Terima Kasih, Penyelenggara Hidup

Apakah ada cerita yang mau bagikan hari ini?

Ya!

Tentang apakah itu?

Tentang rasa syukur saya.

Apa sajakah itu?

Banyak. Rasanya tak dapat kusebutkan satu per satu.

Sebutkanlah satu-satu!

Kalaupun satu-satu kusebutkan, semuanya masih belum terwakilkan. Masih banyak yang lain yang tidak sempat kusebutkan.

kalau begitu sebutkan saja apa yang ada di kepalamu saat ini!

20170310_105026Baiklah yang pertama, saya senang proyek UTS kelas 8 dan UP kelas 9 telah berjalan dengan baik. Awal mula saya sempat sangsi apakah kedua proyek itu dapat berjalan baik dan selesai dengan tanpa ada masalah. Sempat timbul kekuatiran dalam diri saya, bagaimana kalau dalam proses pengerjaan proyek-proyek itu anak-anak mengalami masalah misalnya kecelakaan (doa tolak sebelum-sebelumnya) atau mungkin ada protes dari orang tua karena anak-anak mereka terlalu banyak tugas mengingat bentuk UTS kali ini bukan ujian konvensional melainkan bentuk proyek. Sedikit keringanannya adalah boleh dibuat kolaborasinya antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya yang materinya saling berhubungan atau bisa saling terkait.

Di mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8, proyek UTS Bahasa Indonesia bergandeng dengan Agama. Materinya tentang membawakan berita di Bahasa Indonesia dan Iman untuk Agama. Sebenarnya saya mau bergandengan juga dengan IPS, SBK, dan TIK. Masalahnya, IPS, SBK sudah dengan Bahasa Inggris, sementara TIK materinya agak tidak nyambung. Maksud saya menggandeng TIK adalah ketika anak-anak menggunakan media, bagaimana mereka belajar memilah atau menyaring berita yang bukan hoax, dan nanti diperlukan juga ketika menayangkan foto atau video. Nyatanya, materi TIK kelas 8 semester ini sesuai kurikulum masih tentang Ms Exel. Jadilah Bahasa Indonesia bergandeng dengan Agama. Ketika anak-anak membawakan berita, akan dihadirkan juga pendapat atau pandangan dari pihak lain entah itu pengamat bidang tertentu atau saksi, memberikan pernyataan keimanan mereka, apa makna di balik adanya peristiwa tersebut. Mereka sampai menggali sebab apa, dan sampai kenapa, dan supaya apa terjadi suatu peristiwa tertentu. Anak-anak ini keren. Salut dan sayang dengan mereka. Kecil-kecil mereka luar biasa. Senang, bangga, dan cukup terharu melihat proses dan hasil kerja mereka.  Selanjutnya refleksi tentang UTS ini akan ada di sesi Cuplikan Cerita Lentera tentang KBM.

Berikutnya tentang UP kelas 9. Pada bulan November 2016 lalu, anak-anak kelas 9 saya ingatkan bahwa UP nanti adalah penilaian laporan penanaman pohon. Memasuki semester dua, di awal bulan Januari, mereka kembali saya tanyai tentang perkembangan penanaman pohon mereka. Baru pertengahan Februari kemarin, mereka saya bagi kelompok unuk saling mengunjungi dan melihat pohon yang mereka tanam.

Keselamatan mereka saat melakukan tugas itu adalah doa saya. Kiranya semua bekerja dengan baik, menyelesaikannya dengan selamat. Hingga pada batas hari yang ditentukan untuk dikumpulkan, saya menarik napas lega penuh syukur bahwa mereka sudah melaksanakannya dengan baik dan anak-anak semuanya selamat, terlepas dari cerita kelelahan mereka saat melakukan kunjungan ke rumah teman seusai kegiatan sekolah yang lain.

