Merayakan Keseharian

Lima Satu

Tuhan menyingkapkan cinta-Nya. Perlahan-lahan tapi pasti. Maka sekarang, izinkan saya menangis. Bukan menangis sedih. Saya ingin menuliskannya. Memahatkan kebahagiaan tak terbeli ini, mengaitkannya dengan keabadian. Tapi ada secuil keraguan datang menghampiri dan berkata sinis, “Itu hanya akan membuat engkau terlihat cengeng dan bodoh.” Baiklah, maka supaya engkau tidak terlihat cengeng dan bodoh-padahal nyatanya bodohmu itu tak ketulungan- maka janganlah menulis. Tidur bergelung selimut saja di situ. Tuhan pasti senang karena kau dikasih hadiah cuma-cuma lalu kau menghabiskan waktumu hanya dengan tertawa-tawa, melompat-lompat bak anak kijang, makan dan minum tak henti-henti sampai berlelehan air liurmu pun tak kau sadari, berleha-leha tertidur sampai dengkuranmu bahkan bisa membangunkan orang mati dari kuburnya, bangun, mencari info baru terkait kesalahan apa lagi yang diperbuat orang hari ini sementara kau sendiri tak menyadari daging busuk yang merambati seluruh keberadaan dirimu. Nafasmu yang menguarkan aroma neraka tak kau pernah sadari sementara orang lain yang berbau harum sehari-harinya baru saja tak sengaja melakukan sedikit cela kau cerca habis-habisan dan menudingnya serupa melihat segerombolan kecoak yang sedang merayap datang dari tempat tampungan tinja.
#Menandai lima dalam satu #Oyan. (30 Des’16) God is good.

Iklan
Catatan Buku

“Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah” Arthur F. Holmes

(Salah satu tugas kuliah dulu yang tercecer. Saya pikir sekalian saja taruh di sini daripada hilang dimakan rayap.😉)

file0004Judul: Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah
Judul asli: All Truth is God’s Truth
Penulis: Arthur F. Holmes
Tempat terbit: Surabaya
Penerbit: Momentum (Momentum Christian Literature)
Tahun : 2005
Jumlah hal. : 243 hal

Segala kebenaran adalah kebenaran Allah, kapanpun dan di manapun ia ditemukan,” demikianlah proposisi yang ditekankan Arthur F Holmes, seorang filsuf Kristen dari Illinois, AS. Dalam buku ini, Holmes memaparkan tentang kebenaran Allah dengan sangat mendalam. Bahwa kebenaran itu utuh dan merupakan satu kesatuan, tidak perlu dan tak ada gunanya dikotak-kotakan. Kita tak perlu memisahkan antara yang berbau sakral dan sekuler, hal yang rohani dan yang duniawi. Semuanya itu bersumber dari Allah sendiri yang adalah sumber kebenaran. Maka dalam kehidupan keseharian, janganlah menganggap hal-hal yang digeluti sebagai pekerjaan utama kita misalnya dalam profesi seorang guru atau seorang wartawan merupakan hal sekuler yang lebih rendah dari kegiatan-kegiatan kerohanian misalnya seorang pendeta atau seorang pekerja gereja. Semua pekerjaan atau profesi apapun itu mesti dipandang sebagai panggilan dan pengabdian kepada Tuhan yang telah memberikan mandat ciptaan atau mandat budaya ketika Dia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya.

Buku ini terdiri atas delapan bab yang didahului dengan prakata penerbit dua paragraf, kata pengantar dari penulis sebanyak empat paragraf, serta ucapan persembahan untuk semua murid penulis di masa lampau maupun saat buku ditulis. Seperti yang dituliskan dalam kata pengantar bahwa bab pertama hingga bab empat membahas mengenai konsep kebenaran; bab lima hingga bab tujuh berbicara mengenai rasio manusia sebagai sarana untuk menemukan kebenaran. Sementara di bab delapan, adalah tentang Sang Kebenaran itu sendiri. Akan lebih baik bila setiap bab dalam buku ini diulas satu persatu.

Bab pertama yang berjudul Hilangnya Wawasan Dunia, menyajikan dua hal yakni hilangnya kebenaran serta segala kebenaran adalah kebenaran Allah yang dipakai sebagai judul buku ini. Hilangnya kebenaran adalah fakta masa kini yakni pemikiran manusia modern telah kehilangan wawasan hidup yang religius, yang menganggap agama hanyalah sesuatu yang terdengar kuno dan kolot. Orang modern tidak lagi memikirkan makna hakiki dari sesuatu yang dikerjakannya, melainkan cenderung pragmatis, apa yang praktis dan berguna bagi mereka. Hilangnya wawasan dunia ini dapat ditelusuri baik dari sebab historis maupun sebab filosofis. Namun dalam buku ini, Holmes hanya menyoroti satu sebab yakni sebab yang bersifat filosofis. Menurutnya, permasalahan utama yang dihadapi sekarang ialah orang sudah tak percaya lagi pada kebenaran. Bukan hanya berarti mereka tidak percaya bahwa kekristenan itu benar, tetapi adanya konsep kebenaran itu sendiri bahkan sudah tak diakui lagi. Permasalahan ini bersifat rangkap tiga:

Pertama, hilangnya fokus pada kebenaran yaitu bahwa jika orang-orang masih memiliki fokus dalam hidup mereka, maka itu cenderung bersifat hedonistis atau ekonomis. Mereka mengabaikan kebenaran hakiki yang membentuk tahun-tahun ke depan; kedua, hilangnya universalitas kebenaran terlihat dari relativisme yang menghinggapi banyak orang; ketiga, hilangnya kesatuan kebenaran yakni kecenderungan menerapkan kebenaran hanya pada pernyataan-pernyataan mengenai fakta tertentu dan membatasi pencarian kebenaran pada metode empiris menurut pola ilmu-ilmu alam. Sementara hal yang kedua dari bab pertama ini, segala kebenaran adalah kebenaran Allah, bukan berarti bahwa kebenaran Alkitab memuat penyataaan yang lengkap mengenai sagala sesuatu yang ingin diketahui manusia, melainkan sebagai tuntutan atau landasan iman dan prilaku umat Allah.

