“Boo Radley” dan “Radley Place versi Anice”

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film  Almous Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radleyMemang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s