Saya sudah membaca laporan sekaligus lampiran lembar refleksi mereka. Membaca laporan yang mereka tulis, rasanya ada semacam keharuan dan rasa syukur-pelan menjalari diri saya. Ada beberapa cuplikan laporan mereka yang bagi saya sayang untuk tidak dipahatkan. Akan ada cuplikan khusus tentang itu. 🙂

Demikianlah itu hal pertama. Lihat, baru hal pertama saja, sudah begitu panjangnya.

Bagaimana dengan kedua?

20170315_204813Kedua, saya senang bisa memenuhi permintaan kakak sepupu saya untuk pergi ke Penfui demi kami mendoakan bersama suaminya yang berulang tahun berhubung hari itu, ia mendapat tugas kantor yang mau tak mau pada pagi hari ketika suaminya berulang tahun, ia bersama putri mereka dan mamanya (tante saya) berangkat ke pulau Kenari. Kakak sepupu saya itu adlaah sosok yang saya hormati secara pribadi. Saya senang dapat melaksanakan permintaannya. Malam hari Rabu kemarin, saya dan seorang adik saya berangkat dari Naikoten guna mencari kue ultah dan demi mencari tempat bakery yang ditentukan, kami sampai nyaris nyasar malam-malam. 😀 Bonusnya, lumayan seusai ibadah saya spesial mendapat salad. 😀 🙂

Masih lanjut atau yang ketiga?

Masih lanjut, tapi langsung saja kepada yang ketiga. Tentang kebersamaan saya dan beberapa kawan terbaik saya di Lentera. Beberapa hari lalu, kami sudah sepakat, nanti di hari Kamis malam, kami akan ditraktir sesuatu oleh seorang di antaranya yang baru pulang dari negeri kangguru. Saya sebelumnya tidak tahu akan ditraktir apa. Ternyata traktirannya adalah olah-olah vokal di satu tempat karaoke. Bertepatan sekali, beberapa hari sebelumnya saya menemukan sebuah lagu bagus (sebenarnya sudah sering terdengar di berbagai penjuru di sudut Kupang ini hanya saya tak tahu apa judul tepatnya) ketika sementara mengerjakan sesuatu di labkom. Saat itu juga saya langsung mengunduh lagu itu,  di kosan saya menyanyikannya sendiri di kamar dengan suara yang seolah tak peduli dengan orang lain, sampai tidak tahunya ada mantan siswa SMA yang sementara berkunjung ke tempat wali kelasnya dan mendengar saya bernyanyi hingga datang menyapa dan saya pun keluar menyambut mereka dan terlibatlah obrolan yang memakan waktu berjam-jam yang kemudian saya sesali (maksud saya kalau mengobrol jangan sampai berjam-jam hingga kebablasan sehingga harusnya waktu untuk saya menyelesaikan soal-soal yang sedianya dikumpulkan keesokan harinya jadi tertunda). Jadi, maksudnya adalah daripada kau bernyanyi di kamar dan itu mengganggu orang di sekitarmu, maka ruang tertutup dan memang itu adalah tempatnya, ya, sudah lebih baik.

IMG-20170317-WA0003Nah, cerita saya di sini bukan tentang nyanyi-nyanyinya, tapi lebih kepada kawan tbk saya. Satu hal yang saya senang dari mereka adalah kepribadian mereka. Kalau anggapan umum orang bahwa biasanya kalau perempuan-perempuan berkumpul, bahasannya tak jauh-jauh dari yang namanya gosip, maka mereka adalah orang-orang berbeda. Mereka tidak demikian. Dengan mereka topik obrolannya (tentu tak perlu saya beberkan di sini) selalu yang nanti seusainya, ada sesuatu yang bermakna yang dibawa pulang. Dengan mereka inilah sukacita itu mengalir murni, tulus, dan bersih. 😀 😀

Masih ada lagi atau lanjut yang keempat?

Keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan mungkin masih ada seterusnya. Hanya sekarang, yang bisa sempat ditulis adalah yang sudah  tertulis. Demikian sebagai satu bentuk wujud syukur kepada Sang Penyelanggara Hidup.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s