Dari Film ‘Silence’ mengantar kepada Kumpulan Cerpen ‘Stained Glass Elegies’

8fff7047-1fda-43ad-9d11-d809d4dce550

Sumber: desimartini

Pertama kali saya tahu dan dengar bahwa ada film berjudul Silence ketika disebutkan Ibu Ni Luh Sri di PRK mingguan di Kupang awal Maret 2017. Waktu itu ia hanya menyinggung sebentar karena berkaitan dengan khotbah yang dibawakan yakni seberapa kuat iman kita kepada Tuhan ketika didera penderitaan bertubi-tubi. Menurutnya sekilas, film itu baik untuk ditonton karena berkisah tentang penganiayaan yang dialami para penginjil abad 17 di Jepang. Seperti biasa ketika mendengar sesuatu pertama kali, saya sempat menuliskannya di buku catatan saya 😀 dan berjanji kepada diri sendiri akan mengecek lagi di internet supaya kalau bisa ditonton nanti di Cinemaxx kalau memang sudah/masih/akan ada. Namun seperti biasa pula sepulangnya dari sana, bila tak lagi ditengok maka saya pun akhirnya jadi lupa .

Seminggu lalu ketika proyek UTS selesai dilaksanakan dan tinggal menunggu waktu untuk SLC, di salah satu kelas, dari jurnal yang saya tengok, di sesi sebelum jam pelajaran saya, kegiatannnya di hari itu adalah menonton film. Ketika saya tanya apa judul film yang mereka tonton, mereka menjawab, Silence. Saya diam namun dalam hati agak heran karena baru beberapa hari lalu saya mendengar tentang film itu yang katanya sementara atau akan diputar bioskop Indonesia dan saya pun sementara dalam perencanaan mengecek dan akan menonton film itu. Nyatanya, di kelas, anak-anak dan seorang guru lain yang tidak ikut bergabung di PRK (sangkamu hanya orang-orang yang bergabung di PRK saja yang mesti tahu? Sangkamu, sempit memang ;):)) sudah menonton lebih dahulu. Sewaktu istirahat saya pun menghubungi guru tersebut dan meminta filmnya. Anehnya saya tak segera menonton.

Barulah di hari libur mid semester kemarin, di rumah saya sempatkan diri bersama seisi anggota keluarga (paling cinta momen-momen demikian saat liburan…:D) menontonnya. Di akhir film ketika di bagian credit title itulah baru saya tahu dan melihat bahwa film tersebut ternyata diangkat berdasarkan novel Silence Shusaku Endo (nama inilah yang menjadi alasan kenapa saya merasa perlu menulis apa yang sekarang dibaca..:D) Kalau bukan karena nama orang ini, mungkin saya tak berpikir untuk menuliskannya.

Baiklah kenapa saya perlu menuliskannya? Karena nama Shusaku Endo adalah satu sosok penulis Jepang yang saya tahu namanya pertama kali lewat buku kumpulan cerpennya Stained Glass Elegies. Buku ini dialihbahasakan ke Bahasa Inggris oleh Van C Gessel. Tentang buku ini sebenarnya saya sendiri sudah pernah terpikirkan untuk membuatkan ulasannya sekadar sebagai pengingat bagi saya ketika pertama kali baca beberapa tahun lalu, hanya entah kenapa (nanya lagi, ask yourself–menunjuk diri sendiri) tidak sempat. Baru kali inilah setelah menonton film Silence ini, saya kembali diingatkan tentang salah satu bukunya ini, Stained Glass Elegies.

Bersambung ulasan Stained Glass Elegies.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s