Munida

{Cerpen ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang, edisi 51, Juli 2016}

:Dari dan untuk tiga perempuan: Muni, Nita, dan Widi Berbelina

13708220_522396224551937_7959299340003415686_o

Sampul depan Jurnal Sastra Santarang, ed 51, Jul’16. Sumber gambar: File Santarang

Munida sementara serius memindai buku yang hendak dibelinya ketika suara cempreng seseorang dekat di telinganya, mengalahkan instrumen You Raise Me Up yang tengah mengalun. “Harganya sudah begini mau bilang apa lagi. Toko ini bukan punya saya, bisa kasih turun harga semau beta semau lu.”

Munida mengangkat muka.

Persis di sampingnya, seorang penjaga toko sedang memelototi dua gadis berseragam SMA yang berwajah tegang menekuri harga buku serupa yang dipegang Munida. Buku panduan masuk SNMPTN.

“Bahkan kalaupun ada diskon 30 persen, jumlah uang kami berdua tak cukup,” salah seorang di antaranya berujar lirih.

“Maklumlah, ilmu memang mahal, Nona,” balas sang penjaga entah dari mana kata itu ia kutip.

Merasa terdorong, Munida mengambil satu lagi di antara beberapa eksemplar yang masih tergeletak di rak pajangan. “Kalian berdua ingin sekali buku ini?”

“Lebih dari ingin, Kak,” sahut salah satunya cepat seraya terkekeh.

Munida tercekat. Sekelebat, kisah tiga tahun silam menari-nari di depan matanya. Persis bulan-bulan begini. Pertengahan April.

*

Hari baru beranjak malam ketika Munida pulang dari kebun kala itu. Keringatnya bercucuran setelah menapaki beberapa tanjakan dengan dua bakul besar berisi cabe di pikulannya. Di rumah, seorang papalele sudah menunggu sejak tadi. Beberapa menit berlangsung transaksi jual beli, dan papalele itu keluar membawa karung berisi cabe di atas motornya. Sambil berangin-angin di teras samping rumah, ia menghitung kembali lembaran-lembaran uang di tangannya.

“Kira-kira sudah berapa banyak kau kumpul dalam bulan-bulan terakhir ini?” tanya ibunya dari dapur.

Ibunya juga baru tiba dari kebun yang sama tapi ia pulang lebih dahulu demi menyiapkan makan malam mereka sekeluarga.

“Masih butuh sejuta lebih,” sahutnya tanpa menoleh. “Kata beberapa kakak mahasiswa yang kutanyai, siap-siap saja uang masuknya tiga juta.”

“Bapak tambahkan 300 ribu kalau pak Samuel membayar lemari pesanannya,” timpal bapak yang baru muncul dari halaman. “Kalaupun belum cukup, mungkin bapak pergi melaut mencari kepiting. Oh ya, si Ama bilang besok ia datang lagi.”

“Apa ia bilang begitu? Di mana ketemu Bapak?” Munida serta-merta bertanya balik. Matanya memicing. Tadi si Ama tak bilang padanya.

“Ya, tadi ketemu di jalan. Katanya ia barusan dari sini. Cabenya bagus-bagus. Dan ia lupa bilang kalau besok mau datang lagi, jadi Bapak dititipi pesan.”

“Kalau begitu, Munida. Kau naikkan harganya saja. Beruntung kita ia yang butuh,” seru ibu dari dalam.

Munida tak berkomentar. Ada deru sepeda motor terdengar memasuki halaman.

“Sepertinya si Ama datang lagi,”

Sepeda motor hampir memasuki teras belakang. Eliya, kakak laki satu-satunya yang bekerja di kota turun dari motor dan menyalami seisi orang rumah.

“Ganjil benar hari ini kau muncul mendadak,” ibunya menyeletuk.

Kakaknya hanya menyeringai masam. Namun tak juga bilang apa-apa.

