Ringkasan Membaca Tiga Buku Pinjaman di Kelas Menulis Dusun Flobamora

Atas Nama Malam oleh Seno Gumira Ajidarma

Walau ini kumpulan cerpen, tapi ia bisa seakan-akan dibaca sebagai satu cerita yang saling terkait. Cerita-ceritanya nyaris menghadirkan satu tokoh yang sama, hanya dalam potongan peristiwa yang berbeda. Tokohnya, seorang lelaki yang baru datang merantau dan bekerja di bar. Ia seorang pekerja malam. Ia baru bekerja ketika hari malam dan pulang subuh-subuh untuk menikmati tidurnya di siang hari. Maka tidak heran, seperti biasa orang-orang pekerja malam atau mereka pecinta malam, ia lantas seolah mengolok dan menyindir para pekerja kantoran yang bangun pagi-pagi dan tergesa-gesa ke kantor.

Dari beberapa cerita di sini, yang paling berkesan adalah tentang kampung di bawah bawah terang bulan atau apalah gitu (saya menulis catatan ini setelah bukunya dikembalikanJ), ketika sang tokoh dalam perjalanannya sepulang kerja dan berada di bawah siraman bulan, ia kembali mengingat masa kecilnya. Ia mengingat ibunya yang adalah seorang penari ular di atas panggung dangdut sementara ia didudukkan di atas pundak ayahnya dan di antara riuh penonton mereka berdua menonton ibunya yang sedang berada di panggung pertunjukan.

Ada percakapan dengan seorang kawan masa kecilnya tentang ibunya. Isi percakapannya serupa gosip yang didengar dari mulut orang-orang dewasa –kalau tak salah. Diakhiri dengan ia yang pulang dari tempat mana begitu dan pintu kamarnya sementara terbuka dan mendapati ibunya ternyata sedang tidur dengan laki-laki lain. Ia seketika itu juga membunuh laki-laki yang asing tersebut saat itu juga.

Tentang Kita oleh Reda Gaudiamo

Ceritanya yang paling berkesan adalah adalah Cik Gioh. Seorang anak perempuan yang sebentar lagi mau menikah dan menjelang pernikahan itu ayahnya sibuk sekali mengurusi kedatangan Cik Gioh yang dulu katanya adalah seorang anak angkat emak atau neneknya. Cik Gioh tersebut sekarang berada di Kalimantan.

Sang pencerita kembali membawa pembaca ke masa kanak-kanak ketika Cik Gioh masih tinggal di rumah mereka.Cik Gioh menempati kamar belakang, kamar yang sempit, sumpek, dan pengap. Si aku kecil sering secara sembunyi bermain-main di sana dan malah sering ketiduran walau dimarahi kalau kedapatan oleh ibunya atau neneknya.

Menjelang hari pernikahan, Cik Gioh datang.Tapi di rumah yang ia tinggali dulu, ia merasa seakan tak diperlakukan dengan hormat. Ia pergi lagi sebelum perhelatan pernikahan sang tokoh. Beberapa minggu setelah pernikahan, Cik Gioh dikabarkan sakit. Sang tokoh didesak harus mengunjunginya ke Kalimantan. Di sana Cik Gioh ternyata sudah berpulang sebelum mereka sempat bertemu muka. Sang tokoh dan ayahnya disambut hangat oleh sekeluarga di Kalimantan. Ayahnya sambil memeluk Cik Gioh yang sudah kaku, ia terus histris meminta maaf. Barulah datang tiba-tiba kakak dari Cik Gioh dan berbisik, “Pergilah. Salamilah mamamu.”

Berikut tentang, “Dunia Kami’. Cerita ini keren karena dikisahlan dari sudut pandang seorang anak remaja SMA tentang dunia anak remaja SMA yang suka tawuran hingga banyak menelan korban. Cerita ini sebenarnya mau mengolok anak-anak SMA yang katanya bisa dibilang gaul kalau mengikuti gaya-gaya selebritis, atau meniru trend-trend masa terbaru, atau terlibat dalam geng-geng yang suka bolos dan tawuran.

