Cuplikan Cerita Lentera, ReBlog

Cerita Kunjungan Pengamatan Tanaman Kelompok Richard

Selalu ada cerita untuk dinikmati…. 🙂

El Harp Kupang

Awal bulan Maret bagi kelas sembilan sudah terbilang sebagai hari ‘penyiksaan’. Apalagi pada saat yang sama kita sedang menjalani hari-hari dalam minggu advent. Kita betul-betul memaknai minggu tersebut dengan cara menikmati tugas-tugas dan ujian-ujian yang ada.

Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari yang amat menyibukkan bagi saya. Bukan hari bersantai tapi malah hari penguras tenaga cadangan saya. Setelah kelas 9.3 menyelesaikan latihan menari untuk mata pelajaran SBK, saya tidak pulang dan berbaring. Justru saya dan teman saya, Sonia Thei, memiliki agenda tersendiri untuk mengunjungi rumah saya di Fontein. Kami menaiki bemo lampu dua Paparisa dan turun di cabang kios penjual buah-buahan. Setelah turun kami harus menyusuri tiga gang untuk sampai ke rumah saya.

17198620_1834980120077464_629004497_nSesampainya di sana, Sonia dan saya masih duduk untuk rehat sebentar karena capek yang kami alami begitu besar. Bukan hanya capek fisik, kami juga capek pikiran karena memikirkan ketidakacuhan teman sekelompok kami, Toni Allo, yang menolak ikut…

Lihat pos aslinya 604 kata lagi

Iklan
God's Story, Kegiatan Seni dan Budaya

Awal Mula Ikut Serta MIWF 2017

logoheader
Sumber: MakassarWriters

MIWF adalah satu festival sastra tahunan yang ada Indonesia sejak tahun 2011. MIWF sendiri adalah singkatan dari Makassar International Writers Festival. Awal mula saya mendengar dan mengetahui MIWF ketika pada tahun 2013 ada beberapa kawan penulis dari NTT, sesama anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora terpilih sebagai emerging writers (EW) dan diundang ke sana. Mereka di antaranya Mario F Lawi, Christian Dicky Senda, dan Amanche Frank. Hanya saja waktu itu saya kurang punya keinginan untuk tahu lebih lanjut tentang MIWF. Di tahun 2014, ada lagi satu anggota Dusun Flobamora yang terpilih, Saddam HP. Disusul tahun 2015, dua orang lagi terpilih, mereka adalah 2F (versi saya ;)), Anastasia Fransiska Eka dan Felix Nesi.

Sampai saat itupun saya belum terpikirkan untuk nanti ikut mengirimkan karya saya tahun berikutnya kalau-kalau juga bisa masuk. 😀 Entahlah, belum merasa terpanggil barangkali. Ketika keluar pengumuman untuk seleksi karya taun 2016, saya masih saja mengganggapnya tidak serius. Tak ada persiapan. Dikirimi SMS dan pesan via messenger bahkan ditanyai dan dianjurkan oleh kawan dari Lentera yang mengetahui MIWF ini, saya akhirnya untuk menghargai undangan dan anjuran mereka, saya kirimkan saja beberapa cerpen yang ada tanpa banyak berharap. Saya melupakannya setelah itu.

Ketika pengumuman hasil seleksi emerging writers MIWF 2016 keluar, itupun saya lupa kalau saya pernah ikut mengirimkan karya, sampai ada satu catatan kecil dari salah satu alumni EW, Kak Dicky Senda yang membagikan pengumuman itu, bahwa berturut-turut sejak tahun 2013, 2014, 2015, dari NTT selalu ada yang lolos seleksi EW MIWF, dan baru kali inilah di tahun 2016 tiada seorang pun yang mewakili NTT. Catatan itu sederhana, tidak bernada keluhan atau negatif lainnya. Saya saja yang sewaktu membaca catatan kecil pengiring pengumuman itu tiba-tiba baru teringat kalau saya pun sebenarnya pernah ikut mengirimkan, dan juga tersadar kalau cerpen yang saya kirimkan pun hanya asal-asalan. Saya jadi merasa bersalah dan menyadari betapa tidak bertanggungjawabnya saya. Sedih jadinya. Dari situlah saya berjanji kepada diri saya sendiri, persiapkan diri untuk ikut mengirimkan karya tahun depan. Lolos atau tidak pun, paling tidak saya sudah lebih sungguh mempersiapkan karyanya jauh-jauh hari. Beruntungnya juga, di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, ada kelas setiap minggu, membahas baik cerpen, baik puisi, dan tulisan kreatif lainnya. Kelas minggunan itu cukup memberi saya banyak kemajuan  untuk memperbaiki cerpen-cerpen saya sebelumnya.

