Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

20170311_164250Hari sudah mau larut malam. Kira-kira pukul sepuluh atau sebelas. Saya baru saja pulang dari kelas Suab di salah kampung di daerah Kelapa Dua. Setelah mencuci muka dan kaki tangan, saya masuk ke kamar untuk mempersiapkan perlengkapan dan keperluan mata kuliah besoknya. Elise, kawan kamar di 3805 yang juga sekelas dengan saya di 2IMM1, Pendidikan Menengah Matematika-Indonesia, juga baru pulang dari kelas Suab di tempat berbeda (Daerah HarKit atau Bencongan mungkin) mengajak saya untuk belajar bersama di ruang tamu.

Waktu itu, di mata kuliah CAD, dengan seorang dosen muda lulusan S3 Amerika, namanya Bapak Nicho Sudibyo, beliau mengharuskan kami setiap sebelum mata kuliah dimulai, akan terlebih dahulu diadakan kuis. Kuis atau pretest 10 nomor dengan pilihan jawaban benar atau salah. Materi kuis itu diambil buku Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, yang ditulis Elizabeth B Hurlock. Satu bab untuk setiap pertemuan.

Sejauh ini, sudah beberapa kali kuis itu diadakan setiap sebelum memulai kuliah, dan nilai kami selalu baik. Berkisar antara 8, 9, atau 10. Maka itu, malam itu, walau dilanda keletihan karena memang selain kuliah dan tak boleh lupa dengan kewajiban SoW, kami tetap harus belajar. Nilai tinggi itu harus tetap dipertahankan. Tidak boleh sampai menurun hanya karena tak sempat menyediakan waktu untuk belajar.

20170311_155358

Namun karena keletihan itu tak bisa dilawan, kami sampai terkantuk-kantuk di sofa ruang tamu saat membaca buku itu, apalagi dengan ukuran huruf dalam buku itu memang terbilang sangat kecil, hampir sama dengan atau bahkan lebih kecil dari ukuran huruf di teks Alkitab. Setiap bab dalam buku itu biasanya berisi 20-an (tak kurang) hingga 40-an halaman, belum lagi dengan istilah-istilah psikologi yang tidak mudah diingat.

Elise pun memutuskan, bahwa daripada kami memaksa diri membaca dan berlama-lama tapi tidak efektif, alangkah baiknya kami beristirahat tidur dan bangun jam tiga pagi untuk melanjutkan membaca. Setidaknya tidak memaksa diri sedemikian rupa seperti sekarang.

Ok, saya mengiyakan.

Bertepatan juga di kamar 3805, ada seorang kawan kami yang suka begadang. Ia terkadang bahkan tidak tidur semalaman. Sangat sering ia baru memulai tidurnya di pukul delapan pagi setelah mengikuti devotion di pelataran kampus kalau tidak ada jam kuliah di pagi hari.

Kawan kami itu namanya Ulfi. Asal SMA Barana, Toraja. Ia anak 2EMB1, Pendidikan Menengah Biologi-English.

Di kamar 3805, hanya ia satu-satunya Anak English, sebutan yang disematkan kepada mereka yang mengambil jurusan dengan pengantar berbahasa Inggris. Dosennya lebih banyak dosen bule, mata kuliah disampaikan dalam Bahasa Inggris, serta semua tugas paper dan presentasi harus dikerjakan dan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Maka itu kami sangat maklum karena memang ia harus banyak belajar, lebih ekstra dari kami yang mengambil jurusan dengan pengantar Bahasa Indonesia.

Kepada kami sebagai kawan kamar ia mengaku, katanya ia butuh suasana yang sunyi kalau belajar ataupun mengerjakan tugas. Di jam-jam tengah malam hingga mendekati pagi adalah jam-jam efektifnya. Biasanya di jam-jam itu, kalau kami terjaga, kami pasti mendapatinya sedang belajar, atau mengerjakan tugas, ataupun melakukan aktivitas lain bersama laptopnya.

Maka malam itu saya dan Elise bersepakat, meminta tolong untuk membangunkan kami di pukul tiga dinihari adalah satu pilihan yang tepat.

Kami pun meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar berempat, kamar di mana saya dan Ulfi ditempatkan bersama dengan dua kakak tingkat kami.

Di dalam kamar, di atas tempat tidurnya yang berada di susunan atas, ia terlihat asyik mengerjakan sesuatu di laptopnya.

Kami pun mengemukakan maksud kami.

Ia mengangkat muka sebentar, menatap kami yang bermuka letih dan mengantuk, ia tersenyum dan menyahut, ya. Pendek.

Mungkin karena masih belum yakin dengan jawabannya, Elise sampai meyakinkannya kembali berkali-kali (mungkin terkesan sedikit memaksa :D) bahwa betul ia akan membangunkan kami di pukul tiga.

“Kalau kami tak bangun, tak apalah kau menggoncang-goncang kaki kami dengan keras atau boleh memercikan tetes-tetes air ke muka kami, atau apapun itu supaya kami bisa bangun.”

Ia tertawa keras kemudian menyahut, “Ok, deh. Tenang. Aman.” Terlihat sangat percaya diri saat memberikan jawaban itu lalu kembali melanjutkan kegiatannya di depan laptopnya. Jawaban percaya diri itu benar-benar meyakinkan kami.

Kami berdua pun beranjak tidur dengan benar-benar merasa yakin dan pasti akan dibangunkan Ulfi pada pukul tiga dini hari. Saya di kamar berempat, sekamar dengan Ulfi, dan Elise di kamar berenam. Lampu kamar kami masih dalam keadaan menyala saat saya menarik selimut menutupi seluruh wajah saya.

 Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua) bersambung... :)  

 

Iklan

3 comments on “Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

  1. Ulfi – ANICE berkata:

    […] 😀 Tapi bagaimana pun, karena ‘es krim’ itulah, ada juga cerita tentang kami selain Insiden Pukul Tiga Dini Hari itu.  😀 […]

    Suka

  2. […] *Kisah ini merupakan lanjutan dari Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu) […]

    Suka

  3. […] kembali kepingan kisah yang saya maksud). Kepingan kisah itu baiknya silakan dibaca di kategori Insiden Pukul Tiga Dini Hari. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s