DailyPrompt

Found TheDailyPost and Participate

Thank God, I just found this blog today, in the end of January. The first month of 2017.  I’m so glad. Of course. Ceritanya saya menemukannya tidak sengaja. Ketika saya buka blog baru khusus menjadi wadah karya anak-anak murid, blog ini muncul begitu saja di bagian pembaca berhubung dalam blog baru itu belum ada satu situs pun yang diikuti. Penasaran, saya buka. Dan ternyata, lumayan. 😀 🙂 It could be amazing, you know. I think it’s important for me to participate in this challenges eventhough I’m not good enough in English. What do you think? 😀

Btw, today’s one-word prompt is ‘scent’ What do you think when you hear about ‘scent’? Ok, the first thought that comes to my mind when I hear about ‘scent’ was the earthy smell of rain (when the rain falls down on dry soil), the smell of a new book, plus a cup of hot coffee. Perfecto.

Iklan
Catatan Buku

Menyelami Keindahan “To Kill a Mockingbird” bersama Harper Lee

20170126_223911To Kill a Mockingbird pertama kali terbit tahun 1960 di Amerika dengan latar cerita tahun 1930-an. Kala itu Indonesia masih tertatih-tatih dalam masa suramnya. Banyak penduduknya apalagi di pelosok selatan pulau Timor masih berkelana di hutan-hutan dan tidak mengenal apa itu buku apalagi teks bacaan. Sementara nun jauh di bagian selatan Amerika, seorang gadis kecil sudah bisa membaca dengan sendirinya ketika ia menyadari keberadaan dirinya sampai-sampai ia tak tahu sejak kapan ia gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas?” demikian hasil perenungannya ketika ia diminta gurunya untuk jangan lagi diajari membaca di rumah.

Gadis kecil itu adalah Jean Louse Finch yang biasa dipanggil Scout. Seorang gadis tomboi berumur enam tahun. Scout inilah tokoh utama sekaligus narator dalam cerita To Kill a Mockingbird yang keren ini.

Scout dan Jeremy adalah dua kakak beradik yang ditinggal mati sang ibu karena serangan jantung tatkala si kakak berusia enam dan adiknya dua tahun. Di rumah mereka tinggal bersama Atticus, sang ayah yang adalah seorang pengacara, serta pengasuh mereka seorang perempuan negro bernama Calpurnia yang datang bekerja pagi hari dan pulang sore.

Durasi dalam cerita ini berkisar kurang lebih tiga tahun. Dibuka dengan menengok kejadian-kejadian masa lalu yang menyebabkan tangan sang kakak, Jem, patah di bagian siku sehingga lengan kirinya nampak  sedikit lebih pendek dari yang kanan. Ada tiga hal yang diperdebatkan. Scout berkeras penyebabnya adalah keluarga Ewell, Jem justru menghubungkannya dengan Dill yang penasaran dengan Boo Radley. Menanggapi itu, Scout pun melemparkan kembali kenangan kepada sejarah masa lampau, menghubungkannya dengan kedatangan leluhur mereka ke tepi sungai Alabama lalu membangun kediaman yang kemudian dinamai Finch’s Landing.

Beranjak dari pengenalan silsilah keluarga Finch dan sejarah Maycomb itulah, cerita utama dalam buku ini mulai bergulir. Tepat pada liburan musim panas sebelum Scout memulai hari pertama sekolahnya yang sarat akan kejutan baik dengan ibu guru, salah satu anggota keluarga Ewell, juga salah seorang Cunningham. Liburan musim panas yang ditandai dengan kedatangan teman bermain mereka, Dill asal Meridian, Mississippi.

