Catatan Buku

Membaca “Too Much Happiness” oleh Alice Munro

Sebelum ingatan saya hilang akan sebuah buku kumpulan cerpen, Too Much Happiness dari Alice Munro yang saya baca hampir sebulan ini, ada baiknya saya buat catatan biar bisa membantu mengingat. Hitung-hitung sekalian godok ini pikiran ko jang babuntu.

Sumber gambar: Amazon

Bab satu berjudul Dimensions. Dibuka dengan pengenalan tokoh utamanya Doree, 23 tahun. Ia sementara menjalani masa pemulihan dari masa depresinya dengan bekerja sebagai chambermaid di Blue Spruce Inn. Doree sedang dalam perjalanan menuju London, mengunjungi suaminya, Lloyd, yang adalah seorang pesakitan setelah tiga anak mereka mati di tangannya. Dalam perjalanan inilah disuguhkan kembali masa-masa kehidupan yang telah dilewati Doree sampai kenapa ia harus berada dalam bus menuju London itu.

Walaupun alur cerita ini sebenarnya cukup membuat alis berkerut, namun ini adalah cerpen yang paling saya suka sehingga catatan untuk judul ini akan menjadi yang paling panjang.

Pertama kali Doree mengenal Lloyd ketika ia berumur 16 tahun dan pergi menjenguk ibunya di rumah sakit. Saat itu Llyod yang adalah teman ibunya juga berada di sana. Di situlah dimulainya kedekatan mereka sehingga ketika ibu Doree meninggal, walau ibunya punya banyak teman perempuan yang bisa menampungnya, ia tetap lebih memilih Lloyd. Ia hamil dan mereka menikah. Tiga orang anak kemudian berturut-turut lahir, Sasha, Barbara Ann, dan Dimitri.

Permasalahan RT mereka mulai muncul saat kelahiran Dimitri. Pertengkaran-pertengkaran kecil, dari ASI Dimitri, pendidikan anak,Doree dikatai pelacur sama seperti ibunya, ketaksukaan Lloyd akan hubungan persahabatan istrinya dengan Maggie, tetangga mereka yang punya dua anak laki-laki yang sakit-sakitan, sampai kepada pembelian Spagheti yang akhirnya menjadi penyebab insiden puncak dalam cerita ini.

Masalah spagheti yang dapat dibilang sepele ini sebenarnya merupakan penumpukan masalah-masalah yang mungkin sudah bersesakan di hati Doree. Malam itu karena ia membawa pulang sekaleng spaghetti yang sedikit penyok, Lloyd menuduhnya ingin meracuni seisi keluarga. Mereka saling beradu mulut.Tak mau lagi ada pertengkaran berkepanjangan dan sekadar ingin mencari udara segar atau menenangkan diri, malam itu Doree meninggalkan rumah dan menginap di rumah sahabatnya Maggie. Ia hanya menginap semalam, dan tetap berusaha untuk tak membeberkan masalah rumah tangga mereka karena Doree sendiri tahu masalah rumah tangga adalah privasi, tidak seperti yang ditakutkan dan dituduhkan suaminya kepadanya.

Esok paginya ketika Doree pulang diantar Maggie, ia mendapati tiga anak yang dilahirkannya dalam keadaan tak bernyawa dan tergeletak begitu saja di tempat masing-masing. Mereka mati dicekik ayah sendiri. Si bungsu Dimitri di tempat tidur bayinya, Barbara Ann yang berusia dua tahun di samping tempat tidur, serta Sasha 3,5 tahun di pintu dapur. Rupanya semalam sementara ia dan Llyod bertengkar, dua anak pertamanya yang diam-diam mengintip dari balik pintu dan anak ketiga yang terbaring di tempat tidur bayinya adalah saat-saat terakhir kali Doree melihat mereka.

Lloyd masuk ke penjara. Doree dibantu para pekerja sosial untuk pemulihan depresi. Mrs Sands sebagai sang konselornya begitu pengertian. Namun dalam masa itupun, ada bagian menarik yang disajikan yakni pamflet tentang orang-orang yang membawa dan memberikannya pamlet tentang penghiburan atau pengharapan dengan ada gambar Yesus di dalamnya. Pamflet yang berbunyi, ‘when your loss seem unbearable…’ yang kalau diterjemahkan saya akan lebih senang seandainya oleh Alice Munro bukan kata ‘loss’ yang dipakai tapi ‘pain’ atau ‘suffering’ sehingga bisa dibacanya ‘ketika penderitaannmu rasa-rasanya tak tertahankan…’ (ini pemahaman saya dari pada memakai kata ‘kehilangan’), lalu disertai dengan gambar Yesus. Ketika ia ditanyai Mrs Sands, ‘apa ia suka pamflet itu?’, tanggapan Doree semacam sindiran yang begitu menyentak, ‘when you’re down is when they’ll try to get at you.” Ia kemudian ingat itu juga yang dikatakan ibunya ketika di RS dulu, orang-orang itu datang dan melakukan yang sama kepada ibunya sama seperti yang mereka lakukan kepadanya saat ini, ‘They think you’ll fall on your knees and then it’ll be all right’. Tapi kemudian tentang pamflet itu, ia bilang sekalipun bila ia percaya akan surga dan neraka, maka yang diinginkannya adalah Lloyd terbakar saja di neraka. Namun itu hanya ada dalam pikirannya dan tak sampai diteruskannya kepada Mrs Sands. Tak patut, pikirnya.

