‘Bocah Indigo’ dari Alexandria

20160806_160424

Judul     : Christ The Lord: Out of Egypt 
                  (Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir)
Penulis  : Anne Rice
Penerbit : GPU, Jakarta
Ukuran   : 392 hal, 20 cm
Tahun    : 2016

Dalam terjemahan Indonesia, buku ini adalah cetakannya yang kedua setelah sebelumnya pernah terbit di tahun 2006. Cetakan pertama dan kedua ini terentang waktu 10 tahun. Berkisah tentang tahun-tahun tersembunyi Yesus semasa kecil yang tidak dituliskan dalam Injil.

Pernah ada juga novel serupa tentang tahun-tahun yang hilang dalam kehidupan Yesus sebelum ia memulai masa pelayanan namun itu versi usia dewasanya. Novel itu berjudul Yesus, ditulis oleh Deepak Chopra.

Sementara tokoh Yesus dalam buku ini berusia antara 7-8 tahun. Kisahnya dibuka dengan sekelompok kanak-kanak kota Alexandria yang sedang bermain menjelang sore hari. Tanpa sengaja ketika seorang anak bernama Eleazar berlari hendak menabrak Yesus, ada semacam kekuatan yang terlepas dari dalam diri Yesus membuat anak tersebut jatuh tak berdaya di atas tanah berpasir dan mati seketika. Hampir semua anak yang ada di tempat kejadian menuduh dan menyalahkan Yesus. Suasanya menjadi riuh seketika.

Yesus hanya diam dan terpana. Dengan pikiran kanak-kanaknya, ia mencoba menganalisis kejadian yang baru dialaminya meski seakan tiada jawaban. Oleh dorongan sepupu perempuannya, Salome Kecil, Yesus pun berlari menuju rumah Eleazar, berdoa untuknya dan memintanya kembali bangun. Pelan-pelan kemudian Eleazar bergerak bangun. Sementara Yesus sendiri tiba-tiba merasa lemah dan pusing.

Melihat Yesus di depannya, Eleazar pun turun dari tempat tidur dan langsung menubruknya. Terus menonjok, menindih, memukul, menampar, menghantamkan kepalanya ke tanah, menendangnya lagi, dan lagi sambil meneriakinya, “Anak Daud. Anak Daud.”

Insiden ini mengakibatkan perdebatan sengit antara orang tua Eleazar dan keluarga Yesus. Keluarga Galilea — demikian mereka dikenal di Mesir — ini diusir. Insiden yang bertepatan dengan kematian Herodes. Semakin membulatkan keputusan Yusuf untuk membawa pulang keluarga besarnya ke tanah Israel, tepatnya ke Nazaret.

Mereka pulang tepat di masa-masa pergolakan antara rakyat dan tentara Romawi. Kengerian demi kengerian selama di perjalanan itu tak luput dari mata Yesus. Di mana-mana ia melihat para pria bertempur dan mati. Batu dan tombak berseliweran di atas kepala dan bahu mereka. Teriakan histeris dan jeritan terdengar hampir di seluruh penjuru negeri. Mayat-mayat bergelimpangan seperti tumpukan bulu wol berdarah yang siap dicuci. Tampakan-tampakan yang membuatnya merasa sedih, takut, dan terkadang menangis seorang diri.

Berbagai potongan cerita singgah dalam hidupnya. Kedua orang tuanya Maria dan Yusuf, serta paman dan kakaknya pun tidak secara terang-terangan bercerita kepadanya tentang latar belakang kelahirannya. Mereka hanya menghadirkan potongan-potongan cerita dan berharap kelak ialah yang memberi jawaban. Adakalanya ia ingin berbicara dengan seseorang demi mengungkapkan segala gundah. Namun ia tahu bahwa jelas tak ada seorang pun di dunia ini  yang dapat ia jadikan tempat untuk mencurahkan isi hati, dan tak akan pernah ada.

Yesus tumbuh sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorongnya memanfatkan setiap kesempatan yang menghampirinya. Ketika setahun kemudian situasi di Yudea cukup terkendali, mereka sekeluarga pun berangkat ke Yerusalem demi ikut merayakan paskah. Seusai perayaan paskah, sementara anggota  keluarganya sibuk mendiskusikan jadwal kepulangan, dan ayah ibunya sendiri berangkat ke pasar, ia meminta izin kepada pamannya untuk kembali ke Bait Allah demi ikut mendengarkan ajaran para guru di Beranda Salomo.