Bab dua mengenai pemisahan antara masalah sakral/rohani dengan sekuler/duniawi. Alasan pemisahan ini dipicu oleh ketakutan terhadap bahaya kompromi iman Kristen dengan budaya masa kini yang terus berkembang. Padahal tidak seharusnya demikian karena menurut Holmes, gereja sendiri berada dalam dunia dan tentunya ia harus menggunakan bahasa dan struktur pikiran budaya dunia. Orang Kristen tidak perlu menarik diri dunia lantas hanya bergelut di bidang yang disebut rohani saja, tetapi ia harus masuk ke dalam dunia dan ikut serta dalam proses pemulihan dunia sekuler yang masih bisa ditolong. Dalam buku ini, ditegaskan bahwa mandat agung bukan satu-satunya mandat yang diberikan kepada kita, melainkan Allah juga menugaskan manusia untuk menginvestasikan hidup dan pekerjaan kita sebagai wujud tanggung jawab kita kepada-Nya yaitu memelihara dan memanfaatkan seluruh sumber alam ini dengan bijaksana. Di sini, Holmes mengutip jawaban katekismus singkat Westminster atas pertanyaan apa tujuan utama hidup manusia? yaitu bahwa “Tujuan utama hidup manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Memuliakan Allah dan mengasihi Dia tidak hanya terbatas pada aktivitas rohani melainkan diungkapkan melalui segala sesuatu yang kita lakukan, yaitu melakukannya dengan segenap hati untuk Tuhan. Talenta kita adalah anugerah dari Tuhan yang kita pakai untuk mengerjakan segala sesuatu di dunia ini dengan motivasi bahwa yang kita lakukan adalah untuk menyatakan keagungan Tuhan. Dengan demikian, seorang guru sekolah umum atau wartawan atau seniman atau dokter atau ilmuwan atau politikus tidak harus berkecil hati dan merasa diri rendah karena tidak melayani Tuhan di dalam satu gedung yang disebut gereja. Ketika kita ingin mengembangkan kualitas hidup manusia karena telah diberi akal budi oleh Tuhan dan melakukannya dengan segenap hati, ini merupakan ungkapan pengabdian kepada Allah dan hal itu sudah merupakan suatu ibadah (Kol 3:22- 4:1).

Bab tiga, mengungkapkan tentang kebenaran itu sendiri. Bab ini diberi judul Apakah Kebenaran itu? Pembukaannya menunjukkan definisi-definisi kebenaran oleh beberapa kaum seperti kaum Stoik dan Platonis, kaum Skeptis, kaum Rasionalis, relativisme pragmatis yang tentunya bertentangan dengan orang Kristen yang memegang dua implikasi, yakni 1) kebenaran itu tidak relatif tapi absolut, 2) kebenaran pada dasarnya bersifat personal, bukan bersifat otonom. Satu hal lagi yang istimewa dari kekristenan yaitu Yesus Kristus tidak hanya mengklaim telah mengajarkan dan menyaksikan kebenaran, namun Dia juga mengklaim diri-Nya adalah kebenaran itu sendiri (Yoh 14:6). Dalam bab ini juga dikenalkan beberapa tokoh yang telah menyumbangkan pemikirannya mengenai konsep kebenaran di antaranya Augustinus, Descartes, Kierkegaard serta tokoh-tokoh lainnya yang juga membuka wawasan kita ketika membaca buku ini.

Bab empat mengenai kekeliruan dalam mengetahui kebenaran. Kekeliruan itu sebenarnya adalah suatu bentuk kejahatan. Sebagaimana kejahatan dikontraskan dengan kebaikan, terang dikontraskan dengan gelap, maka kekeliruan itupun dikontraskan dengan kebenaran. Dalam menjelaskan kekeliruan ini, Holmes menyampaikan pendapat Descartes yang tertuang dalam bukunya “Meditations”. Pertama, bahwa Allah bukan penyebab kekeliruan, demikian juga kemampuan berpikir manusia bukan sesuatu yang menipu. Kekeliruan seperti halnya kejahatan, merupakan sebuah kecacatan dan kekurangan. Kedua, sebagai Allah yang mahakuasa, Allah bisa menghindarkan kita dari kekeliruan, namun sebagai Allah yang sempurna, Allah memilih yang terbaik bagi kita. Maksudnya lebih baik kita melakukan kekeliruan dan belajar daripadanya. Ketiga, pengamatan Descartes bahwa kekeliruan manusia didasarkan pada saling mempengaruhi dua kemampuan dalam diri manusia, yaitu pengertian dan kehendak. Sebagai manusia, kita tak mungkin mengelak dari pertanyaan rumit dan terhindar dari melakukan kesalahan. Maka itu tidak ada gunanya kita mempersalahkan iblis atas kekeliruan kita sedangkan Allah sendiri mengizinkan kekeliruan ini terjadi. Pertanyaannya, mengapa Allah mengizinkannya? Pertama, kekeliruan dapat mengajarkan kita. Kedua, orang Kristen yang mempelajari filsafat akan menemukan dirinya bergumul dengan permasalahan yang sama dengan orang lain yang menggunakan model dan metode yang sama. Ketiga, fakta bahwa kita belajar dari orang lain yang memiliki perspektif berbeda dengan kita menyadarkan diri kita bahwa tidak ada seorang pun yang salah atau benar seluruhnya. Keempat, kekeliruan menuntut kita untuk melakukan evaluasi yang kritis terhadap pandangan-pandangan dan argumen-argumen.

Bab kelima membahas tentang tidak ada jalan pintas menuju pengertian yang benar. Dijelaskan bahwa sebaiknya iman, pernyataan, dan pengalaman kita bersama Allah perlu dikaji dengan teliti supaya kita dapat melihat bahwa jalan ini sebenarnya tidak membawa kita memperoleh pengertian yang lengkap dan teliti baik bidang sakral maupun sekuler seperti yang kita harapkan. Meskipun ketiga jalan tersebut merupakan sesuatu yang niscaya dan ikut memberi sumbangsih bagi pencarian kebenaran tetapi masing-masing mereka pada hakikatnya tidak memadai untuk mempelajari berbagai bidang ilmu. Untuk pengalaman, dicontohkan bahwa sebagian orang yang untuk mendapatkan kebenaran atau untuk bersatu dengan ilahi, mereka memilih jalan mistik sebagai disiplin batiniah dan introspeksi di mana mereka menarik diri dari kesadaran dunia, kemudian bergerak melampaui pemikiran yang sadar melalui lubang gelap dalam lubuk jiwa. Holmes tetap menegaskan, ini bukan berarti menyangkal pentingnya pengalaman, melainkan menurutnya, pengalaman mistik tidak memiliki jaminan membawa orang pada kebenaran sebab pengalaman mistik dapat menganggap benar apa yang sesungguhnya salah. Dengan demikian, tidak ada jalan pintas yang istimewa dalam mempelajari sesuatu. Satu-satunya jalan menuju pengertian yang benar mengenai sesuatu adalah selalu mengerjakan tugas intelektual kita dengan hati-hati dan ini perlu proses yang panjang, berliku-liku dan penuh resiko.

