Merayakan Keseharian

Lima Satu

Tuhan menyingkapkan cinta-Nya. Perlahan-lahan tapi pasti. Maka sekarang, izinkan saya menangis. Bukan menangis sedih. Saya ingin menuliskannya. Memahatkan kebahagiaan tak terbeli ini, mengaitkannya dengan keabadian. Tapi ada secuil keraguan datang menghampiri dan berkata sinis, “Itu hanya akan membuat engkau terlihat cengeng dan bodoh.” Baiklah, maka supaya engkau tidak terlihat cengeng dan bodoh-padahal nyatanya bodohmu itu tak ketulungan- maka janganlah menulis. Tidur bergelung selimut saja di situ. Tuhan pasti senang karena kau dikasih hadiah cuma-cuma lalu kau menghabiskan waktumu hanya dengan tertawa-tawa, melompat-lompat bak anak kijang, makan dan minum tak henti-henti sampai berlelehan air liurmu pun tak kau sadari, berleha-leha tertidur sampai dengkuranmu bahkan bisa membangunkan orang mati dari kuburnya, bangun, mencari info baru terkait kesalahan apa lagi yang diperbuat orang hari ini sementara kau sendiri tak menyadari daging busuk yang merambati seluruh keberadaan dirimu. Nafasmu yang menguarkan aroma neraka tak kau pernah sadari sementara orang lain yang berbau harum sehari-harinya baru saja tak sengaja melakukan sedikit cela kau cerca habis-habisan dan menudingnya serupa melihat segerombolan kecoak yang sedang merayap datang dari tempat tampungan tinja.
#Menandai lima dalam satu #Oyan. (30 Des’16) God is good.

Iklan