Di awal cerita saya merasa terhibur akan tingkah dua anak Maycomb ini, ditambah Dill kala musim panas. Tingkah paling menonjol mereka adalah rasa penasaran mereka terhadap rumah tetangga, sebuah keluarga misterius di Radley Place. Rasa penasaran itu pun mendorong mereka mengintip dan berusaha mencari segala macam cara bagaimana bisa membuat Boo Radley yang konon dikurung 15 tahun itu memunculkan diri. Ceritanya, Mr Arthur Radley, demikian nama Boo Radley, sewaktu remaja pernah membuat masalah bersama teman-teman gengnya dan akan dikirim ke sekolah kejuruan. Oleh ayahnya, ia dikurung hanya di dalam kamar dan semenjak itu ia tak pernah lagi keluar melihat atau merasakan sinar matahari.

Setiap pergi atau pulang sekolah, kedua anak ini melewati Radley Place dengan berlari kencang. Mereka tak mau berlama-lama di depan rumah angker dan misterius itu. Sampai suatu hari Scout menemukan permen karet di ceruk pohon ek depan rumah Radley. Beberapa hari berikutnya mereka menemukan lagi kejutan-kejutan lain yang sepertinya sengaja ditujukan kepada mereka. Mereka mengambil dan menganggapnya sebagai hadiah dari seseorang yang tak mereka kenal. Kejutan dari orang tak dikenal itu berhenti ketika Mr. Nathan Radley menutup ceruk itu dengan semen, padahal hari itu mereka sudah berniat menaruh surat di sana. Gagalnya pemberian surat ucapan terima kasih itu membuat kedua kakak beradik tersebut menangis diam-diam.

Peristiwa berikutnya yaitu ketika Atticus ditunjuk pengadilan Maycomb untuk membela perkara seorang kulit hitam bernama Tom Robinson yang dituduh memerkosa putri keluarga Ewell yang berkulit putih. Sejak berita itu tersebar, kedua anak itu selalu mendapat gangguan dan hinaan baik dari kawan sekolah, saudara, ataupun tetangga mereka yang berkulit putih. Katanya Finch yang adalah keluarga terpandang lebih mencintai orang kulit hitam dan justru mempermalukan ras sendiri. Gangguan, ejekan, dan hinaan yang bertubi-tubi datang menghampiri, membuat kedua anak itu sampai tak tahan ayahnya dikatai demikian. Menurut Scout, ia harus membereskanya dengan cara memukul anak-anak yang mengganggunya. Tangannya sudah mengepal siap memukul Cecil Jacobs di sekolah namun ditahan karena mengingat nasihat ayahnya, lalu di hari natal ia menyerang anak sepupunya, Francis, sampai jarinya robek. Sementara kepada tetangga mereka, Mrs. Dubose, Jem melampiaskannya dengan memotong kuncup-kuncup semak kamelianya sampai berserakan di tanah menggunakan tongkat mayoret Scout yang baru dibeli. Konsekuensi atas perbuatan itu datang kemudian. Jem harus membaca dua jam untuk Mrs. Dubose di kamarnya setiap sepulang sekolah dan di hari Sabtu selama sebulan, dan selang sebulan kemudian Mrs. Dubose meninggal.

Berbeda dengan sesama mereka kulit putih, kedua anak Atticus Finch ini justru diterima dengan baik bahkan sangat dihormati di kalangan orang kulit hitam. Sangat tampak dari bagaimana mereka berdua disambut suatu hari Minggu ketika diajak Calpurnia ke gereja First Purchase, tempat beribadah orang kulit hitam di Maycomb.

Sekalipun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua orang kulit putih menentang Atticus. Ada banyak juga warga Maycomb yang diam-diam mendukung tindakan dan keputusan Atticus membela Tom Robinson mengingat latar belakang dan cara hidup keluarga Ewell yang seperti sampah selama sekian generasi.

Satu malam sebelum sidang digelar, empat laki-laki mendatangi penjara tempat Tom Robinson ditahan. Malam itu nyaris terjadi hal yang tak diinginkan pada Atticus atau Tom Robinson kalau saja tidak ada ketiga tokoh cilik ini, terutama Scout yang memunculkan dirinya dan berdialog cerdas dengan salah seorang kenalan lama mereka, Mr. Cunningham.