Di sana dicarinya seorang rabi yang paling tua untuk bertanya tentang sejarah delapan tahun lampau. Betapa hatinya bagai teriris sembilu mendapati jawaban ratusan anak kecil dibunuh Herodes secara kejam pada masa itu hanya karena kelahiran dirinya. Sedu sedan merambati dirinya. Tubuhnya bergetar dan tak bisa berhenti menjerit. Ia terus menangis pilu. Tangisan pilu yang mengantarnya jatuh pingsan selama tiga hari. Selama itu pula ia tetap aman dalam perawatan para rabi di Bait Allah tersebut sampai kedua orang tuanya datang dan membawanya pulang.

Dalam waktu setahun itu pula, ada beberapa harapan dan doanya secara tak disadari dikabulkan Tuhan. Ketika ia benar-benar berdoa meminta kesembuhan paman Eklopas, ketika ia berdoa untuk orang buta yang di beranda Bait Allah, ketika ia berharap hujan mereda, atau ketika ia sangat berharap melihat salju dan beberapa hari kemudian Tuhan pun menurunkan salju di pagi-pagi hari.

Meski tanda-tanda yang dikisahkan dalam buku ini sebagai yang istimewa dari Yesus, mereka hanyalah tanda-tanda versi penulisnya. Sebab dalam injil, Yohanes menulis, tanda air berubah anggur pada perkawinan di Kana itulah sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itulah Ia menyatakan kemuliaan-Nya (2:11).

Bagi saya tidaklah salah dalam kisah ini Anne Rice menyelipkan keistimewaan Yesus. Sesuai pengakuannya sendiri, ini hanyalah fiksi. Fiksi yang sudah didahului dengan penelitian yang cermat dan rinci tentunya. Sebagai contoh yang dapat dibaca misalnya pada peta perjalanan Yesus sekeluarga dari Alexandria menuju kota Nazaret, atau penggunaan bahasa yang mereka pakai di saat tertentu, atau tentang kebudayaan dan latar kehidupan orang Israel kala itu sehingga bisa dikatakan ‘nyambung’ dengan kisah di Injil ketika Yesus berusia dewasa. Lihat saja di dalam Injil bagaimana Yesus di bait Allah pada masa dewasanya begitu marah terhadap transaksi jual beli di pelataran Bait Allah. Dalam buku ini diceritakan Yesus semasa kecilnya sudah menyaksikan hal transaksi jual beli antar pedagang dan bagaimana mereka mengambil untung yang tidak patut, dan semua itu disaksikan dari dekat. Tapi waktu itu karena ia hanyalah seorang anak kecil, maka sebagaimana sifat ibunya, meski ia heran dan  bertanya-tanya, serta dalam hati ia memprotes keras, tapi tetap semua itu hanya disimpannya di dalam hati.

Sungguh keren Anne Rice menguraikan kisah ini. Bahkan ketika membaca, saya pun merasa terdorong menengok dengan lebih cermat denah/peta antara Yerusalem dan Mesir. Sebelumnya tidak ada rasa ingin tahu tentang peta Israel dan Mesir meski sudah sejak kecil saya tahu bahwa pada setiap bagian akhir Alkitab LAI selalu dilengkapi dengan peta dunia sekitar Israel-Mesir.

Memang sebelumnya sudah sering saya dengar bahwa jarak antara Mesir dan Israel itu tak sejauh Indonesia-Amerika misalnya. Dan keluarga besar Yesus dalam buku ini pun hanya menempuh perjalanan dari kota Alexandria ke tanah suci Israel hanya sehari dengan kapal, kemudian empat hari hari untuk bisa pergi ke Bait Allah di Yerusalem dengan perjalanan darat, dan hanya beberapa hari lagi untuk tiba di kota Nazaret. Berbeda dengan perjalanan eksodus orang Israel di zaman Musa selama 40 tahun itu.

Di tengah-tengah saya membaca, datang kawan saya yang mengatakan kalau ia telah menonton filmnya. Memang pada buku ini juga disertakan catatan kecil, telah difilmkan dengan judulThe Young Messiah”. Saya jadi makin terpacu untuk cepat menyelesaikan buku ini. Sebagai reward untuk diri sendiri, selesai membaca saya pun menonton filmnya.

Demikian halnya untuk setiap cerita yang dipublikasikan dalam bentuk buku juga film. Maka jelas apapun opini orang, saya tetap berpendirian bahwa kisah tersebut lebih enak dinikmati dalam buku dibanding film. Di film saya hanya perlu untuk sekadar mendapat gambaran tentang bentuk atau model orang-orang atau latar dan segala bentuk visual lainnya.