Berikutnya lagi, sebuah cerita lucu. Seorang supir taksi yang adalah seorang anak SMA. Ia pandai mengarang cerita. Ceritanya jenaka betul. Di bagian awal sampai tengah, kepada sang penumpangnya, ia begitu pintar menggambarkan bahwa istrinya di rumah tak pandai masak nasi. Bisa bubur bisa gosong. Melihat itu, ia bukannya marah dengan istrinya, tapi malah tertawa karena lucu. Baru kemudian di bagian akhir diketahui kalau ia hanya seorang anak SMA yng baru beberapa hari membawa mobil. Ia hanya mengarang cerita biar ia dikasih tambahan bayaran oleh penumpangnya. Menutup cerita ini, sang supir mengakui bahwa di sekolah, nilai pelajaran Bahasa Indonesianya bagus. Ia punya kepiawaian dalam mengarang cerita.

Cerita yang lainnya adalah, keinginan seorang ibu untuk memiliki mantu yang Chinese tapi adanya malah yang hitam.Terus saudaranya malah dapat Chinese, malah kemudian dapat banyak masalah. Atau misalnya perdebatan ibu dan anak mengenai cita-cita dan karir. Keinginan ibu yang mesti diikuti sang anak. Intinya, “Tentang Kita” memotret kehidupan yang sering ditemui sehari-hari.

 Sekali Peristiwa di Banten Selatan oleh Pramoedya Ananta Toer

Satu kampung yang  selalu diintai kekacauan gegara ulah para gerombolan. Para pengacau tersebut adalah DI. Sudah merdeka padahal. Bebas dari penjajah negara asing, sekarang malah dijajah oleh orang-orang kampung sendiri. Mereka suka bikin kacau. Tak mau kampung aman sebntar saja. Rakyat diperas habis-habisan. Diperbudak sewenang-wenang oleh yang beruang. Di balik kemanisannya, juragan Musa sendiri ternyata adalah sang pembesar atau yang disebut residen DI.

Cerita dibuka dengan penyajian suasana kampung. Ada dua pemikul singkong yang singgah berteduh di rumah Ranta dan Ireng. Ranta salah seorang yang dipaksa juragan Musa mencuri di Onderning. Awalnya ia sering mau-mau saja karena diupah dengan sekeping uang. Tapi kemudian ketika ia bolak balik menyerahkan bibit dan tak mendapat upah malah balik dituduh sebagai pencuri, ia justru mulai merasa muak. Ia jadi bosan. Putus asa, katanya. Maka itu ketika suatu hari juragan Musa mulai datang lagi, ia berani menggertak juragan Musa hingga lari ketakutan bahkan meninggalkan tongkat dan tasnya. Dua barang sebagai bukti itu dibawa Ranta kepada para tentara sehingga ketahuanlah juragan Musa sebenarnya terlibat dalam DI termasuk juga pak Lurah.

Banyak terjadi peristiwa sengit. Ketika Juragan Musa didatangi para tentara sementara ia bertengkar dengan istrinya dan ia masih menyangkal. Ketika datang para tamunya memberi laporan sementara para tentara bersembunyi di balik dinding. Menggelikan juga membayangkan ia yang merasa terjepit. Sudah jelas pun, ia masih terus-terusan berkilah kalau ia terlibat DI. Tapi bagaimanapun, juragan Musa akhirnya ditekuk. Rantalah yang diangkat menjadi Lurah setempat. Semenjak itu keadaan menjadi aman. Banyak kemajuan yang terlihat semenjak para gerombolan atau perusuh itu ditekuk. Istri juragan Musa yang terpelajar  pun ikut pula membantu dalam pemberantasan butah huruf setelah mengalami kepedihan mendalam oleh orang-orang DI sendiri.

Ada kutipan berkesan selain yang dituliskan dalam cover belakang buku, “Di mana-mana saya dengar: yang benar juga yang akhirnya menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak turun dari langit. Ia mesti diperjuangkan,” yakni ketika Ranta datang dengan lengannya berdarah-darah sebab dikeroyoki anak buah juragan Musa dan ditanyai Ireng, apakah tangannya sakit? Ia lantas tersenyum kasih kepada istrinya, berkata dengan nada meyakinkan, “Sakit? Tentu saja sakit. Tapi itu tidak penting. Kita hidup dalam kesakitan melulu. Kalau bukan daging yang sakit, ya hati. Kesakitan melulu.”

Ketiga penulis tersebut memang mumpuni. Tapi karena saya selalu lebih suka cerita-cerita yang mengangkat realita penderitaan rakyat. Lebih realistis. Menunjukkan keadaan masyarakat apa adanya. Maka tentulah walaupun biasanya di antara penulis laki-laki dan perempuan saya lebih sehati dengan penulis perempuan, tapi kali ini di antara ketiga penulis ini saya lebih memilih menyukai cerita Pramoedya Ananta Toer.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s