Hari digelarnya sidang di pengadilan pun tiba. Banyak orang berbondong-bondong menyesaki gedung pengadilan. Tak mendapat tempat, tiga tokoh cilik ini bergabung dengan orang-orang kulit hitam di balkon dan mengikuti jalannya persidangan. Cerita sidang di ruang pengadilan ini sendiri dalam buku yang saya baca mendapat porsi 70-an halaman. Semua apa yang terjadi di dalam gedung pengadilan dipaparkan dengan jelas, mulai dari pengantar sebelum memulai sidang, memanggil saksi, pertanyaan pembela, gerak-gerik warga, respons saksi, keberatan terdakwa, sekilas rapat dewan juri, hingga usai pembacaan putusan. Di bagian inilah Harper Lee bermain-main dengan ilmu yang sempat digelutinya di bangku kuliah.

Proses sidang yang dipaparkan langsung membuat pembaca seolah sedang ikut menyaksikan langsung di dalam ruang pengadilan. Melalui kecerdasan Atticus menggali fakta, walau kesimpulannya tak dijelaskan langsung, pembaca digiring mengetahui seperti apa kejadian yang benar dan logis. Sayang, di akhir cerita, seperti halnya realita yang terjadi di masa sekarang, sekalipun bahkan di mata masyarakat awam, saat sidang, jelas-jelas bias dibedakan mana pihak yang bersalah dan mana yang tak bersalah, siapakah pihak yang akan keluar sebagai pemenang dan siapakah yang kalah, namun ketika tiba pada detik-detik pembacaan putusan, apa yang jelas-jelas terbaca saat sidang bisa bertolak belakang. Sepertinya dalam kasus Tom Robinson, dalam setengah tidurnya samar-samar Scout mendengar Tom Robinson diputuskan bersalah…bersalah…bersalah. Atticus meninggalkan ruangan, dan keluarga Ewell boleh menegakkan kepala sebagai pemenang.

Kehidupan Maycomb kembali berjalan normal sambil menunggu rencana pihak Atticus ingin naik banding hingga terdengar kabar, Tom Robinson berniat kabur dari penjara dan ditembak mati polisi. Bob Ewell, gelandangan berkulit putih itu melanjutkan hidupnya dengan santunan pemerintah sambil sesekali tampil di muka umum mencegat Atticus, meludahi mukanya, dan  mengancam ingin membunuhnya, bahkan menakut-nakuti istri almarhum Tom Robinson.

Momen berikutnya yang menyentak terjadi di malam seusai acara Hallowen yang diadakan di auditorium sekolah. Scout yang berperan sebagai daging ham pada panggung sandiwara pulang berjalan kaki bersama Jem dengan tetap menggunakan kostumnya. Keduanya menyusuri gelap malam dari sekolah menuju rumah mereka. Jarak antara sekolah dan rumah tak begitu jauh. Mereka hanya perlu menyebrangi tikungan dan melewati Radley Place. Di tengah jalan, mereka merasa seseorang sedang mengikuti dari belakang. Tak lama kemudian mereka disergap. Perkelahian terjadi di dalam gelap. Dengan kostum daging hamnya, Scout terselamatkan hidupnya dari pisau yang disabetkan ke tubuhnya.

Putra-putri pengacara Atticus bisa saja mati terbunuh bila saja tak hadir seorang laki-laki bertubuh kurus dan bermuka pucat yang muncul dalam malam gelap menyelamatkan meraka. Setelah keadaan hening sebentar, Scout merangkak ke tempat yang dikiranya jalan. Di sana agak lebih terang. Dilihatnya Jem digotong lelaki penyelamat mereka menuju rumah. Malam itu, tangan Jem dinyatakan patah. Penyerang mereka, Bob Ewell pun mati di tempat dengan sebilah pisau dapur tertancap di tubuhnya.