Dalam proses waktu bergulir, saya sempat lupa mau saya apakan cerpen-cerpen itu. Hingga kemudian datang kabar, ada lagi pembukaan seleksi EW MIWF tahun 2017, bahkan di kelas Dusun Flobamora pun sering dibicarakan, dan oleh kawan-kawan saya didorong untuk ikut mengirim. Di luar itu, saya pikir saya sudah jauh lebih siap untuk mengirim. Anehnya, cerpen dan segala kelengkapan yang diminta walau sudah siap tidak segera saya kirim. Alasannya cukup sepele, agak takut-takut. Saya baru mengirimnya beberapa hari sebelum tanggal penutupan. Itupun atas peringatan seorang kakak yang menjadi pembimbing kami di kelas Dusun Flobamora, Mas Abu Wibisana, “Anggap saja batas pengirimannya adalah beberapa hari sebelumnya. Jangan sampai terjadi kesalahan teknis di hari dead line sehingga karya yang sudah jadi malah tak bisa terkirim,” katanya.  Maka terjadilah sesuai yang disarankan. 😀

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini saya mengirim lalu tidak segera melupakan walau tidak terus-terusan juga saya mengingatnya. Mendekati hari pengumuman, saya tahu bahwa akan ada pengumuman seleksi EW MIWF karena saya menandainya di kelender. Namun bertepatan di hari pengumuman, saya lumayan sibuk karena terlibat dalam kegiatan paskah dari GRII. Sampai larut malam, saya tak sempat menengok email atau media sosial untuk mengetahui hasil seleksi itu. Barulah keesokan paginya ketika saya bangun, sesudah mengaktifkan paket data, barulah masuk pesan-pesan terkait lolosnya saya sebagai salah satu peserta Emerging Writers MIWF 2017.

Emerging Writers MIWF 2017
Sumber: twimgmiwf17

Antara percaya dan tidak, sebab saya baru saja bangun tidur. Walau masih pagi-pagi subuh, kabar bahagia ini tentu saja membuat saya harus berseru kaget, melompat turun dari tempat tidur dan langsung terduduk di lantai. Mata saya berasa panas dan basah. 😀 (saya mengakui saja apa yang benar terjadi). Rupanya seruan kaget saya membuat adik saya ikut pula terkejut. Tergopoh ia datang menengok. Ia mengira saya baru saja melihat ular atau tikus atau serangga bermata besar apa. Saya tidak peduli. Saya tunjukkan padanya pesan dengan brosur di atas. Ia kelihatan bingung. Peduli amat.

Saya lagi senang. Kau mengerti saja. Begitu saya bilang.

Ia masih saja belum mengerti.

Saya akan ke Makassar. Saya melanjutkan.

Kok bisa?

Saya lolos seleksi menulis.

Oh, lalu kapan ke Makassar?  Ia sudah mulai mengerti situasi.

Bulan Mei nanti.

Baiklah, bagus sudah, katanya lalu berbalik pergi.

Saya melanjutkan keasyikan saya memelototi nama-nama yang tertera di gambar itu. Hanya ada satu nama yang saya kenal. Kak Maria Pankratia. Ia juga orang NTT, dari Ende, tempat saya pernah mengikuti kegiatan Temu II Sastrawan NTT. Kak Maria juga salah satu anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Saya senang juga bangga. Tepat seminggu sebelumnya, tanggal 11 April, hari istimewa saya (♥ 🙂) tak sengaja kami bertemu di sebuah jajaran depot makan. Mungkin itu salah satu pertanda kami akan bertemu lagi di ajang MIWF. Saya menganggap itu sebuah kado istimewa dari Tuhan. Sungguh seperti itulah yang memang pada dasarnya saya harapkan. Daripada mendapat kado dari manusia, adalah lebih berharga kado langsung dari Tuhan. Istimewa yang benar-benar istimewa bukan? 😀

Terima kasih kepada Sang Penyelenggara Kehidupan. 🙂

 

Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Pusing Papagi di Hari Pertama USBN

Lonceng gereja berdentang. Sudah yang ketiga kali. Orang-orang di dalam gereja mulai mengumandangkan hymne, dilanjutkan dengan sahutan berbalas-balasan.