Bab enam menguraikan tentang dua metode penalaran dasar dalam disiplin logika yaitu penalaran deduksi dan penalaran induksi. Penalaran deduksi walaupun telah diterapkan secara luas dan bekerja dengan baik, ia bukanlah bentuk penalaran yang otonom karena ia bergantung kepada dua kondisi: kaidah-kaidah penyimpulan dan kebenaran premis-premisnya. Kenapa demikian? Karena bila salah satu di antara kedua kondisi tersebut tidak mengikuti logika yang absah maka penalaran deduktif ini tidak berhasil. Tetapi pertanyaan selanjutnya yang lebih mendasar adalah apa patokan atau pedoman yang menyatakan kaidah-kaidah itu mengikat, yang membuat satu penyimpulan yang absah itu disebut absah? Norma apa yang melandasinya? Prinsip universal apa yang kepadanya semua penalaran universal harus tunduk? Jawabannya adalah prinsip non-kontradiksi yaitu sesuatu itu tidak dapat benar dan salah sekaligus pada saat yang sama dan mengenai hal yang sama (misalnya A bukan non -A) atau dalam bahasa sederhana katakanlah kebaikan tidak dapat bersatu dengan kejahatan, atau terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Sedangkan penalaran induksi lebih kepada pekerjaaan pengetahun empiris yakni mengetahui sesuatu dari pengamatan terus menerus. Namun kesulitannya adalah tidak lengkapnya pengalaman manusia. Ia hanya memberi laporan perkembangan dan bukannya kesimpulan.

Bab enam ini ditutup dengan kesimpulan bahwa penalaran manusia merupakan sesuatu yang penting karena merupakan bagian dari ciptaan Allah, tetapi ia tidak berdiri sendiri. Bukan juga berarti karena rasio dapat membuktikan segala sesuatu lantas diabaikan semua yang tidak berkaitan dengan rasio atau penalaran berdasarkan logika, tetapi bahwa kita dapat mengetahui sesuatu walaupun hanya mengetahui ‘sebagian’ dan ‘melihatnya melalui cermin yang samar-samar.’ Konsep yang berkaitan erat dengan kesatuan kebenaran mengingat dalam segala kebenaran adalah kebenaran Allah.

Melangkah pada bab tujuh, yaitu bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu memang benar seperti yang kita dengar atau percayai. Dengan judul Pembenaran Iman Kepercayaan, kita dijelaskan tentang pengujian kebenaran yang disebut dengan tes korespondensi kebenaran. Tes korespondensi ini mencari korelasi antara proporsi dan fakta-fakta obyektif yang dikemukakan. Namun adakalanya tes korespondensi kebenaran ini sulit untuk pernyataan ‘mencuri itu salah’ atau ‘Allah adalah roh yang tidak terbatas dalam hikmat, kebaikan, kasih, dan kuasa-Nya’, maka diperlukan tes kebenaran lain yakni koherensi rasional. Perbedaan keduanya ialah tes korespondensi kebenaran merupakan ciri-ciri dari kaum empiris sedangkan tes koherensi merupakan tuntutan dari epistimologi yang lebih bersifat rasionalistis. Namun hal ini bukan berarti masing-masing tes itu tidak dapat diterapkan di luar habitat aslinya melainkan harus dengan hati-hati menyesuaikan tes-tes tersebut terhadap natur kebenaran sebagaimana yang dimengerti.

Hal lain yang tak boleh dilewatkan dalam bab ini adalah tentang kepercayaan dan nilai, yakni bahwa kepercayaan kita sebelumnya membentuk nilai-nilai kita yang selanjutnya mempengaruhi kepercayaan kita yang baru; kepercayaan dan tindakan, yakni bahwa pemikiran dan penilaian manusia turut mempengaruhi proyeknya, menentukan sarana yang dipergunakannya, juga mengarahkan tindakannya, sebaliknya juga proyeknya membentuk pemikiran dan mempengaruhi kepercayaannya.

Sebagian besar di sini adalah pandangan John Dewey, dan Holmes secara gamblang memaparkannnya kembali, namun dengan tegas pula ia menyanggah pandangan tersebut dengan perspektifnya bahwa ia tidak menafsirkan manusia dan tindakannya berdasarkan prinsip seleksi alam. Bahwa manusia dan dunia ciptaan Allah tempat kita bertindak bukan hasil proses evolusi yang terjadi secara kebetulan, tetapi dihasilkan dari tindakan penciptaan Allah yang memiliki tujuan di dalamnya, yang walaupun telah tercemar oleh dosa, tetap menyaksikan hikmat dan tujuan Allah.

Selanjutnya mengenai kesaksian Roh Kudus. Dua hal yang perlu diamati dari bagian ini, yakni pertama karena kebenaran mengenai Yesus Kristus dan injil-Nya memiliki implikasi melampaui apa yang diajarkan secara eksplisit oleh Alkitab, maka kesaksian Roh Kudus relevan bagi pemikiran kita, memberi iluminasi untuk mengerti bahkan yang tidak dibicarakan dalam Alkitab; kedua, kesaksian Roh Kudus bukan suatu pengalaman mistik yang terlepas dari eksegesis Alkitab, atau daya imajinasi manusia, atau penyelidikan ilmiah, atau analisa filosofis. Roh Kudus memang membimbing kita bertumbuh namun Ia bukan jalan pintas bagi pengetahuan atau pemberi pengertian tanpa salah kepada kita sehingga kita menjadi orang yang tidak dapat keliru.

Akhirnya pada bab penutup buku ini, bab delapan, disajikan apa yang menjadi inti dari segala yang telah dibicarakan dalam buku. Di bawah judul Kristus: Sang Kebenaran, kita dapat langsung tahu apa poin utamanya. Kristus, sumber kebenaran. Kristus adalah kebenaran itu sendiri. Dia adalah Allah yang kekal, Allah sang pencipta.

