The Wild West Journey

Dua Buku Karl May seri The Wild West Journey:

Old Shatterhand dan Winnetou

Penerbit: Visimedia, Jakarta, 2013

Dua buku ini sudah lama. Lama sekali. Beberapa tahun lalu saya beli. Kalau tak salah ketika masa-masa kampanye Jokowi menjadi presiden. Kenapa baru sekarang saya buatkan catatannya? Karena dulu sewaktu pertama kali baca, saya sudah sempat buat catatannya. Tapi tidak lengkap. Lalu terabaikan.

Beberapa hari lalu, dekat-dekat hari libur, ketika sedang beres-beres, saya melihat dua buku ini lagi. Lantas saya mencoba mengingat kalau dua buku ini sudah saya baca, dan kesan pertama kali waktu baca, saya sungguh suka keduanya. Anehnya cerita detailnya saya agak lupa-lupa ingat.

Hanya jelas masih terekam di benak kalau waktu itu saya sungguh mengikuti dan menikmati petualangan sang tokoh utama. Bagaimana ia yang mulanya adalah seorang pendatang dari Jerman ke benua Amerika lalu ikut terlibat dalam kegiatan pengukuran. Waktu itu, alam liar Amerika masih sangat luas dan berbahaya. Perencanaan pengukuran itu sedianya akan dibangun rel kereta api yang oleh orang Indian disebut kuda besi.

Tiga bulan pertama, pekerjaan mereka berjalan baik sekalipun ada masalah-masalah sepele yang kerap terjadi karena beberapa rekan pengukur serta kepala insinyur mereka tergolong orang yang malas dan lebih suka berleha-leha apalagi kalau menyangkut brendi. Mau tak mau sebagai orang yang tak mau menerima uang dengan cara gampang, Charlie harus bekerjakeras demi pekerjaan mereka tidak terbengkalai. Itu baru masalah kecil dan bukan yang terpenting. 😀

Beberapa hal menarik yang saya mau catat di sini adalah tentang tokoh Charlie sendiri juga bagaimana sang penulis menyeret pembaca untuk ikut merasakan dan menikmati suasana alam liar di barat waktu itu.

Dari tokoh Charlie lebih dulu. Ia mula-mulanya disebut sebagai tanduk hijau. Apa itu tanduk hijau? Ada paparan panjang pada bagian pembukan cerita, tapi saya hanya mengutip bebebapa sebagai contoh.

Seorang tanduk hijau adalah orang yang masih hijau dalam arti masih baru dan awam di dunia barat. Dia harus berhati-hati agar tidak berbuat bodoh. Tanduk hijau adalah orang yang tidak segera berdiri dari kursinya ketika seorang perempuan ingin duduk di sana. Dia keliru dengan menyapa tuan rumah terlebih dahulu sebelum mengangkat topinya kepada sang nyonya atau nona. Seorang tanduk hijau keliru mengira jejak kaki seekor ayam turki sebagai seekor beruang dan keliru mengira perahu yacht sebagai kapal uap Mississsippi. Demi menjaga kebersihan, seorang tanduk hijau membawa sebuah spons sebesar labu raksasa dan sabun sebanyak lima kg ke padang prairi. Dia juga membawa sebuah kompas yang tiga atau empat hari kemudian jarumnya menunjuk semua arah selain utara. Seorang tanduk hijau mencatat 800 ungkapan dalam bahasa Indian lalu sadar, begitu bertemu orang Indian pertamanya, bahwa catatan itu tertukar dengan surat yang dia kirim ke rumah dan dia malah membawa surat yang semestinya dikirim. Seorang tanduk hijau membeli bubuk mesiu lalu sadar, ketika dia siap melakukan tembakan pertamanya, bahwa dia malah diberikan bubuk arang halus. Seorang tanduk hijau telah mempelajari astronomi selama sepuluh tahun tanpa bisa mendongak ke langit berbintang dan mengatakan pukul berapa sekarang. Saat berada di Wild West, seorang tanduk hijau membuat api unggun yang besar sekali hingga setinggi pepohonan, kemudian, saat dia ditembaki oleh orang-orang Indian, dia heran bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaannya. Seperti itulah sifat tanduk hijau. Namun, jangan salah sangka, ada lagi sifat menonjol dari tanduk hijau, yaitu kita yakin bahwa orang-orang lain adalah tanduk hijau, sedangkan kita bukan. Demikian sekilas tentang tanduk hijau.