Membaca tanggapan Doree tersebut, entah kenapa saya merasa sedih–ini saya, terserah entah Anda bagaimana dan mau bilang apa. Karena kalau tak salah, bagian ini ingin merujuk kepada para penginjil yang melayani di rumah-rumah sakit, di penjara, atau di tempat-tempat praktek para psikolog atau psikiater. Apa maksud Alice Munro menyertakan bagian ini dalam ceritanya? Apa menginjil dan mencari jiwa di tempat-tempat seperti adalah suatu pekerjaan yang tak baik atau tak patut? Apa Alice Munro mau menunjukan lewat cerita ini bahwa melakukan hal-hal itu adalah salah? Bagi saya bukan itu maksudnya. Tetapi ia mau menunjukan dan ingin bertanya, memangnya selama ini ‘kamu’ di mana? ‘Kamu’ di sini adalah orang-orang yang mengagumi dan mengikuti Yesus lalu mengabdikan dirinya mengabarkan injil. Di mana ‘kamu’ selama ini sampai orang sudah sementara sekarat dan sudah di puncak kesakitannya, baru ‘kamu’ muncul atau istilahnya dalam bahasa Kupang ‘tepa’ di rumah sakit, di penjara, atau di tempat praktek psikiater dan berlagak seolah-olah ingin menjadi pahlawan kesiangan? Nah, sementara ‘kamu’ datang dan berbusa-busa dengan kisah surga dan neraka, orang sudah kenyang melewati berbagai macam kesakitan dan penderitaan, ia sudah sibuk memikirkan hal lain. Surga dan neraka hanyalah mitos dan dongeng yang sudah lama basi. Ini teguran keras sebenarnya. Di mana peran ‘kamu’ dalam kehidupan sehari-hari? Di mana peran ‘kamu’ dalam kehidupan bermasyarakat? Jangan-jangan ‘kamu-kamu’ ini yang justru dalam kehidupan keseharian adalah pemicu kesakitan dan penderitaan orang-orang. Merenungkan ini, saya pun melihat diri saya, jangan-jangan saya pun adalah salah satunya. Ah, lebih baik tidak usahlah pakai ‘jangan-jangan’, tapi langsung saja, saya adalah salah satunya. Walau sebenarnya saya sendiri tak mau itu terjadi, tapi sadar tidak sadar, saya pun pasti pernah dan telah menyakiti orang lain dengan sikap saya, pembawaan saya, dan segala tentang dan dari diri saya–saya sungguh menangis sedih untuk hal ini.

Melanjutkan tentang cerita ‘Dimensions’. Dalam masa-masa selama Lloyd dalam penjara, Doree sering datang berkunjung. Terjadi percakapan basi-basi. Saling bertanya dan yang dijawab pendek tentang keadaan masing-masing, perjalanan Doree dan tempat kerjanya, tentang apa yang dilakukan Lloyd.

Suatu hari di tempat kerja Doree, datang sepucuk surat dari Lloyd. Surat yang tak bertanggal ataupun setidaknya dengan sapaan melainkan seperti sebuah undangan atau renungan atau khobah agama. Surat yang dibuka dengan paparan tentang tingkah laku orang-orang yang sebenarnya setiap ini ada dalam penderitaan, dan pekerjaan setiap hari mereka adalah berusaha mencari jalan keluar atau penghiburan dengan cara masing-masing. Lalu ia yang katanya sudah merasa dalam damai karena telah menemukan dan menerima keberadaan dirinya. Dunia boleh menghakiminya sebagai monster yang paling bengis, dan ia menerima sekalipun ia bisa saja membantah dengan mengatakan bahwa orang-orang yang menjatuhkan bom dan membunuh ribuan orang-orang tak bersalah saja tidak dikatakan monster tapi malahan mendapat apresiasi dan medali. Sementara ia sendiri, ia tahu kesalahan terbesarnya. Maka itu ia dalam keadaan damai. “What I Know in Myself is my own Evil. That is the secret of my comfort. I mean I know my Worst. It may be worse than other people’s worst but in fact I do not have to think or worry about that. No excuses. I am at peace.”