Sebagai penutup ulasan buku ini, saya hanya ingin menambahkan bahwa demikianlah tugas manusia untuk menemukan tempatnya dalam dunia ini dan melaksanakan peranannya dalam setiap bidang kehidupannya sesuai dengan ketetapan Allah. Tak perlu dan sangat tidak berguna menghormati hal-hal bersifat sakral serta menganggap rendah hal-hal bersifat sekuler, karena dalam di dalam kebenaran Allah tidak ada dikotomi sakral atau sekuler. Semunya itu adalah tetap hasil buatan tangan kreatif Allah untuk manusia.

Buku ini dilengkapi dengan glosarium sehingga pembaca tidak kewalahan ketika menemukan kata-kata sulit yang memang banyak terdapat dalam buku ini, mengingat buku ini dapat dikatakan bukan merupakan suatu bacaan yang ringan. Selalu saja ada istilah-istilah filosofis yang terbilang baru untuk bahasa Indonesia. Penyajian materi dalam buku ini cukup menunjukkan bahwa penulisnya sungguh-sungguh menggali pengetahuan secara mendalam dan mendetail, kemudian menyatukannya dalam suatu kesatuan yang utuh.

Menurut Holmes, seperti yang diungkapkan dalam kata pengantar, buku ini bukan dikhususkan hanya kepada para mahasiswa seminari, tetapi juga untuk orang-orang Kristen di mana saja yang memiliki keseriusan untuk memikirkan hubungan kekristenan dengan semua bidang studi manusia. Saya sebagai pengulas sepemikiran dengan Robert C Roberts dari Westers Kentucky University pada bagian endorsement, bahwa buku ini sangat menarik, cakupannya luas serta penuh hikmat, maka itu sangat direkomendasikan kepada mereka yang ingin berpikir serus tentang imannya, bahkan yang berpikir tentang bidang apapun.

tulisan anice

20 Famous Christmas Stories – Online Star Register

https://googleweblight.com/?lite_url=https://osr.org/blog/tips-gifts/20-famous-christmas-stories/&ei=DCH0j0bl&lc=id-ID&s=1&m=736&host=www.google.co.id&ts=1482934932&sig=AF9NedkjI-MFfNwvEMSTvzCqF6K78d9zqw

😦 Desember… Jangan dulu cepat berlalu! Saya masih tetap ingin berada dalam rangkulanmu.

Menulis

Menulis itu Bersyukur

“Menulis itu bersyukur,” demikian yang berulangkali berkumandang dalam hati Celine.

Ia selalu merasa bersalah setiap kali rencananya menulis selalu gagal. Sudah berberapa kali ia memelototi layar laptop namun tak kunjung menyelesaikan beberapa dratf yang ada di filenya. Kesalahan itu semakin meningkat ketika baru saja ia mendapat ide untuk memulai tulisan baru atau mau melanjutkan tulisan lama atau merevisi beberapa tulisan di dalam beberapa file tulisannya namun tiba-tiba ada gangguan-gangguan kecil lain yang datang membuyarkan konsentrasinya. Sebenarnya tak masalah bila gangguan-gangguan itu lewat, lalu ia kembali fokus. Sayangnya ketika ia bersiap memulai kembali, justru apa yang tadi sudah menggebu-gebu di kepala hilang dalam sekejap dan serasa seolah tak ada lagi semangat menulis seperti sediakala.

Sore ini, karena tak tahu dan bingung draft mana tulisan mana yang mau dipoles, ia habiskan waktu hanya dengan membaca. Ia membaca beberapa bukunya yang dibelinya sebelum pulang liburan kemarin. Buku-buku itu memenuhi tas dan dusnya melebihi barang-barang bawaan yang sedianya adalah pesanan orang rumah dalam rangka mempersiapkan acara natalan.

Saat tiba hari itu di rumah, ibunya dan adik-adiknya senang setengah mati dikiranya banyak barang bawaan itu adalah makanan dan minuman serta hadiah-hadiah natal untuk mereka. Mereka menarik napas kecewa saat tahu kebanyakan yang dibawa adalah buku-buku daripada pesanan mereka.

“Nanti, besok atau lusa kembali lagi ke kota buat belanja. Toh, hari natal tepatnya belum tiba,” ia dengan sumringah menjawab. Tak ada rasa bersalah. Anggota kelaurga itu harus berpuas diri dengan sekaleng biskuit dan beberapa jenis minuman ringan.

Walau libur, ia tetap meluangkan waktunya membaca dan menulis. Karena tak mau orang lain tahu dirinya hanya mengerjakan tulisan fiksi atau non fiksi yang bagi mereka seperti pekerjaan sia-sia dan usaha menjaring angin, ia bilang ia sedang mengerjakan tugas kantornya yang mesti dikirim lewat email. Maka demikianlah ia tetap punya alasan sibuk dan tetap bekerja di malam hari ketika orang rumah menyuruhnya tidur.

Jangan kau pikir ia hanya membaca dan menulis lalu mengabaikan keluarga. Tidak. Ia tak seperti itu. Ia cukup tahu tata krama. Ia selalu tetap terlibat dengan acara-acara di kampungnya.

Hari pertama ketika baru tiba, segerombolan bocah berlarian datang ke rumahnya menyambutnya seperti berebutan permen. Mereka cekikan kesenangan karena mereka bisa meminta diajari bernyanyi lagu-lagu anak berbahasa Inggris dan diiiringi gitar petikannya.

Untunglah di antara sekian banyak bawaan pesanan natal dan buku-bukunya, ia tak lupa membawa gitarnya. Gitar itu ia jaga setengah mati bahkan melebihi buku-bukunya yang konon adalah sahabat terbaik, jangan sampai ada satu bagian dari tubuh gitar itu yang lecet atau talinya yang salah arah. Maka, gitar itu nyaris selalu bersih dan terjaga di balik sarungnya. Di kamar sewanya di kota, ia hanya mengeluarkannya kalau memang hanya sedang jenuh dan ingin berteriak tapi karena akan mengundang perhatian apalagi tempat tinggalnya hanya berjarak sepetak-sepetak dengan tetangga sehingga ia merasa butuh gitar untuk mengiringinya dalam mengeluarkan suara-suara cempreng ataupun sumbangnya. Tak banyak lagu ia bisa mainkan. Bukan karena tak tahu tapi ia bukan seorang yang mudah menghafal lirik lagu padahal ia adalah seorang penyuka literatur dan bergiat di kegiatan membaca dan menulis. Sering ia diganggu kawan-kawannya, seorang penulis yang bergelut dengan kata-kata tapi kalau menyanyi saja bisa kata-katanya tak dipikirkan lebih dahulu sampai asal tapa mereka bilang.