Munida sendiri menyambut gembira kedatangan kakaknya. Sebab ia dan  ibunya akan mendapat tenaga bantuan dari seorang yang muda, kuat, dan energik. Kedatangan kakaknya seperti bala bantuan yang baru saja diturunkan. Sebab ia dan ibunya memang cukup kewalahan dengan hasil panen. Benih-benih cabe yang ia dan ibunya semaikan pada lubang-lubang galian bapaknya beberapa bulan sebelumnya memang berbuah lebat. Munida sudah berangan-angan kelak uang hasil penjualan bagiannya akan ia simpan untuk pendaftaran masuk perguruan tinggi.

Kakaknya sudah lama bekerja di kota. Kira-kira setahun lebih setamatnya ia dari STM. Munida tak tahu persis kakaknya bekerja apa dan di mana. Sebab kabar yang datang selalu simpang siur. Kadang ia dengar sebagai supir bemo, kadang di bengkel sepeda motor, kadang sebagai pegawai toko, kadang sebagai pekerja di perusahaan mebel, kadang di bank sebagai satpam, bahkan ada yang bilang ia kuliah. Entah mana di antara sekian banyak kabar itu yang benar.

“Sudah di mana kau sekarang, atau sudah tak ada lagi makanya kau pulang tak berkabar?” tanya ibunya di sela-sela makan malam. “Kalau tak ada pekerjaan sekarang, baguslah kau bisa bantu-bantu di kebun, panen cabe. Pas lagi panenannya melimpah kali ini. Adikmu mau kumpul uang buat lanjut sekolah katanya.”

Kakaknya tersenyum kecut. Lantas menoleh tanpa ekspresi ke arah Munida. Tak seperti biasanya ia diam begitu.

Seusai makan malam pun, tak ada bincang-bincang dengan bapak atau ibunya. Ia langsung tepekur menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil mengepulkan asap rokoknya hingga jauh malam.

Sepertinya ia ada masalah, ibu berbisik lirih mengamati tingkah anak sulungnya.

Keesokan siang sepulang sekolah, Munida mendapati ibunya masih belum pergi ke kebun. Ia sementara duduk di bangku ruang tengah dan mencoret-coret sesuatu di atas selembar kertas. Biasanya di jam-jam begitu ibunya sudah di kebun lebih dahulu, dan Munida hanya tinggal makan siang yang sudah disiapkan lantas menyusul.

Bapaknya tentu sudah di padang menggembalakan sapi-sapi milik seorang kaya di kampungnya atau kalau dapat tawaran sampingan entah menggergaji kayu, entah menyerut kayu, entah mengerjakan pesanan perabot rumah tangga seperti lemari meja kursi, entah menggali lubang tanaman, entah mengiris tuak, atau pekerjaan lain apa saja yang bisa dikerjakan di waktu senggang maka akan ia kerjakan.

“Kakakmu sudah dengan bapak ke padang hari ini,” jelas ibu tanpa ditanya. “Dari sana ia akan ke kebun membantumu memetik cabe.”

Munida mengangguk, “Saya akan senang mendapat bantuannya.”

Cepat-cepat ia mengganti seragamnya lalu segera makan.

“Munida,” panggil ibu yang kemudian suaranya seolah tertahan.

Munida yang sedang menyuapkan makanan ke mulut sontak berhenti dan menoleh. Ada nada ungkapan tersisa dari panggilan ibunya yang belum ia keluarkan.

Melihat ibunya terdiam dan tak melanjutkan bicara, Munida tak mau membuang waktu, ia meneruskan makannya. Ia mesti cepat-cepat ke kebun memetik cabe. Si Ama sudah berjanji akan datang lagi mengambil bagiannya. Tentu sebagian uang hasil penjualan adalah untuk tabungan ia mendaftar masuk perguruan tinggi nanti. Satu atau dua bulan lagi.

Saat-saat itu bahkan di sela-sela persiapan ujian akhir nasionalnya yang tinggal dua minggu, ia justru lebih rajin. Sepulang sekolah, ia akan cepat-cepat menyantap makanannya. Satu dua buku catatan ia masukan ke tas kain di bahunya, lalu bak anak kijang yang lincah, ia akan bergerak lari menuju kebun yang berjarak 2-3 kilo dari rumah. Di sana ia akan duduk beristirahat dalam sebuah gubuk kecil di tengah kebun sambil mempelajari kembali bukunya. Barulah kemudian ketika matahari sudah mulai mendingin ia akan turun memetik cabe untuk ditaruh dalam bakul, lalu akan dipikulnya kembali menuju rumah yang mana sudah ditunggui para papalele atau mamalele yang biasanya berebutan mendapat hasil kebun terbaik.

