Kronik Kematian yang Telah Diramalkan (Chronicle of A Death Foretold) dari Gabriel Garcia Marquez

20170303_181507Pengantar

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya, Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Dalam versi Bahasa Inggrisnya tertulis, On the day they were going to kill him, Santiago Nasar got up at five-thirty in the morning to wait for the boat the bishop was coming on*.

Kalimat di atas adalah kalimat pertama dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan. Kalimat pembuka yang akan menjadi kalimat legendaris setidaknya bagi saya :D, dari Gabriel Garcia Marquez. Sebelumnya buku dengan pengarang tersebut yang sering didengar dan digaung-gaungkan orang adalah 100 Tahun Kesunyian, atau 100 Years of Solitude. Bahkan di kelas Dusun Flobamora, buku ini punya cerita tersendiri di antara beberapa anggotanya… 😀

Tapi yang saya mau tuliskan di sini bukan tentang 100 Tahun Kesunyian. Buku itu saya baca di awal-awal tapi baru beberapa halaman tak sempat selesai karena agak terkesan suram bagi saya…:D Mungkin nanti kalau sempat akan dilanjutkan lagi karena sudah menemukan keindahan Marquez yang lain melalui kisah Santiago Nasar ini.

Buku keren ini dialihbahasakan dari judul Chronicle of A Death Foretold tahun 1981 (di buku cetaknya ditulis 1978) dan diterbitkan Selasar Surabaya Publishing dengan cetakan pertama tahun 2009.

Terdiri dari lima bagian atau bab. Walau hanya ditulis dalam 174 halaman, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan cerita ini. Butuh waktu lama juga untuk mencoba mengerti apalagi sampai menuliskanya sebagaimana yang terbaca sekarang.

Cerita ini dibuat dengan alur yang cukup rumit. Kerumitan ini bukan lantas menjadi kekurangan, justru sebaliknya terbaca kecerdasan sang pengarang. Kita sebagai pembacalah yang dituntut menyusun kronologis peristiwa dalam kejadian terbunuhnya Santiago Nazar pada pagi-pagi hari Senin di bulan Februari, sehari setelah semalam sebelumnya ada sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah diadakan di kota kecil tersebut.

Sebenarnya saya agak bingung mau membuat catatan ini seperti apa. Mau buat sesuai kronologis peristiwanya ataukah mengurutkannya sesuatu struktur buku ataukah dari tokoh ataukah dari yang lainnya. Tapi sebaiknya saya akan memulai dengan mengenalkan tokoh-tokohnya terlebih dahulu. Bagi saya ini penting sebab cerita ini melibatkan banyak sekali tokoh. Setelah itu baru akan dilanjutkan dengan struktur buku per bab, baru kemudian kronologis dan lainnya. 🙂

Tokoh

Tentu tokoh utama adalah Santiago Nasar, seorang pemuda berumur 21 tahun keturunan Arab. Ia anak tunggal. Tinggal bersama ibunya setelah beberapa tahun sebelumnya ayahnya meninggal, serta juga dengan dua pelayan di rumah, seorang pelayan tua dengan anaknya. Mereka memiliki peternakan sapi yang diwariskan sang ayah. Santiago Nasar juga punya beberapa pucuk senjata dengan jenis berbeda.

Ia berteman baik dengan tokoh aku, sang penutur cerita, dan seorang mahasiswa kedokteran bernama Christo Bedoya. Bersama tokoh aku mereka suka mengunjungi rumah hiburan sejak remaja. Selain itu, SN juga diceritakan suka mengganggu anak pelayan di rumah mereka.

