Letter to My Daughter dan Kritikus Adinan

Berikut sedikit catatan setelah membaca dua buku karya dua orang sesepuh. Letter to My Daughter oleh Maya Angelou dan Kritikus Adinan oleh Budi Darma. Baiklah saya anggap kedua orang ini satunya ibunda satunya lagi bapak. 😀 Toh, dalam Letter to My DaughterMaya Angelou sudah membaptis saya sebagai salah satu anak perempuannya di antara anak-anak perempuan yang tersebar di bawah kolong langit ini, sementara Bapak Budi Darma adalah seorang yang mengulas karya-karya kami di salah satu sesi  MIWF 2017, sebuah kegiatan tahunan yang diadakan Rumata’ ArtSpace, dalam satu kalimat yang ia lontarkan sebelum kami tampil, ia menyebut kami sebagai anak-anaknya… â™¥  😊 😀

Mari kita mulai dari Letter to My Daughter. Maaf, saya tidak membuat ringkasannya lagi sebab  itu sudah ada di independent  dan allreaders selain beberapa tautan yang saya sertakan dalam tulisan ini. Sebaliknya karena buku ini serupa surat,  maka catatan saya pun dalam bentuk surat balasan singkat. 😊

Dear, Ibunda Maya Angelou

Terima kasih untuk suratnya. Telah saya baca sampai selesai. Terima kasih, bahwa saya adalah salah satu anak perempuan yang beruntung mendapat surat darimu. Terima kasih telah berbagi ceritamu yang luar biasa dengan kami, anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia, apalagi contohnya saya yang nama tempat asalnya saja tak pernah kau dengar atau bayangkan bahkan dalam mimpi sekalipun. 😀  🙂

Cerita tentangmu luar biasa. Sungguh mengagumkan. Betapa peristiwa-peristiwa yang singgah dalam hidupmu membuatmu semakin kuat dan tegar. Biarlah dari ceritamu kami anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia ini belajar meneladani semangat yang telah kau tunjukkan.

Salam hormat penuh kasih,

Anice  🙂 â™¥ 🙂

Baiklah, tak hanya berupa balasan surat. Sebelum mengakhiri, saya ingin juga mengutip bagian yang paling saya suka di bagian pengantar (hal. ix).

Hidupku sudah lama, dan memercayai bahwa kehidupan menyukai orang-orang yang hidup, maka aku berani mencoba banyak hal, kadang dengan gemetar, tetapi tetap memberanikan diri. Di sini, aku hanya memasukkan kejadian-kejadian dan pelajaran-pelajaran yang menurutku berguna. Aku tidak menjelaskan bagaimana aku menggunakan solusi-solusi karena aku tahu kau pintar, kreatif, banyak akal, dan kau akan menggunakannya di saat yang tepat.

Maya Angelou tahu saja, saya tak begitu suka membaca petuah-petuah yang bersifat memaksa semacam kata orang-orang yang bilang harus begini begitu seolah-olah manusia di dunia ini seragam segala-galanya sampai yang paling detail sekalipun.

Selanjutnya kita melangkah ke buku kedua, Kritikus Adinan, kumpulan cerita Bapak Budi Darma.

Buku ini saya bawa pesiar-pesiar ke Malang tapi tak sempat diselesaikan. Baru sempat dibaca lagi ketika sudah mulai memasuki masa liburan. Di hari pertama liburan, saya bawa jalan-jalan lagi ke Sekolah Lapangan Nekamese, salah satu tempat wisata di Kupang. Baru di sanalah sambil menunggu anak-anak wali salah seorang rekan guru , Ibu Pia M, yang sementara berenang, sempat saya buka lagi dan lanjutkan.

