Utang dan Anugerah*

77c17681e826f8e2e33cca4ab04d09e1*This is the reason why I’ve to write… and I’ll keep writing in the rest of my life…

“Astaga. Ternyata kau. Sedang buat apa di sini?”

“Mau bertemu Tuhan. Ingin minta maaf.”

Mata sang penanya membelalak.

“Kau tahu aturan bercanda. Kalau kau bercanda seperti itu lagi, aku tak segan-segan menamparmu. Tak peduli, apa yang kau pikirkan tentangku.”

“Silakan saja kau menampar. Kau tak mengerti persoalan yang sedang melandaku.”

Sebuah tamparan keras melayang. Bunyi mendesing terdengar di telinga sang gadis.

“Kenapa kau memutuskan mau bertemu Tuhan dengan cara ini?”

“Karena aku tak mampu membayar utang-utangku.”

“Memangnya kau berutang apa saja?”

 “Aku bangun pagi dan merasakan udara segar, lantas mendengar suara burung berkicau di pagi hari. Harum segar bunga-bunga di taman. Hati dan pikiranku begitu damai. Namun aku tak perlu membayar apa-apa, satu rupiah pun.”

 “Maksudmu?”

“Semalam aku berkumpul dengan kawan-kawanku di kafe CoffeBooks, di pinggir kota di tepi pantai. Kami berdiskusi tentang buku-buku dan tentang kepenulisan dari zaman batu hingga zaman digital sekarang ini. Kami hanya perlu membayar untuk secangkir kopi yang kami minum masing-masing. Suasana dan keakraban yang dinikmati, kami tak membayarnya. Satu rupiah pun tidak.”

“Masih belum kutangkap apa yang kau maksud.”

 

“Aku tiba di rumah dan kemudian hujan turun. Membasahi beberapa anakan pohon yang kutanam di belakang rumah beberapa hari lalu dan juga bunga-bunga di taman depan rumah. Aku masuk dan menikmati secangkir susu hangat sebagai penetral tadi sudah minum kopi di kafe, lantas membuka sebuah novel untuk dibaca. Untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Ya, Tuhan. Kau sudah membawar biaya kredit rumah dan listrik, serta membeli buku dan kopi gula, apa kau hanya pergi tersenyum kepada sang penjual lantas memberimu gratis?”

“Memang. Benda-benda itu aku memang membelinya. Tapi kenikmatan dan kepuasan yang kualami, aku tak perlu membayarnya dengan apapun. Semua itu kudapatkan gratis.”

“Semua orang di dunia bisa juga mendapatkan gratis dan tak sampai berpikir bahwa itu adalah utang.”

20160814_160228“Aku mengendarai sepeda motor dan berpikir, indah sekali dan nyaman sekali bisa mengendarai sepeda motor ini. Bisa bepergian ke mana kusuka dan kapan pun aku butuh. Aku hanya perlu sekali saja menyediakan uang belasan juta untuk memilikinya, lalu beberapa puluh ribu untuk bisa sampai ke tempat tujuan dengan pasti.”

“Pikiranmu melantur memang.”

“Malam-malam ketika aku melihat kelap-kelip bintang di langit. Angin malam yang berhembus lembut. Aku merasa suasana sekelilingku begitu tenteram. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk dapat merasakan ketenangan dan kedamaian malam itu.”

“Sudah kubilang, orang-orang lain juga mendapatkan apa yang kau dapatkan itu, dan mereka tak berpikir bahwa itu adalah utang sehingga harus dibayar.”

“Aku suka suasana malam kalau berada di jalan raya di kota. Aku suka melihat kelap-kelip cahaya lampu mobil dan cahaya lampu kenderaan yang berlalu lalang. Aku hanya perlu berada di pinggir jalan atau di atas sepeda motor yang kuparkir atau berada di dalam satu ruangan dan menatap jalanan. Aku tak membayar apa-apa untuk keindahan yang kunikmati itu.”

“Aku bingung dengan jalan pikiranmu.”

“Aku suka suasana pada malam hari di rumah. Malam itu selalu membuat tenang. Memberikan keluluasan untuk membaca dan berpikir, atau melakukan apa saja yang menyenangkan tanpa gangguan. Dengan adanya penerang di malam hari, aku boleh melakukan hal-hal itu sebelum beranjak tidur. Aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak membayar listrik setiap bulannya?”

“Aku membayar setiap bulan. Tapi aku tidak  membayar suasana yang kuperoleh saat bisa melakukan beberapa hal itu sebelum beranjak beristirahat di malam hari.”