Untuk kisah ini, esensi ceritanya jauh berbeda antara buku dan film. Bila dalam bukunya, Yesus Kecil tak begitu lagi ‘diindahkan’ oleh orang-orang kerajaan atau para tentara Romawi karena cerita tentang masa kelahirannya sudah lama dilupakan orang, maka di dalam film, malah cerita tentang pencarian dan pengejaran tentang Yesus Kecil justru menjadi konflik utama cerita. Bila kisah Yesus Kecil di dalam buku ini lebih menonjolkan sisi kemanusiaan Yesus sebagai seorang anak kecil yang polos, sering merasa takut dan gugup, sering merasa heran dan suka bertanya-tanya tentang apa saja, dan tidak jarang juga menangis sebagai ekspresi rasa takut dalam kesendiriannya, maka di film, Yesus lebih ditonjolkan sebagai anak yang berani dan siap menaklukan segala rintangan.

Selain itu, hanya di dalam bukulah ada gambaran yang jelas bahwa keluarga Yesus adalah keluarga pekerja yang rajin. Para pria yang bekerja sesungguh hati sehingga tak pernah sepi pesanan orang-orang ternama –itu juga salah satu faktor yang membuat iri keluarga-keluarga lain di kota Alexandria, serta para perempuan yang pandai dan kreatif dalam menenun dan bisa menginspirasi perempuan lain di Nazaret ketika mereka pulang. Yesus Kecil bersama sepupu-sepupunya yang lain walau masih tergolong anak-anak, mereka tetap ikut membantu entah mengangkat batu atau kayu, atau juga ikut mengecat pola-pola yang sudah digambar. Sementara Salome Kecil, ia dengan tekun dan telaten ikut membantu ibunya dan bibi-bibinya dalam mengurusi bayi-bayi yang rewel. “Ia seorang gadis kecil yang sibuk sekarang,” komentar Yesus mengenainya ketika di Nazaret, komunikasi antara keduanya sudah tak seintens sebagaimana waktu di Alexandria.

Selanjutnya mengenai Salome Kecil, satu hal yang berenang-renang di kepala saya selama membaca buku ini adalah kalau saja saya boleh berandai, maka saya ingin berandai menjadi Salome Kecil, sepupu perempuan Yesus dalam cerita ini. Betapa indahnya bermain atau berinteksi langsung dengan Yesus Kecil. Sama-sama merasa heran atau takut kemudian menangis yang tiada hentinya.:)

Atau kalau bukan Salome Kecil, maka bolehlah Yakobus, atau salah satu di antara sepupunya pun tak apalah.

Perlu diingat bahwa Yakobus sebagai kakak tiri dan para sepupu hanyalah tokoh rekaan versi penulis demi membuat cerita ini jadi lebih hidup. Mereka jelas tak ada dalam Injil. Walau memang hanya ada nama Yakobus, tapi dalam buku ini ia justru diperkenalkan sebagai anak dari istri pertama Yusuf yang meninggal sebelum bertunangan dengan Maria.

Demikian tokoh-tokoh rekaan tersebut dihadirkan demi mempertegas bahwa buku ini bukan kitab baru atau injil baru seperti yang sudah ditekankan sang penulisnya. Namun rasa-rasanya saya ingin menjadikan buku ini sebagai kitab tersendiri. :D. Tapi jelas tidak mungkin. Maka, baiklah buku ini harus masuk dalam daftar  buku favorit saya. Musti. Kenapa?

Ada dua alasan. Pertama, buku ini tokoh utamanya Yesus. Yesus yang saya yakini betul-betul sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Kedua, buku ini berkisah tentang masa kanak-kanak Yesus walau hanya setahun kisahnya yang diangkat dalam cerita.

Saya menyukai sekali cerita kanak-kanak yang bukan kanak-kanak. (?) 🙂 Maksudnya? (?)

Ok, maksudnya cerita dengan tokoh kanak-kanak tapi jalan pikirannya melampaui ia yang adalah seorang kanak-kanak. Kata lainnya kalau merujuk kepada pemahaman umum psikologi, orang menyebut anak-anak jenius atau anak yang unik dan istimewa sebagai anak-anak indigo.

Mungkin kebanyakan orang mengira anak indigo adalah semacam memiliki indra keenam, bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain secara kasat mata, atau mereka yang bisa mengetahui tentang masa lampau tanpa mereka sendiri terlibat di sana.

