Tentang “Bertopeng” dari “Pengakuan” Anton Chekhov*

20170307_202712 - CopyCuplikan Satu

Di balkon duduk seorang perempuan cantik, gemuk; sukar menebak usianya, tetapi ia masih muda, dan masih lama lagi muda… Pakaiannya mewah. Di masing-masing tangannya melingkar sebentuk gelang besar, dan pada dadanya tergantung bros berlian. Di dekatnya tergeletak mantel bulu berharga seribu rubel. Di koridor menanti pesuruhnya yang berpakaian garis-garis, dan di halaman berdiri sepasang kuda hitam beserta kereta saljunya lengjap dengan kain penutup kaki dari kulit beruang. Wajahnya yang cantik dan tampak kenyang, dan segala sesuatunya, menyatakan: “Aku bahagia dan kaya.” Tetapi pembaca, jangan percaya!

“Aku cuma bertopeng,” pikir perempuan itu. “Besok atau lusa Baron akan jadi Nadine, dan akan dicabutnya semua ini dariku…”

Cuplikan Dua

Di dekat meja main duduk seorang laki-laki gemuk mengenakan mantel besar; dagunya bertingkat tiga, dan tangannya putih. Di sampingnya terdapat onggokan uang. Ia kalah, tetapi ia tidak muram. Sebaliknya, ia tersenyum. Bagi dia tak ada artinya kalah seribu-dua ribu. Di kamar makan beberapa orang bujang sedang menyiapkan kerang, sampanya, dan daging burung kuau. Ia senang makan malam banyak. Sesudah makan malam ia akan berkereta menemui si dia. Si dia Bukankah hidupnya senang? Bahagia! Tetapi cobalah lihat, tetek bengek apa yang meruyak di otaknya yang telah menjadi gemuk itu!

“Aku cuma bertopeng. Datang kontrole, dan orang-orang akan tahu aku cuma sebuah topeng…”

Cuplikan Tiga

Seorang petani yang sedang mabuk berjalan menyusuri dusun, menyanyi dan menjeritkan harmonika. Pada wajahnya ada rasa haru bercampur mabuk. Ia tertawa terkekeh-kekeh dan menari-nari. Hidupnya sedang rupanya? Sama sekali tidak, ia cuma bertopeng.

“O, ingin rasanya aku makan,” pikirnya.

Cuplikan Empat

Seorang profesor, dokter yang masih muda, sedang memberikan kuliah pengantar. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mengabdi kepada ilmu pengetahuan. “Ilmu adalah segalanya!” katanya, “dia itulah hidup!” Dan orang-orang percaya kepadanya….

Padahal ia bisa dikatakan bertopeng jika sekiranya orang-orang itu mendengar apa yang dikatakannya kepada sang istri sesudah kuliah itu. Ia mengatakan kepada istrinya: “Aku sekarang profesor, Sayang. Seorang profesor punya praktek sepuluh kali lebih banyak daripada dokter biasa. Sekarang aku bisa mendapat dua puluh ribu setahun.”

Demikian empat dari tujuh cuplikan kisah di bawah judul “Bertopeng” dalam sekumpulan cerita pendek Pengakuan” (lihat keterangan di bawah!)

Ok, apakah mungkin topeng itu indah?

“Kenakanlah topengmu. Tak apa. Pakailah. Supaya ketika orang melihatmu, mereka berpendapat kamu adalah orang yang paling baik, lebih baik dari yang lain. Kamu adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi. Tertawalah! Tertawalah sampai puas. Tak apa. Sebab kamu bahagia.” 🙂 🙂

Siapakah orang-orang dewasa yang kau jumpai dalam hidupmu yang tak bertopeng? Baiklah kukatakan padamu, hampir semuanya, termasuk saya. Dalam porsi kecil maupun besar. Biasanya orang-orang bertopeng itu menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, lebih bahagia, lebih merasa berkuasa dari orang lain.

Mereka bertopeng lantas menertawakan orang-orang tak bertopeng. Mereka mengatai orang-orang yang tak bertopeng sebagai orang lugu, polos, dan dungu. Kata mereka, kalau kau bertopeng, kau pintar.

pexels-photo-92129

Sumber ilustrasi: pexels

Mereka bangga mereka bukanlah orang-orang lugu, polos, dan dungu. Mereka bangga dan memukul dada berulang-ulang, mereka hebat, mereka orang keren, mereka pintar, mereka pandai, mereka cerdik, mereka berkuasa, dan mereka bahagia.

Dengan topeng, mereka berusaha memegang kendali ingin mengganti peran Tuhan. Anak-anak kecil ataupun orang-orang yang tak bertopeng mereka tindas, menganggap layaknya sapi, atau babi, atau anjing, atau kambing, atau apapun yang bisa dipergunakan dan dimanfaatkan atau diperjualbelikan demi kepuasan ego semata.

Orang-orang bertopeng itu, kau lihat mereka, kalau mereka tertawa, biarpun mereka pikir mereka lebih baik, lebih hebat, lebih pandai, lebih pintar, lebih keren, lebih jago, lebih cerdik, dan lebih segalanya, jangan kau percaya mereka sedang berbahagia. Sesungguhnya, dalam tertawa, mereka sementara menangis dalam derita tak terperikan. Merekalah semestinya orang-orang yang patut dikasihani.

Berbahagilah kau yang tak bertopeng. Tetap berlakulah dengan murni sebagaimana adanya dirimu. Sebab padamulah sorga berada.

* Keterangan:

Dari 24 judul dalam sekumpulan cerpen berjudul Pengakuan dari Anton Chekhov, ada satu yang diberi judul Bertopeng. Walaupun judul ini bukan satu-satunya yang terbaik, tapi saya memang sengaja hanya menyoroti bagian ini. Saya selalu suka tulisan yang berkaitan dengan topeng. Baik itu puisi, prosa, ataupun teater. Maka itulah, dari buku Pengakuan yang diterbitkan KPG  tahun 2004 ini, saya tidak membuat ulasan sebagaimana biasanya orang membuat ulasan buku. Kalau ulasan yang lebih bagus atau lebih lengkap, silakan Anda berkunjung ke:

  1. Parade Ironi Anton Chekhov dari Bisikanbusuk,
  2. Book Review Pengakuan Anton Chekhov dari Mshabibi
  3. Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya dari Duniadibingkaisenja
  4. Mendialogkan “Pengakuan” Anton Chekhov dari Kompasiana
  5. Resensi Buku Pengakuan Karya Anton Chekhov dari Sundanita

Sementara di sini, saya hanya sekadar memahatkan bagian Bertopeng dan bercuap sedikit tentang topeng’. Semoga dimengerti. 🙂

Iklan

3 comments on “Tentang “Bertopeng” dari “Pengakuan” Anton Chekhov*

  1. […] Cerpen favorit lain dalam buku yang sama adalah Bertopeng […]

    Suka

  2. timoteus marten berkata:

    Numpang lewat. Salam dr Timur jauh

    Disukai oleh 1 orang

  3. rahmad berkata:

    mantap

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s