Sungguh aneh. Tak ada rasa penyesalan atau rasa bersalah sama sekali dari suratnya. Dalam surat ini juga dikatakan ada hal lain yang mau diceritakan kepada Doree hanya ia belum berani. Pikir Doree mungkin ia mau menceritakannnya saat pertemuan mereka kali berikut. Ternyata tidak juga. Barulah menyusul surat kedua. Ia membuka dengan pernyataan bahwa surga itu ada. Walau yang dimaksudnya bukan karena ia percaya akan surga dan neraka yang diceritakan dalam agama. Kemudian diceritakan hal yang mau diceritakan bahwa bahwa ia sudah bertemu dengan tiga anaknya yang berada di dimensi lain, sebuah dunia yang bukan ada di dunia kita. Mereka hidup dan bertumbuh dengan baik, sehat, dan gembira.

Doree berkesimpulan Lloyd memang benar-benar sakit. Namun sekalipun sakit, hanya Lloyd tempatnya ia bersandar, hanya Lloyd satu-satunya orang yang mengerti tentang dia. Maka itu surat tersebut sama sekali tak diberitahukanya kepada konselornya, Mrs Sands. Dan ia diam-diam masih mengunjungi Lloyd.

Di perjalanan kunjungan ke Lloyd kali ini, di tengah jalan ia menyaksikan sebuah kecelakaan yang menimpa seorang anak muda. Melihat peristiwa itu, karena menyadari bahwa ketiga anaknya mati tanpa ia sendiri menyaksikannya, maka ia berusaha sekuat yang ia mampu untuk menolong anak muda yang sekarat di jalan itu. Oleh kegigihannya nyawa anak muda itu dapat tertolong, dan ia sendiri tak jadi melanjutkan perjalanan kunjungannya ke London, tempat Lloyd menjalani masa pesakitannya.

Pertama kali selesai membaca ketika menutup cerita ‘Dimensions’, satu kata pesan yang muncul dalam kepala saya adalah harapan. Dengan adanya harapan, Doree berusaha sekuat yang ia mampu sehingga nyawa seorang anak muda yang mengalami kecelakaan di jalan itu dapat tertolong. Namun kemudian setelah membaca kembali, saya pikir insiden yang menimpa anak muda di jalan sebenarnya bukan yang menjadi tujuan akhir atau ingin menunjukan tentang tujuan cerita. Ia hanyalah alat atau adegan yang dipakai Alice Munro untuk menyudahi cerita ini, bahwa sudah sebaiknya Doree tidak usah dan tak perlu lagi berurusan dengan pembunuh anaknya sendiri.Tentang hal ini, saya merasa sedih. Ya, saya sedih. Entahlah, mungkin di mata pembaca lain, mereka lebih bersimpati kepada Doree sebagai protagonist cerita, tapi saya sendiri menaruh simpati kepada Lloyd. Kenapa? Karena ia terbenam dan terkurung sendiri dalam pemahamannya. Dan ia merasa ia sudah baik.

Cerita kedua, Fiction yang bercerita tentang keluarga Joyce dan John, dua pasangan muda-mudi yang terbilang cerdas namun harus drop out dari kampus karena mereka lebih suka berkelana. Mereka kemudan menikah, Joyce menjadi pengajar musik sementara Jon bekerja di bidang mebel. Seorang pembelajar datang, Edie, seorang perempuan bertato yang punya seorang anak perempuan berumur sembilan tahun yang kemudian menjadi murid Joyce. Dengan kehadiran Edie, hubungan John dan Joyce mulai merenggang.

Joyce masih sempat berusaha untuk tetap merebut perhatian John, namun perhatian John sudah melekat kepada Edie, sehingga tak bisa dihindari lagi, Joyce harus keluar rumah dan tinggal di apartemen sementara Edie menjadi istri kedua John.

Joyce juga menikah lagi dan menjadi istri ketiga Matt. Mereka tinggal bertiga dengan Tom, anak bungsu dari istri pertama Matt, Sally. Saat pesta ulang tahun Matt yang ke 65, Joyce bertemu dengan seorang gadis yang awalnya menarik perhatiannya, Christie. Ia adalah istri Kevin, teman Tom. Dari Tom inilah, Joyce mengetahui bahwa Christie seorang penulis.

Suatu kali ketika melewati tokoh buku, nama dan foto Christie terpampang jelas di depan toko buku tersebut. Judul bukunya, ‘How Are We to Live’ sebuah kumpulan cerpen. Christie baru saja lulus dari program kelas menulis, dan buku itu adalah buku pertamanya.

