“Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah” Arthur F. Holmes

Salah satu tugas kuliah dulu yang tercecer. Saya pikir sekalian saja taruh di sini daripada hilang dimakan rayap.

file0004

Judul: Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah (All   Truth is God’s Truth)

Penulis : Arthur F. Holmes

Tempat terbit : Surabaya

Penerbit : Momentum (Momentum Christian Literatur)

Tahun : 2005

Jumlah hal : 243 hal

Segala kebenaran adalah kebenaran Allah, kapanpun dan di manapun ia ditemukan,” demikianlah proposisi yang ditekankan Arthur  F Holmes, seorang filsuf Kristen dari Illinois, AS. Dalam buku ini, Holmes  memaparkan tentang kebenaran Allah dengan sangat mendalam. Bahwa kebanaran itu utuh dan merupakan satu kesatuan, tidak perlu dan tak ada gunanya dikotak-kotakan. Kita tak perlu memisahkan antara yang berbau sakral dan sekuler, hal yang rohani dan yang duniawi. Semuanya itu bersumber dari Allah sendiri yang adalah sumber kebenaran. Maka dalam kehidupan keseharian, janganlah menganggap hal-hal yang digeluti sebagai pekerjaan utama kita misalnya dalam profesi seorang guru atau seorang wartawan merupakan hal sekuler yang lebih rendah dari kegiatan-kegiatan kerohanian misalnya seorang pendeta atau seorang pekerja gereja. Semua pekerjaan atau profesi apapun itu mesti dipandang sebagai panggilan dan pengabdian kepada Tuhan yang telah memberikan mandat ciptaan atau mandat budaya ketika Dia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya.

Buku ini terdiri atas delapan bab yang didahului dengan prakata penerbit dua paragraf, kata pengantar dari penulis sebanyak empat paragraf, serta ucapan persembahan untuk semua murid penulis di masa lampau maupun saat buku ditulis. Seperti yang dituliskan dalam kata pengantar bahwa bab pertama hingga bab empat membahas mengenai konsep kebenaran; bab lima hingga bab tujuh berbicara mengena rasio manusia sebagai sarana untuk menemukan kebenaran. Sementara di bab delapan, adalah tentang Sang Kebenaran itu sendiri. Akan lebih baik bila setiap bab dalam buku ini diulas satu persatu.

Bab pertama yang berjudul Hilangnya Wawasan Dunia, menyajikan dua hal yakni hilangnya kebenaran serta segala kebenaran adalah kebenaran Allah yang dipakai sebagai judul buku ini. Hilangnya kebenaran adalah fakta masa kini yakni pemikiran manusia modern telah kehilangan wawasan hidup yang religius, yang menganggap agama hanyalah sesuatu yang terdengar kuno dan kolot.  Orang modern tidak lagi memikirkan makna hakiki dari sesuatu yang dikerjakannya, melainkan cenderung pragmatis, apa yang praktis dan berguna bagi mereka. Hilangnya wawasan dunia ini dapat ditelusuri baik dari sebab historis maupun sebab filosofis. Namun dalam buku ini, Holmes hanya menyoroti satu sebab yakni sebab yang bersifat filosofis. Menurutnya, permasalahan utama yang dihadapi sekarang ialah orang sudah tak percaya lagi pada kebenaran. Bukan hanya berarti mereka tidak percaya bahwa kekristenan itu benar, tetapi adanya konsep kebenaran itu sendiri  bahkan sudah tak diakui lagi. Permasalahan ini bersifat rangkap tiga:

