Charity berbeda dengan Justice

http://www.idpelago.com/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-bagi-mereka-yang-mempertanyakannya-keimanannya-kepada-tuhan/

  • PR Matematika.  Seorang anak kecil menyodorkan PR Matematikanya padamu minta dibantu.  Kau membantunya dengan cara langsung mengerjakan supaya ia bisa dapat nilai baik atau setidaknya ia terbebas dari kemarahan gurunya dibanding kau membantunya pelan2 dengan bersama-sama mengerjakan sambil kau menjelaskan cara mengerjakan lengkap dengan konsepnya.
  • Bantuan untuk orang miskin.  Kau punya uang berlebih, artinya uangmu lebih dari cukup.  Kau terpanggil membantu orang-orang miskin. Apakah kau langsung datang dan memberikan begitu saja uangmu kepada mereka lantas bilang, “Ini uang.  Pakailah untuk beli makan dan minum. Belilah pakaian.  Buatlah rumah,” lalu kau pun pergi.  Kau tahu,  uang itu akan habis.  Kondisi mereka akan tetap melarat terus melarat sekalipun dibantu beribu-ribu kali.  Bandingkan dengan kau panggil mereka,  ajak mereka buat sesuatu. Berikan mereka modal untuk bekerja mengusahakan sesuatu. Pantau mereka dan berikan evaluasi.  Mungkin akan lambat memang pertumbuhan mereka, tapi setidaknya level mereka sudah naik beberapa tingkat dari sebelumnya.
  • Cinta lingkungan. Daripada hanya ajakan memungut sampah-sampah berserakan,  maka sekalian juga ajaklah orang menamam pohon, bunga-bunga, dan aneka tanaman lainnya.
  • Curahan kegembiraan.  Banyak sekali orang bilang mereka mau merayakan kegembiraan atas prestasi ini prestasi itu, atas pencapaian ini dan pencapaian itu, bersyukur audah bisa buat ini buat itu.  Lalu menghamburlah rupiah-rupiah demi makanan enak dan joget-joget sehari semalam/tiga hari tiga malam/tujuh hari tujuh malam,  dsb,  lalu selesai itu, ya, sudah,  selesai.  Orang2 yang tadinya makan-makan enak dan berjoget ria akan pulang ke rumah,  bertemu kembali dengan realita hidup, menghadapi kerjaan yang begitu menumpuk,  bertemu rekan kerja atau tetangga yang menyebalkan, menghadapi tuntutan anak minta uang jajan, menghadapi keluhan-keluhan klien, mengomeli jalanan yang rusak parah, mengomeli jembatan penghubung antar kota yang rubuh,  mengomeli sungai yang terus meluap, mengomeli tiadanya air bersih untuk minum dan keperluan lainnya,  mengomeli kumuhnya fasilitas-fasilitas umum, dan segala macam kompleksitas hidup lainnya. //// Akan lebih baik curahan kegembiraan itu ditandai dengan aksi keluarga menanam sebanyak-banyaknya pohon di satu tempat tertentu (kau sudah memberikan sumbangsih untuk jutaan manusia di muka bumi), atau penyediaan bahan untuk memperbaiki jalan lintasan desa yang berlubang sana-sini (pemberianmu tidak habis dinikmati hanya dalam sehari semalam/tiga hari semalam/tujuh hari tujuh malam), atau kalau kau memang suka yang ada banyak orang ya buat saja semacam festival atau workshop yang kegiatanya hanya beberapa hari tapi sarat nilai dan berefek panjang nan abadi, atau mungkin pengadaan bahan untuk perbaikan fasilitas2 umum misalnya bak air untuk setiap beberapa rumah di daerahmu kalau memang daerahmu termasuk daerah yang kekurangan air bersih, atau pengadaan buku untuk perpustakaan warga (pemberianmu tidak hanya selesai di hari ini saja tapi jelas berefek kekal dalam hidup seseorang), atau dengan memberikan beasiswa untuk seseorang yang punya hasrat besar bersekolah namun terkendala biaya atau memang  beasiswa terlalu besar dan namanya agak horor maka sederhanakanlah dengan sebutan menyekolahkan sesorang (uang pestamu tak habis dalam sehari semalam atau tiga atau tujuh u mereka lulang dan mungkin akan menggunjing tentang keluargamu tapi kalau dengan menyekolahkan seseorang jelas pemberianmu akan terpatri dalam hidup seseorang,  hal-hal lainnya yang masih banyak lagi, akan saya tambahkan kalau dapat.

Sampai di sini saja dulu. Untuk diketahui, tulisan ini bersifat spontan. Hanya sebagai tanggapan personal seusai membaca satu cuplikan berita Ahok. Saya menulisnya untuk refleksi pribadi.  Biar menjadi pegangan saya. Bukan sebagai sindiran atau pandangan meremehkan  bagi yang selama ini bermain-main dan berbangga-bangga di ranah charity. Toh,  saya termasuk salah satunya.

Bukannya saya bilang charity tidak begitu penting. Charity sendiri pun bernilai abadi ketika ia dilakukan dengan tulus dan penuh cinta. Setiap kita pun harus memberikan apresiasi buat mereka yang sudah melakukannya.

Maksud saya di sini adalah melakukan charity itu lalu melihat ke depan, daripada terus berkutat (mati-matian) hanya di bagian itu (terus-menerus tak kunjung selesai) padahal selain itu ada juga hal-hal lain yang butuh uluran tanganmu dan buah pikirmu, bukankah lebih baik sekalian melakukan justice.

Sekalipun begitu,  perlu diingat, justice pun tak akan bernilai abadi ketika ia hanya dilakukan sekadar mencari nama atau motif-motif lainnya.  Ia mestilah lahir dari panggilan terdalam hatimu.

Iklan

One comment on “Charity berbeda dengan Justice

  1. anicetunayt berkata:

    Reblogged this on ANICE and commented:

    πŸ˜€ Menjalani keseharian, dan lagi-lagi diingatkan… ‘charity’, tanpanya, kehidupan ini memang tak bisa berlangsung…:D Lakukanlah dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, dan segenap kekuatanmu. W.o.w…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s