“Pikiranmu ribet dan ruwet.”

“Aku merasa berutang setiap kali pulang liburan. Entah di masa-masa paskah saat ada perlombaan pemuda gereja, atau di malam-malam ibadah natal, atau di malam kunci tahun, atau di hari-hari minggu. Saat kami semua seisi keluarga, dari bapak, ibu, saya dan adik-adik semua pergi bersama ke gereja untuk beribadah. Aku merasakan betul betapa indah, betapa hangat, betapa damai dan tenteram momen-momen itu. Namun untuk momen-momen berharga itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak memberikan persembahan?”

“Apakah kau bertanya untuk persembahan yang seribu dua ribu yang hanya cukup untuk membeli satu potong pisang goreng itu sebanding dengan momen-momen berharga bersama keluarga?”

“Hmm…”

“Di gereja, aku bertemu dan menyapa orang-orang, bersekutu, dan menyanyi bersama. Ada hal lain yang aneh dan lembut datang menghampiri. Semua itu walau kurasakan begitu dekat, mistis, aneh, lembut, menenangkan, begitu menegangkan. Aku merasakannya demikian, sekalipun tak dapat kugambarkan apakah sesungguhnya itu. Aku tak begitu tahu. Tapi yang jelas, bahwa itu sangatlah indah dan agung. Aku mendapatkannya. Aku tak membayarnya. Bahkan kalau kubayar pun, aku tak tahu harus seberapa besar dan bagaimana aku mampu membayarnya. Rasa-rasanya seumur hidup aku tak mampu membayarnya. Ah, aku ingin mati saja. Aku ingin bertemu Tuhan. Aku mau minta maaf kepada-Nya. Aku ingin mengatakan pada-Nya, aku tak mampu membayar semua utangku yang teramat banyak ini.”

Kali ini tangisnya pecah.  Sesenggukan tak mau berhenti.

“Aku suka membaca buku. Buku-buku itu menyadarkanku bahwa di dunia ini bukan aku saja yang merasa aneh. Ada banyak orang di luar sana yang sama aneh denganku dan merasa orang-orang di sekeliling mereka yang tak benar-benar memahami mereka. Aku membaca cerita mereka dan merasa bahagia, menemukan orang yang sama penderitaannya dan merasa senang. Ternyata aku tidak sendiri. Namun hanya itu yang bisa kulakukan. Aku hanya mampu membayar beberapa puluh ribu untuk buku yang bercerita tentang mereka. Kebahagiaan yang kuperoleh saat aku tahu bahwa kami adalah orang-orang yang senasib, aku tak membayarnya. Satu rupiah pun aku tak kukeluarkan.”

Si penanya hanya diam.

20161205_174059“Suatu hari, pernah sekali ketika aku terjebak dalam rutinitas hingga nyaris mencapai tiik jenuh, tiba-tiba handphone bergetar menandakan pesan masuk. Kabar dari salah seorang sanak mengundang datang ke rumah karena mereka sementara mengadakan acara kecil-kecilan di rumah. Aku yang sebelumnya sudah bermata redup dan merasa hidup sudah mau mendekati puncak kekeringan, berasa seperti berada di padang gurun yang tiba-tiba ditetesi air. Segera kupersiapkan diri datang ke tempat dipanggil. Di sana aku mendapatkan kesegaran kembali setelah bertemu. Bercerita sebentar dengan mereka. Bermain-main dengan ponaan. merasakan suasana hangat dan damai di antara kami. Hari itu, dan tak hanya hari itu, tapi memang seringkali seperti itu. Sering aku mendapatkan momen-momen itu, namun aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.”

“Kau mengeluarkan uang untuk bensin motormu, bukan.”

“Apakah itu bisa dihitung dan sebanding dengan yang diperoleh?”

“Kalau kubilang kau sudah membayar, selalu kau beralasan sebanding…sebanding. Kalau masalah sebanding, tentu tak sebandinglah,” ia mendengus.

“Aku berutang pada kenangan. Ketika masih kecil dulu, karena kesukaanku adalah membaca buku atau belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, sementara di rumah banyak pekerjaan rumah tangga yang mesti kulakukan, aku lantas berpikir alangkah indahnya berada di tempat di mana kau tak perlu merasa repot-repot mencucui piring, repot-repot menyapu rumah dan halaman, repot-repot mengambil air untuk mengisi bak-bak air minum atau bak mandi, repot-repot memberi makan ayam, repot-repot memikirkan tentang uang jajan atau uang untuk mendapatkan makanan. Alangkah indah bahwa semua itu sudah tersedia, dan yang perlu kau lakukan hanyalah belajar dan belajar, membaca buku dan membaca.