Pertama, hilangnya fokus pada kebenaran yaitu bahwa jika orang-orang masih memiliki fokus dalam hidup mereka, maka itu cenderung bersifat hedonistis atau ekonomis. Mereka mengabaikan kebenaran hakiki yang membentuk tahun-tahun ke depan; kedua, hilangnya universalitas kebenaran terlihat dari relativisme yang menghinggapi banyak orang; ketiga, hilangnya kesatuan kebenaran yakni kecenderungan menerapkan kebenaran hanya pada pernyataan-pernyataan mengenai fakta tertentu dan membatasi pencarian kebenaran pada metode empiris menurut pola ilmu-ilmu alam. Sementara hal yang kedua dari bab pertama ini,  segala kebenaran adalah kebenaran Allah, bukan berarti bahwa kebenaran Alkitab memuat penyataaan yang lengkap mengenai sagala sesuatu yang ingin diketahui manusia, melainkan sebagai tuntutan atau landasan iman dan prilaku umat Allah.

Bab dua mengenai pemisahan antara masalah sakral/rohani dengan sekuler/duniawi. Alasan pemisahan ini dipicu oleh ketakutan terhadap bahaya kompromi iman Kristen dengan budaya masa kini yang terus berkembang. Padahal tidak seharusnya demikian karena menurut Holmes, gereja sendiri berada dalam dunia dan tentunya ia harus menggunakan bahasa dan struktur pikiran budaya dunia. Orang Kristen tidak perlu menarik diri dunia lantas hanya bergelut di bidang yang disebut rohani saja, tetapi ia harus masuk  ke dalam dunia dan ikut serta dalam proses pemulihan dunia sekuler yang masih bisa ditolong. Dalam buku ini, ditegaskan bahwa mandat agung bukan satu-satunya mandat yang diberikan kepada kita, melainkan Allah juga menugaskan manusia untuk menginvestasikan hidup dan pekerjaan kita sebagai wujud tanggung jawab kita kepada-Nya yaitu memelihara dan memanfaatkan seluruh sumber alam ini dengan bijaksana. Di sini, Holmes mengutip jawaban katekismus singkat Westminster atas pertanyaan apa tujuan utama hidup manusia? yaitu bahwa “Tujuan utama hidup manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Memuliakan Allah dan mengasihi Dia tidak hanya terbatas pada aktivitas rohani melainkan diungkapkan melalui segala sesuatu yang kita lakukan, yaitu melakukannya dengan segenap hati untuk Tuhan. Talenta kita adalah anugerah dari Tuhan yang kita pakai untuk mengerjakan segala sesuatu di dunia ini dengan motivasi bahwa yang kita lakukan adalah untuk menyatakan keagungan Tuhan. Dengan demikian, seorang guru sekolah umum atau wartawan atau seniman atau dokter atau ilmuwan atau politikus tidak harus berkecil hati dan merasa diri rendah karena tidak melayani Tuhan di dalam satu gedung yang disebut gereja. Ketika kita ingin mengembangkan kualitas hidup manusia karena telah diberi akal budi oleh Tuhan dan melakukannya dengan segenap hati, ini merupakan ungkapan pengabdian kepada Allah dan hal itu sudah merupakan suatu ibadah (Kol 3:22- 4:1).

Bab tiga, mengungkapkan tentang kebenaran itu sendiri. Bab ini diberi judul Apakah Kebenaran itu? Pembukaannya menunjukkan definisi-definisi kebenaran oleh beberapa kaum seperti kaum Stoik dan Platonis, kaum Skeptis, kaum Rasionalis, relativisme pragmatis yang tentunya bertentangan dengan orang Kristen yang memegang dua implikasi, yakni 1) kebenaran itu tidak relatif tapi absolut, 2) kebenaran pada dasarnya bersifat personal, bukan bersifat otonom. Satu hal lagi yang istimewa dari kekristenan yaitu Yesus Kristus tidak hanya mengklaim telah mengajarkan dan menyaksikan kebenaran, namun Dia juga mengklaim diri-Nya adalah kebenaran itu sendiri (Yoh 14:6). Dalam bab ini juga dikenalkan beberapa tokoh yang telah menyumbangkan pemikirannya mengenai konsep kebenaran di antaranya Augustinus, Descartes, Kierkegaard serta tokoh-tokoh lainnya yang juga membuka wawasan kita ketika membaca buku ini.