Joyce membeli dan membawa pulang buku tersebut. Di situlah ketika membaca buku itu, diketahuilah bahwa Christie adalah anak perempuan Edie, yang juga sempat menjadi muridnya ke kelas musik dulu. Betapa dulu, anak perempuan Edie ini begitu merasa sayang dan mengagumi gurunya. Gurunya yang kemudian tersingkir dan terpisah dengan suaminya oleh karena kehadiran ibunya dalam rumah tangga mereka. Dalam satu bagian dituliskan bahwa, dulu si gadis kecil itu sebenarnya tak begitu bertalenta dalam bermain musik tapi ia tetap mau berusaha keras dalam belajar dan memainkannya. Bukan semata-mata ia cinta musik. Melainkan karena cintanya yang besar kepada gurunya.

Sayang, di masa ketika gadis itu besar dan menjadi penulis, ia sama sekali tak mengenali bahwa perempuan tua yang menjadi ibu tiri dari sahabat suaminya adalah gurunya yang dulu pernah dikaguminya.

Cerita ketiga,Wenlock Edge, adalah kutipan dari sebuah puisi yang dibacakan tokoh aku kepada Mr. Puvlir, seorang laki-laki tua pengusaha yang menjadikan teman kamarnya, Nina, sebagai simpanan. Nina punya cerita masa lalu yang rumit. Di satu hari weekend, Nina ini dalam keadaan sakit, dan tidak pulang ke rumah Mr. Puvlir seperti biasanya sehingga tokoh akulah yang diundang makan Mr Puvlir. Sepulangnya tokoh aku dari tempat Mr Puvlir, Nina malah menghilang dan ternyata ia berada di tempat paman sang tokoh aku, Ernie Bott. Baru saja kenal, tapi Nina sudah heboh menggaung-gaungkan tentang keduanya yang akan menikah dan akan mendapat restu dari tokoh aku sebagai keponakan Ernie.

Saya agak sedih membacanya ketika tokoh aku yang sudah lama dekat dengan pamannya ini masih punya respect padanya, namun datangnya Nina bisa dengan mudah mematahkannya.

Di akhir cerita, Nina tak jadi menikah dengan Ernie Bott, dan justru kepada Ernie Bott, Mr. Puvlir dikenalkan sebagai paman tuanya. Mendengar itu, tokoh aku tak berkomentar. Tentu ia pun tahu, mana mungkin ia membicarakan sesuatu yang buruk tentang kawannya sendiri. Namun di sisi lain, sebenarnya cukup kasihan juga Ernie Bott tidak tahu-menahu hal sebenarnya. Kasihan ia bisa saja dikibuli.

Cerita keempat, Deep Holes. Kent yang kala berumur sembilan tahun mengalami kecelakaan sewaktu piknik keluarga, kemudian mengagumi ayahnya yang menyelamatkannya, namun respons ayahnya tampak biasa dan tak begitu mengindahkannya. Ia kemudian di masa dewasanya kabur dari rumah, mangambil pilihan hidup yang jauh sekali dan tak sesuai harapan orang tuanya, dan itu sangat membuat prihatin keluarga terutama di hati ibunya. Demikian jalan ceritanya kalau diikuti.

Ceritanya menarik dan saya suka model seperti ini, cerita yang melibatkan anak-anak di dalamnya. Tapi karena saya agak sulit untuk mengerti hubungan kejadian di masa kecil Kent dan jalan pilihan hidupnya ketika ia dewasa, maka mencoba searching dan ketemulah link-link berikut yang akhirnya dapat membantu. Demikian link tentang Deep Holes, Summary of the Alice Munro interview: Deep Holes, Deep Holes by Alice Munro, Alice Munro’s Short Story Deep HolesThe New Yorker: Deep Holes by Alice Munro. 

Cerita kelima, Free Radicals, tentang Nita seorang janda yang sementara sakit dan tinggal seorang diri di rumah peninggalan suami dengan istri lamanya, kemudian datang seorang pemuda tak dikenal. Pemuda itu ternyata seorang pelarian atau buronan yang baru saja menembak mati keluarganya sendiri, bapak ibunya dan saudarinya. Ia datang dengan dalih semacam petugas PLN yang ingin memperbaiki kotak sekering. Namun kemudian yang terjadi adalah ia membawa pergi mobil mendiang suami Nita dan mengalami kecelakaan di jalan.

Keenam, Face. Nah, kalau ini saya suka sekali. Tentang ‘aku’ yang kelahirannya ditolak oleh ayahnya sendiri. Si ‘aku’ yang mempunyai tanda lahir di wajahnya seolah-olah adalah suatu bencana dan kejijikan bagi ayahnya. Ayahnya bahkan sampai menggerutu kepada ibunya, akan lebih baik bila seonggok daging itu tak ada di rumahnya. Demikian sampai besarnya ia tetap tak pernah dianggap ada oleh ayahnya sendiri.

