Ketika Dua Kaka-Ade Bakatumu di Bali Tanpa Direncanakan

20160812_125046Ini adik saya yang nomor tiga. Oyan namanya. Dianya pergi ke Bali dari awal Juli 2016 dalam rangka menunaikan salah satu mata kuliahnya yang menugaskan para mahasiswa/i harus magang di salah satu kebun kopi di Bali atau Malang kurang lebih sebulan.

Awal-awal mendengar ia akan ke Bali, saya pun berkeinginan juga untuk nanti karena bertepatan dengan libur sekolah, bisa sekalian menengoknya setidaknya menginjakkan kaki di Bali, pulau Dewata itu. Nyatanya, ‘partikel-partikel semesta’ tak berpihak. Tanpa terasa liburan sekolah pun berakhir. Saya mesti masuk kembali ke sekolah dan segera melupakan keinginan untuk pergi menengok sang adik yang sementara magang di Bali.

Seminggu bersekolah. Hari Senin pagi-pagi ketika sementara mengajar, saya mendapat telepon dari kantor dinas PPO Kota Kupang. Diminta datang ke kantornya. Tak tahu menahu apa yang sedang terjadi, baru kemudian diberikan informasi, besok hari Selasa harus berangkat ke Bali. Agak shock. Tidak tahu harus bereaksi apa, saya hanya berdiri diam terpaku. Di satu sisi, saya senang akhirnya bisa berangkat ke Bali, bisa menginjakkan kaki di Bali, di mana masih ada adik saya di sana. Di sisi lain, sempat terbersit semacam omelan atau keluhan, kenapa informasi ini baru diberikan, apa dipikirnya jarak Kupang-Bali sama seperti jarak Naikoten-Walikota? Sempat ada keraguan, apakah perlu saya berangkat atau tidak.

Info itu saya teruskan kepsek yang ternyata ia pun sama-sama terpilih sebagai peserta IN GP 2016 hanya ia untuk mapel math sementara saya di Bahasa Indonesia. Ia tahu benar ekspresi saya yang masih bimbang menagmbil keputusan, lalu katanya, “Ambillah kesempatan itu. Tak usah bimbang. Jadwal jam mengajar akan diatur bagian kurikulum.” Mendapat pengauatan dari sang kepsek, saya pun jadi lega dan merasa siap. Hari itu saya bersiap, dengan tenang, dengan tenang, dan tak boleh panik atau terburu-buru, demikian saya berulang-ulang mengingatkan diri saya sepanjang hari itu. Alhasil, saya tidur ketika hari sudah lewat tengah malam dengan hasil agenda mengajar dua minggu saya sudah beres berikut tugas-tugas untuk kelas-kelas yang akan saya tinggalkan selama 10 hari.

Saking sibuk di hari Senin itu, saya sampai tak sempat mengabari satu anggota keluarga pun tentang keberangkatan ke Bali. Baru pagi hari mau berangkat sajalah saya menelpon tanta saya yang rumahnya dekat bandara karena ingin menitipkan sepeda motor saya di sana. Kemudian di ruang tunggu bandara saya menelpon orang-orang rumah. Selanjutnya barulah ketika saya sudah tiba dengan selamat di Bali, di hotel tempatkami menginap di daerah Kuta itulah ketika seusai makan siang barulah saya menghubungi adik saya yang ada di daerah Bangli. Ia tak percaya saya sudah ada di Bali. Dikiranya saya bercanda. Ia sampai berulang-ulang bertanya demi meyakinkan. “Kak, apakah kakak sampai doa puasa biar bisa datang ke Bali?”

Saya tergelak. Pertanyaannya anak satu ini memang benar-benar membuat tertawa. Doa puasa, hanya untuk bisa menginjakkan kaki di Bali? Kata anak-anak Kupang, “Yang ‘B’ sa.

Kepadanya saya berikan alamat saya dan besoknya ia langsung berkunjung. Agak disayangkan karena saya justru berharap sayalah yang mesti mengunjunginya di kebun kopi karena ingin menghirup aroma kopi langsung dari kebunnya dan langsung dari tempat penggilingan serta pengalengannya. Saya memang tak bisa berkunjung karena jadwal yang cukup padat dari pagi hingga malam. Hanya lowong di setengah hari di hari Minggu, namun itupun adik saya bersama rombongannya sudah balik ke Kupang di hari Sabtu. Tak apa. Bersyukurlah pernah ada momen di mana dua anak perempuan bapak-mama sama-sama bakatumu di tanah orang tanpa direncanakan…:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s