Sesi Wawancara

animasi-orang-menelpon-dengan-hp-260x300

Ilustrasi. Sumber gambar: ilsanurrahmiyusu

“Bapak, saya lolos.”

 

“Lulus tes maksudmu?” suara bapak terdengar kaget di seberang sana.

“Ya, lulus tes.”

“Semua serangkaian tesnya?”

“Belum. Baru tes tulis.”

“Berapa orang kalian semua yang lulus?”

“40 tadi kulihat di papan informasi.”

“Benar? Dari semua yang katamu yang berapa ratusan orang itu?”

“Ya.”

“Lantas kapan tes wawancaranya?”

“Besok pagi jam sembilan. Saya harus kembali ke SMA Mercusuar.”

“Ok, begitu…” hanya sampai di situ kata bapak.

Berikutnya yang terjadi adalah hening yang panjang.

“Bapak?”

“Ya?”

“Minta doa.”

“Ya,” dan telepon ditutup.

***

job

Ilustrasi wawancara. Sumber gambar: www.isa.com

“Pernah mengajar sekolah minggu?” tanya perempuan cantik itu setelah serangkaian tanya jawab yang panjang.

 

Ia tersenyum sebelum menjawab. “Pernah.”

“Ok, bisa dipraktekkan sekarang? Masih ingat tidak materi apa yang dibawakan sewaktu mengajar sekolah minggu?”

“Masih. Cerita Kain dan Habel.”

“Nah, sekarang, kita andaikan saja ini sedang kelas sekolah minggu. Saya anak sekolah minggunya, kau gurunya. Siap?”

“Siap.”

“Baik. Mari kita mulai.”

Ia mengambil ancang-ancang sebelum mulai. Diingatnya kembali wajah lugu anak-anak sekolah minggu yang pernah dipimpinnya waktu itu. Ia mengingat bagaimana ia yang seorang siswa SMA kelas 2 berdiri di hadapan anak yang rata-rata adalah pelajar SD dan kelas awal SMP.

Ia bukanlah seorang guru sekolah minggu. Dan tampil mengajar sekolah minggu itupun bukan pula karena kemauannya sendiri. Bapaknyalah yang selalu sejak ia masuk kelas 1 SMA menyuruh bahkan memaksanya menjadi pendamping guru sekolah minggu di gerejanya. Ia sendiri tak mau. Bapaknya malah pergi menghubungi guru SM, menghubungi penatua  dan pendeta, meminta agar putrinya diperbolehkan ikut mendampingi atau istilahnya bantu-bantu di kelas sekolah minggu biar ia jangan terus bertingkah seperti kanak-kanak. Mungkin sang bapak melihat keterlambatan psikologi putrinya hingga mendesaknya harus melakukan sesuatu.

Di rumah hampir setiap hari ia selalu dimarahi bapaknya karena keseringannya bermain dan bergaul dengan anak-anak kecil.

“Kau sudah SMP. Harusnya pergaulanmu itu dengan anak-anak SMP atau SMA. Bukan dengan anak-anak SD atau malah yang tak bersekolah pula.” Begitu peringatan bapaknya yang sudah dihafalnya di luar kepala. Terkadang bahkan bapaknya tak segan-segan menyuruhnya pulang seketika itu juga bila mendapati ia lebih sering bermain dengan anak-anak kecil itu. Kata bapak, ia satu-satunya anak SMP tapi lagaknya malah mengikuti anak-anak di bawah umurnya.

Maka hari itu, saat sedang berdiri di hadapan sang pewawancara dari Jakarta, ia mempraktekkan apa yang pernah dilakukannya di kelas sekolah minggu dulu. Dalam hati walau pernah kesal degan bapaknya yang memaksanya pergi bantu-bantu di kelas sekolah minggu, hingga satu hari ia harus menggantikan sang guru sekolah minggu yang sakit dengan bercerita kepada adik-adik itu kisah Kain dan Habel, kini ia bisa menerima buahnya. Setidaknya dalam masa hidupnya hingga duduk di kelas 3 SMA saat itu, pernah sekali ia mengajar di kelas sekolah minggu. Sudah sangat membantu sesi wawancaranya demi pendidikan lanjut yang ia impikan.

Ingatannya ketika itu berdiri di depan dan mengajak mereka bernyanyi lagu-lagu sekolah minggu, kemudian tiba ia membagikan kepada cerita tentang kisah dua bersaudara di awal-awal masa penciptaan. Dua anak dari pasangan pertama manusia di muka bumi.