Di masa kecilnya ia bersama Nancy, seorang anak tetangga yang menjadi temannya sering bermain bersama. Sampai suatu ketika di dalam gudang bawah tanah Nancy melukis wajahnya serupa dengan penampilan tokoh ‘aku’. Ia berjingkrak senang. Tidak bemaksud buruk sebenarnya. Hanya di mata si ‘aku’ itu sangat menyakitinya. Baginya saat itu adalah suatu penghinaan dari seorang kawan satu-satunya yang dipercayainya. Maka berlarilah ia keluar ingin agar seseorang menegaskan padanya bahwa wajahnya tak semengerikan yang dilukiskan Nancy. Terjadilah pertengkaran mulut antara ibu sang aku dan ibu Nancy yang berujung kepada kepindahan Nancy dan ibunya, juga si aku yang dikirim ke luar untuk bersekolah.

Sebagaimana Dimensions, alur cerita ini pun unik dan luar biasa. Si aku yang di masa dewasanya terjun ke dunia seni, menjadi aktor, juga sutradara, menjadi penyair radio, membacakan puisi, dan cerita-cerita, serta melakukan berbagai kegiatan sehingga boleh dibilang ia cukup populer. Ia yang menikmati kehidupan sebagaimana orang-orang lainnya, suatu kali seusai penguburan ayahnya, ia dipanggil ibunya dan kepadanya barulah diceritakan hal yang terjadi dengan teman masa kecilnya, Nancy, semenjak mereka berpisah dulu dan tak lagi saling tahu kabar.

Diceritakan beberapa waktu setelah keberangkatan tokoh aku, Nancy yang entah mungkin merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan atau sebagai tanda bukti bahwa ia bukannya ingin menyakiti sahabatnya melainkan sebagai rasa penerimaan yang utuh, nekat membuat baretan di pipinya. Baretan yang sama persis dengan yang dimiliki si aku. Kejadian itu diketahui ibu si aku namun tak pernah disampaikan kepadanya hingga di hari penguburan ayahnya ini. Dengan penyampaian ini, demikian ibunya justru menggoda dan mendorong si aku menikahi teman masa kecilnya yang disebutnya di sini sebagai ‘that girl who sliced up her face,’.

Kisah kelakuan Nancy di masa kecilnya berkesan sekali bagi saya. Di mana  anak-anak biasanya tak begitu mengerti tentang bagaimana seharusnya berperilaku. Mereka hanya melakukannya berdasarkan apa yang mereka rasa itu bisa menyenangkan hati tanpa memikirkan konsekuensinya. Apa yang baginya menyenangkan dipikirnya itu juga menyenangkan orang lain. Ketika sebuah kecelakaan sudah terjadi, banyak mata menuduh mereka, mendapat gertakan habis-habisan, barulah mereka merasa tersentak lantas mulai merasa takut. Ketakukannya melanda seakan langit akan runtuh detik itu juga. Seakan-akan engkau terjebak dalam lorong panjang yang gelap dan tak jua menemukan tanda-tanda yang mengarah ke pintu keluar (yah, ini pengalaman pribadiJ).

Sayangnya, Nancy yang kemudian mungkin menanggung apa yang dirasakannya bertahun-tahun sementara si tokoh aku justru tak lagi begitu menghiraukan masalah itu. Malah bila dibanding antara wajah Nancy dan Shalom, ibu Nancy, justru yang lebih jelas terbayang di mata tokoh aku adalah wajah ibu Nancy. Pengabaian ini seperti berantai. Aku yang dulunya di masa lahir dan pertumbuhannya terabaikan olehnya ayahnya, kemudian di masa remaja dan dewasanya juga mengabaikan teman masa kecilnya yang jelas-jelas telah terbaca bahwa ia tidak berniat menyakiti hati si tokoh aku.

Cerita ini berlanjut kepada tokoh aku yang disengat lebah atau tawon, masuk RS, bermimpi didatangi seseorang yang mengaku diri sebagai pembacanya, lalu ada permainan-permainan mengisi waktu berhubungan dengan kutipan-kutipan teks yang pernah dibacakan.

Keren sekali, dan cerdas sekali, dan mantap sekali, dan tepat sekali, dan sungguh indah Alice Munro menghadirkan kutipan puisi Walter de la Mare sebagai penutup cerita ini. Membaca kutipan puisinya dalam ‘Face’ ini, nama Walter de la Mare pun masuk dalam list tokoh favorit saya.

Ketujuh, Some Women. Ingatan seorang perempuan akan masa kecilnya di umur 13 tahun ketika ia bekerja untuk pertama kalinya. Ia bekerja paruh waktu untuk keluarga Crozier. Tugasnya adalah menjagai Bruce, yang dipanggilnya Young Mr. Crozier, seorang mantan tentara yang baru pulang dari perang dan sementara menderita leukemia, bila istrinya, Sylvia, yang dipanggilnya Young Mrs. Crozier pergi mengajar di sekolah musim panas. Di rumah itu juga tinggal ibu tiri Bruce, yang dipangilnya Old Mrs. Crozier.

