Dua Tokoh Idola di 24 Februari 2017

13112883_10206365846038807_3439331675290002765_o-copySelamat Ulang Tahun, ….

Tanggal 24 Februari yang saya tahu adalah HUT-nya seorang aktor keren Indonesia, Nicholas Saputra, yang biar punya peran banyak di mana-mana tapi lebih keren dengan nama Rangga. Kepadamu, dengarkan, atau bacalah, “Selamat ulang tahun”. 😉 🙂 Cukup, itu saja dulu, sebab saat ini agak susah bagi saya merangkai kata… 😀

Kabar Kepergian

24 Februari. Di hari yang istimewa ini, ternyata adalah juga hari kepergian seorang Sastrawan Indonesia asal NTT, Bapak Gerson Poyk, yang sejak tahun 2016, HUT-nya di tanggal 16 Juni itu ditetapkan sebagai Hari Sastra NTT.

Sang bapak yang dihormati insan sastra ini tentu pernah mengalami masa kanak-kanak yang tercermin dalam karya-karyanya, namun yang paling menonjol adalah yang ia tuangkan dalam buku “Nostalgia Flobamora”. Berikut beberapa cuplikan untuk mengenang beliau yang kini telah berbaring dalam damai:
cymera_20151011_221850

Cuplikan Cerita Satu (hal 39)

Begitu bangun sore, aku entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang pohon kelapa dan lontar. Suara burung tekukur dan udara panas sore hari membuatku rindu pada ibu. Kerinduan itu membuatku menangis sendiri sambil memanggil-manggil nama ibu. Ibuku tak menjawab. Ia tak muncul-muncul. Abangku telah menjemput ibu ke Ba’a (jarak yang bisa ditempuh sekitar 20 km) dengan berkuda.

Tiba-tiba terpikir olehku akan ucapan guru sekolah mingguku, bahwa apa yang kita minta dari Tuhan, maka Tuhan akan memenuhi keinginan kita. Lalu aku pun menutup mata dan berdoa kepada-Nya. Doaku, “Tuhan, kalau saya membuka mata, maka ibu saya sudah ada di depan saya.” Doaku memang tidak terkabul. Ibuku tak ada di depan mataku. Meski demikian, aku tidak mengomeli Tuhan.

Cuplikan Cerita Dua (hal 79)

Dalam keadaan mesra, dalam penderitaan hidup bersama ibu dan ketiga saudaraku tanpa ayah, tiba-tiba datang seorang pegawai kantor pos, seorang klerk yang bernama David Kaha, melamar kakakku Dina. Aku marah betul. Pagi-pagi aku ke sekolah tanpa makan pagi. Pulang dari sekolah, aku melempar mangga muda dan mengunyahnya, menelan sekenyang-kenyangnya. Kemudian aku memanjat murbai dan terong belanda yang pohonnya tinggi. Pulang ke rumah, ketika kakakku Dina berada di dapur, aku lalu masuk ke kolong tempat tidur dan tidur di lantai tanah itu.

Cuplikan Cerita Tiga (hal 81)

Pondok itu cukup besar. Kami pindah ke pondok itu hanya dengan beberapa ikat jagung kering yang ibu peroleh entah dari mana. Tanpa minyak aku goreng jagung itu. Kerasnya seperti batu. Tetapi gigiku kuat dan baik. Ia seperti tang layaknya sehingga butir-butir jagung itu hancur dan memasuki perutku. Kemudian aku menuju tabung bambu betung yang besar, yang tergantung di tiang berisi air, yang diambil dari mata air bening di tepi kebun. Aku mengangkat dasar bambu itu ke atas dan airnya muncul di mulut bambu. Aku meminum air yang tak dimasak itu sepuas-puasnya.

Cuplikan Cerita Empat (hal 89)

Ketika padi, jagung, dan singkong yang ditanam sekaligus di kebun mulai menghijau, aku mendapat tugas untuk menjaga dua orang anak kecil. Keduanya perempuan. Seorang sudah bisa berjalan, seorang lagi masih merangkak. Maka aku pun menjadi baby sitter. Namun apa yang kubuat dengan makanan keduanya?

Tikar sudah kugelar dekat tungku. Aku sedang merebus jagung dan kacang ijo. Di samping itu beberapa bongkah ubi jalar sedang kupanggang di bara api. Aku ke luar membawa bambu betung menuju mata air dan menyuruh sang kakak menjaga adiknya yang masih merangkak. Saat aku kembali, sang kakak keluar sebentar untuk buang air besar di halaman. Aku sangat terkejut ketika adiknya yang masih merangkak telah berada di depan tungku dan tampaknya ingin mengambil ubi yang sedang dipanggang di bara api. Aku segera menyambar anak itu dan mengembalikannya ke tikar. Ketika kakaknya kembali masuk, ternyata ia mencret dan tampak tinjanya berlumuran di kaki, paha, dan pantat. Aku agak jijik melihat makhluk kecil berlumuran tinja itu. Lalu kuambil pompa semprot air dari bambu yang kubuat sendiri untuk bermain semprot-semprotan di mata air dan sungai. Kakinya, pahanya, semuanya kusemprot. Karena anak itu nunggingnya terlalu rendah maka semprotan air ke pantatnya menampiaskan tinjanya ke mulutnya. Wah, repot. Aku segera mencuci mulutnya yang kemasukan tinja.

Cuplikan Cerita Lima (hal 91-92)

Pagi-pagi iring-iringan truk tentara Jepang menderu dari utara. Aku berdebar-debar. Begitu melihat kendaraan pertama bala tentara Jepang itu dari jauh, aku berlutut dan mencium tanah. Badanku gemetar tetapi aku tetap tunduk mencium tanah, menyembah bala tentara Jepang. Tiba-tiba ada sesuatu yang dilemparkan dari truk. Ah, mati aku, pikirku. Tentara Jepang telah melempar bom. Aku menyerahkan nyawaku pada Tuhan. Tinggal tunggu granat itu meledak. Tapi sampai iring-iringan sepuluh atau dua puluh kendaraan itu selesai, bom itu tidak meledak. Aku berdiri dan menengok ke kanan-kiri. Sialan! Ternyata benda yang kukira bom itu biskuit dan gula-gula yang dilemparkan tentara Jepang kepada kami anak-anak. Kami berebutan mengambilnya, lalu mengunyah makanan itu dengan gembira.

Masih banyak cuplikan menarik lainnya. Hanya untuk saat ini, cukup lima.

Beristirahatlah dalam Damai…

Beristirahatlah dalam damai, Bapak Gerson Poyk, Bapak Sastra NTT. Atas keberadaanmu di Bumi Flobamora, kami sungguh berterima kasih kepada Sang Perencana dan Pengada Kehidupan. Berbahagialah putra-putrimu punya bapak seperti engkau. Kekuatan serta penghiburan dari Tuhan jualah yang dilimpahkan kepada mereka.

Kupang, 24 Feb ’17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s