Lantas, di masa SMA, aku mendengar kabar, ada satu institusi yang menyediakan segala fasilitas dan keperluan, tak perlu memikiran biaya pendidikan karena memang sudah disediakan, kau hanya tinggal belajar dan belajar, lapangan pekerjaan untukmu pun tersedia ketika kau menyelesaikan pendidikan itu dengan upah yang lumayan. Pekerjaan itupun memang sesuai mimpimu kala kau berada di bangku SMP.

10593379_702093706511917_843151614_n

Sumber: IfyClub

Tempat belajarnya pun ada di sebuah kota yang selama ini bahkan ada di mimpimu pun tak pernah. Adakah hal lain yang lebih indah? Apalagi yang mesti kau tunggu? Kau mendapatkan itu. Selama empat tahun, terlalu banyak pengalaman luar biasa kau alami. Hal-hal bergizi kau dapat. Tak hanya memuaskan raga, tapi pikiran dan hatimu. Berapa banyak yang kau bayar untuk semua itu?

“Uang saku setiap bulan apa tak ada?”

“Apakah seratus dua ratus ribu per bulan mampu membayar semua fasilitas dan biaya belajar di tempat elite semacam itu?”

“Lagi-lagi itu alasanmu.”

“Bapak yang mula-mula keberatan melepasku sebab memikirkan setelah empat tahun, entah aku akan terlempar ke belahan pulau mana, mesti bergumul siang malam sampai ia akhirnya mengeluarkan suara, kau boleh mengambil kesempatan ini. Apa yang kubayar untuk pergumulan bapak? Apakah seuprit dari upah setiap bulan mampu melunasi ketika ia bertekuk lutut dan bergumul mencari keputusan terbaik hingga dengan mata berkaca melepasku pergi?”

“Teruskan saja igaunmu selama aku masih mendengar. Mungkin sebentar lagi aku mau beranjak.”

“Aku berutang kepada penemu komputer, penemu mesin printer, dan mesin fotokopi. Sebagai guru, aku membuat soal-soal ulangan dan ujian untuk anak-anak murid. Aku senang karena seusai mengetik soal-soal, aku mencetaknya di mesin printer, lalu pergi ke mesin fotokopi, tinggal diperbanyak. Jadilah soal-soal itu untuk diberikan kepada anak-anak.”

“Kau membayar kepada penjaga printer dna fotokopinya bukan?”

“Aku membayar. Seribu rupiah untuk setiap cetakan, dan 200 rupiah untuk setiap kopian. Tapi aku tak membayar untuk betapa cepat dan mudahnya sampai lembaran-lembaran soal itu jadi.”

“Ok.. masih ada?”

“Aku berutang kepada penemu internet. Aku hanya perlu membayar beberapa puluh ribu untuk paket data sebulan dan aku bisa terhubung dengan orang-orang di berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Aku bisa bertanya jawab dengan mereka selayaknya sedang berhadapan dengan orang-orang di dekatku.”

“Aku berlangganan dengan beberapa newsletter dari dalam maupun luar negeri. Setiap mereka menerbitkan tulisan mereka, tentu aku pun dapat pemberitahuan, bisa kuakses dengan cepat dan mudah. Banyak hal kudapatkan dari sana. Dan untuk semua itu, aku tak perlu membayar apa-apa selain data paket sebulan itu. Atau pun tak pakai paketan data, maka di sekolah ada wifi. Banyak hal manfaat kuperoleh, dan aku tak membayar apa-apa.”

“Kau sudah membayar dengan jam kerja kamu di sekolah. Bayangkan bagaimana seandainya kau tak bekerja di sana, bagaimana bisa kau dapatkan akses wifi gratis?”

“Aku menonton video lagu yang keren, lirik lagunya yang menyentuh hingga ke sanubari, dan performa mereka yang keren dan luar biasa membauat mataku bisa dengan cepat berasa panas sampai mengalir air mata. Aku menangis karena merasa begitu bahagia dan terharu. Namun, untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.

Film-film bagus. Cerita-cerita yang luar biasa dengan akting para pemain yang sungguh-sungguh menghayati peran sehingga seolah itu memang terjadi di dunia nyata. Cerita yang indah, keren, dan luar biasa, membawaku  seolah ikut mengalaminya di sana. Mataku lagi-lagi berasa panas, entah sedih, marah, kesal, kecewa, senang, aku bisa merasa lega setelahnya. Dan untuk kelegaan itu, aku memperolehnya tanpa membayar. Satu rupiah pun tak dikeluarkan.”

