ReBlog

When In Doubt…

when in doubt, take an action, face it bravely!

Run and Travel

When in doubt?

confusedleadership-r

It’s interesting how many answers can you get to this question….

  • – When in doubt, punt! (John Heisman)
  • – When in doubt, don’t (Benjamin Franklin)
  • – When in doubt, tell the truth (Mark Twain)
  • – When in doubt, use brute force (Ken Thompson)
  • – When in doubt, throw it out (Jeremy Jackson)
  • – When in doubt, knock ’em out (Chuck Zito)
  • – When in doubt, mumble (James H BOren)
  • – When in doubt, do it (Oliver Wendell Holmes, Jr)
  • – When in doubt, wear red (Bill Blass)
  • – When in doubt, do something (Harry Chapin)
  • – When in doubt, or danger, run in circles, scream and shout (Laurence J Peter)
  • – When in doubt, have a man come through the door with a gun in his hand (Raymond Chandler)
  • – When in doubt, go with black (Leigh Lezark)
  • – When in doubt, society should err on…

Lihat pos aslinya 210 kata lagi

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, Refleksi

Kepuasan Seorang Guru

20170117_130836Setiap guru tentu mengalami kepuasan tersendiri setiap kali keluar dari kelas. Kepuasan itu mungkin berbeda satu dengan yang lain. Kepuasan itu tidak bisa dirasakan orang lain. Hanya ia sendiri (dan Tuhan) yang merasakannya. Di saat-saat seperti itu, hatinya seakan-akan meluap-luap karena keharuan dan kebahagiaan.

20170313_100914Saya mengalaminya. Maka itu saya menuliskannya. Tentu tidak semua dan memang tidak setiap kelas yang dimasuki, hasilnya seperti demikian. Ada kalanya di kelas tertentu kita merasa gagal dan rasanya garing sekali. Rasanya seperti robot yang digerakan mesin dan hanya dipakai untuk mengisi dua sesi dalam kelas tersebut. Tetapi bila di dalam kelas tersebut kau pakai waktu baik-baik, benar-benar tahu dan menyadari bahwa dua sesi tersebut adalah waktu terbaik kau menabur, maka tentu kepuasan dan kelegaan dan sukacitalah yang kau dapat… 🙂 🙂 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

ReBlog

You don’t go to school to learn

GRACE, FAVOR & FAITH

you-do-go-to-school-to-learn

Every year I have the pleasure of talking with dozens of young people who have the great misconception that they go to school to learn. I love watching the shocked look on their faces as they realize for the first time that they have been misusing their time in school. I love this quote by Myles Munroe which states “when purpose is unknown, abuse is inevitable”.

purpose

Therefore, I spent some time researching the purpose of school. The word school derives from greek word σχολή(scholē), originally meaning “leisure” and also “that in which leisure is employed”. However it was changed later on to mean “a group to whom lectures were given”

In order to understand the purpose of school I had to understand the history of formal education.

Prior to the advent of agriculture children spent their time learning by exploring their environments and learning their craft…

Lihat pos aslinya 736 kata lagi

ReBlog

Hide and Seek.

motionosphere

One of the games I loved to play when I was a kid was hide and seek (who doesn’t, right?). I remember hiding with my sister in the dusty, dark storage room we had in our previous home. My brother came into the room and looked for a while before closing the door again because he didn’t see us. We were hiding behind all those boxes and furniture.

We were giggling and trying not to make any noise. Then, my brother came in again and this time he looked very hard. And he found us. That storage room was the hotspot for a hideout. Whenever we played the game that would be the first place we’d go.

It was such a simple game. A game that I had played a lot in primary school.

In fact, my friends and I made a sort of a hybrid of that game…

Lihat pos aslinya 371 kata lagi

Catatan Buku

Tentang “Bertopeng” dari “Pengakuan” Anton Chekhov*

20170307_202712 - CopyCuplikan Satu

Di balkon duduk seorang perempuan cantik, gemuk; sukar menebak usianya, tetapi ia masih muda, dan masih lama lagi muda… Pakaiannya mewah. Di masing-masing tangannya melingkar sebentuk gelang besar, dan pada dadanya tergantung bros berlian. Di dekatnya tergeletak mantel bulu berharga seribu rubel. Di koridor menanti pesuruhnya yang berpakaian garis-garis, dan di halaman berdiri sepasang kuda hitam beserta kereta saljunya lengjap dengan kain penutup kaki dari kulit beruang. Wajahnya yang cantik dan tampak kenyang, dan segala sesuatunya, menyatakan: “Aku bahagia dan kaya.” Tetapi pembaca, jangan percaya!

“Aku cuma bertopeng,” pikir perempuan itu. “Besok atau lusa Baron akan jadi Nadine, dan akan dicabutnya semua ini dariku…”

Cuplikan Dua

Di dekat meja main duduk seorang laki-laki gemuk mengenakan mantel besar; dagunya bertingkat tiga, dan tangannya putih. Di sampingnya terdapat onggokan uang. Ia kalah, tetapi ia tidak muram. Sebaliknya, ia tersenyum. Bagi dia tak ada artinya kalah seribu-dua ribu. Di kamar makan beberapa orang bujang sedang menyiapkan kerang, sampanya, dan daging burung kuau. Ia senang makan malam banyak. Sesudah makan malam ia akan berkereta menemui si dia. Si dia Bukankah hidupnya senang? Bahagia! Tetapi cobalah lihat, tetek bengek apa yang meruyak di otaknya yang telah menjadi gemuk itu!