Sampai adanya kisah dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan ini berkaitan dengan Angel Vicario, seorang gadis cantik nan sederhana di kota itu yang sempat menjadi istri beberapa jam oleh seorang pendatang asing bernama Bayardo San Roman, seorang pemuda berusia 30 tahun, putra seorang jenderal dari kota lain. Dari bagian itu pula hadir dua saudara Angela, Pedro dan Pablo yang merasa panas hati ketika mendengar kabar saudara perempuan mereka yang baru saja menikah diantar pulang suaminya karena didapati bukan lagi seorang perawan, dan penyebabnya adalah Santiago Nasar. Masih dengan pakaian pesta mereka, mereka pun mengambil pisau jagal babi dan menunggu Santiago Nasar untuk membunuhnya. Mereka melakukannya dengan terang-terangan bahkan dengan mengumumkan kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka yang mendengarnya menganggap itu bualan belaka oleh para pemabuk. Sebagian walaupun sangsi tetap berusaha memperingatkan Santiago Nasar. Namun ketika upaya itu baru mau dilakukan, Santiago Nasar justru sudah berdarah-darah dengan ususnya yang terburai  berjalan pulang ke arah rumahnya.

Struktur Buku Per Bab

Bab Satu (hal 3-34)

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Sebelumnya dia bermimpi berjalan di antara rumpun pohon berkayu ketika hujan rintik-rintik turun, dan untuk sesaat dia merasa bahagia di dalam mimpinya, namun begitu bangun, dia merasakan seluruh tubuhnya kecipratan kotoran burung. “He was always dreaming about trees,Placida Linero, ibunya, mengatakan padaku dua puluh tujuh tahun kemudian, sambil mengingat-ingat detail Senin yang mengenaskan itu. Demikian pembuka di bab satu. “The week before, he’d dreamed that he was alone in a tinfoil airplane and flying through the almond trees without bumping into anything,” dia bercerita kepadaku.

Cerita bab satu ini selain lebih kepada pengenalan sosok Santiago Nasar seperti yang sudah disinggung di atas, juga mencoba mengisahkan bagaimana sikap dan bawaan Santiago Nasar di mata orang-orang rumah dan orang-orang terdekatnya hari Senin pagi, beberapa jam sebelum ia terbunuh. Kisahan-kisahan yang diungkapkan 27 tahun kemudian sejak hari ia dibunuh. Diungkapkan mulai dari sang ibunda, dua pelayan rumah, ibu dan adik perempuan sang penutur cerita, tetangga-tetangga, dan beberapa kenalan.

Bab ini kemudian ditutup dengan kepanikan dan kesedihan ibu tokoh aku yang berlari keluar rumah sambil menggenggam tangan adik bungsunya dengan tujuan memperingatkan Placida Linero tentang keselamatan putranya, namun di tengah jalan ada seseorang yang berlari dari arah berlawanan memanggil, “Don’t bother yourself, Luisa Santiaga,” he shouted as he went by. “They’ve already killed him.”

Bagian Dua (hal 35-68)

Dibuka dengan pengenalan sosok Bayardo san Roman, lelaki yang baru mengembalikan pasangan pengantinnya itu, datang pertama kali di kota ini pada bulan Agustus tahun sebelumnya, atau enam bulan sebelum pernikahan berlangsung. Kemunculannya dengan penampilan yang menyolok itu cukup menarik perhatian. “He looked like fairy,” Magdalena Oliver, seorang penumpang yang bersamanya di kapal selama perjalanan berkata. “And it was a pity, because I could  have buttered him and eaten him alive.”

Bab kedua ini menyajikan bagaimana mula sejak kedatangan Bayardo, perkenalannya dengan Angela Vicario, upayanya mencoba mengambil hati Angela, persiapan pesta pernikahan sampai merobohkan pagar di halaman dan meminjam rumah tetangga demi arena dansa, dan tiba hari pernikahan ketika pengantin perempuan menolak berdandan dalam gaun pengantin sampai dia melihat kehadiran calon suaminya, I would have been happy even if he hadn’t come, but never if he abandoned me dressed up (lazim bahwa tidak ada penderitaan yang lebih memalukan daripada seorang perempuan yang diputuskan cintanya dalam gaun pengantin. bisa dibandingkan, lebih memalukan dan menyedihkan mana, diputuskan cinta dalam gaun pengantin sebelum menikah daripada sudah ada pemberkatan nikah dan diadakan pesta meriah lantas beberapa jam kemudian diantar pulang ke rumah orang tau–wow.:)), hingga kedua pengantin berangkat ke rumah impian seusai pesta, hingga diakhiri dengan pengakuan Angel Vicario ketika ditanya dua saudara kembarnya, tell us who it was, “Santiago Nasar.”