“Masih ada?”

“Aku pernah mengidolakan seseorang. Ia masih seorang anak manusia.  Anak manusia yang sama terbatasnya dengan setiap anak manusia lain di muka bumi. Secara status, dalam bentuk apapun status itu, dengan kacamata orang-orang yang tinggal di permukaan bumi dan kuyakini seluruh daging, tulang, dan darahku, kami tak akan pernah bertemu, toh, suatu kali kami bertemu juga di suatu tempat. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk pertemuan itu. Bukan hanya pertemuan yang sekilas, tapi bahkan juga untuk setiap interaksinya. Aku merasa seperti di atas awan, tapi tak ada bayaran yang perlu kuberikan.”

“Kau sudah membayarnya sebelum-sebelumnya. Kau membayar buku-buku yang kau baca, kau membayar laptop yng kau pakai menulis, serta waktu-waktu yang kau pakai untuk membaca dan menulis.”

“Aku hanya membayar buku-buku dan laptop. Saat membaca dan menulis, aku tak membayar. Harusnya, tepatnya, aku membayar saat membaca dan menulis itu.”

“Kenapa kau perlu membayar saat membaca dan menulis?”

“Karena ada banyak manfaat yang aku peroleh saat melakukan keduanya. Harusnya dan mestinya aku membayar.”

“Hmm…”

“Adakalanya  aku merasa sedih, dan murung. Tiba-tiba ada orang datang menyapa dan berbicara sebentar. Mengingatkanku kembali kepada momen-momen menyenangkan sehingga membuat hatiku kembali bergembira. Aku tak membayar apa-apa untuk itu.”

“Kau pernah mentraktir mereka dengan es krim.”

“Apakah es krim itu mampu membayar lunas utangku pada mereka?”

Si penanya tertawa.

“Suatu insiden membuatku nyaris putus asa dan merasa tak ada lagi yang memperhatikan dan tak mempedulikanku. Tiba-tiba datang panggilan telepon dari orang yang jauh di seberang lautan dan menanyakan kabarku. Aku mengelak dan berkata semuanya dalam keadaan baik. Tapi entah bagaimana ia bisa menangkap nada dalam suaraku dan akhirnya menemukan bahwa aku tak dalam keadaan baik-baik. Mau tak mau aku pun bercerita dan mengeluarkan segala yang mengganjal. Lega seusai berungkap, dan aku tak membayar untuk itu.”

“Orang itu sudah membayar biaya telepon.”

“Memang orang itulah yang membayar. Bukan aku. Maka itu aku yang berutang.”

“Kau berutang pada orang itu.”

“Bukan.”

“Lantas pada apa?”

“Pada sesuatu yang lain, mengapa ia menghubungiku pada saat yang tepat?”

“Kau terlalu banyak berpikir. Hal yang seharusnya tak perlu direpotkan, justru membuatmu begitu repot dan ribet.”

“Ketika perutku terasa sakit atau kebelet ingin pipis. Tentunya harus segera menuju toilet. Berasa lega dan nyaman setelah mengeluarkan apa yang mau dikeluarkan. Keluar dari toilet dengan perasaaan yang lebih nyaman dibanding dengan muka yang pucat pasi ketika menuju ke sana. Dan untuk kelegaan dan kenyamanan itu, aku tak membayar.”

“Kau membayar air, sabun, dan tisu bukan? Apalagi kalau kau di kamar toilet di tempat wisata.”

“Aku membayar seribu dua ribu untuk air, sabun, dan tisu. Tapi bukan kelegaan dan kenyamanan itu. Apakah seribu dua ribu sebanding dengan kelegaan yang kuperoleh?”

“Di jalan raya, hanya hitungan milidetik aku nyaris diserempet mobil tangki. Aku hanya tersentak sebentar, memandang ke muka sang supir dengan terkejut, terus berlalu dengan selamat tanpa satu inchi anggota tubuhku lecet. Kau tahu, aku tak membayar satu rupiah pun untuk beberapa milidetik yang telah menyelamatkan hidupku.”

“Itu salahmu. Kau yang ceroboh dan kurang berhati-hati.”

“Maka untuk akibat kecerobohanku di jalan raya yang seharunya bisa merenggut nyawaku, aku tak membayarnya. Itu utangku.”

“Maka itu, kau harus membayarnya dengan lebih berhati-hati lagi lain kali.”

“Baiklah. Tapi, bagaimana dengan utang-utangku yang lain?