“Aku cuma bertopeng. Datang kontrole, dan orang-orang akan tahu aku cuma sebuah topeng…”

Cuplikan Tiga

Seorang petani yang sedang mabuk berjalan menyusuri dusun, menyanyi dan menjeritkan harmonika. Pada wajahnya ada rasa haru bercampur mabuk. Ia tertawa terkekeh-kekeh dan menari-nari. Hidupnya sedang rupanya? Sama sekali tidak, ia cuma bertopeng.

“O, ingin rasanya aku makan,” pikirnya.

Cuplikan Empat

Seorang profesor, dokter yang masih muda, sedang memberikan kuliah pengantar. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mengabdi kepada ilmu pengetahuan. “Ilmu adalah segalanya!” katanya, “dia itulah hidup!” Dan orang-orang percaya kepadanya….

Padahal ia bisa dikatakan bertopeng jika sekiranya orang-orang itu mendengar apa yang dikatakannya kepada sang istri sesudah kuliah itu. Ia mengatakan kepada istrinya: “Aku sekarang profesor, Sayang. Seorang profesor punya praktek sepuluh kali lebih banyak daripada dokter biasa. Sekarang aku bisa mendapat dua puluh ribu setahun.”

Demikian empat dari tujuh cuplikan kisah di bawah judul “Bertopeng” dalam sekumpulan cerita pendek Pengakuan” (lihat keterangan di bawah!)

Ok, apakah mungkin topeng itu indah?

“Kenakanlah topengmu. Tak apa. Pakailah. Supaya ketika orang melihatmu, mereka berpendapat kamu adalah orang yang paling baik, lebih baik dari yang lain. Kamu adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi. Tertawalah! Tertawalah sampai puas. Tak apa. Sebab kamu bahagia.” 🙂 🙂

Siapakah orang-orang dewasa yang kau jumpai dalam hidupmu yang tak bertopeng? Baiklah kukatakan padamu, hampir semuanya, termasuk saya. Dalam porsi kecil maupun besar. Biasanya orang-orang bertopeng itu menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, lebih bahagia, lebih merasa berkuasa dari orang lain.

Mereka bertopeng lantas menertawakan orang-orang tak bertopeng. Mereka mengatai orang-orang yang tak bertopeng sebagai orang lugu, polos, dan dungu. Kata mereka, kalau kau bertopeng, kau pintar.

pexels-photo-92129
Sumber ilustrasi: pexels

Mereka bangga mereka bukanlah orang-orang lugu, polos, dan dungu. Mereka bangga dan memukul dada berulang-ulang, mereka hebat, mereka orang keren, mereka pintar, mereka pandai, mereka cerdik, mereka berkuasa, dan mereka bahagia.

Dengan topeng, mereka berusaha memegang kendali ingin mengganti peran Tuhan. Anak-anak kecil ataupun orang-orang yang tak bertopeng mereka tindas, menganggap layaknya sapi, atau babi, atau anjing, atau kambing, atau apapun yang bisa dipergunakan dan dimanfaatkan atau diperjualbelikan demi kepuasan ego semata.

Orang-orang bertopeng itu, kau lihat mereka, kalau mereka tertawa, biarpun mereka pikir mereka lebih baik, lebih hebat, lebih pandai, lebih pintar, lebih keren, lebih jago, lebih cerdik, dan lebih segalanya, jangan kau percaya mereka sedang berbahagia. Sesungguhnya, dalam tertawa, mereka sementara menangis dalam derita tak terperikan. Merekalah semestinya orang-orang yang patut dikasihani.

Berbahagilah kau yang tak bertopeng. Tetap berlakulah dengan murni sebagaimana adanya dirimu. Sebab padamulah sorga berada.

* Keterangan:

Dari 24 judul dalam sekumpulan cerpen berjudul Pengakuan dari Anton Chekhov, ada satu yang diberi judul Bertopeng. Walaupun judul ini bukan satu-satunya yang terbaik, tapi saya memang sengaja hanya menyoroti bagian ini. Saya selalu suka tulisan yang berkaitan dengan topeng. Baik itu puisi, prosa, ataupun teater. Maka itulah, dari buku Pengakuan yang diterbitkan KPG  tahun 2004 ini, saya tidak membuat ulasan sebagaimana biasanya orang membuat ulasan buku. Kalau ulasan yang lebih bagus atau lebih lengkap, silakan Anda berkunjung ke:

  1. Parade Ironi Anton Chekhov dari Bisikanbusuk,
  2. Book Review Pengakuan Anton Chekhov dari Mshabibi
  3. Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya dari Duniadibingkaisenja
  4. Mendialogkan “Pengakuan” Anton Chekhov dari Kompasiana
  5. Resensi Buku Pengakuan Karya Anton Chekhov dari Sundanita

Sementara di sini, saya hanya sekadar memahatkan bagian Bertopeng dan bercuap sedikit tentang topeng’. Semoga dimengerti. 🙂