Menulis itu Bersyukur

“Menulis itu bersyukur,” demikian yang berulangkali berkumandang dalam hati Celine.

Ia selalu merasa bersalah setiap kali rencananya menulis selalu gagal. Sudah berberapa kali ia memelototi layar laptop namun tak kunjung menyelesaikan beberapa dratf yang ada di filenya. Kesalahan itu semakin meningkat ketika baru saja ia mendapat ide untuk memulai tulisan baru atau mau melanjutkan tulisan lama atau merevisi beberapa tulisan di dalam beberapa file tulisannya namun tiba-tiba ada gangguan-gangguan kecil lain yang datang membuyarkan konsentrasinya. Sebenarnya tak masalah bila gangguan-gangguan itu lewat, lalu ia kembali fokus. Sayangnya ketika ia bersiap memulai kembali, justru apa yang tadi sudah menggebu-gebu di kepala hilang dalam sekejap dan serasa seolah tak ada lagi semangat menulis seperti sediakala.

Sore ini, karena tak tahu dan bingung draft mana tulisan mana yang mau dipoles, ia habiskan waktu hanya dengan membaca. Ia membaca beberapa bukunya yang dibelinya sebelum pulang liburan kemarin. Buku-buku itu memenuhi tas dan dusnya melebihi barang-barang bawaan yang sedianya adalah pesanan orang rumah dalam rangka mempersiapkan acara natalan.

Saat tiba hari itu di rumah, ibunya dan adik-adiknya senang setengah mati dikiranya banyak barang bawaan itu adalah makanan dan minuman serta hadiah-hadiah natal untuk mereka. Mereka menarik napas kecewa saat tahu kebanyakan yang dibawa adalah buku-buku daripada pesanan mereka.

“Nanti, besok atau lusa kembali lagi ke kota buat belanja. Toh, hari natal tepatnya belum tiba,” ia dengan sumringah menjawab. Tak ada rasa bersalah. Anggota kelaurga itu harus berpuas diri dengan sekaleng biskuit dan beberapa jenis minuman ringan.

Walau libur, ia tetap meluangkan waktunya membaca dan menulis. Karena tak mau orang lain tahu dirinya hanya mengerjakan tulisan fiksi atau non fiksi yang bagi mereka seperti pekerjaan sia-sia dan usaha menjaring angin, ia bilang ia sedang mengerjakan tugas kantornya yang mesti dikirim lewat email. Maka demikianlah ia tetap punya alasan sibuk dan tetap bekerja di malam hari ketika orang rumah menyuruhnya tidur.

Jangan kau pikir ia hanya membaca dan menulis lalu mengabaikan keluarga. Tidak. Ia tak seperti itu. Ia cukup tahu tata krama. Ia selalu tetap terlibat dengan acara-acara di kampungnya.

Hari pertama ketika baru tiba, segerombolan bocah berlarian datang ke rumahnya menyambutnya seperti berebutan permen. Mereka cekikan kesenangan karena mereka bisa meminta diajari bernyanyi lagu-lagu anak berbahasa Inggris dan diiiringi gitar petikannya.

Untunglah di antara sekian banyak bawaan pesanan natal dan buku-bukunya, ia tak lupa membawa gitarnya. Gitar itu ia jaga setengah mati bahkan melebihi buku-bukunya yang konon adalah sahabat terbaik, jangan sampai ada satu bagian dari tubuh gitar itu yang lecet atau talinya yang salah arah. Maka, gitar itu nyaris selalu bersih dan terjaga di balik sarungnya. Di kamar sewanya di kota, ia hanya mengeluarkannya kalau memang hanya sedang jenuh dan ingin berteriak tapi karena akan mengundang perhatian apalagi tempat tinggalnya hanya berjarak sepetak-sepetak dengan tetangga sehingga ia merasa butuh gitar untuk mengiringinya dalam mengeluarkan suara-suara cempreng ataupun sumbangnya. Tak banyak lagu ia bisa mainkan. Bukan karena tak tahu tapi ia bukan seorang yang mudah menghafal lirik lagu padahal ia adalah seorang penyuka literatur dan bergiat di kegiatan membaca dan menulis. Sering ia diganggu kawan-kawannya, seorang penulis yang bergelut dengan kata-kata tapi kalau menyanyi saja bisa kata-katanya tak dipikirkan lebih dahulu sampai asal tapa mereka bilang.

Selain para bocah itu, beberapa saudara laki-lakinya juga memang butuh sekali gitar untuk menyanyi di gereja. Para pemuda itu pernah mengikuti satu kompetisi vokal grup yang diadakan satu komunitas dan keluar sebagai juara satu lalu mendapat hadiah gitar yang membuat Celine bangga tak kepalang bahwa kalau ia tak bisa dan tak berbakat menyanyi setidaknya masih ada saudara laki-lakinya yang meneruskan bakat menyanyi mamanya. Gitar kelompok pemuda itu mungkn juga bukan sebuah gitar yang cukup berkualitas sehingga bahkan baru beberapa bulan tapi sudah berkali-kali diganti talinya karena putus, atau mungkin juga mereka yang hanya membeli tali gitar murahan di kios. Tapi mungkin juga ada alasan lain di balik itu. Sang gitarisnya yang pernah melihat gitar Celine tahun lalu ketika ia mengiring anak-anak sekolah minggu menyanyi mungking juga tertarik dan ingin mencoba mencari alasan bagaimana ia bisa juga merasakan bermain gitar milik Celine. Karena Celine pun punya apresiasi khusus kepada para pemuda itu, diiyakan saja permintaan adiknya untuk meminjam gitarnya. Doanya, setidaknya sedikit banyak gitarnya sudah berguna dibawa ke sini bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.