Ini paskah kedua, katanya.

20170208_081256Berseberangan dari samping kiri gedung gereja, hanya terpisah jalan selebar empat meter lalu tembok gedung sekolah, anak-anak kelas 9 duduk dengan tegang dan tampak serius menghadapi soal Agama.

Saya duduk di depan mereka. Beberapa meter di samping  ada juga rekan mengawas. Saya baru saja selesai mengisi lembar pernyataan untuk keperluan administrasi. Tak ada lagi yang saya lakukan seusai menyambar dua potong kue lezat borneo dengan segelas aqua (terima kasih sudah menyediakan.. sangatlah berarti bagi saya) selain duduk dan mengamati wajah anak-anak di depan.

Kepala saya tambah pusing lama-lama memandangi mereka. Pagi tadi saja saya hampir ambruk (lagi, setelah insiden penerimaan rapor tahun 2012 dulu) saat berdiri di aula pimpin devotion. Omongan saya jadi agak ngawur tadi (dengan hati yang paling rendah, maafkan dan ampunilah..). Syukurnya hanya sebentar karena diberi kursi untuk duduk (terima kasih:)). Syukurnya lagi, pusing ini tidak terjadi saat berkendara (alhamdulillah). 

Pikir-pikir dan merenung, kenapa coba, bisa pusing sedemikian?

. .. … …. ….. …… …… ……. ……. ………

Ok, sekarang baru tahu kenapa.

Bukankah gejalanya sudah dari semalam setelah sore harinya dan setengah empat hingga bahkan maghrib lewat pun, kau masih sibuk bara’o dan ba’angkut pupuk kandang dan gali sana-sini demi katanya tamanmu itu, lalu bukannya minum air putih terlebih dahulu, kau malah langsung bergabung dengan acara minum kopi, lalu pagi tadi lagi datang ke sekolah menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilo dengan perut kosong bahkan tanpa segelas air putih pun. Sekarang kau pikir… dan kau rasa sudah!

Baiklah, itu pelajaran. Jangan lagi terulang. Syukurlah, sekarang kau bahkan dapat memahatkan momen papagi ini…:)

Thanks to God…

***

17 - 3Berhala Bunga

Sorenya ia begitu sibuk dengan bunga-bunga hingga lewat tengah malam.

Paginya ia ditemukan mati terkapar karena kehabisan tenaga.

W.o.w… Sepertinya insiden papagi  hari ini membawa hikmah… 😀 🙂 ♥♥♥

Merayakan Keseharian

Mawar di Depan Rumah

17 - 2

17 - 3

Usia pohonmu sudah lebih dari sepuluh. Kala itu, aku masih sempat sangsi, apa kau bisa sementara tanah di sekitaranmu hanya secuil di antara batu-batu karang. Namun, hari ini kau membuktikan, meski akarmu harus selalu bertumbukan dengan karang, kau tetap tumbuh.

Penampakanmu menyejukkan mata. Semerbak aromamu membuatku mabuk kepayang. 😀 Lebih dari itu, keberadaanmu meneduhkan kepala menentramkan hati. Indah. Sayang, seumpama ratu, kau anggun sekaligus angkuh. Ingin kurengkuh engkau tapi tak dapat. Baiklah dari jauh kupandangi engkau. Diam-diam mengagumi sambil menghaturkan syukur tak terkira kepada Sang Pencipta.

Kau sudah menjadi kau yang adalah kau. Adakah yang lebih baik yang bisa lagi kau berikan? Tidak. Kurasa cukup…. 😉 🙂

https://plus.google.com/115129233788994026573/posts/JL8XLdjxZQL?_utm_source=1-2-2

Cuplikan Cerita UPH

Andra & The Backbone di UPH Festival

Sumber: youtube

Masih dalam minggu UPH Festival (tepatnya UPH Fest yang ke berapa saya lupa 😉 :)) Penelope seharian itu tampak gembira.  Sejak bangun pagi tadi, ia tak henti-hentinya bersiul. Dari sewaktu mandi, berpakaian, berjalan menuju kampus, menikmati sarapannya di FJ, maupun menuju kelasnya. Tidak biasanya ia demikian.