Bagian Ketiga (69-101)

Dibuka dengan para pengacara berdiri di dekat tesis pembunuhan yang masuk akal atas dasar pembelaan kehormatan, yang ditegakkan oleh pengadilan dengan keyakinan baik, dan si kembar menyatakan pada akhir persidangan bahwa mereka akan melakukannya lagi seratus kali seratus untuk alasan yang sama.

Bab tiga ini walau ada juga sempat menyinggung beberapa tokoh namun lebih menyorot kepada aksi menunggu dua Vicario bersaudara di pagi hari itu sebelum mereka membunuh Santiago Nasar, orang yang lima jam sebelumnya mereka masih sempat minum dan bernyanyi-nyanyi bersama. Ditambahkan juga dengan kepingan-kepingan informasi dari beberapa saksi yang sempat melihat laku orang-orang sebelum kriminilatas itu terjadi.

Ditutup dengan kedatangan si biarawati, salah satu adik perempuan tokoh aku masuk ke kamar tidur, berusaha membangunkan salah satu adik laki-laki lain dari tokoh aku dengan jeritan kemarahannya, “They’ve killed Santiago Nasar.”

Bagian Empat (103-137)

Dibuka dengan Kerusakan yang diduga oleh pisau-pisau itu baru awal dari tindakan autopsi yang dilakukan secara buruk oleh Bapa Carmen Amador yang menyadari ternyata dialah yang menerima kewajiban ini karena DR Dionisio Iguaran tidak berada di tempat. “It was as if we killed him all over again after he was dead,” pendeta berumur itu bercerita padaku di tempat peristirahatannya di Calafell.

Bab empat ini lebih banyak menyajikan kisah sesudah terjadinya pembunuhan pagi itu. Bagaimana jasad itu kemudian dipertontonkan kepada umum di tengah-tengah ruang tamu dan anjing-anjing tak berhenti melolong sampai-sampai oleh perintah ibu sang korban, anjing-anjing itu pun ikut dibantai mati. Kemudian beranjak kepada dua kembar Vicario yang ditahan. Lalu apa yang terjadi dengan Bayardo sendiri sepulangnya dari mengantarkan kembali istrinya ke rumah orang tua, hingga kepada Angel Vicario yang oleh ibunya ia dibelikan rumah untuk tinggal menenangkan diri di sebuah desa yang terpanggang garam Karibia. Dari sana ia menulis surat tanpa henti ke alamat Bayardo.

Demikian bab empat ini diakhiri dengan kedatangan kembali Bayardo San Roman di tahun ke-17 di rumah Angel Vicario pada tengah hari di bulan Agustus dengan membawa sekoper pakaian untuk tinggal di sana dan satu koper lagi yang serupa, berisi hampir dua ratus surat yang telah dituliskan Angela untuknya. Surat-surat itu tersusun rapi sesuai tanggal dalam beberapa bundel yang dikat dengan pita-pita berwarna dan semuanya belum dibuka.

Bagian Kelima (139-174)

Selama bertahun-tahun kami tidak membicarakan hal lain. Tindakan sehari-hari kami, yang didominasi oleh begitu banyak kebiasaan linear, tiba-tiba berputar di sekitar satu jenis ketertarikan tunggal. Bercerita tentang mereka yang berusaha menyusun begitu banyak mata rantai kejadian tersebut. Demikian pembuka bab lima.