Niat awal ia membawa gitar itupun bukan karena ia ingin mengiring anak-anak kecil itu menyanyi ataupun untuk saudara-saudara pemudanya untuk vokal grup. Ia membawanya hanya dengan tujuan apabila tak ada kegiatan dengan keluarga, maka ia tak mesti membaca atau menulis melulu. Setidaknya di sela-sela waktu luang, gitar adalah teman yang siap dan selalu ada. Gitar bisa membantu di kala ia ingin berdiam diri sendiri sementara banyak gangguan yang mungkin menghambat keinginan kesendiriannya. Gitar itu juga sangat berguna di kala malam ketika misalnya sedang mati lampu –karena memang masa-masa hujan angin– sehingga tak bisa baca tulis, paling mengobrol, setidaknya ada kegiatan yang bisa dilakukan karena adanya gitar. Demikian dengan gitar.

Selain membenamkan diri dengan membaca dan menulis yang memang sudah disediakan waktunya itu, ia mendapat kesempatan bagus di pagi-pagi atau malam hari tatkala tak ada acara natal di rumah-rumah tertentu. Ia bisa dengan siap menampung cerita-cerita bapaknya yang pada dasarnya suka sekali bercerita tetang kisah-kisah masa dulu. Kisah-kisah masa kecil ayahnya kerajaan mereka dipimpin seorang pemimpin yang sangat dikagumi ayahnya.

Kedatangan Celine memang adalah waktu emas bagi bapaknya menumpahkan segala sejarahnya berhubung dari mereka lima bersaudara, hanya Celine yang selalu diam dan tertarik bahkan terkagum-kagum mendengar kisahan bapaknya. Adik-adiknya dasarnya memang tak suka mendengar cerita sejarah. Mereka selalu asyik sendiri entah itu mengetik-ngetik sesuatu di hp atau sengaja memutar musik di hp, atau sengaja bertanya lain untuk mengalihkan pembicaraan tatkala bapaknya mulai mengeluarkna kata-kata yang menjurus kepada cerita-cerita masa lalu mereka.
Mereka lalu selalu menjadi sasaran kemarahan bapaknya karena ketaksukan mendengar cerita sejarah. Maka itulah, semacam curhat, bapaknya memarahi mereka di depan Celine dan mendudukkan mereka beramai-ramai demi mendengar cerita bapaknya. Memang kalau ada Celine, adik-adiknya seolah seperti anak anjing yang patuh, mereka pasti akan datang dan ikut duduk bersama mendengar, tapi muka mereka tampak selalu merenggut tak suka dan tingkah mereka itu di mata Celine memang tampak lucu.

Hari ini, seorang adik perempuannya yang berkuliah di sebuah perguruan tinggi mendapat tugas laporan dari dosennyat terkait sejarah gereja dan sejarah terbentuknya desa mereka. Bapaknya tampak antusias mendengar kabar anak perempuan itu. Ia nyaris bertepuk tangan dan tertawa lebar sekali karena dengan demikian ia akan punya waktu bercerita dan pasti didengarkan.

Bapaknya segera duduk di kursi bersiap mengisahkan sampai anaknya itu mesti berkata, “Tapi sebentar, Pak. Saya ambil lembar petanyaan saya dulu.” Bapaknya baru kaget karena ia tak menyangka akan ada pertanyaan-pertanyaan tertulis terkait sejarah yang mau diceritakan. Ia diam sebentar kemudian menjawab, “Sudah sana. Cepat ambil!
Anak itu terburu-buru masuk ke dalam kamar lalu kembali keluar mendapati bapaknya yang sudah tak sabar.

Bapaknya dengan semangat menuturkan kisah tanpa peduli apakah yang dikisahkan sesuai dengan isi atau konten yang merunut kepada topik pertanyaan atau tidak. Cerita memang bisa mendetail, tapi kadang-kadang lalu melebar sampai ke berbagai hal lainnnya sehingga mesti dipotong dan dibawa kembali ke topik pertanyaan. Mendengar selaan anaknya, bapaknya kelihatan kesal karena seolah memotong dan mengganggu semangatnya bercerita.
Ia kelihatan kesal karena harus terbeban dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahasanya resmi sekali. Beberapa lama kemudian, karena memang harus sesuai pertanyaan yang sudah disusun, bapaknya hanya menjawab sesuai apa yang ditanyakan. Ia menjawab sepotong-sepotong. Tampak sekali ia sudah tak bersemangat. Kagairahan menjawab pertanyaan itu pun berkurang sampai pertanyaan terakhir.

Melihat penampakan tak mengenakkan itu, Celine mengambil lembar kertas adiknya. Diminta bapaknya bercerita secara topik besar saja sampai bapaknya merasa mungkin itu sudah semua yang perlu diketahui anaknya yang sedang ingin membuat laporan tugas kuliah itu, barulah lembaran kertas itu dikembalikan kepada adiknya. Ia disuruh bertanya lanjut pertanyaan-pertanyaan apa saja yang belum terjawab.

Adiknya yang dungu itu malah kembali ke format pertanyaan yang kaku dan menanyakan lagi hal yang bahkan sudah tersisip dalam kisahan ayahnya.

Bapaknya seketika berang. “Tadi sudah saya cerita itu apa? Telingamu kau lempar ke mana tadi sewaktu saya berbusa-busa?” ia beranjak, memakai sandalnya dan keluar ke halaman.

Celine hanya tersenyum tipis, lalu kemudian terkekeh. Ia sangat menikmati adegan pendek ini.

“Menulis itu bersyukur,” katanya lagi. Tenggelam berhadapan dengan laptopnya kali ini, tak sampai sejam, tulisannya mewujud.

Ia bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s