Di bagian inilah rasanya saya enggan meninggalkan buku ini. Scout menggambarkan penyelamat mereka yang duduk diam di pojok sebagai mungkin seorang petani dari desa yang kebetulan datang menonton acara hallowen di sekolah dan sedang berada di sekitar area sekolah ketika mendengar teriakan mereka. Tak tahunya ketika melihat dengan saksama ciri-ciri fisiknya yang tampak sangat pucat tak pernah terkena matahari, barulah disadari, orang itulah Mr. Arthur Radley atua Boo Radley yang selama ini menjadi sosok misterius dan menakutkan di benak mereka. Boo Radley inilah yang menaruh hadiah-hadiah di ceruk pohon ek di depan rumah mereka sebelum Mr. Nathan menutup ceruk itu dengan semen. Dialah yang tanpa sepengetahuan siapa-siapa, menyelinap keluar dan menyampirkan selimut di bahu Scout ketika kedua kakak beradik itu sedang asyik menonton orang dewasa sibuk membantu memadamkan api di rumah Miss Maudie. Pada akhirnya Boo Radley yang pemalu ini memunculkan diri menjawab rasa penasaran mereka, dan ajaibnya ialah yang menjaga nyawa kedua kakak beradik Scout dan Jem dari incaran Bob Ewell.

Bagian akhir cerita ini memperlihatkan bagaimana dalam kekalutan pikirannya, Atticus tetap ingin segera menyelesaikan masalah kematian Bob Ewell. Disangkanya putranyalah yang menusuk Bob Ewell. Perdebatannya dengan Mr. Tate menunjukkan integritas hidupnya.

Dalam perdebatan inilah keluar pernyataan tegas dari Mr. Tate. Menggugah sekaligus mengharukan. Pernyataan yang membuat Atticus setelah duduk tapekur sejenak, akhirnya berpaling, “Scout, ” katanya. “Mr. Ewell jatuh tertimpa pisaunya. Bisakah kau mengerti?”

Seorang Jean Louse Finch pun bukan anak kebanyakan untuk tidak mengerti. Ia tahu, membunuh Mockingbird adalah dosa, seperti yang dijelaskan ayahnya dulu yang juga dipertegas Miss Maudie. Kehadiran mockingbird tidak mengganggu ketentraman siapa-siapa. Mereka tak pernah mengusik atau merusak tanaman orang lain. Kehadiran mereka tak lain dan tak bukan, adalah membuat lagu untuk dinikmati. Maka dalam kasus ini, Scout sangat tahu, siapa yang dimaksud mockingbird. Boo Radley–setelah sebelumnya Tom Robinson–adalah mockingbird itu. Ada refleksi Scout di sana. Para tetangga saling mengunjungi dan memberi hadiah. Boo Radley adalah tetangga mereka, yang bahkan sudah memberi mereka nyawa pun, tapi tak ada apa-apa yang dapat mereka berikan sebagai balasan.

**

Harper Lee bagi saya adalah seorang yang jenius. Karakter Scout yang dikisahkannya walau masih kanak-kanak, pikirannya luar biasa cerdas dan brilian. Namun tetap jujur dan bersikap apa adanya. Ada sesuatu yang terasa begitu lekat dan berkesan bagi saya yakni pertanyaannya yang selalu identik dengan “…itu apa?” untuk satu hal baru yang baru ia dengar.

