Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua)

*Kisah ini merupakan lanjutan dari Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

Rasanya belum lama saya tertidur, ketika saya merasakan kedua kaki saya digoncang-goncang seseorang berikut nama saya dipanggil. Saya terkejut bangun. Menarik turun selimut yang menyelubungi seluruh muka saya. Kamar dalam keadaan gelap. Hanya setitik sinar dari mesin AC di pojok kamar dan secercah cahaya di pintu kamar yang dalam keadaan terbuka. Ada satu sosok sedang berdiri di samping tempat tidur. Elise ternyata sudah bangun.

“Bangun, Ci. Ayo, kita belajar,” ia berbisik pelan, biar tidak membangunkan tiga orang lain dalam kamar yang sementara lelap tertidur.

Saya tak segera menyahut. Sebaliknya saya meraba-raba bagian atas lemari di samping kepala saya mencari Hp yang biasa saya letakkan di sana. Memencet satu tombolnya dan berusaha melihat jam.

“Belum jam tiga,” kata saya.

“Ya, tak apa. Biar lebih banyak waktu kita membaca,” Elise yang masih berdiri menunggu di samping tempat tidur saya membalas.

Saya hanya bergumam pelan ketika kesadaran saya sudah pulih dan mendapati di seberang tempat tidur, Ulfi pun ternyata sementara terbaring dalam keadaan lelap.

Saya bergegas bangun sementara Elise dengan tenang menunggu. Saya mengambil buku yang mau dibaca di atas lemari yang juga berfungsi sebagai meja itu lalu menuruni tangga tempat tidur. Berdua kami menuju ruang tamu. Kami duduk di sofa di mana di sampingnya ada meja tivi dan mulai membaca dengan diam.

Suasana dini hari begitu hening dan bening. Hanya terdengar mesin AC ruang belakang. Tirai jendela semua dalam keadaan tertutup. Sebenarnya agak mencekam juga suasana di ruang tamu dini hari itu. Berada beberapa lama di sana, sudah sering kami dengar ungkapan atau bisik dari kakak-kakak tingkat tentang suasana mencekam di tempat ini apalagi di lorong koridornya. Apalagi ditambah dengan tiadanya angka empat di sepanjang susunan apartemen ini.

Hari itu adalah pertama kalinya kami bangun sepagi itu untuk belajar. Jauh dalam hati kami, sebenarnya kami saling tahu kami  dalam keadaan takut dan tidak merasa aman. Tetapi demi nilai kuis CAD, sengaja kami tampakkan bahwa kami dalam keadaan baik-baik saja. Semua ketakutan itu kami bungkus rapat-rapat dalam diam dan kesungguhan mencerna isi bacaan dalam buku Hurlock itu.

Elise dengan satu bukunya sendiri, saya pun dengan buku saya. Dua buku itu adalah buku pinjaman dari perpustakaan kampus.

Kami membaca dengan diam dan serius. Berusaha memahami setiap susunan kata dan pengertian dalam bab buku itu sebelum pukul lima, waktu di mana anak-anak lain akan bangun untuk mandi dan mulai sibuk, sehingga konsentrasi pasti terbagi. Sulit bagi kami yang sementara belajar untuk mencerna. Kami tak boleh lagi membuang waktu kami. Target kami haruslah mendapat nilai 10 apapun alasannya. Toh, hanya menjawab ‘benar’ atau ‘salah’, dan adalah sebuah penyesalan panjang yang tak termaafkan kalau kami tidak bisa memilih jawaban ‘B’ atau ‘S’ dengan tepat.

Kami membaca dengan diam dan sungguh-sungguh. Membaca diam, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu bila ada kalimat dengan bahasa yang rumit dan sukar dipahami, maka kembali diulangi lagi dari awal. Diulang, diulang-ulang, begitu seterusnya sampai mengerti.