Selanjutnya banyak saksi dihadirkan demi memperoleh sedetail-detailnya detik-detik menjelang pembunuhan tersebut hingga masa sekaratnya. Ternyata seusai tubuhnya ditikam dua bersaudara Vicario, Santiago Nasar masih sempat-sempatnya sambil memegang ususnya yang berjuntaian dan terburai keluar, ia berjalan mengelilingi lingkar rumah untuk bisa masuk melalui pintu dapur,  sempat bertemu dengan beberapa tetangga yang melihatnya dengan terpana. Bibi penutur, Wenefrida Marquez berteriak kepadanya, “Santiago, my son. What has happened to you?” Santiago menjawab, “They’ve killed me, dear Wene,” sebelum terjungkal pada langkah terkahir tapi segera bangun lagi. sekalipun dalam keadaan sekarat, ia akhirnya masuk ke rumahnya melalu pintu belakang, jatuh tertelungkup di lantai dapur.

Demikian cerita sesuai struktur buku per bab.  Berikutnya adalah kronologi kejadian sebagai hasil membaca supaya lebih jelas. 🙂

Kronologi Kejadian

Cerita tentang kejadian naas pagi hari di bulan Februari itu mungkin tidak ada kalau saja pada enam bulan sebelumnya tidak datang seorang lelaki asing dan misterius bernama Bayardo San Roman di kota kecil yang penduduknya saling kenal dan dekat satu sama lain.

Bayardo bertemu dengan Angel Vicario. Ketika melihatnya pertama kali di suatu siang, ia langsung memutuskan ia akan menikahi gadis itu. Menurut hasil penelusuran, Bayardo memang sengaja bertualang dari satu tempat ke tempat lain demi mencari seorang perempuan yang patut dinikahi, hingga di kota itulah ia bertemu Angel Vicario.  Pesta pernikahan pun diselenggarakan enam bulan kemudian yakni tepat pada bulan Februari. Sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah terjadi dalam sejarah kota kecil itu. Diselenggarakan pada hari Minggu malam. Pesta meriah dengan 40 ekor kalkun, 11 ekor babi, dan empat ekor sapi, serta 205 peti alkohol selundupan dikeluarkan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang di alun-alun kota. Pesta itu berlangsung hingga lewat tengah malam.

Pada pukul 10-an malam, kedua pengantin dengan mobl hadiah mereka menuju rumah paling indah di kota itu, yang dibeli dengan harga 10 ribu peso dari seorang duda yang bahkan ia sendiri masih keberatan menjualnya. Sementara itu sejumlah  lelaki, masih terbilang kerabat dan sahabat dekat sang tuan pesta, bahkan dua saudara pengantin perempuan sendiri, yang masih kurang puas dengan pesta pernikahan melanjutkan pestanya lagi di sebuah rumah bordir hingga dinihari serta tidak tahu-menahu tentang pengantin perempuan yang beberapa jam kemudian dikembalikan oleh suaminya ke rumah orang tauanya karena didapati istrinya tidak lagi perawan.

Sang ibu menampar putrinya, dan pada saat yang sama, Angel Vicario yang sebelumya tidak ada perasaan cinta dengan lelaki asing yang sempat menjadi suaminya selama beberapa jam itu baru menyadari bahwa lelaki itu telah menjadi bagian dirinya. Ibu Angela menyuruh memanggil kedua abang kembar putrinya dan mengabari tentang kejadian malam itu. Kedua abangnya datang dan bertanya siapa penyebab ketidakperawanannya dan keluarlah dari mulut Angela Vicario, Santiago Nasar (penutup bagian dua).

Mendengar nama itu, maka menjadi panaslah hati mereka. Masih dengan pakaian pesta semalam, mereka mengambil pisau jagal dan mencari Santiago Nasar demi membunuhnya, sebagai pembalasan atas kehormatan adik mereka yang telah direnggut. Kedua kakak beradik itu secara terang-terangan mengumumkan kepada penduduk yang mereka temui bahwa mereka sedang mencari Santiago Nasar untuk membunuhnya. Santiago Nasar sendiri malam itu berpesta dengan riang dan bahkan sempat-sempatnya punya ide menggoda kedua pangantin di rumah bukit mereka, kemudian pulang untuk tidur sejam sebelum ia minta dibangunkan demi ikut menyambut kedatangan sang uskup.

