Dua Kegiatan Diskusi Bertema Tragedi ’65

Ada dua kegiatan diskusi bertema tragedi ’65 yang sempat saya ikuti dalam dua-tiga bulan terakhir. Kegiatan pertama bertempat di aula Fakultas Teologi UKAW Kupang. Kegiatan tersebut berupa Diskusi dengan tema Mari Bacarita ’65 oleh Cahaya Mata Generasi Muda. Berlangsung Sabtu, 14 Januari 2017.

Sehari sebelumnya ada juga kegiatan, hanya saya tidak ikut. Saya baru sempat hadir di hari kedua yakni pada diskusi “Mari Bacarita ’65” tersebut. Narasumber hari itu adalah seorang nenek dari Baun, Amarasi Barat, bermarga Bureni, nama tepatnya saya tak begitu ingat. Beliau hadir sebagai salah satu saksi dari sekian banyak korban tragedi ’65. Tak hanya itu, ada dua lagi narasumber lain. Saya hanya tahu jelas dan ingat salah satunya, Bapak Matheos Viktor Messakh. Seorang lainnya dipanggil dengan Kak Atta  sebagai salah satu dari perempuan-perempuan GMIT yang selama ini mendampingi opa-oma korban tragedi ’65 (correct me if I’m wrong) :).

Awalnya saya sempat berniat untuk tidak pergi menghadiri diskusi tersebut sebab dari kabar yang saya dengar, undangan terbatas untuk tiap komunitas hanya bisa diwakili dua orang. Hari Sabtu pagi saya bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa sebab dalam pikiran saya dari Dusun Flobamora dari hari Jumat kemarinnya sudah ada yang mewakili. Namun kemudian saya mendapat kabar kalau tidak semua perwakilan komunitas datang. Siapa yang berminat datang dipersilakan. Tentulah dengan sesegera mungkin saya bersiap dan melaju ke tempat tersebut. Tak apalah peduli amat dibilang peserta cadangan :D, hanya mengisi kekosongan, bagi saya selama itu sesuatu yang baik dan bermanfaat, mau jadi ‘penyusup’ pun akan saya lakukan…:D.

Di sana selama mendengarkan tanya-jawab dari moderator dan para narasumber, sungguh saya merasa bersyukur bisa hadir hari itu walau sedikit terlambat sehingga melewatkan sesi perkenalan (jadinya saya tak begitu tahu siapa moderator dan para narasumber selain Pak Matheos). Di hari Sabtu itulah akhirnya saya punya gambaran yang sedikit lebih terang dari yang sebelum-sebelumnya.

Selama masa saya kecil, sebelum saya bisa membaca, pengetahuan tentang PKI berkisar antara film yang diputar setiap tanggal 31 September malam (yang jadi pembicaraan anak-anak kecil dan orang dewasa seantero kampung keesokan harinya di tanggal 1 Oktober) dan cerita-cerita gelap yang dituturkan bapak atau  beberapa bai saya yang tersisa. Maksud kata gelap di sini adalah cerita mereka hanya mengungkit sepotong-sepotong, semacam tiba-tiba mengingat sesuatu dan terlontar kata-kata mereka yang berkaitan dengan PKI atau ‘lubang buaya’, atau mars PKI, dan karena penasaran ketika kami anak-anak atau cucu-cucunya bertanya lanjut, mereka akan langsung mengalihkan pembicaraan dan tak mau lagi membahasnya. Namun cukup lumayan dari sentilan-sentilan itu saya tahu bahwa kenapa saya tidak mengenal bai kandung saya dan saudara-saudaranya yang. Ternyata bahwa mereka memang ikut ditembak mati di ‘hutan besar’ dan dibuang masuk ke lubang buaya, dan nenek kandung saya pun adalah seorang yang harus menjalankan tugas wajib lapor, dan bahwa bapak saya karena merekalah yang setiap hari menempuh jarak berkilo-kilo untuk ke sekolah yang dekat dengan kantor polisi, ia dan beberapa saudara sepupunya yang lain bertugas sebagai pengantar bekal (yang disiapkan para ibu di kampung) tiap hari kepada bapak dan om-omnya yang sementara dalam tahanan.

Sementara di pelajaran IPS di sekolah, seperti apa teks yang tertulis di buku paket, seorang anak yang ditunjuk guru akan diminta untuk dibacakan keras-keras kepada siswa-siswa yang lain untuk mencatatnya. Mencatat paling sedikit halaman lima halaman setiap pelajaran adalah hal biasa. Catatan itu dibawa pulang ke rumah, dipelajari, dihafal, hingga nanti dari sana akan keluar soal-soal untuk dijawab. Mungkin saya termasuk seorang anak yang baik dan rajin dan taat bersekolah…:D. Demikian saya muku menghafal apa yang tertulis di buku-buku teks pelajaran IPS (maksud saya di sini lebih kepada pelajaran sejarah) :). Karena menurut buku komunis adalah biang kerok kekacauan negara sehingga harus dibumihangskan dari tanah Indonesia, demikian di masa-masa itu hingga di masa-masa selanjutnya saya ikut melaknat bai-bai saya yang terlibat dan mati ditembak sehingga meninggalkan anak-istrinya. Saya menyayangkan kenapa mereka harus terlibat sehingga bapak saya dan sepupu-sepupunya harus menjadi yatim sejak masih ingusan, sampai cucu-cucunya pun tidak tahu-menahu dan tidak punya bayangan sama sekali seperti apa rupa bai-bai mereka–maafkan saya yang buta dan bodoh 😦

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

Kegiatan kedua baru saja terjadi pada hari Sabtu malam, (18/3) di Taman Dedari Sikumana, Kupang. Kegiatan ini diawali lebih dahulu dengan pemutaran sebuah film berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta. Bicara Pulau Buru saya tak begitu tahu lebih detail selain bahwa itu adalah tempat dibuangnya sastrawan kenamaan Indonesia, Bapak alm Pramoedya Ananta Toer. 

Rupanya sebelum pemutaran film inti tersebut, disajikan juga cuplikan tentang apa itu dan seperti apa itu Lekra. Judul cuplikan itu agak sedikit rumit di kepala saya karena memakai ejaan lama. Saya sudah mencoba mencarinya di google tapi tak ada temuan.

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

** Akan ada banyak hal yang saya tuliskan nanti di sini sebagai pengingat (setidaknya bagi saya merekam momen), tapi pesan utama dari dua diskusi tersebut adalah pelajarilah sejarah yang benar. Pelajari. Bukan untuk lu jadi pintar lalu berbangga diri. Tapi supaya kesalahan masa lalu jangan lagi terulang di masa sekarang. Supaya kita jangan lagi dibodohi dan dipermainkan oleh oknum-oknum tak berperikemanusiaan. Supaya manusia adalah manusia sebagai makhluk yang mulia dan bukan binatang. Pesan utama ini (bentuk bold) disampaikan Bapak Matheos Messak pada Diskusi Mari Bacarita ’65 dan  ditegaskan lagi oleh Kak Lia Wetangterah, salah satu pendamping korban-korban tragedi ’65 di area Kupang, NTT, pada diskusi usai menonton film Pulau Buru, Tanah Air Beta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s