Selain para bocah itu, beberapa saudara laki-lakinya juga memang butuh sekali gitar untuk menyanyi di gereja. Para pemuda itu pernah mengikuti satu kompetisi vokal grup yang diadakan satu komunitas dan keluar sebagai juara satu lalu mendapat hadiah gitar yang membuat Celine bangga tak kepalang bahwa kalau ia tak bisa dan tak berbakat menyanyi setidaknya masih ada saudara laki-lakinya yang meneruskan bakat menyanyi mamanya. Gitar kelompok pemuda itu mungkn juga bukan sebuah gitar yang cukup berkualitas sehingga bahkan baru beberapa bulan tapi sudah berkali-kali diganti talinya karena putus, atau mungkin juga mereka yang hanya membeli tali gitar murahan di kios. Tapi mungkin juga ada alasan lain di balik itu. Sang gitarisnya yang pernah melihat gitar Celine tahun lalu ketika ia mengiring anak-anak sekolah minggu menyanyi mungking juga tertarik dan ingin mencoba mencari alasan bagaimana ia bisa juga merasakan bermain gitar milik Celine. Karena Celine pun punya apresiasi khusus kepada para pemuda itu, diiyakan saja permintaan adiknya untuk meminjam gitarnya. Doanya, setidaknya sedikit banyak gitarnya sudah berguna dibawa ke sini bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.

Niat awal ia membawa gitar itupun bukan karena ia ingin mengiring anak-anak kecil itu menyanyi ataupun untuk saudara-saudara pemudanya untuk vokal grup. Ia membawanya hanya dengan tujuan apabila tak ada kegiatan dengan keluarga, maka ia tak mesti membaca atau menulis melulu. Setidaknya di sela-sela waktu luang, gitar adalah teman yang siap dan selalu ada. Gitar bisa membantu di kala ia ingin berdiam diri sendiri sementara banyak gangguan yang mungkin menghambat keinginan kesendiriannya. Gitar itu juga sangat berguna di kala malam ketika misalnya sedang mati lampu –karena memang masa-masa hujan angin– sehingga tak bisa baca tulis, paling mengobrol, setidaknya ada kegiatan yang bisa dilakukan karena adanya gitar. Demikian dengan gitar.

Selain membenamkan diri dengan membaca dan menulis yang memang sudah disediakan waktunya itu, ia mendapat kesempatan bagus di pagi-pagi atau malam hari tatkala tak ada acara natal di rumah-rumah tertentu. Ia bisa dengan siap menampung cerita-cerita bapaknya yang pada dasarnya suka sekali bercerita tetang kisah-kisah masa dulu. Kisah-kisah masa kecil ayahnya kerajaan mereka dipimpin seorang pemimpin yang sangat dikagumi ayahnya.

Kedatangan Celine memang adalah waktu emas bagi bapaknya menumpahkan segala sejarahnya berhubung dari mereka lima bersaudara, hanya Celine yang selalu diam dan tertarik bahkan terkagum-kagum mendengar kisahan bapaknya. Adik-adiknya dasarnya memang tak suka mendengar cerita sejarah. Mereka selalu asyik sendiri entah itu mengetik-ngetik sesuatu di hp atau sengaja memutar musik di hp, atau sengaja bertanya lain untuk mengalihkan pembicaraan tatkala bapaknya mulai mengeluarkna kata-kata yang menjurus kepada cerita-cerita masa lalu mereka.
Mereka lalu selalu menjadi sasaran kemarahan bapaknya karena ketaksukan mendengar cerita sejarah. Maka itulah, semacam curhat, bapaknya memarahi mereka di depan Celine dan mendudukkan mereka beramai-ramai demi mendengar cerita bapaknya. Memang kalau ada Celine, adik-adiknya seolah seperti anak anjing yang patuh, mereka pasti akan datang dan ikut duduk bersama mendengar, tapi muka mereka tampak selalu merenggut tak suka dan tingkah mereka itu di mata Celine memang tampak lucu.

Hari ini, seorang adik perempuannya yang berkuliah di sebuah perguruan tinggi mendapat tugas laporan dari dosennyat terkait sejarah gereja dan sejarah terbentuknya desa mereka. Bapaknya tampak antusias mendengar kabar anak perempuan itu. Ia nyaris bertepuk tangan dan tertawa lebar sekali karena dengan demikian ia akan punya waktu bercerita dan pasti didengarkan.

Bapaknya segera duduk di kursi bersiap mengisahkan sampai anaknya itu mesti berkata, “Tapi sebentar, Pak. Saya ambil lembar petanyaan saya dulu.” Bapaknya baru kaget karena ia tak menyangka akan ada pertanyaan-pertanyaan tertulis terkait sejarah yang mau diceritakan. Ia diam sebentar kemudian menjawab, “Sudah sana. Cepat ambil!
Anak itu terburu-buru masuk ke dalam kamar lalu kembali keluar mendapati bapaknya yang sudah tak sabar.

Bapaknya dengan semangat menuturkan kisah tanpa peduli apakah yang dikisahkan sesuai dengan isi atau konten yang merunut kepada topik pertanyaan atau tidak. Cerita memang bisa mendetail, tapi kadang-kadang lalu melebar sampai ke berbagai hal lainnnya sehingga mesti dipotong dan dibawa kembali ke topik pertanyaan. Mendengar selaan anaknya, bapaknya kelihatan kesal karena seolah memotong dan mengganggu semangatnya bercerita.
Ia kelihatan kesal karena harus terbeban dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahasanya resmi sekali. Beberapa lama kemudian, karena memang harus sesuai pertanyaan yang sudah disusun, bapaknya hanya menjawab sesuai apa yang ditanyakan. Ia menjawab sepotong-sepotong. Tampak sekali ia sudah tak bersemangat. Kagairahan menjawab pertanyaan itu pun berkurang sampai pertanyaan terakhir.