Scout bukannya bodoh dan tak suka membaca, tapi justru sebaliknya. Membaca sudah menjadi bagian dari hidupnya seperti halnya bernapas. Ia sendiri tak menyadari itu sampai hari pertama sekolahnya gurunya menegurnya dan memintanya untuk jangan lagi diajari ayahnya membaca. Ia heran dan bingung sebab sepengetahuannya, sedari kecil ia memang tak pernah diajari membaca oleh ayahnya ataupun oleh orang lain. Membaca kutipan pasar saham di The Mobile Register yang disuruh ibu gurunya  memang bukan sesuatu yang sulit untuk seorang Scout yang sudah terbiasa membaca RUU yang akan disahkan menjadi UU milik ayahnya, atau buku harian Lorenzo Dow atau apapun yang kebetulan dibaca dibaca ayahnya ketika ia meringkuk dalam pangkuannya setiap malam. Di hari pertama bersekolah itulah ia mencoba merenung dan menyadari dirinya belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas? demikian pikirnya. Lucunya dan ini yang suka (bahkan cinta setengah mati dengan penulisnya) adalah untuk seorang Scout yang bahkan membaca adalah seperti bernapas, masih banyak hal yang belum ia ketahui dan ia tak sungkan bertanya, selalu dengan frasa khasnya, ‘…itu apa?Apa itu pecinta nigger, apa itu wanita jalang, memerkosa itu apa, Cal? Ular permukaannya seperti apa? Anak blasteran itu apa? Bagusnya, setiap pertanyaannya tak ditanggapi dengan sikap marah, atau jengkel oleh orang-orang yang ditanyai, melainkan selalu dijawab dengan sabar dan penuh pengertian.

Satu hal yang berkesan bagi saya sebagai pembaca adalah bahwa di berbagai belahan dunia ini ada orang-orang yang memiliki keserupaan sekalipun itu adalah hal yang paling kecil dan seremeh kata, ‘…itu apa?’. Maksud saya adalah ini ada sedikit hubungannya dengan pengalaman pribadi saya (tersenyum sajalah, tak apa). Sewaktu SMP, demikian mungkin ada juga di masa-masa selain itu tapi bagi saya yang paling melekat dalam benak adalah masa SMP, karena suka bertanya ‘itu apa, seperti apa, dan bagaimana itu’ untuk hal-hal tertentu yang tak ditahui, saya sampai dikomentari seorang teman, ‘Ah kau ini, rajin baca, tapi hal-hal kecil begini saja kau tak tahu’ dengan nada yang kalau meniru cara berpikir Scout, seolah saya seorang buruan polisi atau musuh aktivis HAM karena menyelundupkan TKW ilegal ke Malaysia (agak ngawur). Kalimat kawan saya itu membuat saya merenung panjang.

Dalam gaya bertutur, Harper Lee jelas sangat cermat. Tidak secara gamblang dan tersurat ia memberitahu pembaca seperti apa dan bagaimana peristiwa sebenarnya. Ia pandai menempatkan pembaca bukan orang-orang bodoh untuk menganilisis dan menyimpulkan. Mungkin seperti itulah yang digaung-gaungkan para motivator menulis, show, don’t tell! Jelas. Hampir terdapat dalam keseluruhan cerita, namun bagian paling menonjol menurut saya (karena bagi saya bagian itulah yang paling berkesan) adalah pada adegan perdebatan sherif dan Atticus tentang kematian Bob Ewell. Tak harus dituliskan jelas bagaimana ia tertusuk pisau, tapi pembaca tentu tahu seperti apa dan bagaimana. Mengenai penyelesaiannya, pembaca pun tentu akan mengerti dan berkata, memang demikianlah seharusnya yang terjadi. Sebuah contoh kasus luar biasa yang bisa dihadapi dalam realita keseharian. Dunia ini tidak dipandang sekadar hitam dan putih dengan mata fana kita. Di bagian akhir cerita inilah mata saya berasa panas. Harper Lee berhasil. Saya mencintainya.

Merayakan Keseharian

Membeli Buku

Seseorang baru saja pulang dari toko buku. Buku yang baru dibeli ia letakkan di atas meja ruang tengah.
“Kak, sudah beli bukunya kok tak dibaca?” adiknya bertanya.
Sang kakak yang sedang mengetik di laptop menoleh. “Sudah saya baca isinya. Biar saja dulu di situ. Atau kalau kau mau baca, silakan.”
“Sudah baca? Terus, kenapa beli lagi?”
“Buku yang saya baca dulu itu punya anak murid.”
“Buku yang sama? Judul, isi, dan pengarangnya?”
“Iya.”
“Sudah baca semua halamannya sampai selesai?”
“Iya.”
“Aneh,” ia bergumam. “Kenapa beli lagi kalau begitu?”
“Biar punya sendiri.”
“Buat apa coba?”
“Ya, buat disimpan.”
“Saya tak mengerti.”
“Biar jadi milik sendiri.”
“Walah. Tidak akan ada orang yang lihat juga kok bukunya.”