Pagi hari ketika ia bangun, ia sempat memimum kopinya bahkan sempat menggoda sang pelayan muda. Masih dengan setelan pestanya, ia keluar ikut menyambut kedatangan sang uskup. Seusai berada di sana bersama rombongan, ia berjalan pulang dengan Christo Bedoya, berniat mengganti baju terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sang tokoh aku yang ibunya sedang membuat kue ubi.

Sementara kesibukan pagi dengan kedatangan uskup itu berlangsung, telah tersiar kabar di setiap penjuru kota itu bahwa Angela Vicario sudah dikembalikan ke rumah orang tuanya oleh pasangan yang baru dinikahinya semalam, dan sekarang dua saudara kembar Vicario sedang menungggu Santiago untuk membunuhnya.

Santiago sendiri berjalan dengan santai dan tak tahu menahu tentang rumor yang beredar mengenai dirinya. Ia sempat singgah di rumah tunangannya, Flora Miguel. Saat itulah, kawannya, Christo Bedoya yang bersamanya lepas pandang karena sempat bertemu dengan seorang sanak Santiago tahu tentang perencanaan Vicario bersaudara. Ia berusaha menyelamatkannya, namun ia sempat dibuat kelabakan dengan beberapa kejadian kecil di sekelilingnya, pada menit-menit sementara ia berusaha mencoba menyusuri jalanan mencari Santiago Nasar itulah, kawannya terbunuh. Hanya terpisah beberapa menit kemudian mendapati bahwa orang yang baru saja berjalan bergandengan tanganmu tewas mengenaskan karena dibunuh.

Ibu Santiago Nasar sendiri bangun pagi-pagi hari itu dan mendapati Christo Bedoya di kamar putranya kemudian beberapa menit kemudian dibuat panik karena berita yang beredar. Ia keluar dan bertanya kepada pelayan, di mana putranya. Sudah masuk di dalam, jawab mereka.

Perempuan tua itu percaya putranya sudah berada di dalam rumah sehingga ketika melihat dua Vicario bersaudara yang berlari datang dengan pisau terhunus, menyangka akan membunuh putranya di dalam rumah, segera ia berlari ke pintu dan menutup pintu dan memasang palang kayu. Tak tahunya putranya masih sementara di luar dan sedang berusaha menjangkau pintu beberapa detik sebelum pintu itu ditutup dan dikunci ibunya dari dalam.

Santiago berteriak sambil berusaha menggedor-gedor pintu minta dibukakan, sementara teriakan sang putra justru disangka ibunya adalah teriakan putranya yang sudah berada di dalam dan mencoba mengejek dua Vicario bersaudara yang sia-sia datang dengan pisau terhunus.

Di saat itulah, pemuda 21 tahun itu pun ditikam di depan pintu rumahnya sendiri yang dalam keadaan tertutup karena dikunci ibunya dari dalam. Ia ditikam dalam keadaan berdiri bersandar pada daun pintu.

Orang-orang di kota kecil itu yang mulanya hanya mendengar rumor itu dan menganggapnya bualan para pemabuk yag tak akan ada benarnya, hanya membicarakannya dari mulut ke mulut, sebagian memilih diam, sebagian memilih memperingatkan sang korban, namun akhirnya entah bagaimana seolah dikendalikan oleh sebuah kekuatan di luar mereka sehingga mereka pun bahkan tak sempat mencegah tindakan pembunuhan pagi hari Senin di bulan Februari itu.

Seusai menuntaskan rencana mereka, dua Vicario bersaudara kembali berlari pulang menuju gereja guna menyerahkan diri kepada pastur sementara mereka juga diserbu sekelompok imigran Arab yang adalah orang-orang sekomunias Santiago Nasar. SN sendiri seusai ditinggalkan dua bersaudara di depan pintu utama rumahnya, melihat ususnya yang terburai keluar, memegangnya dan memasukkannya kembali ke dalam perut, sambil berjalan terhuyung-huyung mengelilingi rumahnya demi masuk melalui pintu belakang. Ia melewati tetangga-tetangga yang melihatnya dengan terpana.