Malam seusai si Ama membayar hasil panenannya, Munida mandi dan tak sempat makan ia langsung pamit menuju rumah kawannya yang hanya berseberangan jalan. Ada tugas belajar kelompok yang dianjurkan guru-guru di sekolah. Tugas itu sewaktu awal kesepakatan di sekolah mau dikerjakan siang sepulang sekolah atau sore. Tetapi kawan-kawan sekelompoknya paham kondisi keluarga Munida yang langsung ke kebun sepulang sekolah dan baru balik menjelang malam. Maka kemudian kesepakatan terakhir adalah malam sepulang Munida dari kebun.

Ada sesuatu yang janggal tercium ketika Munida mengetuk pintu sepulangnya dari belajar kelompok. Mata ibu sembab. Munida tahu jelas ibunya baru saja habis menangis. Tentu sebab berita yang dibawa sang kakak.

“Ada sesuatu yang mesti yang kau tahu dari kakakmu,” ibunya berkata dingin.

Betul sudah yang ia duga. Ia melongok jauh ke dalam. Bapak dan kakaknya diam merenung. Keduanya tak ada yang nampak merokok.

“Apa kau kenal Raeni? Ia pacar kakakmu. Sudah hamil dua bulan.”

Bagi Munida tak ada berita yang lebih mengagetkan dari yang disampaikan ibunya malam itu. Raeni, kawan seangkatan Munida. Pernah dulu mereka satu SMP. Masuk SMA, anak itu lebih memilih bersekolah di kota. Ia masuk SMK jurusan tata kecantikan. Bapaknya orang berada yang serta-merta membelikan rumah berhalaman luas untuk tempat huni anak perempuannya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebab selain menjabat sebagai kepala desa di desa tetangga, bapak Reni juga juragan sapi. Rumahnya di antara beberapa kampung itu adalah yang paling besar serupa istana. Punya banyak kendaraan. Satu sedan, dua pick up, dua bus, tiga truk, dan tiga bemo angkutan desa. Sepeda motor tak terhitung. Hampir setiap anak buahnya –kalau tidak semua –satu-satu punya tunggangan sendiri.

Masalah kehamilan ini, kata ibunya, masih dirahasiakan keluarga sang perempuan. Kerena sebentar lagi, seperti Munida, sang perempuan mesti ikut ujian nasional. “Mereka menuntut harus segera diurus perkawinan keduanya. Kalau bisa langsung setelah anaknya mengikuti ujian,” tersendat-sendat ibunya bertutur.

Munida melihat kelender yang tergantung di dinding tembok. Ujian akhir nasional dilaksanakan dua minggu lagi. Sedang Mei atau Juni pendaftaran masuk perguruan tinggi dibuka.

“Belum-belum mereka sudah minta kita mesti siap dari sekarang.”

“Siap?” Munida tak menangkap maksud ibunya.

“Total denda dan belis 120 juta.”

*

“Buku ini sudah kakak bayar buat kami masing-masing?” tanya gadis yang berdiri tepat di sampingnya dengan mata berbinar. Ia menatap tak percaya Munida melepas begitu saja beberapa ratus ribu demi tiga buku yang duanya diberikan kepada ia dan temannya.

“Kakak tidak keberatan, kan?” satunya lagi bertanya sambil menyelisik Munida yang berkaos pendek, jeans kumal, bersandal jepit dengan sebuah tas kain tenun kecil yang disampirkan di bahu kanannya.

Tak berniat membeberkan kisahnya, Munida hanya tersenyum kecil seraya memasukkan buku yang baru dibelinya ke dalam tas. Ia menepuk bahu kedua remaja itu lantas berlalu meninggalkan keduanya yang sibuk menerka-nerka seolah baru saja bertemu malaikat. Mereka tidak tahu, beberapa hari lalu kepingan ringgit Munida baru saja dialihkan ke rupiah sekembalinya dari negeri jiran.

Kupang, April 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s