Pekerjaannya tidaklah terlalu berat. Misalnya seperti membawakannya air minum, menarik tirai naik atau turun disesuaikan dengan bayangan cahaya matahari, atau pergi menengok apa yang ia butuhkan ketika ia membunyikan bel di samping tempat tidurnya, biasanya ia meminta memindahkan kipas angin yang berisik walau ia sendiri sebnarnya butuh angin. Untuk mengisi waktu di antara jeda penjagaannya, tokoh aku terkadang menengok-nengok isi rak buku dan mengambil beberapa persediaan buku di dalamnya.

Suatu kali datang seorang perempuan lain ke rumah itu. Roxanne, tamu Old Mrs. Crozier, seorang pemijat atau yang bekerja di salon-salon perawatan perempuan. Roxanne seorang perempuan yang aktif dan genit. Sekalipun sudah bersuami dan punya anak, bersama Mrs. Crozier mereka berkomplot menarik perhatian sang mantan tentara. Usaha mereka kelihatanya seperti akan berhasil. Terbaca dari roman muka dan ekspresi Young Mr. Crozier. Rupanya Old Mrs. Crozier juga senang dengan Roxanne.

Di hari terakhir mengajar Sylvia yang juga adalah hari terakhir tokoh aku bekerja, dua perempuan itu sempat berseteru kecil-kecilan karena makaroni yang sudah dipesan Old Mrs. Crozier tak mau disentuh sama sekali Roxanne.

Sementara kedua perempuan itu asyik dengan kegiatan rutinnya, dan sang tokoh aku masuk melakukan pekerjaannya seperti biasa, Young Mr. Crozier memintanya mengunci pintu dari luar. Kuncinya hanya boleh diberikan kepada istrinya ketika kembali. Rahasia itu hanya di antara keduanya.

Roxanne panik saat mengetahui pintu Bruce terkunci. Ia takut bila Bruce melakukan yang tidak diinginkan. Maka itu ia berusaha menendang daun pintu, berniat memanggil polisi yang kesemuanya tak disetujui Old Mrs. Crozier sehingga perseteruan keduanya kembali berulang. Sepulangnya Sylvi, kunci itu diserahkan tokoh aku, dan semua yang terjadi di rumah diceritakan kepada Sylvi. Tidak ada maslah apa-apa yang terjadi pada Bruce karena itu hanya diketahui sendiri oleh Sylvi. Pembaca tak diberitahu secara langsung apa sebenarnya yang dilihat atau yang terjadi saat Slvy membuka pintu kamar tersebut. Selanjutnya si aku diantar pulang. Di tengah jalan, ada terlihat Roxanne seolah masih ingin mengetahui apa yang terjadi di rumah yang baru saja ditinggalkannya.

Peristiwa selanjutnya tentang paparan perkembangan setelah hari itu. Keluarga Roxanne pindah. Ibu si aku mengalami kelumpuhan. Bruce dibawa Sylvi ke sebuah rumah sewaan dekat danau hingga meninggal di sana. Old Mrs. Crozier mengalami masa pemulihan akibat struk dan berbaik hati kepada anak-anak yang membantunya.

Peran tokoh aku di sini hanyalah sebagai pengamat tanpa terlalu ikut menyertakan pandangan atau pikiran atau perasaannya. Namun kita pun ikut terbawa seolah ikut hadir dalam setiap adegannya sepanjang cerita ini, latar tempatnya hanya berkisar antara kawasan rumah keluarga Crozier.

Delapan, Childs Play pun menjadi favorit saya. Sang pencerita Marlene bersama temannya Charlene yang pertama berkenalan di sebuah camp musim panas yang oleh orang-orang di sekitar mereka dipanggil kembar. Cerita ini dapat berjalan dan menjadi berkesan dengan datangnya seorang tokoh Verna, seorang anak sebaya mereka yang menjadi tetangga Charlene dan tergabung dalam kelas ‘special’. Marlene sangat tidak menyukai Verna mendekatinya. Keberaadan Verna dirasainya seperti ulat bulu atau semut yang sangat menggangu dan mengusik kenyamanan. Ibu Marlene berkali-kali menegurnya. “What’s the problem, what are you afraid of, do you think she’s going to eat you?” demikian kata sang ibu yang bagi saya sangat berkesan. Saya tersenyum membaca kalimat ini. Bukannya mendukung seorang ibu menggerutu sedemikian kepada anaknya, melainkan ini mengingatknan masa saya kecil yang tumbuh besar dalam lingkungan dengan ungkapan kalimat semacam itu. Saya merasa seperti langsung mendengar omelan ibu saya sendiri karena tak mau berkawan dengan anak tetangga tertentu atau tak mau mengajak serta adik ketika saya mau keluar bermain ke rumah kawan atau sanak. Ternyata kalimat-kalimat semacam itu yang terjadi di suatu pelosok Indonesia ada juga sama persis di dunia Eropa sana.