Sang kakak berkerut kening sebentar. Ia kemudian tertawa. “Apakah tujuan saya membeli buku adalah supaya dilihat orang?”

Merayakan Keseharian

Secuplik Kenangan: Malam, Jalan Kaki, dan Toko Buku

PRK yang biasanya bertempat di gedung SD Lentera di Bonipoi mulai tahun 2017 ini sudah pindah lokasi di hotel Astiti. Sudah lebih dekat dengan tempat tinggal saya di Naikoten. Malam ini adalah ibadahnya yang pertama untuk tahun 2017. Saya diantar saudara saya yang kemudian meneruskan perjalanannya ke rumah om di Kuanino.

Seusai ibadah, tepat pukul 8.30 pm. Saya keluar dari hotel dan berjalan kaki ke toko buku. Rasanya bahagia sekali berjalan kaki malam-malam ke toko buku.

Kenangan sewaktu kuliah di UPH dulu kembali menari-nari di benak. Kala itu biasanya di hari Jumat malam atau Sabtu malam, saya atau kadang dengan teman, biasa bepergian ke mall atau ke pasar malam atau ke toko buku di area mall atau toko buku lain di gerbang kampus. Semua tempat itu hanya ditempuh dengan berjalan kaki. Kita hanya perlu menyebrang jalan lalu sampai di tiga tempat pertama itu, sementara toko buku yang satunya lagi berada di dalam area kampus yang juga bisa diakses publik karena lokasinya tepat di depan jalan.

Jalan-jalan ke tempat itu bukan berarti pergi untuk berbelanja atau berfoya-foya. Terkadang atau lebih tepatnya sering, kami pergi tanpa uang serupiah pun di tangan. Hanya sekadar jalan-jalan atau sebut saja cuci mata. Atau mungkin juga kalau ada yang ingin membeli kebutuhan harian seperti pasta gigi atau shampoo atau sabun atau kopi atau gula atau teh (karena memang di sekitar asrama tak ada kios atau minimarket sehingga satu-satunya tempat belanja hanya di hypermart atau foodmart di area mall sekalipun itu hanya kebutuhan kecil seremeh shampoo atau pasta gigi) mungkin ia hanya akan membeli sesuai keperluan, selebihnya berjalan melihat-lihat lalu singgah di toko buku di mall dan kalau tak puas di sana maka perjalanan dilanjutkan lalu singgah lagi di toko buku kedua di gerbang kampus.

Nama toko buku itu Times Bookstores yang kini sudah berganti menjadi “Books & Beyond”.  Toko buku di gerbang kampus ini punya tempat tersendiri di hati saya. Banyak cerita pahit manis terjadi di sana. Bahkan mungkin ia ikut menjadi saksi salah satu dari momen-momen tak terlupakan di Karawaci.

Nyaris seperti yang baru saya alami hari ini. Jumat malam. Ikut ‘Friday Night’ (ibadah rutin mingguan mahasiswa asrama). Ibadah selesai. Antri di pintu keluar. Tak segera pulang ke asrama. Cepat-cepat ke taman. Menunggu. Melangkahkan kaki dengan riang dan penuh semangat. Menuju toko buku. Mendekam di sana. Larut. Suara pengumuman. Toko buku akan segera ditutup-harap transaksi diselesaikan. Lampu-lampu dipadamkan. Terkejut dan tertawa. Melangkah keluar. Meniti setapak di taman. Kembali ke asrama. Tidur dengan mimpi indah. 🙂 🙂

Demikian secuplik kenangan tentang berjalan kaki malam-malam ke toko buku.

