Go Set A Watchman oleh Harper Lee

20170312_153505Dibuka dengan perjalanan pulang Jean Louse dari New York menuju kampung halamannya di Maycomb. Bukannya disambut sang ayah, melainkan teman lama, Henry Clinton, yang oleh orang dianggap sampah namun berjuang keras memperbaiki image, mereka berjalan pulang menuju rumah.

Cerita yang kadang ada flash back ke kenangan masa-masa silamnya, bagaimana ia dulu sangat tomboy dan bukan seorang yang mau peduli dengan apapun, namun punya hati yang lembut karena tidak memandang berbeda orang negro– kelak ia menyadarinya dirinya seolah ingin menyindir, ia memang buta warna–sementara orang-orang lain pintar membedakan warna kulit seseorang sehingga memperlakukan seseorang berdasarkan warna kulit mereka.

Penggambaran masa kecilnya unik sekali. Harper Lee ini dengan jujur dan gamblang saja mendeskripsikan keluguan dan kepolosan masa kecil Jean Louse. Satu hal yang menarik adalah ketika ia bingung dirinya pernah dicium seseorang dan mendengar cerita kawan-kawan perempuannya tentang bagaimana serang anak perempuan bisa hamil karena dicium, ia menjadi stress hampir setahun. Selama setahun itu ia tidur dan bangun pagi dengan merasa ngeri bagaimana bila tiba-tiba ia bangun dan mendapati ada seonggok daging di tempat tidurnya. Hal yang membuat ia memutuskan ia mengakhiri hidupnya di masa menjelang menurut perkiraannya bayinya akan lahir.

Hal menarik lainnya itu adalah ketika segala gundahnya diceritakan kepada Calpurnia, pelayan yang penuh lemah lembut dan kasih sayang di rumahnya. “Dengan semua buku yang kau baca, kau bocah terbodoh yang pernah kutemui..” Dalam realita saya, lontaran kata-kata demikian memang begitu terdengar akrab di telinga saya 😀

Tentang kata-kata Calpurnia dalam cerita ini, bagaimana tidak dilontarkan, Jean Louse adalah seorang yang tomboi dan kasar tapi juga suka menenggelamkan dirinya dalam buku-buku. Tapi bahkan tak bisa tahu-menahu tentang bagaimana proses sampai adanya satu makhluk muncul di bumi. Calpurnia mengatakan kalau memang ia memang tak punya kesempatan belajar itu. Andai saja ia tinggal di daerah peternakan, maka ceritanya akan lain.

Bagian  yang paling saya suka juga adalah ketika mereka bermain dan berdebat tentang perbedaan dalam liturgi gereja. Mereka memperdebatkan tentang bagaimana seharusnya jemaat bernyanyi kalau di gereja, bagaimana seharusnya membaptis yang benar, dan juga ketika mereka dengan serius dan sungguh-sungguh memerankan pendeta dan jemaat. Membaca ini saya pun jadi mengenang masa-masa kecil saya juga demikian. Sepertinya hampir setiap orang ketika kecil, suka sekali melakukan dan memerankan perlakuan dan kehidupan orang-orang dewasa. Saya ingat, ketika saya kecil, saya paling suka berperan sebagai penyanyi di gereja, atau pemilik toko, atau bila sayalah yang paling kecil, maka saya akan menjadi anak si nyonya kaya yang galak. Saya suka ikut-ikutan menjadi anak yang manja dan suka menyiksa orang, namun juga terkadang saya menjadi pembantu di rumah orang kaya dan menjadi pesuruh orang jahat untuk melakukan pengintaian, atau bahkan terkadang menjadi prajurit perang. Permainan paling seru adalah saling menendang. Walau kecil, saya suka melakukan permainan kaki ini karena kita akan melompat layaknya aksi-aksi di film lalu menendang seorang yang menjadi musuh kita.

Durasi cerita ini hanya berlangsung beberapa hari, entah dua atau tiga hari, namun sarat akan hal-hal yang memukau. Sebab cerita ini juga berkilas-balik kepada masa kecil Jean. Di bagian akhir sebenarnya bagus dalam meningkatkan ketegangan, hanya sepertinya terlalu cerewet sang tokoh utama, seolah-olah penulis ingin memuntahkan semua pemikiran dan pandangannya dengan menumpang pada tokoh Jean. Yah, kalau saya memang melihatnya begitu. Sebab, bagi saya tak masuk akal, Jean seperti kesurupan. Gara-gara sejak kecil ia begitu memuja bapaknya, telah menganggapnya seorang pahlawan dan teladan hidup, begitu ia mendapati bapaknya, pamannya, dan orang yang dihormati ternyata terlibat dalam komunitas yang bertentangan dengan pandangannya, bisa membangkitkan amarahnya sedemikian rupa sampai ia memaki-maki bapaknya dengan kata-kata yang tak pantas sementara bapaknya menanggapi lontaran makian itu dengan biasa saja. Sampai hanya oleh dua kali tamparan sang paman, Jean kembali disadarkan dan kembali ke dunia nyata.

Di akhir cerita, karena biasa sebagai perempuan muda, saya pikir akan ada penyelesaian akan ke mana hubungan Jean dan teman lamanya, Henry Clinton. Ternyata Harper Lee tak menerangkannya. Mungkin ia mau menyerahkannya kepada pembaca, terserah mau dibawa ke mana. Sebuah kepuasan bagi Harper Lee memang, tapi tidak bagi pembaca tentunya… 😀

Iklan

One comment on “Go Set A Watchman oleh Harper Lee

  1. […] kecil itu adalah Jean Louse Finch yang biasa dipanggil Scout. Seorang gadis tomboi berumur enam tahun. Scout inilah tokoh utama […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s