Kritikus Adinan di bawah lopo di area Sekolah Lapangan Nekamese

Kritikus Adinan dengan latar beberapa anak-anak wali Ibu Pia yang sedang berenang sementara anak-anak lainnya di bawah lopo seberang atau berjalan-jalan menikmati area sekitar SL Nekamese

Kritikus Adinan diterbitkan Bentang Pustaka pada Mei 2017. Pernah diterbitkan juga dengan judul Laki-laki Lain dalam Secarik Kertas pada tahun 2018. Di dalamnya terdiri atas 15 cerita. Dua di antaranya yakni Kritikus Adinan (yang menjadi judul buku) dan Bambang Subali Sudiman dapat dibilang cerita yang panjang.

Buku ini dibuka dengan pengantar yang menarik, Pengarang dan Obsesinya. Menceritakan tentang sang penulis ketika mengikuti beberapa kegiatan yang juga dihadiri para pekerja seni lain, membawanya kepada hasil perenungan terkait pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali singgah dan berkecamuk dalam kepalanya terutama mengenai hakikat   kehidupan.

Kesimpulan saya seusai menuntaskan buku ini adalah saya tak habis berpikir. 😀 Memang inilah seorang Budi Darma, dengan keistimewaan dan perspektifnya. Hampir semua cerita ini memberikan ending yang serupa. Menyisakan sesuatu untuk terus dipikirkan sendiri oleh pembaca. Kalau kau tak mau berpikir maka kau bingung. Ya, jelas bingung seperti halnya yang sedang saya alami sekarang. Cerita-ceritanya seperti hanya ada dalam mimpi. Seperti ketika kau mengalami mimpi di malam hari, dan sebagaimana dalam mimpi, film yang dihadirkan kepadamu agak tak begitu jelas alurnya, absurd, dari mana dan hendak ke mana, siapa sosok jelas dalam film itu dan apa maksud kehadirannya hanya menyisakan kepadamu pertanyaan-pertanyaan tatkala kau bangun di pagi hari. Agak berbau horor dan bernuansa gelap. Agak menyeramkan sebenarnya sewaktu membaca, tapi saya menikmati saja sebab cerita-cerita semacam inilah cerita bergizi bagi jiwa, membawa untuk lebih dalam lagi menghayati tentang hidup, bukan basa-basi yang sekadar lewat lalu lenyap.

Di luar itu, yang cukup mengganggu bagi saya — namun sebenarnya di situlah salah satu letak kelebihan sekaligus ciri khas Bapak Budi Darma — sewaktu membaca adalah nama-nama yang disematkan kepada tokoh-tokoh dalam ceritanya. Dalam beberapa cerita, karena tidak memberi nama secara langsung, misalnya Ani, Beni, Candra, Dedi, dsb, kita harus bersabar dan mengikuti saja sebutan panjang yang disematkan sang penulis seperti Penyair Besar, Penyair Kecil, Prajurit Terendah, Jenderal Tertinggi, Laki-laki Setengah Umur, Laki-laki Berbaju Hitam, Laki-laki Berbaju Putih, Laki-laki Tua Ompong, Laki-laki Bermata Besar-Berkuping Besar-Bertangan Besar. Agak ribet dan cukup membuat pusing juga bacanya. 😀 But, it’s ok. 😉 🙂

Demikian sedikit catatan terkait Kritikus Adinan dari Bapak Budi Darma. Btw, saya sendiri adalah salah satu pengagum bapak ini sejak mengenal yang namanya sastra. Jangan heran lantas melontarkan tanya, “kok bisa?” kalau kau pernah mendengar satu pengalaman konyol saya beberapa tahun silam, ketika hanya karena mau memotret langsung wajah bapak satu ini dengan kamera yang saya bawa, saya mesti melakukan aksi lompat pagar di belakang gedung IKJ atau DKJ entahlah saya tak begitu bisa membedakan antara keduanya (mungkin cerita khusus tentang ini akan ada di postingan lainnya 😀 :)). Salam hormat penuh kasih padamu, Bapak Budi Darma.

NB: Bonus foto saya bersama Bapak Budi Darma seusai sesi kami di MIWF 2017, 19 Mei 2017 di Museum I La Galigo, Fort Rotterdam, Makassar 😉 🙂 ♥

IMG20170519121150

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s