Melihat penampakan tak mengenakkan itu, Celine mengambil lembar kertas adiknya. Diminta bapaknya bercerita secara topik besar saja sampai bapaknya merasa mungkin itu sudah semua yang perlu diketahui anaknya yang sedang ingin membuat laporan tugas kuliah itu, barulah lembaran kertas itu dikembalikan kepada adiknya. Ia disuruh bertanya lanjut pertanyaan-pertanyaan apa saja yang belum terjawab.

Adiknya yang dungu itu malah kembali ke format pertanyaan yang kaku dan menanyakan lagi hal yang bahkan sudah tersisip dalam kisahan ayahnya.

Bapaknya seketika berang. “Tadi sudah saya cerita itu apa? Telingamu kau lempar ke mana tadi sewaktu saya berbusa-busa?” ia beranjak, memakai sandalnya dan keluar ke halaman.

Celine hanya tersenyum tipis, lalu kemudian terkekeh. Ia sangat menikmati adegan pendek ini.

“Menulis itu bersyukur,” katanya lagi. Tenggelam berhadapan dengan laptopnya kali ini, tak sampai sejam, tulisannya mewujud.

Ia bahagia.

Catatan Buku

Sekilas Yesus di Dua Novel

20160827_120801Mendekati peringatan hari kelahiran Yesus yang dipahatkan tanggal 25 Desember, kali ini saya mencoba membaca kembali novel lama saya (saya memang sepertinya suka sekali baca buku-buku lama. Apa karena ketiadaan atau kekurangan buku? Sebenarnya tidak juga…:) Di rak buku masih ada beberapa buku yang bahkan masih terbungkus rapi dengan plastik pembungkus ataupun bahkan yang sudah dibuka plastik pembungkusnya pun, masih belum sempat saya baca 😦 ) yang berjudul Yesus: Kisah tentang Pencerahan yang ditulis Deepak Chopra, seorang dokter yang juga guru spiritual asal India.

Niat awal saya mau membaca kembali buku ini agak-agak bagaimana begitu…:D. Saya berpikir ini kan masa natal. Akan banyak ibadah natal memang. Setiap komunitas dari sekolah, gereja, rayon, keluarga, angkatan-angkatan tertentu, dsb pasti punya ibadah natalnya sendiri-sendiri. Dan, hampir pasti bacaannya tak jauh-jauh dengan peristiwa kelahiran Yesus, latar belakang dan impaknya. Nah, saya hanya ingin memencarkan pikiran dan imajinasi saya ke tahun-tahun keberadaan Yesus yang tak dikisahkan secara ekspilit dalam perjanjian baru saja. Istilahnya saya hanya mau rekreasi. 😀

Walaupun di luar sana ada banyak sumber tulisan lain tentang masa-masa yang istilah kerennya disebut sebagai ‘the lost age/the lost years/the unknown years/the hidden years of Jesus…’ atau apalah itu, di sini saya hanya mau menyentil atau katakanlah membandingkannya dengan novel yang berkisah tentang masa kanak-kanak Yesus karya Anne Rice (selanjutnya akan saya sebut AR) berjudul Christ the Lord: Out of Egypt.

Antara keduanya tak saling mendukung. Satu novel punya pandangan lain, satunya lagi lain. Rasa atau feel membacanya pun begitu. Contohnya, di novel AR, Yesus mulai bergumul menyadari keilahiannya semasa kanak-kanak, di novel Deepak Chopra (DC), malah baru ketika berumur 20, itupun masih ragu-ragu dan tidak pede. Latar belakang kehidupan Yesus yang adalah seorang Yahudi pun lebih terbaca di novel AR, sementara novel karya DC ini malah lebih terasa nuansa mistis dan gelap seperti cerita-cerita pencari Tuhan lainnya. Mungkin bisa dimengerti, sebuah karya tak lepas dari latar belakang penulisnya, dan di paragraf pertama sudah dikenalkan siapa dan dari mana DC.

Di novel AR, Yesus tergolong anak yang aktif dan rajin membantu keluarganya. Di novel DC, Yesus yang adalah pemuda tapi seolah ‘malas’. Dapat dilihat dari ketika setelah malam sebelumnya menemani adiknya Yakobus pulang larut malam kemudian tidur sampai hari siang dan terbangun hanya karena ada bau sesuatu terbakar, Yesus tahu Yusuf pergi mencari pekerjaan serabutan dari pagi dan akan pulang malam namun ia tampak tak merasa terbeban sama sekali. Pemuda usia produktif macam apa Yesus itu kalau begitu?

Perbedaan lainnya tentang tokoh Yesus dengan pergulatan pikirannya. Di novel DC, Yesus seperti berjarak dengan pembaca. Sementara dalam novel AR, pembaca justru seolah ikut terseret dalam pergulatan pikiran Yesus. Serasa apa yang dipikirkan dan dirasakan Yesus kanak-kanak juga bisa dialami pembaca. Bahkan kualitas–sebut saja begitu–pergumulan Yesus kanak-kanak justru lebih kuat dibanding Yesus pemuda.

Nah, tapi dengan adanya beberapa perbedaan mereka justru di situlah bagusnya, bahwa jelas kedua buku ini adalah fiksi–seperti yang diakui masing-masing penulis. Dengan begitu kita dapat mengerti bahwa belum ada yang tahu pasti-sepasti-pastinya tentang tahun-tahun Yesus yang tak disebutkan secara eksplisit dalam PB, dan itu adalah milik Tuhan. Misteri Tuhan. Tak usah dan tak perlu jadi bahan saling adu ataupun saling todong.
Secara singkat terkait pembacaan novel Yesus kali ini, baiklah saya mengakui, sesungguhnya, dibanding isi ceritanya, saya justru lebih tertarik kepada beberapa bagian yang ada di bagian belakang buku yakni Panduan Pembaca: Yesus dan Jalan Menuju Pencerahan. Ada sesuatu yang dibutuhkan jauh melampaui apa yang disebut sebagai ‘agama’.

Satu hal terakhir, terlepas dari banyak perbedaan antara keduanya itu–yang sempat saya tulis di sini ataupun tidak–saya memilih untuk lebih menyukai cerita di novel AR. Bukan karena novel DC tak bagus. Mungkin alasan terbaiknya adalah karena saya memang seorang pencinta cerita bocah. 🙂

Selamat Natal 2016 bagi yang merayakan.
Salam Damai… Salam Teduh…Salam Sejuk.
Dia, Yesus namanya. Sang Raja Damai, telah datang. Dia membawa damai.