Bab empat mengenai kekeliruan dalam mengetahui kebenaran. Kekeliruan itu sebenarnya adalah suatu bentuk kejahatan. Sebagaimana kejahatan dikontraskan dengan kebaikan, terang dikontraskan dengan gelap, maka kekeliruan itupun dikontraskan dengan kebenaran. Dalam menjelaskan kekeliruan ini, Holmes menyampaikan pendapat Descartes yang tertuang dalam bukunya “Meditations”. Pertama, bahwa Allah bukan penyebab kekeliruan, demikian juga kemampuan berpikir manusia bukan sesuatu yang menipu. Kekeliruan seperti halnya kejahatan, merupakan sebuah kecacatan dan kekurangan. Kedua, sebagai Allah yang mahakuasa, Allah bisa menghindarkan kita dari kekeliruan, namun sebagai Allah yang sempurna, Allah memilih yang terbaik bagi kita. Maksudnya lebih baik kita melakukan kekeliruan dan belajar daripadanya. Ketiga, pengamatan Descartes bahwa kekeliruan manusia didasarkan pada saling mempengaruhi dua kemampuan dalam diri manusia, yaitu pengertian dan kehendak. Sebagai manusia, kita tak mungkin mengelak dari pertanyaan rumit dan terhindar dari melakukan kesalahan. Maka itu tidak ada gunanya kita mempersalahkan iblis atas kekeliruan kita sedangkan Allah sendiri mengizinkan kekeliruan ini terjadi. Pertanyaannya, mengapa Allah mengizinkannya? Pertama, kekeliruan dapat mengajarkan kita. Kedua, orang Kristen yang mempelajari filsafat akan menemukan dirinya bergumul dengan permasalahan yang sama dengan orang lain yang menggunakan model dan metode yang sama. Ketiga, fakta bahwa kita belajar dari orang lain yang memiliki perspektif berbeda dengan kita menyadarkan diri kita bahwa tidak ada seorang pun yang salah atau benar seluruhnya. Keempat, kekeliruan menuntut kita untuk melakukan evaluasi yang kritis terhadap pandangan-pandangan dan argumen-argumen.

Bab kelima membahas tentang tidak ada jalan pintas menuju pengertian yang benar. Dijelaskan bahwa sebaiknya iman, pernyataan, dan pengalaman kita bersama Allah perlu dikaji dengan teliti supaya kita dapat melihat bahwa jalan ini sebenarnya tidak membawa kita memperoleh pengertian yang lengkap dan teliti baik bidang sakral maupun sekuler seperti yang kita harapkan. Meskipun ketiga jalan tersebut merupakan sesuatu yang niscaya dan ikut memberi sumbangsih bagi pencarian kebenaran tetapi masing-masing mereka pada hakikatnya tidak memadai untuk mempelajari berbagai bidang ilmu. Untuk pengalaman, dicontohkan bahwa sebagian orang yang untuk mendapatkan kebenaran atau untuk bersatu dengan ilahi, mereka memilih jalan mistik sebagai disiplin batiniah dan introspeksi di mana mereka menarik diri dari kesadaran dunia, kemudian bergerak melampaui pemikiran yang sadar melalui lubang gelap dalam lubuk jiwa. Holmes tetap menegaskan, ini bukan berarti menyangkal pentingnya pengalaman, melainkan menurutnya, pengalaman mistik tidak memiliki jaminan membawa orang pada kebenaran sebab pengalaman mistik dapat menganggap benar apa yang sesungguhnya salah. Dengan demikian, tidak ada jalan pintas yang istimewa dalam mempelajari sesuatu. Satu-satunya jalan menuju pengertian yang benar mengenai sesuatu adalah selalu mengerjakan tugas intelektual kita dengan hati-hati dan ini perlu proses yang panjang, berliku-liku dan penuh resiko.