Kata Pak Nicho, sewaktu membaca buku itu, usahakan jangan dihafal. Sebaliknya berusahalah untuk memahami dan mengerti konsepnya. Itu akan lebih bertahan di ingatan dibanding sekadar hafal.

Saya sepenuhnya setuju dengan anjuran Pak Nicho. Maka itulah saya berusaha mempraktikkan. Berusaha memahami dan mengerti daripada hanya sekadar hafal. Lagipula, isi buku ini bagi saya sangat menarik. Kalimat dan gaya bahasanya membuat saya tenggelam dalam buku. Bahasan dalam buku seakan-akan melemparkan kembali saya kepada masa kanak-kanak. Kembali mengingat bagaimana ciri dan perilaku saya di masa kanak-kanak, menghubungkan dengan pembahasan dalam buku, serta berusaha memahami bagaimana seharusnya sikap pendidik dalam menghadapi dan menangani ciri dan perilaku-perilaku sedemikian.

Hihihihihihi…. hihihihihi…. hihihihi…

Terdengar suara ringkik tawa yang begitu dekat dan kencang. Terkejut, spontan kami berdua melonjak kaget. Elise yang dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan bukan orang yang mudah panik sampai menjerit ketakutan. Saya terduduk kaku dan lesu di sofa. Tubuh saya seperti membeku. Rasanya saya sempat hilang sadar dan lupa di mana saya berada saat itu.

Suara ringkik tawa itu masih terus meraung. Makin lama makin kencang. Setelah pulih dari rasa kaget, saya baru mencoba berusaha menganalisis situasi.

Melihat sekeliling. Mulai membaca keadaan pelan-pelan. Kami masih dalam keadaan baik-baik dan masih duduk di sofa ruang tamu. Seiring terdengar suara ringkik tawa itu, ada juga bunyi benda bergetar di samping kiri tempat kami berada.

Tepatnya di atas meja tivi, di samping tivi, HP Ulfi sementara bergetar dan bergeser seiring suara yang dikeluarkan dari speaker-nya.

“Elise, itu bunyi alarm. HP Ulfi,” saya berusaha berkata walau dengan terbata.

“Kau bisa matikan,” kata saya melanjutkan sekaligus berusaha mengarahkannya untuk melihat ke arah meja tivi. Alasan saya memintanya untuk mematikan bunyi alarm menjengkelkan itu karena posisi duduk Elise yang memang paling dekat dan persis di samping meja tivi.

Namun Elise menggeleng keras. Ia bahkan tak mau menengok ke sana. Ia masih membenamkan wajahnya rapat-rapat di bahu kiri saya. Saya tahu, ia mungkin masih dalam keadaan shock. Sebab Hp itu berbunyi tepat di samping telinganya.

Sebenarnya suara ringkik tawa itu bukan hal baru di telinga kami, penghuni kamar 3805. Toh, sehari-hari nada dering HP itu sudah sering dan terbiasa diperdengarkan oleh sang pemilik Hp. Masalahnya suara ringkik tawa kuntilanak itu menggaung di tengah-tengah ruang tamu aparteman yang sunyi sepi yang konon banyak cerita horornya, dan itu tepat terjadi pada pukul tiga dini hari.

Karena merasa terganggu dengan bunyinya yang semakin lama semakin keras, maka mau tak mau, saya pun mengulurkan tangan, melewati badan Elis yang sudah menelungkup di sofa, berusaha menjangkau tempat HP itu berada demi mematikan bunyi menjengkelkan itu. Alhamdullilah. Alarm Hp itu pun mati.

“Sudah,” saya bilang. “Ayo, lanjut belajar.”

Walau tidak segera, Elise pun mengangkat kepala, mengelus dadanya, dan menarik napas. Katanya, ia mau melanjutkan membaca, tetapi rasa shock tadi masih mengganggunya. Ia takut kalau-kalau suara mengerikan itu terulang lagi.