Cuplikan Cerita UPH

Percakapan Tak Sengaja

dialogue
Sumber ilustrasi: indiesunlimited

“Kau sadar tidak, ini tahun 2017?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Sudah 10 tahun sejak hari pertama kita menjejakkan kaki di UPH.”

Rili tersentak. Kenapa ini tak sempat terpikirkan sebelumnya?

“Apa ada sesuatu yang kau rencanakan?”

“Tidak. Saya hanya tiba-tiba mengingatnya.”

“Kau justru memantikku harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang kau mau kau buat?”

“Sesuatu. Mungkin sangat kecil artinya atau bahkan tak ada artinya.”

“Apa itu, boleh kutahu?”

“Akan kutunjukan kalau sudah selesai.”

“Kau membuatku penasaran.”

“Tak perlu. Kalau tak keberatan, kau mungkin sesekali bisa kuminta tolong.”

“Dengan senang hati. Kapan?”

“Akan kuberitahu.”

Keduanya berpisah beberapa menit kemudian. Sepanjang jalan pulang Rili terus merenung. Ia bahkan tak bisa tidur malam harinya. Kantuk rasanya sudah menguasainya. Anehnya, pikirannya melayang ke mana-mana. Beracakkan menyusuri lorong-lorong waktu yang dilalui. Percakapan dengan kawannya tadi terus mengusik pikiran. Kepalanya terus digerayangi suara, barang apakah yang berarti yang dapat kuberikan? Harinya semakin mendekat, apakah ia hanya berdiam diri sementara tempat itu begitu banyak melimpahinya dengan berbagai hal? Sudah terlalu banyak anugerah bagimu. Apakah hanya akan kau sia-siakan?

Terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, ia pun mengambil pena dan buku kecilnya. Membuat list. Sebelum melakukan sesuatu, kau harus mengecek kembali motivasimu. Kenapa kau mau melakukannya dan untuk apa? Tepatkah kau melakukan itu? Perlukah? Apa dampaknya? Ujilah kembali. Kalimat-kalimat itu digemakannya berulang-ulang.

Kalau salah niatmu, maka lebih baik tidak usah kau bekerja. Tidak usah memulai. Daripada hanya mempermalukan diri dan menjadi batu sandungan.

Kalau niatmu sudah baik, sudah murni, maka mulailah. Ingat, kalau kau sudah memutuskan memulai, maka kerjakan, dan jangan takut. Tapi kalau kau takut, sudahlah, tidak usah kerjakan. Duduk diam berpangkutangan saja. Terlenalah dalam kenyamananmu. Tak usah kau pusing-pusing memeras otak, menguras tenaga, mencucurkan keringat dan air mata demi mencari ide hingga berlelah-lelah.

Tenang, dan bersantai sajalah.

Kalau mau mengenang, maka masuklah dalam kamarmu. Berdoalah dalam diam. Berdoalah buat orang-orang di sana. Biar kerja mereka semakin baik. Biar performa mereka semakin keren. Kau tahu, berdoa bukan pasif. Ia mampu memberi sesuatu dan memahatkan kekekalan dalam diri orang-orang lain. Kelak ada orang-orang lebih keren muncul. Bapamu di surga mendengar.

Baiklah begitu. Daripada kau melakukan sesuatu dan akan menjadi sesuatu yang tak bernilai. Betul. Kenapa perlu? Sementara teman yang mengingatkan tadi saja tak berencana apa-apa. Kenapa aku harus kalau begitu? Ia mendebat dirinya sendiri.

Ia tahu dan sadar-sesadar-sesadarnya, ia tak punya apa-apa yang besar untuk diberi. Gaji bulanannya pas-pasan untuk keperluan hidupnya sendiri dan tiga  orang adiknya yang sedang berkuliah. Kredit rumahnya sendiripun masih menuntut perhatian. Belum lagi hal-hal tetek bengek dan remeh temeh lainnya.

Sudah mencoret-coret, tapi belum juga muncul ide untuk menulis list yang dimaksud.