Tentang Bayardo, pada malam sepulangnya dari rumah dengan berjalan kaki mengantar kembali perempuan yang dinikahinya beberapa jam lalu, ia pun mengunci diri dengan beberapa botol alkohol hingga pingsan lima hari dan selama itu tak ada seorang pun yang teringat akan dia hingga di hari Sabtu berikutnya. Keluarga Bayardo datang dan membawanya pergi.

Di minggu-minggu awal, Angela menulis sutar kepada Bayardo. Demikian bulan-bulan berikutnya. Surat-surat itu tak pernah dibalas, namun demikian Angela terus menulis selama 17 tahun. Di tahun ke-17 itulah, pada suatu tengah hari di bulan Agustus sebagaimana bulan munculnya Bayardo di kota lama Angela, Bayardo yang sudah tua, mulai gemuk, dan bergundul itu muncul di rumah Angela dengan dua koper berisi pakaian dan sekoper surat Angela.

Selama masa 17 tahun itu pun, Angela Vicario dalam masa menenangkan dirinya, terkadang datang juga beberapa sepupunya singgah termasuk sang penutur cerita apabila dalam perjalanan.

Demikian sekilas tentang kronologi peristiwa. 10 tahun berikutnya tak lagi diceritakan bagaimana kelanjutan hidup dari tokoh-tokoh tersebut selain pada tahun ke-27 itulah tokoh aku yang terbaca sebagai kawan baik Santiago Nasar sekaligus sepupu Angela Vicario, menelusuri kembali keping cerita dari berbagai saksi hingga diperoleh susunan cerita sebenarnya, kecuali bahwa apakah benar pengakuan Angela Vicario pada malam pernikahannya.

sedikit cuap-cuap

Peran penutur cerita tak banyak menonjol selama berjalannya cerita itu selain bahwa sebelumnya terjadinya peristiwa pagi hari Senin di bulan Februari itu, ia sering bersama Santiago Nasar, dan bahkan pada malam pesta pernikahan berlangsung, namun ketika tengah terjadi kejadian kriminal itu, ia sedang berada dalam pangkuan kehangatan Maria Alejandrina Cervantes, semacam mami bagi pemuda-pemuda kurang hiburan tersebut :p

Cerita ini meski alurnya rumit, sebenarnya penutur hanya ingin berusaha mengumpulkan kepingan cerita yang terserak di antara para saksi yang tersebar di berbagai sudut kota. Di akhir cerita, kita memang mendapat gambaran jelas mengenai kronologi ceritanya seperti di atas. Hanya tentang apakah benar Angela Vicario itu tidak perawan, atau kalau memang Angela tidak lagi demikian maka apakah penyebabnya, atau kalau memang ada orang (manusia) sebagai penyebab maka apakah SN adalah benar pelakunya seperti yang dikatakan Angela, tidak benar-benar terang disajikan. Bagian itulah yang cukup menimbulkan pertanyaan di akhir cerita.

Mengenai pernikahan Angel Vicario dan Bayardo San Roman yang langsung berpisah setelah menikah, saya pun pernah bertemu dengan kisah pengalaman yang mirip. Hanya tidak seekstrim Bayardo dan Angel yang hanya berlangsung dua jam. Sebab kalau di pengalaman saya (berkenaaan salah satu mempelainya masih terbilang saudara sekaligus tetangga saya), status suami istri mereka sempat berlangsung beberapa hari. Sebelumnya sudah terjadi satu peristiwa sebagai penyebab perpisahan mereka.

Peristiwa itu terjadi kira-kira dua tahun lalu. Saking berkesannya, saya sempat membahasakannya ke dalam cerpen Usai Pesta Pernikahan Silpa. Cerita penyebab itu kalau mau dibilang, bisa jadi berdasarkan 90-an persen kisah nyata.

*Sumber Bahasa Inggris saya dapat dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s