Kenapa saya begitu rajin menyalin dan menjabarkan tentang tanduk hijau? Karena sepanjang cerita ini berjalan, Charlie, yang terkenal dengan sebutan Old Shatterhand, tak henti-hentinya disebut sebagai tanduk hijau baik oleh kawan-kawan maupun lawannya sekalipun banyak hal luar biasa yang sudah ia lakukan bahkan melampaui apa yang pernah dipercaya para penjelajah ulung sekalipun. Sebagai orang baru di alam liar barat, Charlie terbilang sangat memukau. Ia yang sebelumnya adalah seorang guru privat, yang hidup sebelumnya hanya bergelut dengan buku-buku sampai dibilang seorang kutu buku, mampu menembak dengan baik, mampu menundukkan kuda liar, mampu membunuh grizzly yang beringas hanya dengan menggunakan pisau, mampu melumpuhkan lawannya walau hanya dengan satu tinju atau satu pukulan, mampu membunuh sang ‘pisau kilat’, ahli pisau terkenal dari suku Kiowa, musuh Apache. Sebenarnya ia seorang yang tak suka akan kekerasan, apalagi sampai ada pertumpahan darah. Namun ia melakukan itu hanya sebagai tindakan pembelaan diri.

Pemikirannya, prinsipnya, cara pandangnya, keyakinannya, ketangkasannya, kepandaiannya, kecerdikannya, kebijaksanaannya, bahkan kalau boleh dibilang kebeperpihakan Roh Agung kepadanya sehingga rintangan semengerikan apapun selalu berhasil ia lalui nyaris tanpa kesulitan. Sungguh langka orang seperti dia. Dan memang demikian, dari sekian banyak orang kulit putih dan kulit merah, sebutan untuk orang Indian  di alam liar barat waktu itu, mereka bahkan sampai terheran-heran dan tak percaya manusia semacam Old Shatterhand pernah ada di muka bumi. Pahlawan Karl May ini nyaris sempurna dan tak ada cacat celanya. 😀

Gambaran dalam novel ini pun seolah terpapar nyata. Saya merasa seperti ikut berada di padang prairi, ikut mengejar dan menungganggi kuda, ikut merasa dingin di malam hari, ikut merasakan terpaan terik matahari di siang hari -bagian ini saya merasa biasa saja soalnya sudah jadi saudara kalau di Kupang ;), – ikut terpesona akan keindahan kawanan hewan-hewan yang berlarian di padang liar, ikut berada di antara semak-semak belukar mengintip mata-mata Indian, ikut bersama Old Shatterhand mengendap diam-diam menuju tempat kedua kepala suku Apache ditawan lalu melepaskan tali mereka, ikut terkagum-kagum melihat pueblo yang ditempati para Indian, ikut merasa kagum dan salut akan pertahanan hidup dan kesederhanaan mereka, ikut mengendap-ngendap ingin membebaskan Sam Hawkens yang cerewet dan ceroboh lalu yang terjadi adalah menangkap putra tertua Tangua, kepala suku Kiowa, serta berbagai macam kejadian lainnya. Juga gambaran kekaguman Old Shattehand terhadap Winnetou, putra sang kepala suku Apache, yang dibuat sampai terasa begitu dekat. Dikisahkan ia begitu amat mengagumi Winnetou saat pertama kali bertemu. Ada semacam chemistry yang terjadi antara mereka walau itu butuh waktu yang lama serta berbagai rintangan harus dilewati sampai keduanya saling mengakui dan menjadi saudara sedarah.