Indigo tidak sebatas itu. Kata ‘indigo’ dalam artinya yang harafiah adalah nila atau ungu. Anak-anak yang beraura ungu itulah yang diindetikkan dengan anak indigo. Istilah ‘indigo’ inipun hanya fenomena yang baru trend di tahun 1990-an. Secara pasti pun ia belum dikaji dengan ilmiah.

Hanya pernah dalam satu buku yang saya baca sewaktu kuliah – saya lupa judulnya, buku itu ada di perpustakaan kampus – seorang anak indigo diartikan sebagai anak kecil yang berjiwa dewasa. Meski mereka bisa bermain dan bersikap sebagaimana anak-anak kecil lainnya, tapi dalam diri mereka ada satu keunikan luar biasa yang bisa membuat mereka dapat berpikir atau berbicara atau bersikap sebagaimana orang dewasa berusia puluhan tahun. Mereka umumnya anak-anak yang terlahir jenius. Ada yang bisa berbicara beberapa bahasa sekaligus tanpa pernah diajarkan, ada yang pandai menganalisis masalah kehidupan dan bisa memberikan solusi dengan bijak, ada pula yang pandai berbicara entah berpidato atau bekhotbah di depan ribuan massa, ada yang memiliki cara berpikir melampuai usianya yang masih bocah, dan segala kejeniusan lainnya (contoh-contoh ini di luar mereka yang kecil-kecil pandai melihat masa lalu – tanpa tahu-menahu akan masa depan – dan mengeruk keuntungan pribadi darinya). Menilik pemahaman tersebut, maka bolehlah saya bilang tokoh Yesus di buku ini tergolong sebagai ‘bocah indigo’.

Mengakhiri catatan singkat ini, berikut saya kutipkan perenungan Yesus di halaman terakhir ketika ia baru perlahan-lahan mendapat benang merah dari segala peristiwa yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya.

“Aku berdiri dan keluar. Senja mulai turun. Aku menyusuri jalanan menuju perbukitan, dan mendaki ke tempat yang rumputnya terasa lembut dan tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk beristirahat.

Aku memandang beberapa bintang yang mulai muncul dalam keremangan senja.

Lahir untuk mati, pikirku. Ya, lahir untuk mati. Untuk apa lagi aku terlahir dari seorang wanita? Untuk apa aku diciptakan dalam bentuk daging dan darah kalau aku tidak ditakdirkan untuk mati? Rasa sakit yang kurasakan sangatlah menyakitkan, sehingga aku hampir tak tahan. Aku akan pulang sambil menangis kalau aku tidak segera berhenti memikirkannya. Tapi tidak, itu tak boleh terjadi. Tidak, jangan lagi.

Kapan lagi para malaikat akan datang padaku dengan cahaya sangat menyilaukan sehingga aku tidak takut lagi? Kapankah malaikat akan memenuhi langit dengan nyanyiannya sehingga aku bisa melihat mereka? Kapankah malaikat akan datang dalam mimpiku?

Keheningan meliputiku, tepat saat kurasa jantungku akan meledak.

Jawaban itu datang sekaan-akan muncul dari bumi, seakan-akan dari bintang, rumput yang lembut, pepohonan, dan malam yang kian menjelang.

Aku tidak dikirim ke sini untuk menemukan malaikat. Aku tidak dikirim ke sini untuk memimpikan mereka. Aku tidak dikirim ke sini untuk mendengar mereka bernyanyi. Aku dikirim ke sini untuk hidup. Bernapas, berekeringat, haus, dan kadang menangis.

Semua hal yang terjadi padaku, semua hal besar maupun kecil, adalah sesuatu yang harus kupelajari. Ada ruangan untuk itu di dalam kehendak Tuhan yang tak terbatas, dan aku harus mencari pelajaran di dalamnya, tak peduli betapa sulitnya.

Aku hampir tertawa.

Semua ini sangat sederhana, sangat indah.

….

Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikiran bahwa aku sendirian? 

Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan bintang-bintang, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli apa yang mereka pikirkan atau pahami.

“Bapa,” kataku. “Aku anak-Mu.”

(Yesus bin Yusuf, 7-8 tahun “Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir, hal. 361-363)

Iklan

One comment on “‘Bocah Indigo’ dari Alexandria

  1. […] !!! Catatan singkat saya sebelumnya tentang novel Anne Rice ada di sini […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s