Berita Petang

Di akhir sesi Emerging Writers 2017, seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan berkata kalau ia tertarik dengan salah satu cerpen saya yang diulas Bapak Budi Darma berjudul Berita Petang. 🙂 Ia bilang, kalau bisa didapatkan di mana, ia ingin membacanya. Kami sempat berkenalan sesudahnya. Kepadanya saya bilang, “Kebetulan cerpen itu baru saja dimuat di Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar Edisi 14 Mei 2017 barusan. Kalau ada korannya, mungkin saya bisa kasih. Tapi kalau tidak pun, saya janji akan mempostingnya di blog biar bisa dibaca.” Nah, sekarang, saya memenuhi janji saya. Btw, nama kakaknya, sayang 😦 dan maaf, ingatan saya tak begitu bagus.  

Selamat membaca... ♥♥♥

***

4e347-20170514_222513

Sumber foto:mgp

Berita petang di televisi mengabarkan seorang buruh TKI mati terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Suara perempuan pembawa berita itu pun menyebut nama korban. Terdengar tak asing, kupelototi lagi layar televisi. Terpampang jelas foto adikku di sana. Terkesiap, aku hanya menganga. Cepat kuambil ponsel yang sejak siang tadi tak kutengok. Puluhan pesan dan panggilan telepon masuk tak terbaca. Panik seketika menyergap, aku terduduk di lantai.

Adikku, satu-satunya adik laki-laki di rumah. Dulunya dia anak pintar. Pernah sewaktu SD, dua sampai tiga tahun berturut-turut kami meraih peringkat pertama di kelas masing-masing. Kuingat betul suatu kali seusai penerimaan rapor, di kantin sekolah, para orang tua ramai membicarakan kami berdua. Lalu ada komentar kakak kelas, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berkulit kuning langsat yang wajahnya serupa pemeran tokoh Jack dalam film Titanic, yang di kemudian hari waktu SMA tak henti-henti mengejar ingin aku menjadi pacarnya, berkomentar, “Wih, keren, ya. Kakak beradik sama-sama mendapat rangking satu.”

Walau komentarnya tak dihiraukan, dalam hatiku menguar rasa bangga tak terkira. Tahu saja, bapak dan ibu kami dulunya tak sempat tamat SD. Tapi dua anaknya justru dikerahkan betul-betul untuk berprestasi. Pelajaran dasar membaca dan berhitung bahkan sudah kami kuasai sebelum masuk TK. Ibu mengenalkan huruf, bapak mengenalkan angka. Paduan sempurna.

Sayang, semakin beranjak besar dan punya banyak kawan, adikku semakin lebih banyak bermain daripada belajar. Berbekal ketapel, siang hari mereka berburu burung, malam hari beralih ke kelelawar. Nilainya pun merosot.

Orang-orang mulai membandingkannya denganku yang suka belajar dan membaca. Mereka kerap menjulukinya seorang pemalas dan bodoh. Menertawakannya ketika pagi-pagi ia beriringan denganku berangkat ke sekolah. “Masih ke sekolah? Untuk apa kalau tak dapat nilai bagus seperti kakakmu?”

Lambat laun, mendekati kelas besar SD, ia pun benar-benar malas belajar. Nyaris tak pernah mau lagi menyentuh buku di rumah. Ia terpaksa saja pergi ke sekolah. Baginya ke sekolah hanyalah untuk bertemu kawan-kawan. Sekolah adalah tempatnya bermain. Ruangan kelas adalah siksa neraka.

Pernah suatu kali di rumah tetangga, sementara mereka beristirahat seusai bermain sepak bola, ada seorang berkelakar, “Kau mesti rajin belajar seperti kakakmu. Biar jadi orang pintar.”

Ia lantas mengangkat bahu dan membalas, “Memangnya kalau pintar juga buat apa?” yang sontak membuat orang terpingkal-pingkal.

Cerita tentang kejadian itu terbawa sampai ke rumah dan langsung pula disambut tawa membahana.

Sekejap saja sudah tersiar ke seantero kampung. Di mana ia berpapasan dengan orang, selalu ungkapan itulah yang dilontarkan padanya. “Eh, Emon, buat apa pintar, ya?” atau “Halo, Mon, pintar juga memangnya buat apa?” atau “Orang itu mesti kayak Emon. Kalau pintar tak ada gunanya, ya, lebih baik tak usah belajar. Bukankah begitu, Mon?” Mereka tertawa dan berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bila sudah keterlaluan, maka hanya ibulah pembelanya. Adikku sendiri tak suka ambil pusing apa kata orang. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sementara aku, mau saja terseret dengan laku orang-orang. Ikut mengolok ketika mereka mengolok. Ikut tertawa kala mereka tertawa. Sampai suatu peristiwa seperti telak menghantamku. Membuatku menanggung penyesalan teramat dalam. Bahkan diam-diam menangis sedih sepanjang malam sampai tenggorokanku sakit tak tertahankan.