Bab enam menguraikan tentang dua metode penalaran dasar dalam disiplin logika yaitu penalaran deduksi dan penalaran induksi. Penalaran deduksi walaupun telah diterapkan secara luas dan bekerja dengan baik, ia bukanlah bentuk penalaran yang otonom karena ia bergantung kepada dua kondisi: kaidah-kaidah penyimpulan dan kebenaran premis-premisnya. Kenapa demikian? Karena bila salah satu di antara kedua kondisi tersebut tidak mengikuti logika yang absah maka penalaran deduktif ini tidak berhasil. Tetapi pertanyaan selanjutnya yang lebih mendasar adalah apa patokan atau pedoman yang menyatakan kaidah-kaidah itu mengikat, yang membuat satu penyimpulan yang absah itu disebut absah? Norma apa yang melandasinya? Prinsip universal apa yang kepadanya semua penalaran universal harus tunduk? Jawabannya adalah prinsip non-kontradiksi yaitu sesuatu itu tidak dapat benar dan salah sekaligus pada saat yang sama dan mengenai hal yang sama (misalnya A bukan non -A) atau dalam bahasa sederhana katakanlah kebaikan tidak dapat bersatu dengan kejahatan, atau terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Sedangkan penalaran induksi lebih kepada pekerjaaan pengetahun empiris yakni mengetahui sesuatu dari pengamatan terus menerus. Namun kesulitannya adalah tidak lengkapnya pengalaman manusia. Ia hanya memberi laporan perkembangan dan bukannya kesimpulan.

Bab enam ini ditutup dengan kesimpulan bahwa penalaran manusia merupakan sesuatu yang penting karena merupakan bagian dari ciptaan Allah, tetapi ia tidak berdiri sendiri.  Bukan juga berarti karena rasio dapat membuktikan segala sesuatu lantas diabaikan semua yang tidak berkaitan dengan rasio atau penalaran berdasarkan logika, tetapi bahwa kita dapat mengetahui sesuatu walaupun hanya mengetahui ‘sebagian’ dan ‘melihatnya melalui cermin yang samar-samar.’ Konsep yang berkaitan erat dengan kesatuan kebenaran mengingat dalam segala kebenaran adalah kebenaran Allah.

Melangkah pada bab tujuh, yaitu bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu memang benar seperti yang kita dengar atau percayai. Dengan judul Pembenaran Iman Kepercayaan, kita dijelaskan tentang pengujian kebenaran yang disebut dengan tes korespondensi kebenaran. Tes korespondensi ini mencari korelasi antara proporsi dan fakta-fakta obyektif yang dikemukakan. Namun adakalanya tes korespondensi kebenaran ini sulit untuk pernyataan ‘mencuri itu salah’ atau ‘Allah adalah roh yang tidak terbatas dalam hikmat, kebaikan, kasih, dan kuasa-Nya’, maka diperlukan tes kebenaran lain yakni koherensi rasional. Perbedaan keduanya ialah tes korespondensi kebenaran merupakan ciri-ciri dari kaum empiris sedangkan tes koherensi merupakan tuntutan dari epistimologi yang lebih bersifat rasionalistis. Namun hal ini bukan berarti masing-masing tes itu tidak dapat diterapkan di luar habitat aslinya melainkan harus dengan hati-hati menyesuaikan tes-tes tersebut terhadap natur kebenaran sebagaimana yang dimengerti.

Hal lain yang tak boleh dilewatkan dalam bab ini adalah tentang kepercayaan dan nilai, yakni bahwa kepercayaan kita sebelumnya membentuk nilai-nilai kita yang selanjutnya mempengaruhi kepercayaan kita yang baru; kepercayaan dan tindakan, yakni bahwa pemikiran dan penilaian manusia turut mempengaruhi proyeknya, menentukan sarana yang dipergunakannya, juga mengarahkan tindakannya, sebaliknya juga proyeknya membentuk pemikiran dan mempengaruhi kepercayaannya.

