Percakapan Tak Sengaja

dialogue

Sumber ilustrasi: indiesunlimited

“Kau sadar tidak, ini tahun 2017?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Sudah 10 tahun sejak hari pertama kita menjejakkan kaki di UPH.”

Rili tersentak. Kenapa ini tak sempat terpikirkan sebelumnya?

“Apa ada sesuatu yang kau rencanakan?”

“Tidak. Saya hanya tiba-tiba mengingatnya.”

“Kau justru memantikku harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang kau mau kau buat?”

“Sesuatu. Mungkin sangat kecil artinya atau bahkan tak ada artinya.”

“Apa itu, boleh kutahu?”

“Akan kutunjukan kalau sudah selesai.”

“Kau membuatku penasaran.”

“Tak perlu. Kalau tak keberatan, kau mungkin sesekali bisa kuminta tolong.”

“Dengan senang hati. Kapan?”

“Akan kuberitahu.”

Keduanya berpisah beberapa menit kemudian. Sepanjang jalan pulang Rili terus merenung. Ia bahkan tak bisa tidur malam harinya. Kantuk rasanya sudah menguasainya. Anehnya, pikirannya melayang ke mana-mana. Beracakkan menyusuri lorong-lorong waktu yang dilalui. Percakapan dengan kawannya tadi terus mengusik pikiran. Kepalanya terus digerayangi suara, barang apakah yang berarti yang dapat kuberikan? Harinya semakin mendekat, apakah ia hanya berdiam diri sementara tempat itu begitu banyak melimpahinya dengan berbagai hal? Sudah terlalu banyak anugerah bagimu. Apakah hanya akan kau sia-siakan?

Terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, ia pun mengambil pena dan buku kecilnya. Membuat list. Sebelum melakukan sesuatu, kau harus mengecek kembali motivasimu. Kenapa kau mau melakukannya dan untuk apa? Tepatkah kau melakukan itu? Perlukah? Apa dampaknya? Ujilah kembali. Kalimat-kalimat itu digemakannya berulang-ulang.

Kalau salah niatmu, maka lebih baik tidak usah kau bekerja. Tidak usah memulai. Daripada hanya mempermalukan diri dan menjadi batu sandungan.

Kalau niatmu sudah baik, sudah murni, maka mulailah. Ingat, kalau kau sudah memutuskan memulai, maka kerjakan, dan jangan takut. Tapi kalau kau takut, sudahlah, tidak usah kerjakan. Duduk diam berpangkutangan saja. Terlenalah dalam kenyamananmu. Tak usah kau pusing-pusing memeras otak, menguras tenaga, mencucurkan keringat dan air mata demi mencari ide hingga berlelah-lelah.

Tenang, dan bersantai sajalah.

Kalau mau mengenang, maka masuklah dalam kamarmu. Berdoalah dalam diam. Berdoalah buat orang-orang di sana. Biar kerja mereka semakin baik. Biar performa mereka semakin keren. Kau tahu, berdoa bukan pasif. Ia mampu memberi sesuatu dan memahatkan kekekalan dalam diri orang-orang lain. Kelak ada orang-orang lebih keren muncul. Bapamu di surga mendengar.

Baiklah begitu. Daripada kau melakukan sesuatu dan akan menjadi sesuatu yang tak bernilai. Betul. Kenapa perlu? Sementara teman yang mengingatkan tadi saja tak berencana apa-apa. Kenapa aku harus kalau begitu? Ia mendebat dirinya sendiri.

Ia tahu dan sadar-sesadar-sesadarnya, ia tak punya apa-apa yang besar untuk diberi. Gaji bulanannya pas-pasan untuk keperluan hidupnya sendiri dan tiga  orang adiknya yang sedang berkuliah. Kredit rumahnya sendiripun masih menuntut perhatian. Belum lagi hal-hal tetek bengek dan remeh temeh lainnya.

Sudah mencoret-coret, tapi belum juga muncul ide untuk menulis list yang dimaksud.

Ah, kenapa jadi pusing dan kepikiran begini? Apakah salah kalau kau bersikap biasa dan cuek? Ia kembali merutuki dirinya.

Ya, memang salah. Ada yang salah. Dan itu tetap salah. Kau diperkaya. Kau kaya dan kau tak berterima kasih. Padahal itu adalah satu caramu kalau bukan satu-satunya caramu berterima kasih.  Kau bisa dan kau tak melakukannya, itu jelas sebuah kesalahan. Kalau di orang lain memang bukan, tapi kalau di kau, jelas itu salah. Sebuah kesalahan yang tak termaafkan.

Jangan terus menuduhku. Jangan memojokanku. Kalaupun mau kuberikan sesuatu, itu bukan atas tuduhan rasa bersalah, kau tahu itu.  Aku mau memberi sesuatu sebab dalam diriku ada dorongan yang lembut, teramat sangat lembut dan penuh ingin, mendorongku melakukannya. Aku memberikan sebab aku memang ingin memberikan. Aku melakukannya sebab aku memang ingin melakukannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s