Kami tahu, di kampus aktivitasnya padat. Tapi ketika tiba di kamar sore itu, tak ada sama sekali pada wajahnya tanda-tanda kelelahan.

Beberapa di antara kami saling melirik dengan air muka bertaya-tanya. Dia tidak sedang berulangtahun, kan? Menggeleng. Apa sedang jatuh cinta? Mengangkat bahu. Baru ditembak idolanya? Merentang tangan dan mengangkat bahu.

“Apa kalian sudah lihat sesuatu di lapangan basket?”

“Panggung…” seseorang di antara kami baru mau menjawab, justru jawabannya tak selesai karena langsung dipotong sang penanya.

“Panggung untuk Andra & The Backbone malam ini sudah jadi,” katanya terkekeh lantas melenggang  masuk ke kamar mandi.

(Bersambung…)

Catatan:

UPH Festival adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam rangka penerimaan mahasiswa baru UPH.  Tema UPH Festival setiap tahun berbeda. Contohnya tema tahun 2007 One Spirit, One UPH (kalau tak salah ingat), tahun 2008, “Let’s Shine!” kalau ini saya ingat betul karena saya termasuk salah satu mentor :D. 

Apa yang biasanya ada di UPH Festival? Ada beragam kegiatan. Positif dan membangun tentunya. Contohnya saja lihat UPH Festival 14 di tahun 2007, tahun ketika saya baru memulai persinggahan saya di UPH. 🙂

Catatan Buku, Catatan Film

“Boo Radley” dan “Radley Place” versi Anice

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film Almost Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radley

Memang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Catatan Buku, Catatan Film

Antara Film “Almost Famous” dan Novel “To Kill a MongkingBird”

Almost_famous_poster1Berikut ini sedikit cerita tentang satu lagi film yang berkaitan dengan menulis selain Finding Forrester dan The Freedom Writers atau satu film Korea yang berjudul It’s Ok, That’s Love, yakni Almost Famous.

Bagian pembuka film ini langsung menyedot perhatian. Bagaimana tidak, ketika menampilkan tokoh utama (William Miller) dan ibunya yang sedang berjalan menyusuri area pertokoan San Diego, langsung dimulai dengan percakapan tentang tokoh-tokoh dalam novel To Kill a Mockingbird dari Harper Lee (walau mereka sama sekali tidak menyebut tokoh favorit saya, Jean Louise Finch alias Scout :()

cover of to kill a mockingbird
Sumber: Amazon

Sang ibu mengaitkan anaknya dengan Atticus Finch, ayah Scout. Sang anak menanggapi balik karena ia memang menyukai pengacara Maycomb yang jujur, tetap teguh mempertahankan kebenaran, sekaligus seorang ayah yang baik tersebut. Ditanyai ibunya, apa maksudnya dari ayah yang baik, sang anak menjawab, walau sendiri ia mampu membesarkan anak-anaknya, yang langsung disanggah balik sang ibu, siapa perempuan yang datang setiap hari ke rumah mereka? Calpurnia, sahut sang anak. Ya, kau mengingatnya, gumam sang ibu.  Lalu bagaimana dengan Boo? Kembali tanya sang anak dengan penasaran. Boo adalah tokoh paling menarik dalam cerita To Kill A Mockingbird, jawab sang ibu yang kemudian menarik kembali tangan anaknya untuk mundur karena melihat sesuatu yang janggal pada kaca satu toko aksesoris natal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sang ibu tanpa sungkan menegur pekerja toko tersebut yang menulis Merry Xmas pada kaca jendela tokonya. Excuse me, I’m a teacher, katanya memperkenalkan diri. Xmas’ is not a word in English language. It’s either Merry Christmas.. or Happy Holidays. Sang pekerja yang sedang melabur kata-kata itu hanya melongo lantas berterima kasih atas saran dari seorang ibu tak dikenal tersebut. 😀