Walaupun tidak mengatakannya secara terang-terangan, saya pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Masih mau melanjutkan membaca, tapi untuk sampai mencerna dan memahami isi bacaan sepertinya agak sulit.

Duduk diam dan merenung sebentar, kami pun mengambil buku masing-masing dan mulai mencari sampai di mana tadi kami membaca, dan mulai perlahan-lahan kembali melanjutkan membaca dalam diam.

Kami sama-sama tahu, apapun yang terjadi, kami harus tetap membaca sampai selesai. Tak ada lagi waktu untuk membaca kalau bukan sekarang. Sebentar lagi anggota kamar lain akan bangun dari tidur dan mulai bersiap-siap. Kelas CAD adalah kelas pertama di hari itu setelah sarapan dan devotion. Waktu terbaik untuk belajar adalah sekarang. Tak bisa ditunda-tunda atau diulur lagi.

Kami pun tak lama kemudian terbenam kembali ke dalam bacaan. Membaca, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu yang tampak rumit, diulang-ulang lagi sampai bisa.

Pikiran dan konsentrasi sudah mulai kembali menyatu dengan bahan bacaan di dalam buku ketika tiba-tiba suara ringkik tawa perempuan kuntilanak itu kembali terdengar. Kali ini saya sungguh jauh lebih kaget dan takut daripada yang sebelumnya. Saya benar-benar tak percaya akan pendengaran saya. Bagaimana bisa suara itu terdengar lagi sementara tadi alarm HP itu sudah jelas-jelas saya matikan. Saya sempat berpikir jangan-jangan memang ada pihak ketiga tak kasat mata yang sudah ikut campur.

Kalau tadi di kali pertama saya berani menyentuh Hp demi mematikan alarm itu, kali kedua ini saya malah lebih takut dan tak mau menyentuh lagi Hp itu. Elise sekali lagi saya minta agar dia saja yang mematikan. Namun seperti tadi, ia tetap menggeleng kepala dengan keras.

Saya pun tak segera mengambil alih. Saya tetap masih merasa takut. Saya benar-benar yakin jangan-jangan ada campur tangan pihak ketiga tak kasat mata, sehingga dugaan saya kali ini, bagaimana kalau ketika tangan saya menyentuh Hp dan terjadi sesuatu yang mengerikan. Namun lama-lama menunggu, suara ringkik tawa perempuan itu malah makin lama makin kencang dan menjengkelkan. Kalau terus dibiarkan maka tentu saja akan terus semakin kencang dan lebih kencang.

Elise sama sekali tak bisa bergerak mendekat ke sana. Ia benar-benar merapat ke arah saya dan tak mau bahkan untuk menengok sekalipun.

Akhirnya, lagi-lagi karena merasa kesal dan jengkel, saya pun berusaha menguatkan diri bergerak, demi mengusir rasa takut yang sudah demikian menguasai, saya keluarkan teriakan yang sangat kencang dan keras yang sanggup untuk membangunkan seisi anggota kamar 3805. Dengan suara teriakan yang keluar, setidaknya beban ketakutan saya terasa berkurang dan saya pun memberanikan diri mengulurkan tangan dan mengambil HP itu.

hp nokia symbian 3230

Seperti inilah model HP Ulfi saat itu. Sumber gambar: mouthshut

Kalau di kali pertama, saya hanya sekadar menengok layar dan menekan tombol lalu bunyi alarm itu segera diam, maka di kali kedua, Hp itu benar-benar saya ambil dan genggam seutuhnya ke dalam tangan saya. Layar HP itu benar-benar saya pelototi dan baru saya baca, ternyata di layar Hp yang sementara histeris dengan ringkik tawa perempuan kuntilanak itu, ada tertulis dua pilihan, znooze dan stop.

Saat itulah baru saya sadar, ternyata saat bunyi pertama kali, bukannya menghentikan bunyi alarm, tapi justru saya salah menekan di ombol snooze, hanya sekadar menunda. Itulah kenapa ringkik tawa perempuan kuntilanak mengerikan itu kembali menggaung di menit ke-15.