Maka, saling berdamailah engkau satu sama lain.

Damai itu teduh. Damai itu sejuk. Damai itu indah…:)

***

!!! Catatan singkat saya sebelumnya tentang novel Anne Rice ada di sini

Saya tahu, mungkin juga diam-diam ada yang mengumpat saya karena bisa-bisanya saya bilang Yesus kanak-kanak sebagai sebagai bocah indigo. Apapun itu, hanyalah masalah penamaan. Harap dimengerti…:)

Catatan Buku

The Wild West Journey dari Karl May

Dua Buku Karl May seri The Wild West Journey:

Old Shatterhand dan Winnetou

Penerbit: Visimedia, Jakarta, 2013

Dua buku ini sudah lama. Lama sekali. Beberapa tahun lalu saya beli. Kalau tak salah ketika masa-masa kampanye Jokowi menjadi presiden. Kenapa baru sekarang saya buatkan catatannya? Karena dulu sewaktu pertama kali baca, saya sudah sempat buat catatannya. Tapi tidak lengkap. Lalu terabaikan.

Beberapa hari lalu, dekat-dekat hari libur, ketika sedang beres-beres, saya melihat dua buku ini lagi. Lantas saya mencoba mengingat kalau dua buku ini sudah saya baca, dan kesan pertama kali waktu baca, saya sungguh suka keduanya. Anehnya cerita detailnya saya agak lupa-lupa ingat.

Hanya jelas masih terekam di benak kalau waktu itu saya sungguh mengikuti dan menikmati petualangan sang tokoh utama. Bagaimana ia yang mulanya adalah seorang pendatang dari Jerman ke benua Amerika lalu ikut terlibat dalam kegiatan pengukuran. Waktu itu, alam liar Amerika masih sangat luas dan berbahaya. Perencanaan pengukuran itu sedianya akan dibangun rel kereta api yang oleh orang Indian disebut kuda besi.

Tiga bulan pertama, pekerjaan mereka berjalan baik sekalipun ada masalah-masalah sepele yang kerap terjadi karena beberapa rekan pengukur serta kepala insinyur mereka tergolong orang yang malas dan lebih suka berleha-leha apalagi kalau menyangkut brendi. Mau tak mau sebagai orang yang tak mau menerima uang dengan cara gampang, Charlie harus bekerjakeras demi pekerjaan mereka tidak terbengkalai. Itu baru masalah kecil dan bukan yang terpenting. 😀

Beberapa hal menarik yang saya mau catat di sini adalah tentang tokoh Charlie sendiri juga bagaimana sang penulis menyeret pembaca untuk ikut merasakan dan menikmati suasana alam liar di barat waktu itu.

Dari tokoh Charlie lebih dulu. Ia mula-mulanya disebut sebagai tanduk hijau. Apa itu tanduk hijau? Ada paparan panjang pada bagian pembukan cerita, tapi saya hanya mengutip bebebapa sebagai contoh.

Seorang tanduk hijau adalah orang yang masih hijau dalam arti masih baru dan awam di dunia barat. Dia harus berhati-hati agar tidak berbuat bodoh. Tanduk hijau adalah orang yang tidak segera berdiri dari kursinya ketika seorang perempuan ingin duduk di sana. Dia keliru dengan menyapa tuan rumah terlebih dahulu sebelum mengangkat topinya kepada sang nyonya atau nona. Seorang tanduk hijau keliru mengira jejak kaki seekor ayam turki sebagai seekor beruang dan keliru mengira perahu yacht sebagai kapal uap Mississsippi. Demi menjaga kebersihan, seorang tanduk hijau membawa sebuah spons sebesar labu raksasa dan sabun sebanyak lima kg ke padang prairi. Dia juga membawa sebuah kompas yang tiga atau empat hari kemudian jarumnya menunjuk semua arah selain utara. Seorang tanduk hijau mencatat 800 ungkapan dalam bahasa Indian lalu sadar, begitu bertemu orang Indian pertamanya, bahwa catatan itu tertukar dengan surat yang dia kirim ke rumah dan dia malah membawa surat yang semestinya dikirim. Seorang tanduk hijau membeli bubuk mesiu lalu sadar, ketika dia siap melakukan tembakan pertamanya, bahwa dia malah diberikan bubuk arang halus. Seorang tanduk hijau telah mempelajari astronomi selama sepuluh tahun tanpa bisa mendongak ke langit berbintang dan mengatakan pukul berapa sekarang. Saat berada di Wild West, seorang tanduk hijau membuat api unggun yang besar sekali hingga setinggi pepohonan, kemudian, saat dia ditembaki oleh orang-orang Indian, dia heran bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaannya. Seperti itulah sifat tanduk hijau. Namun, jangan salah sangka, ada lagi sifat menonjol dari tanduk hijau, yaitu kita yakin bahwa orang-orang lain adalah tanduk hijau, sedangkan kita bukan. Demikian sekilas tentang tanduk hijau.

Kenapa saya begitu rajin menyalin dan menjabarkan tentang tanduk hijau? Karena sepanjang cerita ini berjalan, Charlie, yang terkenal dengan sebutan Old Shatterhand, tak henti-hentinya disebut sebagai tanduk hijau baik oleh kawan-kawan maupun lawannya sekalipun banyak hal luar biasa yang sudah ia lakukan bahkan melampaui apa yang pernah dipercaya para penjelajah ulung sekalipun. Sebagai orang baru di alam liar barat, Charlie terbilang sangat memukau. Ia yang sebelumnya adalah seorang guru privat, yang hidup sebelumnya hanya bergelut dengan buku-buku sampai dibilang seorang kutu buku, mampu menembak dengan baik, mampu menundukkan kuda liar, mampu membunuh grizzly yang beringas hanya dengan menggunakan pisau, mampu melumpuhkan lawannya walau hanya dengan satu tinju atau satu pukulan, mampu membunuh sang ‘pisau kilat’, ahli pisau terkenal dari suku Kiowa, musuh Apache. Sebenarnya ia seorang yang tak suka akan kekerasan, apalagi sampai ada pertumpahan darah. Namun ia melakukan itu hanya sebagai tindakan pembelaan diri.