Cerita ini keren dan luar biasa. Nanti sambungannya yang berjudul Winnetou, Old Shatterhand masih dalam keadaan pingsan sehingga atas perintah Winnetou, ia dirawat oleh seorang perempuan tua dan juga adik perempuan Winnetou yang cantik, Nscho-tschi. Di buku ini, Old Shatterhand dkk sesama kulit putih belum berdamai dengan suku Apache. Nanti ketika di hari kematian mereka, ketika Intschu-tschuna, sang kepala suku Apache tak bisa membunuh Old Shatterhand karena kecerdikan dan kelihaiannya saat menyelam di sungai, dan saat yang seharusnya Old Shatterhand bisa membunuh Intschu-tschuna tapi justru ia tidak melakukannya, barulah Winnetou percaya bahwa sesungguhnya Old Shatterhand adalah seorang yang bisa dipercaya. “Matamu mata yang baik dan wajahmu jujur. Aku percaya kepadamu.” (hal. 66)

Kehidupan selanjutnya berjalan baik sesuai yang direncanakan walau ada insiden Tangua, sang kepala suku Kiowa dipecahkan lututnya karena keteledorannya sendiri. Sampai kemudian datang gerombolan perampok berkulit putih, Santer dan tiga temannya. Sam Hawkens yang cerewet menerangkan maksud perjalanan mereka sehingga sang kepala suku dan putrinya, adik Winnetou yang cantik harus mati ditembak saat baru pulang dari tempat mereka mengambil emas sebagai bekal perjalanan ke timur. Santer, satu-satunya perakus emas yang lolos itu harus berlari meminta bantuan kepada suku Kiowa. Permusuhan harus pecah lagi di antara mereka, antara Apache dan Kiowa.

Namun hingga akhir cerita, sangat menyedihkan bahwa Santer masih dalam pengejaran. Winnetou yang bertekad melaksanakan permintaan adiknya menjelang kematian harus berpisah dengan Old Shatterhand. Winnetou harus mengejar Santer, sang pembunuh ayah dan adiknya perempuannya. Sementara Old Shatterhand masih berupaya melepaskan Sam Hawkens yang lagi-lagi karena kebebalannya tak mau mematuhi Old Shatterhand sehingga terjerumus masuk perangkap Kiowa, untunglah bisa dibebaskan dengan dua sandera Kiowa yakni satu tawanan beserta putra tertua Tangua yang ditangkap malam-malam oleh Old Shatterhand ketika ia gagal melepaskan Sam sesuai yang direncanakan.

Sebelum mengakhiri catatan pendek ini, ada beberapa hal yang mau saya tambahkan. Pertama, saya begitu suka pernyataan Old Shatterhand di awal-awal sebelum ia terjun masuk alam liar barat. Ia mengakui bahwa sebelumnya ia menganggap dirinya cerdas dan berpengalaman sebab ia selalu rajin belajar dan tidak pernah ciut menghadapi ujian. “Tak terpikir olehku sebelumnya bahwa kehidupan adalah sekolah yang sesungguhnya. Bahwa murid-murid kehidupan diuji setiap jam setiap hari dan bahwa mereka harus membuktikan diri kepada Yang Mahakuasa.” (hal. 5) Saya setuju 100% -bahkan lebih :D-. Seberapa banyak kau membaca buku dan mendapat nilai baik sewaktu ujian di lembaga pendidikan, kehidupan kita di alam semesta inilah sekolah dan tempat ujian sebenarnya.

Berikut mengenai penulis novel. Dari profil yang saya baca, ternyata bahwa sekalipun mampu mendeskripsikan alam liar barat dengan detail dan tampak nyata seperti yang sudah saya bilang di atas, beliau sendiri belum pernah menginjakkan kakinya ke bagian Amerika yang dikenal sebagai wild west itu, bahkan sampai akhir hayatnya. Memang bertahun-tahun kemudian setelah buku-bukunya terbit dan populer, barulah ia sempat ke Amerika, itupun hanya sampai ke Amerika Utara. Keren sekali berarti imajinasinya. Salut. Saya berharap kapan-kapan bisa juga membaca buku-buku Karl May yang lain.

Demikian catatan pendek saya. Senang bisa menyelesaikannya. Walaupun kurang sempurna dan mungkin tidak beraturan, setidaknya saya tak lagi membiarkannya terbengkalai. Howhg. 😉 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s