Hari itu pengumuman kelulusan SMP. Setelah setiap hari selama tiga tahun bersama kawan-kawan seangkatannya menempuh antara empat atau lima kilometer berjalan kaki, pada hari istimewa itu ia justru dinyatakan tidak lulus. Ketika kawan-kawannya yang lain berjingkrak gembira karena lulus, ia justru mendekam hampir sepanjang hari dalam bilik kandang ayam di belakang rumah kalau saja ibu tak membujuknya keluar.

Tak ada ujian susulan untuk peserta UN yang tidak lulus tahun itu. Demi memperoleh ijazah murni, maka mengulang lagi ia tahun berikutnya. Jadilah empat tahun ia belajar di SMP. Empat tahun berjalan kaki bolak-balik setiap pagi dan siang antara rumah dan sekolah.

Memasuki masa SMA, kabar dan perkembangannya tak lagi intens kuikuti. Aku mendapat beasiswa, mesti melanjutkan sekolah di Jakarta. Sesekali saja kami bicara via telepon. Itupun hanya berlangsung beberapa menit dan berupa basa-basi tak penting. Ialah yang tak mau bicara lama-lama denganku. Sering dalam pembicaraan, begitu terdengar aku mulai ingin bercerita tentang kegiatan di kampus atau di organisasi yang kuikuti, ia pasti buru-buru bilang akan pergi, atau mau melakukan sesuatu. Begitu juga bila ada hal mengenainya yang ingin kutanyai.

Di kelas akhir SMA, aku mencoba bertanya padanya mau buat apa setelah tamat. Pikirku, barangkali aku dapat membantunya. Ia bilang akan berhenti sekolah.

“Tak mau lanjut kuliah?”

“Sudah cukup di SMA.”

Aku terus mendesak. Sayang menurutku kalau hanya di bangku SMA. Kalaupun tidak lanjut, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Kutanyai lagi.

“Tidak buat apa-apa. Hanya mau rehat otak dulu,” jawabnya enteng.

Jawabannya membuatku heran, apa yang mau ia rehatkan. Toh, selama ini juga ia lebih banyak bermain-main.

“Baiklah. Rehat otak. Setelah itu, mau kan lanjut sekolah?” kubujuk ia penuh harap. “Setahun lagi aku lulus. Masalah biaya sudah lebih ringan.”

Ia mendengus.

“Tak mau lagi saya berhubungan dengan yang namanya baca tulis,” kilahnya.

Beralih aku menghubungi bapak, mengecek jangan-jangan merekalah yang menghalangi ia melanjutkan sekolah. Pertanyaanku dengan tegas dibantah.

“Siapa yang menghalangi. Lagipula tak ada cukup uang untuk ia bersekolah. Sudah bertahun-tahun curah hujan di sini tak menentu. Hampir semua mata air sudah mulai mengering. Mau cari makan saja susah.” Bapak berdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Atau, apakah menurutmu orang sedungu dia bisa dipercaya pihak-pihak pemberi beasiswa?”

Kalimat bapak tak sanggup kusahuti. Kata-kataku tersekat di kerongkongan. Itu pertanyaan paling menyesakkan telinga yang pernah kudengar dari mulut bapak.

Waktu bergulir begitu cepat.

“Mereka sudah berangkat,” kata bapak ketika aku menanyakan kabar adikku beberapa bulan kemudian.

“Berangkat?” shock, aku tak mengerti maksud bapak. “Ke mana?”

“Malaysia,” bapak menjawab datar. “Dengan beberapa kawannya yang lain.”

Nyaris histeris, aku tak lagi mendengar uraian panjang bapak. Bercampur aduk segala yang  berkelebat di kepala. Kenapa aku tak dikabari sebelum ia pergi. Kalau saja aku tahu, setidaknya kami bisa berembuk. Akan kuajak dia ke Jakarta. Akan kubantu ia mendapat perkerjaan yang layak. Mungkin bisa sebagai security di kampus atau asrama mahasiswa.

Meski kesal, aku mencoba menghubunginya. Ia malah dengan bangga mengabari, mereka sudah di Kalimantan. Siap menempuh perjalanan menuju Malaysia. Ia mengejekku yang katanya juara kelas bahkan juara sekolah tapi hanya bergerak di dalam negeri.

“Sewaktu di sekolah, saya bukan anak yang pintar-pintar amat. Tapi lihat, sebentar lagi tempat kerja saya sudah di luar negeri. Sementara kau sendiri bagaimana?” ia terus terkekeh. “Selamat berenang-renang di Indonesia,” ucapnya disertai ledekan mengakhiri percakapan.

Tiada lagi komunikasi kami sejak hari itu sampai setahun kemudian aku lulus, bekerja dua tahun di bawah kontrak beasiswa, dan sekarang sementara mengikuti kelas pembekalan guna melanjutkan kuliah di luar.

Di televisi, berita sudah beralih ke topik lain. Berusaha semampu mungkin menyibak air mata yang merebak, satu per satu pesan masuk dan panggilan di ponsel kubuka dan kubaca. Tak ada yang lebih pedih dari pesan masuk paling akhir.

Dari ibu. “Sudahlah. Tak usahlah ditanggapi. Jalani saja hidupmu dengan gembira. Bukannya semua sudah terbaca sejak awal. Kau memang tak pernah peduli dengan adikmu.”

Kupang, September 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s