Pemikirannya, prinsipnya, cara pandangnya, keyakinannya, ketangkasannya, kepandaiannya, kecerdikannya, kebijaksanaannya, bahkan kalau boleh dibilang kebeperpihakan Roh Agung kepadanya sehingga rintangan semengerikan apapun selalu berhasil ia lalui nyaris tanpa kesulitan. Sungguh langka orang seperti dia. Dan memang demikian, dari sekian banyak orang kulit putih dan kulit merah, sebutan untuk orang Indian  di alam liar barat waktu itu, mereka bahkan sampai terheran-heran dan tak percaya manusia semacam Old Shatterhand pernah ada di muka bumi. Pahlawan Karl May ini nyaris sempurna dan tak ada cacat celanya. 😀

Gambaran dalam novel ini pun seolah terpapar nyata. Saya merasa seperti ikut berada di padang prairi, ikut mengejar dan menungganggi kuda, ikut merasa dingin di malam hari, ikut merasakan terpaan terik matahari di siang hari -bagian ini saya merasa biasa saja soalnya sudah jadi saudara kalau di Kupang ;), – ikut terpesona akan keindahan kawanan hewan-hewan yang berlarian di padang liar, ikut berada di antara semak-semak belukar mengintip mata-mata Indian, ikut bersama Old Shatterhand mengendap diam-diam menuju tempat kedua kepala suku Apache ditawan lalu melepaskan tali mereka, ikut terkagum-kagum melihat pueblo yang ditempati para Indian, ikut merasa kagum dan salut akan pertahanan hidup dan kesederhanaan mereka, ikut mengendap-ngendap ingin membebaskan Sam Hawkens yang cerewet dan ceroboh lalu yang terjadi adalah menangkap putra tertua Tangua, kepala suku Kiowa, serta berbagai macam kejadian lainnya. Juga gambaran kekaguman Old Shattehand terhadap Winnetou, putra sang kepala suku Apache, yang dibuat sampai terasa begitu dekat. Dikisahkan ia begitu amat mengagumi Winnetou saat pertama kali bertemu. Ada semacam chemistry yang terjadi antara mereka walau itu butuh waktu yang lama serta berbagai rintangan harus dilewati sampai keduanya saling mengakui dan menjadi saudara sedarah.

Cerita ini keren dan luar biasa. Nanti sambungannya yang berjudul Winnetou, Old Shatterhand masih dalam keadaan pingsan sehingga atas perintah Winnetou, ia dirawat oleh seorang perempuan tua dan juga adik perempuan Winnetou yang cantik, Nscho-tschi. Di buku ini, Old Shatterhand dkk sesama kulit putih belum berdamai dengan suku Apache. Nanti ketika di hari kematian mereka, ketika Intschu-tschuna, sang kepala suku Apache tak bisa membunuh Old Shatterhand karena kecerdikan dan kelihaiannya saat menyelam di sungai, dan saat yang seharusnya Old Shatterhand bisa membunuh Intschu-tschuna tapi justru ia tidak melakukannya, barulah Winnetou percaya bahwa sesungguhnya Old Shatterhand adalah seorang yang bisa dipercaya. “Matamu mata yang baik dan wajahmu jujur. Aku percaya kepadamu.” (hal. 66)

Kehidupan selanjutnya berjalan baik sesuai yang direncanakan walau ada insiden Tangua, sang kepala suku Kiowa dipecahkan lututnya karena keteledorannya sendiri. Sampai kemudian datang gerombolan perampok berkulit putih, Santer dan tiga temannya. Sam Hawkens yang cerewet menerangkan maksud perjalanan mereka sehingga sang kepala suku dan putrinya, adik Winnetou yang cantik harus mati ditembak saat baru pulang dari tempat mereka mengambil emas sebagai bekal perjalanan ke timur. Santer, satu-satunya perakus emas yang lolos itu harus berlari meminta bantuan kepada suku Kiowa. Permusuhan harus pecah lagi di antara mereka, antara Apache dan Kiowa.

Namun hingga akhir cerita, sangat menyedihkan bahwa Santer masih dalam pengejaran. Winnetou yang bertekad melaksanakan permintaan adiknya menjelang kematian harus berpisah dengan Old Shatterhand. Winnetou harus mengejar Santer, sang pembunuh ayah dan adiknya perempuannya. Sementara Old Shatterhand masih berupaya melepaskan Sam Hawkens yang lagi-lagi karena kebebalannya tak mau mematuhi Old Shatterhand sehingga terjerumus masuk perangkap Kiowa, untunglah bisa dibebaskan dengan dua sandera Kiowa yakni satu tawanan beserta putra tertua Tangua yang ditangkap malam-malam oleh Old Shatterhand ketika ia gagal melepaskan Sam sesuai yang direncanakan.

Sebelum mengakhiri catatan pendek ini, ada beberapa hal yang mau saya tambahkan. Pertama, saya begitu suka pernyataan Old Shatterhand di awal-awal sebelum ia terjun masuk alam liar barat. Ia mengakui bahwa sebelumnya ia menganggap dirinya cerdas dan berpengalaman sebab ia selalu rajin belajar dan tidak pernah ciut menghadapi ujian. “Tak terpikir olehku sebelumnya bahwa kehidupan adalah sekolah yang sesungguhnya. Bahwa murid-murid kehidupan diuji setiap jam setiap hari dan bahwa mereka harus membuktikan diri kepada Yang Mahakuasa.” (hal. 5) Saya setuju 100% -bahkan lebih :D-. Seberapa banyak kau membaca buku dan mendapat nilai baik sewaktu ujian di lembaga pendidikan, kehidupan kita di alam semesta inilah sekolah dan tempat ujian sebenarnya.

Berikut mengenai penulis novel. Dari profil yang saya baca, ternyata bahwa sekalipun mampu mendeskripsikan alam liar barat dengan detail dan tampak nyata seperti yang sudah saya bilang di atas, beliau sendiri belum pernah menginjakkan kakinya ke bagian Amerika yang dikenal sebagai wild west itu, bahkan sampai akhir hayatnya. Memang bertahun-tahun kemudian setelah buku-bukunya terbit dan populer, barulah ia sempat ke Amerika, itupun hanya sampai ke Amerika Utara. Keren sekali berarti imajinasinya. Salut. Saya berharap kapan-kapan bisa juga membaca buku-buku Karl May yang lain.

Demikian catatan pendek saya. Senang bisa menyelesaikannya. Walaupun kurang sempurna dan mungkin tidak beraturan, setidaknya saya tak lagi membiarkannya terbengkalai. Howhg. 😉 🙂