Silaturahmi di Media Sosial dan ‘Dunia Nyata’

Disclaimer: Tulisan di bawah ini masih dalam kategori draft. Beracakkan tentunya. Tapi lebih baik ada, karena dengan demikian saya akan ingat dan tentu memperbaikinya jadi lumayan lebih baik.

sumber gambar saya temukan di satu blog wordpress, hanya tak dicantumkan sumbernya, jadi ini masih dalam pencarian sumber asli

Saya tak bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Di masa-masa sekarang, di tengah menderasnya arus informasi, saya seperti kelimpungan mau membaca dan menyimak mana yang lebih dahulu dan mana yang kemudian atau menjawab dan membalas pesan siapa lalu menunda punya siapa.

Ketika saya memilih mengikuti atau menjawab yang satu dan menyimpan yang lain untuk nanti, ternyata sudah ada hal lain yang lebih baru yang akhirnya hal lain yang sudah disimpan untuk ditengok itupun terbengkalai dan dilupakan. Jadi bingung dan tak tahu lagi harus bagaimana.

Sumber: pinterest

Menyangkut media sosial yang berseliweran sekarang, saya adalah seorang yang tak bisa menghandel (atau menghandle, sepertinya penggunaan bahasa ini belum tepat deh, saya akan memperbaikinya ;):)) beberapa akun-akun itu sekaligus. Maka itu, memang setiap trend media sosial tertentu awal-awal saya biasanya ikutan mendaftar, namun beberapa lama berada dalam dunia semacam itu membuat kepala saya menjadi penuh sesak dan berasa riuh. Ingin rasa-rasanya pergi menyepi ke suatu kampung yang tak dijangkau jaringan internet sama sekali (sayangnya bahkan di kampung tempat tinggal bapak ibu saya sekarang pun di kebun-kebun atau ladang-ladang atau pelosok mana pun itu semuanya sudah terjangkau aliran pemancar berwarna merah itu sehingga di mana pun kau berada selalu saja kau tergoda membuka ponsel dan terseret masuk ke dalam riuhnya dunia media sosial:..p). Sekali kau terseret masuk, kau susah untuk kembali keluar. Sesuatu seperti menarik-narik dan menahanmu untuk tetap berada di sana. Namun ketika kau berhasil keluar, yang ada adalah (selalu) penyesalan.

Ya, saya selalu menyesal setiap kali berlama-lama berada di media sosial sekalipun akun media sosial yang saya punya sekarang sudah jauh berkurang daripada dulu. Sebelum-sebelumnya, setiap tahu ada trend media sosial yang baru muncul, saya selalu mendaftarkan diri di sana. Namun karena kepala saya tak sanggup hidup di dunia yang riuh semacam itu, lama-lama akun-akun itu tak lagi saya tengok, dan alhasil saya lupa jalan masuk. Kini tinggallah facebook dan google+ selain mungkin alamat email dan kalau di ponsel ada whatsapp dan bbm untuk kalangan terbatas.

Berbeda halnya dengan facebook atau bermain-main di dunia media sosial, saya selalu merasa lega dan puas ketika berada di dunia yang lebih adem seperti blog pribadi ini. Rasanya lebih tenang teduh…:D Kau tak harus terburu-buru mengambil beribu-ribu informasi dalam waktu sekejap yang hanya memberati dan membebani otakmu karena kau hanya sekadar tahu tanpa sempat merenung. Bukankah demikian, di facebook dan akun-akun media sosial lainnya, kau memang akan tahu banyak hal, tapi kau hanya sampai pada tahap tahu, lalu sudah, selesai? Bagus kalau kau tahu itu dan pelajari lebih lanjut lalu merenungkannya lalu ada hal berguna daripadanya yang dapat kau terapkan dalam perjalanan hidupmu.

Ampun dah, saya tidak sedang bermaksud bercuap-cuap bahwa timeline facebook sama sekali tak ada gunanya karena hanya sekadar penyajian informasi. Tapi begini,  seumpama membaca koran ataupun majalah ataupun buku-buku, ia hanya bersifat scanning, kecuali dari scanning itu ada di antaranya hal-hal berguna yang kau pilah dan simpan, lalu kau tutup timeline facebook untuk segera kau beranjak kepada bacaan atau informasi yang bermanfaat tersebut. Demikian itu yang saya coba terapkan walaupun lebih banyak di antaranya adalah tergoda untuk berlama-lama di facebook lalu kemudian menutupnya dengan menyesal diam-diam, sudah berapa lama saya berada di sana.

berbagai media sosial

Sumber: dreamstime

Sebenarnya akun-akun media sosial semacam itu berguna juga untuk saling sapa, saling tegur atau silaturahmi (sebut sajalah begitu), hanya sebagaimana dunia nyata, kunjungan atau silatuhrahmi ke rumah orang yang baiknya dan tepatnya dan beretikanya adalah kau memang tak boleh berlama-lama di sana. Tidak etis dan memang tak baik pengaruhnya baik untuk pengunjung atau sang tuan rumah. Masalahnya, kau tahu aturan dan anjuran itu, tapi ketika kau sudah berada dalam cengkeraman ‘kebersamaan’ itu, kau lalu terseret hingga lupa waktu. Ketika pulang atau keluar dari pekarangnya, barulah kau mengeluh, aduh sudah terlalu lama sampai berjam-jam saya di sana. Coba hanya sebentar saja, mungkin ada beberapa hal yang mungkin sudah selesai saya kerjakan. Kalau terlalu lama begini, lain kali sang tuan rumah juga tak akan mau saya berkunjung lagi, karena kalau sekali berkunjung saya sudah mengambil berapa lama waktu yang mungkin sudah ia setting untuk melakukan berbagai macam pekerjaan. Saya hanya mengganggu saja, demikian juga saya pun meninggalkan berapa banyak pekerjaan yang semestinya saya selesaikan.

Akhir dari cuap-cuap ini, tentu saya mesti bilang, bahwa saling berkunjung itu perlu memang. Demi tali kekeluargaan dan persahabatan dan kebersamaan dan hal sejenisnya. Tapi janganlah berlama-lama. Tak etislah, baik untuk tuan rumah atau kau sendiri sebagai pengunjung.

Saya sendiri merasa senang dan bersyukur dan merasa lega dan puas kalau berkunjung ke rumah orang terutama keluarga, sahabat, dan kenalan, atau siapapun itu yang mengundang dan mengharapkan kedatangann saya. Ada rasa tertentu yang diperoleh di sana yang bahkan tak bisa dijelaskan atau dibayar atau digantikan dengan apapun. Hanya saja, kalau terlalu berlama-lama di sana, saya jadi merasa tak enak ataupun jadinya timbul sedikit penyesalan kenapa terlalu berlama-lama, toh sebentar saja pun kita semua sudah sama-sama merasa terberkati. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s