“Kau harus membayarnya dengan kebaikan.”

“Apakah itu cukup? Apakah itu sebanding dengan segala sesuatu yang kuperoleh? Apakah itu mampu melunasi semua utangku yang teramat banyak dan tak terhitung?”

Ia berpikir. Tampaknya ia berpikir keras.

“Belum lagi dengan segala kesalahan yang kuperbuat hampir setiap hari. Nyaris tiada hari yang berlalu tanpa aku sendiri berbuat sesuatu yang salah. Kesalahan aktif maupun pasif.”

Si penanya, setelah berpikir keras, bulat bola matanya tiba-tiba membesar. Ia tersenyum. Sepertinya baru menemukan ide cemerlang.

“Aku baru saja mendapat ide.”

“Apa itu?”

“Sepertinya kau perlu membuat list. Setiap memperoleh kepuasan, kelegaan, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, intinya setiap sukacita yang kau dapat, kau harus mencatatnya.

Lalu setiap kali kau membuat kesalahan, memang harus pula kau mencatatnya. Itu adalah utang-utangmu yang memang mesti kau bayar.

Lantas, karena kau pikir, segala utangmu yang tak mampu kau bayar dengan uang, dengan rupiah yang kau bilang tak seberapa itu, buatlah kebaikan-kabaikan. Taburkanlah lebih banyak lagi kebaikan.

Setiap kali kau membuat kebaikan, catatlah, dan akan lebih baik kau beri tanda centang untuk menandai sudah seberapa banyak kebaikan kau buat sebagai bayaran. Kupikir, dariku itu cukup.”

“Cukup? Maksudmu itu sudah cukup?”

“Ya.”

“Berapa harga untuk setiap sukacita? Berapa harga untuk setiap kesalahan? Lalu, berapa harga untuk setiap kebaikan yang kuperbuat? Apakah segala kebaikan dan kesalehanku mampu menutupi setiap utang atas berkat dan bayaran untuk segala kesalahan? Apakah menurutmu itu sebanding?”

“Kau terlalu banyak bertanya. Kau terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Sudah, pikirkan sendiri. Aku jadi pusing sekarang gara-gara pikiranmu yang berkecamuk itu.”

“Apakah kau tak mau membantuku?”

“Sudah kubilang, pikirkan saja sendiri. Semoga berhasil. Kau kutinggal sekarang. Setidaknya kau sudah berungkap. Dengan sudah berungkap begitu, aku percaya kau tak lagi berniat menjatuhkan diri dari gedung tinggi ini lagi.”

Si penanya itupun beranjak pergi. Meninggalkan sang gadis seorang diri bergumul dengan pikiran-pikirannya.

**

Kau seorang anak manusia. Kau sesungguhnya tidak mampu memecahkan misteri apa sesungguhnya dan mengapa.

Utang anak manusia sebenarnya bukan hanya tentang semua yang diterima dan dinikmati ditambah dengan kesalahan sehari-hari Ini tentang segala sesuatu yang diterima dan dinikmati bertolak belakang dengan keberadaannya di tengah-tengah kecacatan keseluruhan semesta. Ini adalah tentang ketidakmampuannya sebagai puncak ciptaan. Mau berusaha sebagaimana rupa pun, ia memang tetap tak mampu membayar. Tak akan pernah bisa menutupi bukan hanya kesalahan-kesalahan keseharian dan utang-utang atas segala yang diterima dan dinikmati, tapi atas ketidakmampuannya sebagai bagian dari kecacatan keseluruhan keberadaan semesta.

Maka itulah, Dia yang maha harus mewujud manusia untuk bisa membayarnya lunas. Harus Dia yang tak bercacat dan harus dalam kehinaan pula lahir-mati-Nya. Keindahan dan keagungan apa lagi yang lebih dari pada ini?

Sekian.

*Niat awal saya hanya ingin menulis tentang pengalaman baru yang seolah tiada habisnya. Setiap hari tampak baru dan begitu ajaib–setidaknya di mata saya demikian. Mungkin hanya beberapa kalimat.

Nyatanya, seusai menulis, saya pun kaget bisa jadi sepanjang dan seruwet ini. Sebagai yang menulis, saya tentu merasa senang bisa selesai menuliskannya. Mungkin ini pun adalah utang (momen kairos di mana Anda perlu menunduk sejenak dan mengucap terima kasih kepada Sang Pembuat Cerita Abadi) saya.

Thank you for today, Lord of Universe. The maker of heaven and earth. #FastWritingPractice.

Minggu, 12 Februari 2017, Pukul 22.32 Wita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s