Hari Kedua Ujian Sekolah dan Beberapa Kesedihan

Hari ini ujian sekolah hari kedua dan mata pelajaran sesi pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Kemarin kedua lutut saya lecet karena sempat terjadi  insiden kecil sepulang dari melayat  di rumah salah satu murid di kelas 8 di daerah Lasiana, pikir saya, tak akan berdampak apa-apa. Toh, semalam sudah dikompres tante saya dan pasti akan baik-baik saja. Nyatanya ketika pagi tadi bangun, lutut kanan saya susah sekali digerakan. Bahkan untuk beranjak bangun dari tempat tidur pun, perlu perjuangan seperti mengangkat batu seberat satu ton.

Jadilah dengan berat hati (terlalu amat berat) saya meminta izin tidak masuk sekolah. Sedih saya bertubi-tubi sebenarnya.

Kesedihan pertama, saya tak hadir justru di hari mata pelajaran saya diujikan. Baiklah di sini saya katakan, kalau kau seorang guru, di masa-masa ujian di sekolah, kau pasti merasa ‘sedikit istimewa’ ketika hari atau jam di mana mata pelajaranmu diujikan (entah orang lain merasa begitu atau tidak, saya sendiri merasakannya..:D). Kau sambil duduk diam-diam mengalirkan doa dan membayangkan bagaimana, ya, apakah mereka bisa mengerjakannya dengan baik atau tidak? Apakah SiA bisa mencapai di atas 90-an, apakah SiB bisa mencapai setidaknya tidak lagi di bawah 60 atau 50? Bagaimana SiIni dan SiItu, dan sebagainya.

Kesedihan kedua, saya sedikit menyesal. Kenapa saya begitu ceroboh. Sebelumnya saya terlalu bersemangat mengetahui tentang sesuatu dan saya menyambutnya dengan teramat gembira yang setelah saya pikir-pikir agak berlebihan…:p. Hal-hal seperti demikian sudah terjadi berulang kali dan saya selalu menyesal setiap kali terlalu gembira. Berulang-ulang saya mengingatkan diri agar lebih menahan diri dan mengontrol diri dan menguasai diri kalau memang ada sesuatu yang membuatmu harus senang atau gembira atau apalah itu (saya jadi tak suka menyebutnya). Beberapa pengalaman sudah membuktikan, ada kalanya berhasil (lega, syukur alhamdulillah), adakalanya lepas kontrol.

Kesedihan ketiga, janji saya dengan seorang kawan saya jadi dibatalkan hari ini. Sebenarnya pertemuan itu sudah harus kemarin tapi karena ada berita duka itulah, kami bersepakat membicarakannya hari ini (Selasa,04/04). Tapi karena hari kondisi saya demikian, jadilah urusan itu ditunda lagi. Saya berharap ia masih punya rasa percaya pada saya dan tidak menganggap saya selalu mengada-ada dengan berbagai alasan seperti yang biasa ia lontarkan tentang saya…:):)

Kesedihan keempat, btw, belum ada info ke rumah orang tua saya tentang insiden ini. Saya tak mau kalau info tak penting ini sedikit mengganggu adik bungsu saya yang sementara menjalani masa ujian nasionalnya.

Kesedihan kelima, bahwa saya sudah memahatkan momen hari ini dalam 400-an kata tapi tidak merasa pasti apakah coretan ini berguna atau tidak…:(

Hanya memang bahwa di antara kesedihan-kesedihan itu, jauh dalam lubuk hati saya, ada rasa syukur tak terhingga sebab area insiden itu terjadi adalah di pelataran sebuah rumah dan keadaan saat itu sepi kecuali bahwa hanya ada tiga kawan yang sedang berada bersama saya pergi melayat. 

Sebagaimana kejadian-kejadian atau insiden apapun yang datang mengunjungi (mendatangimu sekadar say hallo), mestilah direfleksikan kembali, ada hal penting apa yang mau diajarkan padamu. Mungkin pula bisa jadi cerita kelak kalau seseorang lain ditimpa hal yang sama, kau setidaknya menguatkannya bahwa kau sendiri telah melaluinya. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s