Berjalan Naik Melalui Eskalator Turun

Membaca cerita Etgar Keret yang bagian ini, saya jadi teringat satu pengalaman saya ketika di UPH. Saat itu saya dan seorang kawan mau berkunjung ke perpustakaan kampus. Pintu perpustakaan kampus kami itu terletak di lantai 3 gedung C. Untuk sampai ke sana orang bisa menggunakan lift atau bisa juga lewat eskalator.  

Waktu itu tepat hari Sabtu. Sesudah menikmati makan pagi di FJ, kami pun berjalan menuju perpustakaan. Memang karena hari Sabtu, maka keadaan sekitar kampus sepi. Paling yang berkeliaran di sekitar kampus hanyalah kami para mahasiswa asrama dan para security atau satu-dua mahasiswa lain yang datang. 

Di lantai dasar, entah liftnya aktif atau tidak,  seingat saya dua eskalator di gedung C sementara berjalan sesuai fungsi masing-masing.  Satunya naik, ya, satunya turun.  

Melihat keadaan sekitar yang sepi,  saya mengajak bahkan menantang kawan yang bersama saya untuk mencoba berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun.  Ia tidak mau. Saya mendesaknya agar berdua kami mencoba.  Ia tetap tidak mau dan bilang,  “Sudah, kalau berani, kau saja yang jalan.” 

Baiklah,  saya bilang. 

Saya pun berdiri di ujung eskalator dan mulai mengamat-amati.  Saya mencoba membayangkan kira-kira seperti apa rasanya berjalan naik di atas eskalator yang bergerak turun.  Saya melihat sepertinya mudah saja dan tidak terlalu sulit. Toh,  kita hanya berjalan naik seperti menaiki tangga biasa. 

“Ayo,  lewat sini saja.  Tak usah cari masalah,” kawan saya bergerak sudah mau menaiki eskalator satunya lagi yang bergerak naik.  Mungkin ia melihat saya yang masih merenung, mungkin dipikirnya saya ragu melaksanakan niat saya.  

“Kau tunggu saja di sini dan lihat saya sampai di atas,” begitu saya bilang padanya.  

Ia tertawa. Dari tawanya ia yakin saya tidak sedang bersungguh-sungguh. πŸ˜€

Tidak menunggu lama lagi, saya  seret kaki kanan saya ke salah satu anak tangga eskalator yang bergerak konsisten tersebut. Begitu saya berada di sana, baru saya tahu, ini tidak mudah memang. Saya harus bergerak cepat. Lebih cepat dan harus cepat. Bahkan sudah lebih cepat dan makin cepat pun, rasanya lama sekali untuk mencapai puncak. Saya terengah-engah. Ingin rasanya berhenti sejenak baru melanjutkan lagi. 

Tapi tidak bisa. Kalau kau berhenti, kau bisa-bisa turun lagi ke bawah dan kalah (kalau tidak pusing dan jatuh lalu terjepit dan apa yang terjadi selanjutnya kau tanggung sudah). 

Maka,  mau tidak mau, meski terengah-engah, saya mesti memacu diri saya untuk terus merangkak naik. Harus. Tidak bisa tidak. Demikianlah yang saya lakukan. Sambil bergerak naik, kau tahu, rasanya saya dan Tuhan dekat sekali (maksudnya, sama seperti menurut cerita Jem dan Scout kepada Bill dalam To Kill a Mockingbird, supaya terhindar dari bertemu ‘uap panas’ ketika sedang berjalan sendirian di malam hari, orang2 Maycom perlu mengucapkan mantera ala Maycomb)  πŸ˜€ Alhasil, saya sampai juga di ujung eskalator lantai 2. 

Dari sana, dengan pandangan yang mengabur karena pusing, saya melihat kawan saya di bawah tertawa terbahak-bahak.  Memang betul katanya, saya hanya cari masalah. Soalnya sesampainya kami di ruang perpustakaan yang keren itu, saya tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas yang dari semalam sudah saya rencanakan harus selesai di hari itu…   πŸ˜€

Demikian secuplik kisah pengalaman konyol. Saya tidak mau bilang bodoh..(:D), sebab hanya dengan begitu setidaknya saya pernah punya pengalaman unik untuk mengomentari sebuah adegan kecil dalam cerita penulis Israel ini…:D. 

Kemudian katanya lagi tentang “Just like in life”. Maksudnya berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun benar-benar menggambarkan kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi. Eskalator menggambarkan arus kehidupan yang terus berjalan. Kita tidak bisa hanya duduk berdiam diri, menunggu, dan menonton. Kita juga tidak bisa berlambat-lambat (ini saya bicara untuk diri saya..:D) Sebab kalau seperti itu yang kau lakukan, maka yang ada adalah kau mati. 

Jadi, ketika kau dibawa keluar menghirup aroma bumi, sama dengan kakimu sudah ditempatkan pada anak tangga eskalator yang konsisten bergerak turun itu. Jangan lagi menoleh ke belakang seperti istri Lot. Kau harus memacu dirimu terus bergerak. Mau tak mau.  Meski terengah, teruslah merangkak.  Cepat dan jangan berlambat-lambat.  πŸ™‚ πŸ™‚  Perumpaan ini hanyalah versi saya.  Jauh dari sempurna tentunya. πŸ™‚ 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s