Rasa syukur atas apa yang pernah dialaminya, membuatnya benar-benar penuh energi ketika bercerita. Terngiang di telinga pesan bapaknya, ambilah setiap kesempatan yang singgah kepadamu untuk belajar. Cari pengalaman. Dan sekarang telah duduk di hadapannya seorang perempuan cantik dari Jakarta yang mau mendengarkannya bercerita. Maka tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, berceritalah ia dengan penuh antusias. Dengan segera ia seolah beralih peran, bukan lagi seorang anak SMA dari pelosok di hadapan pewawancara keren dari ibukota negara, tapi seorang kakak SMA yang menunjukan kewaibaannya di hadapan adik-adik SD dan SMP di kelas sekolah minggu.

Selama semangatnya menyala-nyala saat bercerita, perempuan muda pewawancara yang duduk di hadapannya tersenyum-senyum. Ia melihatnya, ikut tersenyum kecil seolah melihat seorang adik sekolah minggu yang terpukau akan ceritanya, dan terus meneruskan dengan gaya bercerita ala Pak Raden yang sering ia tonton di televisi setiap hari Minggu siang sepulang kelas sekolah minggu.

Tepuk tangan dan ekspresi tatapan kagum terbaca di wajah perempuan cantik sebagai pewawancara yang duduk di hadapannya ketika ia menyudahi ceritanya. Ia menarik napas lega.

“Amazing,” katanya. Tersenyum ia merentangkan kedua belah tangan dan melanjutkan, “Silakan duduk.”

Ia menurut dan langsung duduk di kursinya.

“Kamu sudah bercerita dengan baik. Sekarang boleh keluar. Tunggu informasinya sebentar sesudah semua pesertwa sudah selesai diwawancarai. Pukul 04 sore.”

***

“Anice. Sesudah mempertimbangkan hasil wawancara kamu, kami memutuskan kalau berada di waiting list,” jelas perempuan cantik yang mewawancarainya siang tadi.

“Waiting list?” keningnya berkerut bertanya. Istilah macam apa itu. Ia tahu ia memang sangat terbatas dalam penggunaan kata-kata asing.

“Ya, semacam daftar tunggu. Jadi masih 50% masuk atau tidak.”

“50%? Tapi kira-kira lebih condong ke mana?” merasa heran dengan penentuan itu ia memberanikan dirinya bertanya. Sejak tadi berdiri di pintu luar, peserta-peserta lain yang masuk menerima kabar, ada yang keluar dengan wajah sumringah karena sudah jelas diterima sebagai calon mahasiswa UPH, sementara ada juga lainnya yang keluar dengan wajah sedih tubuh lesu merasa nelangsa karena tidak diterima.

“Belum tahu. Kamu, yang rajin berdoa, ya,” katanya tersenyum penuh pengertian, mungkin berusaha mengerti perasaan yang terpendam di wajah gadis yang duduk di hadapannya yang heran dan bingun dengan kabar yang diterimanya.

“Tapi, tadi semua peserta yang masuk ke sini sebelum saya semuanya sudah langsung tahu mereka 100% diterima atau tidak dan tidak ada yang seperti saya merasa digantung begini.”

“Iya, Anice. Ini kasus khusus.” Ia mencoba menjelaskan dengan hati-hati dan tetap tersenyum.

“Sampai kapan saya mendapat kepastian?”

“Bulan Maret atau April nanti kami kabari, ya.”

“Maret atau April?” ia meringis. “Betapa lama. Sekarang masih November.”

“Ya, silakan didoakan dulu. Semoga keputusan ke depannya adalah yang terbaik buat kita semua.”

Seusai pamit walau dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berjalan lunglai menuju pintu keluar. Di pintu segera disambut orang-orang yang juga sedang menunggu giliran dipainggil.

Kalau mereka yang sebelumnya langsung dengan pasti menjawab, ‘masuk’, ‘lolos’, ‘diterima’, ‘tidak’, maka ia bingung harus kata apa yang mesti ia ucapkan. Sementara istilah asing itu saja ia tak tahu artinya dan takut juga kalau-kalau ia mengucapkannya namun salah ejaan, maka ia hanya bilang, ‘belum tahu’, lalu ketika mereka bertanya heran, ‘kok bisa belum tahu’, maka ia melanjutkan, ‘belum pasti diterima atau tidak, masih 50%’, dan baru dengan angka itu, mereka pun beramai-ramai berkata ‘ooh’ dengan mulut bulat.

Ia berjalan keluar dari ruangan tunggu. Menuruni rangkaian anak tangga dari lantai lima hingga lantai satu. Angin sore menyambutnya ketika keluar gedung. Ia melangkah keluar ke jalanan tanpa lagi menoleh ke kiri-kanan. Menunggu bemo dengan dada yang bergemuruh. Ingin cepat-cepat ia berada di tempat tidur dan menumpahkan air mata yang sudah mulai mengaliri pipinya di bantal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s