Ah, kenapa jadi pusing dan kepikiran begini? Apakah salah kalau kau bersikap biasa dan cuek? Ia kembali merutuki dirinya.

Ya, memang salah. Ada yang salah. Dan itu tetap salah. Kau diperkaya. Kau kaya dan kau tak berterima kasih. Padahal itu adalah satu caramu kalau bukan satu-satunya caramu berterima kasih.  Kau bisa dan kau tak melakukannya, itu jelas sebuah kesalahan. Kalau di orang lain memang bukan, tapi kalau di kau, jelas itu salah. Sebuah kesalahan yang tak termaafkan.

Jangan terus menuduhku. Jangan memojokanku. Kalaupun mau kuberikan sesuatu, itu bukan atas tuduhan rasa bersalah, kau tahu itu.  Aku mau memberi sesuatu sebab dalam diriku ada dorongan yang lembut, teramat sangat lembut dan penuh ingin, mendorongku melakukannya. Aku memberikan sebab aku memang ingin memberikan. Aku melakukannya sebab aku memang ingin melakukannya.

Quote (Kutipan)

Kau yang Kau

Hanya kau dan harus kau yang menjadi kau. Bukan orang lain. Mengucap syukur dan tapakilah jalanmu. Kebetulan demi kebetulan dihadirkan bukan karena kebetulan. Sebab memang demikian sudah yang tertulis. Kerahkan kemampuan terbaikmu walau dengan tertatih sebagai persembahan berbau harum kepada sang sumber. Tersembunyi rencana dan maksud tertentu di sana yang mungkin saat ini belum sepenuhnya kau pahami.

Hujan sore ini* @Kretan-Kpg, NTT, 3 Jan’ 2017.

Ket: *mengingat musik puisi Fileski berjudul “Hujan Pagi Ini” 🙂

Merayakan Keseharian

Pahatlah! (Biar tak mudah ia menguap)

* Jaringan

Sabar saja. Ia mungkin sedang tertidur. Atau mungkin sedang sibuk dalam kebahagiaan acara tutup tahun-buka tahun sampai ia lupa akan tugasnya memberi napas bagi beribu-ribu anak manusia yang memegang alat pintar. Tak apa sekali-sekali mesti begitu. Biar sejenak kita mengenang betapa para leluhur tak semudah kita sekarang saling berkabar atau mendapat informasi.

* Hai Tuafi Na

Ada harta tak terbeli. Kau tahu apa artinya itu. Semua orang berlomba-lomba mencarinya tapi susah mendapatkannya. Ia serupa sesuatu yang terbersit dari sesuatu yang paling dalam dan hanya dirasakan oleh mereka yang dilimpahi oleh sebuah kekuatan luar biasa yang seolah jauh tapi terasa dekat yang seolah tak terjangkau tapi ia bernaung dalam dirimu. Ia bukan serupa barang di kios yang untuk mendapatkannya kau tinggal pergi membawa lembaran rupiah lalu kau kantongi pulang ke rumah.

* 31 Des’16

 Baiklah lagu ‘Amazing Grace’ menjadi pengingat yang baik bahwa ini adalah pertama kalinya dalam hidup. Kiranya terus berlanjut dan berulang.

*1 Jan’17

Lagu ‘I don’t Know about Tomorrow’ menjadi pembuka tahun 2017. Saya dan Oyan menyanyikannya di kebaktian pagi. Duet dari rayon Kanaan. Terima kasih untuk Oyan yang telah menyeret saya ke sana. Kecil-kecil dia luar biasa.

* 2 Jan’17

Lagu ‘How Great Thou Art’ menjadi pengingat yang baik betapa Tuhan menciptakan alam ini dengan rencana dan caranya yang luar biasa. ##Ceritanya, saya baru saja pulang dari perjalanan menyusuri negeri tanah leluhur. Ada cerita luar biasa yang tersembunyi di sana. Kekayaan yang ditinggalkan leluhur kepada anak cucunya. Ceritanya sungguh memikat (Akan ada di segmen lain)