Hal berkesan lainnya sewaktu di perkemahan dan Verna menghampiri mereka. Bersama Charlene mereka seolah bermain petak umpet. Percakapan-percakapan yang dihadirkan sangat khas anak-anak dan begitu hidup.

“She’s seen you,” said Charlene. “Don’t look. Don’t look. I’ll get between you and her. Move. Keep moving.”

“Is she coming this way?”

“No. She’s just standing there. She’s just looking at you.”

“Smiling?”

“Sort of.”

“I can’t look at her. I’d be sick.”

Di hari terakhir perkemahan, menjelang kepulangan anak-anak mendapat sesi berenang dengan diawasi para konselor. Di sini oleh keduanya Verna ditenggelamkan. Ketika heboh ada satu anak special yang belum juga bergabung saat jam pulang, tak ada sama sekali reaksi ditunjukan oleh Marlene dan Charlen. Setiap anak pun berpisah tanpa sempat saling berucap salam perpisahan. Hubungan mereka tiada lagi berkabar hingga dewasa. Tak lagi diceritakan di sini bagaimana perasaan mereka sepulang dari kamp tersebut. Apakah ada secuil rasa bersalah atau tidak. Apakah ada tanggungan beban berat atau tidak. Sama sekali tak diceritakan.

Cerita masa dewasa mereka dimulai lagi ketika mereka saling dipertemukan media cetak. Marlene melihat foto pernikahan Charlene di koran, sementara Charlene melihat profil Marlene di majalah sebagai penulis buku. Hanya saling tahu, namun tak sampai beretemu langsung. Mereka baru bertemu ketika datang surat kedua dan Charlene ternyata sudah dalam keadaan sekarat menunggu hari matinya. Ada satu memo yang dititipkan Charlene untuknya untuk disampaikan kepada seorang pastor di Guelph, tempat ia menikah dulu. Saya mencoba menduga-duga bahwa itu semacam pengakuan akan rasa bersalah dan permohonan pengampunanya menjelang hari matinya.

Secara keseluruhan yang berkesan bagi saya di sini adalah kelakuan anak-anak yang akibatnya kepada orang bukan sekadar luka atau sakit, tapi nyawa yang  sampai hilang kemudian mereka berlaku biasa-biasa saja. Dan betapa ini diceritakan sangat apik sampai-sampai saya sebagai pembaca pun jadinya bukannya mencerca atau menghakimi para berandalan cilik ini, tapi justru terlibat dalam berempati kepada mereka.

Sembilan, Wood, ceritanya lebih fokus kepada Roy dengan latarnya di hutan. Bagaimana pertarungannya ketika ia mengalami kecelakaan sewaktu ingin pergi memotong kayu dan istrinya yang akhirnya datang menyelamatkannya. Kesan ketika membaca cerita ini, yang saya bayangkan adalah bapak saya yang pernah juga mengalami hal serupa sewaktu ia memotong kayu di ladang. Betapa pergulatan hebat telah ia lewati sebelum sampai ke rumah.

Awal membaca cerita ini, pikir saya ceritanya akan mirip dengan cerita Fiction, yang mana John dekat dengan Edie, maka di sini Roy akan dengan dengan keponakan istrinya, Diane, tapi ternyata—untungnya—tidak.  Kesimpulan akhir, mungkin dari semua cerita dalam buku ini, hanya ini satu-satunya yang beralur maju.

Sepuluh, Too Much Happiness, yang dipilih sebagai judul buku ini adalah cerpen terakhir sekaligus cerita terpanjang dari antara 10 cerita dalam buku ini. Sesuai catatan di lembaran akhir buku, Alice Munro mengaku cerpen ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang professor matematika perempuan yang juga penulis buku, Sophie Kovalevzky.

Sebelum lanjut membaca cerita ini, sebagai seorang pelajar yang pernah mengenyam dan bahkan menyelesaikan gelar sarjana di pendidikan matematika, tentu Sophie Kovalevzky bukan nama yang asing bagi saya. Awal-awal di masa kuliah pun saya begitu terkagum-kagum dengan perempuan brilian dan keren ini. Saya pernah berkeinginan mengikuti jejaknya, tetap menggeluti mengajar matematika dan juga menulis. Sayangnya, saya lebih memilih meninggalkan matematika.