Sebagian besar di sini adalah pandangan John Dewey, dan Holmes secara gamblang memaparkannnya kembali, namun dengan tegas pula ia menyanggah pandangan tersebut dengan perspektifnya bahwa ia tidak menafsirkan manusia dan tindakannya berdasarkan prinsip seleksi alam. Bahwa manusia dan dunia ciptaan Allah tempat kita bertindak bukan hasil proses evolusi yang terjadi secara kebetulan, tetapi dihasilkan dari tindakan penciptaan Allah yang memiliki tujuan di dalammnya, yang walaupun telah tercemar oleh dosa, tetap menyaksikan hikmat dan tujuan Allah.

Selanjutnya mengenai kesaksian Roh Kudus. Dua hal yang perlu diamati dari bagian ini, yakni pertama karena kebenaran mengenai Yesus Kristus dan injil-Nya memiliki implikasi melampaui apa yang diajarkan secara eksplisit oleh Alkitab, maka kesaksian Roh Kudus relevan bagi pemikiran kita, memberi iluminasi untuk mengerti bahkan yang tidak dibicarakan dalam Alkitab; kedua, kesaksian Roh Kudus bukan suatu pengalaman mistik yang terlepas dari eksegesis Alkitab, atau daya imajinasi manusia, atau penyelidikan ilmiah, atau analisa filosogis. Roh Kudus memang membimbing kita bertumbuh namun Ia bukan jalan pintas bagi pengetahuan atau pemberi pengertian tanpa salah kepada kita sehingga kita menjadi orang yang tidak dapat keliru.

Akhirnya pada bab penutup buku ini, bab delapan, disajikan apa yang menjadi inti dari segala yang telah dibicarakan dalam buku.  Di bawah judul Kristus: Sang Kebenaran, kita dapat langsung tahu apa poin utamanya. Kristus, sumber kebenaran. Kristus adalah kebenaran itu sendiri. Dia adalah Allah yang kekal, Allah sang pencipta.

Sebagai penutup ulasan buku ini, sayan hanya ingin menambahkan bahwa demikianlah tugas manusia untuk menemukan tempatnya dalam dunia ini dan melaksanakan peranannya dalam setiap bidang kehidupannya sesuai dengan ketetapan Allah. Tak perlu dan sangat tidak berguna menghormati hal-hal bersifat sakral serta menganggap rendah hal-hal bersifat sekuler, karena dalam di dalam kebenaran Allah tidak ada dikotomi sakral atau sekuler. Semunya itu adalah tetap hasil buatan tangan kreatif Allah untuk manusia.

Buku ini dilengkapi dengan glosarium sehingga pembaca tidak kewalahan ketika menemukan kata-kata sulit yang memang banyak terdapat  dalam buku ini, mengingat buku ini dapat dikatakan bukan merupakan suatu bacaan yang ringan. Selalu saja ada istilah-istilah filosofis yang terbilang baru untuk bahasa Indonesia. Penyajian materi dalam buku ini cukup menunjukkan bahwa penulisnya sungguh-sungguh menggali pengetahuan secara mendalam dan mendetail, kemudian menyatukannya dalam suatu kesatuan yang utuh.

Menurut Holmes, seperti yang diungkapkan dalam kata pengantar, buku ini bukan dikhususkan hanya kepada para mahasiswa seminari, tetapi juga untuk orang-orang Kristen di mana saja yang memiliki keseriusan untuk memikirkan hubungan kekristenan dengan semua bidang studi manusia. Saya sebagai pengulas sepemikiran dengan Robert C Roberts dari Westers Kentucky University pada bagian endorsement, bahwa buku ini sangat menarik, cakupannya luas serta penuh hikmat, maka itu sangat direkomendasikan kepada mereka yang ingin berpikir serus tentang imannya, bahkan yang berpikir tentang bidang apapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s