadi adalah kegiatan literasi media ini semestinya terus digaungkan. Harus ada banyak pihak yang perlu diajak bekerjasama dengan KPID. Sasasarannya pun jangan hanya kepada para pelajar tapi juga menjangkau kepada semua kalangan.Serta kalau di sekolah, terutama saya sebagai guru Bahasa Indonesia, peluang saya besar di dalam kelas untuk memperkenalkan anak-anak mengenai literasi media. Literasi media kini tidak hanya menyangkut televisi saja, melainkan juga internet.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s