Kisah tentangnya di dalam cerpen ini menarik. Betapa di masa itu boleh ada seorang perempuan yang hebat dan berprestasi di bidang matematika sampai mendapat award, dan juga bisa menghasilkan tulisan-tulisan luar biasa. Sophia semasa kecil bukanlah anak kesayangan orang tuanya. Ia punya seorang saudari yang digambarkan di sini sebagai seorang perempuan Rusia yang tak berperangai baik yang kemudian meninggal dengan meninggalkan seorang anak laki-laki untuk suaminya yang seorang aktivis. Ada kisah mengharukan antara persaudaraan ini, yakni ketika iparnya, suami Anita, Jaclard, ditahan, suami Sophia, Vladimir, begitu berjuang mati-matian untuk bisa membebaskannya. Vladimir sendiri ketika usahanya bankrut karena dipermainkan keluarga Ragozins, kemudian menjadi depresi dan bunuh diri setelah menulis sebuah surat sebagai salam perpisahan, meninggalkan seorang anak perempuan untuk Sophia, Fufu.

Mentor Sophia, seorang bapak tua yang disebut Weierstrass, sangat mencintai matematika, dan juga sangat menyayangi Sophie. Sophia bahkan disebutnya, “as a gift to me and to me alone”. Weierstrass tidak menikah sampai hari tuanya, hidup bersama dua saudara perempuannya. Begitu besar cintanya pada matematika dan sayangngnya kepada Sophie, sampai-sampai ketika Sophia sementara berduka karena ditinggal mati Vladimir, Weierstrass mengirimkannya kepadanya Excelent system of Integral sebagai bahan atau teman untuk menghilangkan duka atau menenangkan diri. Namun oleh Sophie, bukannya penemuan matematika itu dipakai menenangkan diri, ia justru lebih memilih menulis cerita.

Selain itu, ada juga diselipkan pengamatan dan pemikiran Sophie mengenai feminisme selama ia berada dalam bis dan mengamati tindak tanduk perempuan di sekelilingnya. Keprihatiannya kepada perempuan-perempuan ini diperdebatkannya sendiri. Bisa saja ia bilang ini ‘terrible’, tapi mereka pun bisa membalas, ‘but that is not as God wills?’. Segala pikiran berkecamuk dalam kepalanya sampai ia tiba di kota tujuan, mengikuti konferensi-konferensi, dan menjalani hidup dengan tampak seolah-olah baik padahal ia sementara menderita pneumonia, sakit yang sama diderita oleh mentornya, Weierstrass. Menjelang kematiannya di Stockholm, dari mulut Sophie Kovalevzky terdengar kalimat Too Much Happines yang diucapkan berulang, maka dari itulah judul cerpen ini dipilih.

Secara keseluruhan mengenai buku dengan 10 bab ini, mengisahkan tentang keluarga dan problema-problema kehidupannya. Hampir tiap keluarga punya masalahnya sendiri-sendiri. Kalimat kesimpulan ini tiba-tiba mengingatkan saya kepada pembuka novel Anna Karenina karya Leo Tolstoy yang jilid 1, “Keluarga bahagia mirip satu dengan lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri”.

Mengenai alurnya, hanya dengan mengikuti baik-baik ceritanya, engkau bisa tahu tentang kapan terjadinya cerita itu. Sebab misalnya ia sementara berkisah tentang masa kecil, bahkan ada juga dialog-dialognya, namun bisa dengan tiba-tiba saja di paragraf berikuta dalah cerita atau percakapan yang sedang terjadi di masa sekarang. Contoh saja di cerita Face, ketika seusai penguburan ayahnya, si aku diajak ibunya dan kepadanya diceritakan tnatang kejadian yang menimpa teman masa kecilnya setelah ia dikirim pergi sekolah. Sementara dikisahkan tentang omelan ibu dari Nancy, teman masa kecilnya, “You’re just my luck,” she said. “A crazy kid like you.” (She adalah ibu Nancy, dan kejadian itu adalah pengalaman masa lalu) lalu di paragraf berikut, muncul begitu saja kalimat sang ibu dari tokoh aku, “If there had been social workers around at that time,” my mother said, “the poor little thing would have been made a ward of the Children’s Aid.” (yang sementara terjadi sekarang).

Atau misalnya di Too Much Happines, dalam suatu teks tiba-tiba muncul tentang Anita dan Jaclard dalam satu paragraf. Kemunculannya terjadi tiba-tiba, demikian pun ketiadaan mereka. Kesannya jadi seperti mengganggu saja teks yang dibaca.

Namun bagimanapun itu, yang saya kagumi dari Alice Munro ini adalah ia bisa bercerita sedemikian rupa sehingga tidak terkesan blak-blakan dalam mengungkapkan perasaan para tokoh, tidak mengiba-ngiba tentang pergumulan hidup mereka yang justru teramat-amat berat. Ceritanya mengalir pelan-pelan, sang narator dibuat membawakan ceritanya seakan-akan itu hanyalah sekadar mengenang masa lalu tanpa berapi-api mengutuki diri sendiri yang bersalah, atau misalnya menghakimi orang lain sebagai penyebab penderitaan.  :3 🙂

Iklan