Menit-menit selanjutnya berkisah tentang sang anak tersebut yang memiliki keinginan besar untuk menjadi jurnalis khusus meliput musik rock n roll yang sebaliknya ditentang oleh ibunya yang adalah profesor psikologi di universitas. Sebagai orang yang menggeluti psikologi ia tahu benar seperti apa model dan kehidupan para musisi rock n roll itu. Namun demikian, ia tetap teguh menemui seorang mentor yang mendukungnya menulis serta memberikan sedikit gambaran bagaimana gambaran tentang jurnalis di dunia rock n’ roll. Kepada mentor itulah ia selama di bangku sekolah sudah sering mengirim artikel-artikelnya untuk dimuat di majalah lokal yang dipimpinnya.

Dimulai dengan perkenalan dengan satu grup gadis-gadis pecinta musik, ia pun bertemu dengan grup Stillwater. Dari sanalah ia kemudian mengikuti tur mereka dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan para musisi rock n’ roll yang sebenarnya. Di tengah tur, kabar dari datang dari Rolling Stone, foto awak grup band Stillwater akan tampil di cover depan, sebuah kabar yang menguakkan rasa haru dan kegembiraan luar biasa.

Di akhir tur, hasil tulisannya diserahkan dan itu dinilai bagus awalnya oleh pimpinan Rolling Stone. Sayang, karena tak mau reputasi bandnya hancur, ketika dikonfirmasi, awak band itu menyangkal kebenaran cerita yang sudah ditulis. Penyangkalan itu dengan cepat diketahui kru grupies yang juga dikhianati. Oleh taktik kru grupies tersebut, tokoh utama dipertemukan kembali dengan salah satu anggota band dan melakukan rekonsiliasi. Tokoh utama kembali menulis, anggota keluarganya yang sempat dingin kembali hangat, grup band tersebut kembali dihargai dan mereka pun mengadakan tur-tur berikutnya.

Dari beberapa sumber dikatakan Almost Famous berkisah tentang sang penulis dan sutradaranya sendiri, Cameron Crowe, ketika ia baru saja memulai karirnya bekerja di majalah musik dan mengikuti tur-tur yang diadakan grup-grup band yang baru beranjak besar kala itu (tahun 1970-an). Dari sinilah dapat dilihat, bahwa karya Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird dan Cameron Crowe dalam Almost Famous memang serupa. Keduanya mengambil ide cerita dari pengalaman mereka sendiri dan dituangkan ke dalam karya dengan tentunya mengubah beberapa setingan termasuk nama-nama tokohnya atau tempat. Bila Harper Lee mengambil kisah tentang orang kulit hitam yang dituduh melecehkan orang kulit putih kemudian masuk penjara sekalipun sudah dibela seorang pengacara terkenal nan cerdas, dan tentang keseharian masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki kecil tetangganya, maka Cameron Crowe dengan perjalanan turnya bersama grup-grup band Amerika kala itu.

Tentu bukan dua orang ini saja yang membuat karya dengan mengambil sesuatu yang dekat lekat dengan kehidupan personal (di luar sana banyak para creator yang mendapat inspirasi dari kehidupan personal mereka), namun di sini saya khusus memang hanya ingin menghubungan keduanya, antara film Almost Famous dan novel To Kill a MongkingBird.

Terkait menulis, berikut hal-hal yang bisa dipelajari:

menulis dan menulis

  1. Menulis karena kau memang suka menulis, dan yang perlu kau lakukan adalah hanya menulis dan menulis
  2. Tidak mudah menyerah untuk memperoleh informasi
  3. Berani menyuarakan pendapat
  4. Siap menerima konsekuensi sebagai penulis kalau kau sudah terjun ke dalam dunia itu
  5. Menjadi penyimak yang baik
  6. Menangkap setiap momen sebagai bahan tulisan
  7. Bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
  8. Menulis cepat
  9. Menulis dengan jujur. “Be honest, and unmerciful!” demikian nasihat sang mentor dalam Almost Famous.

Tak lupa  saya lampirkan link tambahan kalau kau sudah menonton film Almost Famous ini, yakni:  Mengenal lebih dekat film Almost Famous dari the official site for Cameron Crowe. 🙂

Selamat menonton dan selama berenang dalam dunia menulis…!!! ♥♥♥ 😀 🙂