Dua pintu kamar yang tadi seperti mati dua-duanya terkuak. Muncul tergopoh-gopoh kawan-kawan kamar kami. Orang pertama yang keluar adalah fasilitator kamar yang adalah juga kakak sepupu saya, Kak Feby, yang disusul beberapa kawan lainnya. Baik dari kamar berenam maupun kamar berempat. Mereka semua menuju ruang tamu tempat kami berada.

Mereka ramai-ramai bertanya ada apa (sementara bunyi alarm HP itu sudah benar-benar  saya matikan).

Kami tak perlu menjelaskan.

Mereka hanya cukup melihat air mata kami yang sudah berurai dengan wajah pucat kami yang diliputi ketegangan dan ketakukan seperti baru habis melihat hantu.

Kami tak perlu menjelaskan. Cukup mengarahkan kepala mereka kepada Hp yang terletak di samping meja tivi.

Mereka sudah mengerti. Mereka cukup mengerti. Mereka maklum.

Kak Feby pun kembali masuk ke dalam kamar berempat dan memanggil Ulfi. Hanya ia satu-satunya yang tidak keluar sementara tujuh orang lainnya sudah berkumpul di ruang tamu bersama kami. Ulfi pun keluar kamar mengekor Kak Feby yang kembali ke ruang tamu. Bukannya keluar dengan minta maaf atau takut karena akan dimarahi baik oleh kami atau kakak kamar lain atau yang lainnya atau apapun itu, ia justru keluar kamar sambil tertawa nyengir.

“Kenapa, ada apa?” tanyanya tanpa bersalah. Ia masih dengan derai tawanya. Tanyanya langsung disambut Kak Feby. Menunjuk kepada muka kami yang masih berusaha pulih dari kengerian.

Baru kemudian ia mengaku, ia memang punya niat begadang seperti malam-malam biasanya. Hanya di antara pukul satu atau dua, ia tak sanggup menahan kantuk. Ia masih tetap berusaha terjaga mengingat janjinya untuk membangungkan kami di pukul tiga. Tapi karena benar-benar tak kuat, ia pun akhirnya memutuskan tidur dengan mengingat janjinya pada kami, ia pasang alarm khasnya tepat di pukul 03.00 wib. Agar bunyi alarm itu bisa membangunkan saya dan Elise yang berada di dua kamar berbeda, ia taruh Hp itu di meja tivi ruang tamu.

“Kan tidak pernah Hp itu saya taruh di ruang tamu. Hanya biar bisa terdengar, saya taruh di sini. Kalau di dalam kamar kan mana mungkin Elise yang ada di kamar sebelah mendengar,” katanya entah sebagai pembelaan diri atau memang benar pengakuannya demikian, walaupun kemungkinan kedua lebih mendekati benar, sebab sebagai teman sekamarnya, saya tahu, HP nokia panjang dan lonjong itu selaLu berada di bagian atas lemari pakaian yang untuk kami yang menempati tempat tidur atas memanfaatkannya sebagai meja.

“Hanya saya tidak menyangka kalian bangun sebelum jam tiga dan tidak menyadari ada Hp saya di dekat kalian,” sambungnya kemudian meminta maaf.

Demikian insiden pukul tiga dinihari itu diselesaikan. Semua kawan itu pun kembali masuk ke kamar. Melanjutkan tidur. Saya dan Elise pun melanjutkan baca. Kami membaca dengan baik hingga pukul lima ketika satu per satu mereka kamar mulai bangun dan bersiap mandi.

Mengenai nilai di kuis mata kuliah CAD hari itu, baik saya maupun Elise, sudah tak ingat lagi mendapat berapa. 🙂

Iklan

One comment on “Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua)

  1. […] Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua) bersambung… […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s