Sekilas Yesus di Dua Novel

20160827_120801Mendekati peringatan hari kelahiran Yesus yang dipahatkan tanggal 25 Desember, kali ini saya mencoba membaca kembali novel lama saya (saya memang sepertinya suka sekali baca buku-buku lama. Apa karena ketiadaan atau kekurangan buku? Sebenarnya tidak juga…:) Di rak buku masih ada beberapa buku yang bahkan masih terbungkus rapi dengan plastik pembungkus ataupun bahkan yang sudah dibuka plastik pembungkusnya pun, masih belum sempat saya baca 😦 ) yang berjudul Yesus: Kisah tentang Pencerahan yang ditulis Deepak Chopra, seorang dokter yang juga guru spiritual asal India.

Niat awal saya mau membaca kembali buku ini agak-agak bagaimana begitu…:D. Saya berpikir ini kan masa natal. Akan banyak ibadah natal memang. Setiap komunitas dari sekolah, gereja, rayon, keluarga, angkatan-angkatan tertentu, dsb pasti punya ibadah natalnya sendiri-sendiri. Dan, hampir pasti bacaannya tak jauh-jauh dengan peristiwa kelahiran Yesus, latar belakang dan impaknya. Nah, saya hanya ingin memencarkan pikiran dan imajinasi saya ke tahun-tahun keberadaan Yesus yang tak dikisahkan secara ekspilit dalam perjanjian baru saja. Istilahnya saya hanya mau rekreasi. 😀

Walaupun di luar sana ada banyak sumber tulisan lain tentang masa-masa yang istilah kerennya disebut sebagai ‘the lost age/the lost years/the unknown years/the hidden years of Jesus…’ atau apalah itu, di sini saya hanya mau menyentil atau katakanlah membandingkannya dengan novel yang berkisah tentang masa kanak-kanak Yesus karya Anne Rice (selanjutnya akan saya sebut AR) berjudul Christ the Lord: Out of Egypt.

Antara keduanya tak saling mendukung. Satu novel punya pandangan lain, satunya lagi lain. Rasa atau feel membacanya pun begitu. Contohnya, di novel AR, Yesus mulai bergumul menyadari keilahiannya semasa kanak-kanak, di novel Deepak Chopra (DC), malah baru ketika berumur 20, itupun masih ragu-ragu dan tidak pede. Latar belakang kehidupan Yesus yang adalah seorang Yahudi pun lebih terbaca di novel AR, sementara novel karya DC ini malah lebih terasa nuansa mistis dan gelap seperti cerita-cerita pencari Tuhan lainnya. Mungkin bisa dimengerti, sebuah karya tak lepas dari latar belakang penulisnya, dan di paragraf pertama sudah dikenalkan siapa dan dari mana DC.

Di novel AR, Yesus tergolong anak yang aktif dan rajin membantu keluarganya. Di novel DC, Yesus yang adalah pemuda tapi seolah ‘malas’. Dapat dilihat dari ketika setelah malam sebelumnya menemani adiknya Yakobus pulang larut malam kemudian tidur sampai hari siang dan terbangun hanya karena ada bau sesuatu terbakar, Yesus tahu Yusuf pergi mencari pekerjaan serabutan dari pagi dan akan pulang malam namun ia tampak tak merasa terbeban sama sekali. Pemuda usia produktif macam apa Yesus itu kalau begitu?

Perbedaan lainnya tentang tokoh Yesus dengan pergulatan pikirannya. Di novel DC, Yesus seperti berjarak dengan pembaca. Sementara dalam novel AR, pembaca justru seolah ikut terseret dalam pergulatan pikiran Yesus. Serasa apa yang dipikirkan dan dirasakan Yesus kanak-kanak juga bisa dialami pembaca. Bahkan kualitas–sebut saja begitu–pergumulan Yesus kanak-kanak justru lebih kuat dibanding Yesus pemuda.

Nah, tapi dengan adanya beberapa perbedaan mereka justru di situlah bagusnya, bahwa jelas kedua buku ini adalah fiksi–seperti yang diakui masing-masing penulis. Dengan begitu kita dapat mengerti bahwa belum ada yang tahu pasti-sepasti-pastinya tentang tahun-tahun Yesus yang tak disebutkan secara eksplisit dalam PB, dan itu adalah milik Tuhan. Misteri Tuhan. Tak usah dan tak perlu jadi bahan saling adu ataupun saling todong.
Secara singkat terkait pembacaan novel Yesus kali ini, baiklah saya mengakui, sesungguhnya, dibanding isi ceritanya, saya justru lebih tertarik kepada beberapa bagian yang ada di bagian belakang buku yakni Panduan Pembaca: Yesus dan Jalan Menuju Pencerahan. Ada sesuatu yang dibutuhkan jauh melampaui apa yang disebut sebagai ‘agama’.

Satu hal terakhir, terlepas dari banyak perbedaan antara keduanya itu–yang sempat saya tulis di sini ataupun tidak–saya memilih untuk lebih menyukai cerita di novel AR. Bukan karena novel DC tak bagus. Mungkin alasan terbaiknya adalah karena saya memang seorang pencinta cerita bocah. 🙂

Selamat Natal 2016 bagi yang merayakan.
Salam Damai… Salam Teduh…Salam Sejuk.
Dia, Yesus namanya. Sang Raja Damai, telah datang. Dia membawa damai.

Maka, saling berdamailah engkau satu sama lain.

Damai itu teduh. Damai itu sejuk. Damai itu indah…:)

***

!!! Catatan singkat saya sebelumnya tentang novel Anne Rice ada di sini

Saya tahu, mungkin juga diam-diam ada yang mengumpat saya karena bisa-bisanya saya bilang Yesus kanak-kanak sebagai sebagai bocah indigo. Apapun itu, hanyalah masalah penamaan. Harap dimengerti…:)

Iklan