The Kreutzer Sonata_Sonata Berujung Maut oleh Leo Tolstoy

20170302_004106-1Belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah lewat, maka untuk merawat ingatan, ada baiknya tulislah walau sedikit dan sederhana buku apa yang kau baca, sekalipun niat awal membacamu adalah hanya untuk mendapatkan apa yang disebut orang sebagai pleasure.

Baiklah, untuk catatan buku kali ini adalah tentang The Kreutzer Sonata atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia ditulis Sonata Berujung Maut dari salah satu penulis favorit, Leo Tolstoy.

Berbeda dengan Anna Karenina (AK) yang nasibnya berakhir tragis karena pilihannya sendiri, di mana ia yang semula memilih menikung dengan seorang opsir muda ababil (:p :D) yang diikuti dengan kecamuk pikirannya yang tak berujung sehingga memilih menabrakkan diri ke kereta, maka pada Sonata Berujung Maut (SBM), karena depresi dan kecemburuan yang aneh, sang suami akhirnya memilih untuk membunuh sang istri dengan pedang. Kedua cerita ini nyaris mirip. Tentang permasalahan rumah tangga. Kalau di AK, cerita lebih banyak menyorot kecamuk pikiran sang istri, maka di SBM lebih menyorot kecamuk pikiran sang suami.

Buku ini semula saya pikir akan sebagus Anna Karenina atau Kebangkitan atau Perang dan Damai, atau Hadji Murad, ternyata di tengah-tengah membaca, saya jadi merasa bosan sendiri.

Dibuka dengan perjalanan sang tokoh aku di hari kedua dengan kereta api, kemudian bertemu dengan beberapa penumpang lalu mereka bercakap-cakap tentang cinta, perkawinan, perceraian, perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan, dan seterusnya menyangkut hidup (sangat tampak ciri khas cerita Rusia zaman itu, orang-orang bertemu, berkumpul, dan berdiskusi tentang segala sesuatu dari paling prinsip hingga tetek bengek), ia akhirnya bercakap-cakap dengan sang pencerita, pria tua berambut abu-abu, sebagai penutur utama buku ini. Sementara ia (sang tokoh aku) di sini hanya diam dan pasif mendengarkan.

leo-tolstoy-about-families

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka dalam Anna Karenina. Sumber gambar: Russia Insider

Saya membacanya semacam kisah dalam novel ini adalah tumpahan isi hati sang penulis sendiri. Begitu cerewet seolah-olah sang penulis ingin mengeluarkan semua isi kepalanya lewat tokoh Pozdnyshev itu. Kata lainnya, numpang curhat…:D Memang sepertinya tak begitu bagus untuk disebut novel. Mungkin saja begitu, makanya novel ini kurang dibicarakan dibanding novel Leo Tolstoy lainnya.

Namun bagaimanapun saya tetap mengapresiasi. Setidaknya bila kisah ini memang curhatan sang penulus, setidaknya ia sudah melakukannya dengan cara yang kreatif. Ia ciptakan tokoh-tokoh, ia pikirkan latar peristiwa pembuka, ia hadirkan tokoh-tokoh pendamping untuk membuka percakapan, ia mengolah berbagai bidang ilmu tinggi ikut masuk di dalamnya, ia atur (mungkin juga melakukan bongkar pasang) alur dan plot cerita, juga mengemas sedemikian rupa hingga jadilah The Kreutzer Sonata atau Sonata Berujung Maut ini.

Sementara kau yang membaca, apa coba yang sudah yang kau lakukan? Kata orang Kupang, Baca ko pikir ko mangarti… Jangan kau curhat, bukannya curhat untuk mendapat lega dan solusi, tapi malah mengambinghitakan orang lain sebagai penyebab segala salah (baca gosip) πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s