Seusai Tour Desa

Di mata air Kretan, Retraen, Amarasi Selatan

Kalau kemarin saya jadi tukang pos, maka hari ini saya beralih profesi. Sekalian juga mengistirahatkan badan, terutama pundak, yang sakit karena harus menahang setang motor kemarin sewaktu menjadi tukang pos. 🙂

Hari ini rumah kami dikunjungi sepupu-sepupu dari pihak mama. Empat anak dari tiga saudara perempuannya. Dua anak dari saudaranya Belo,  satu dari Soe, satu dari Oemofa. Keempat mereka sudah menjadi pemuda/i cakap. Salah satunya sudah dokter hewan,  sementara yang lainnya sementara di bangku kuliah, serta satunya lagi kemarin baru menyelesaikan masa SMA-nya.

Saya menikmati sekali hari ini menjadi guide mereka walaupun tour kami hanyalah berkeliling desa dengan berjalan kaki. Biar lebih menikmati suasana desa, katanya. Sambil berjalan saya mengandaikan alangkah indahnya bila desa tempat tinggal saya ini bisa jadi desa wisata. 😀 Sebenarnya bisa sekali. Tinggal kita mengelolanya saja. Toh, kemarin sewaktu saya berkeliling baru beberapa tempat saja di seputaran Amarasi, saya cukup menikmati bahkan dengan jalanan yang banyak berlubang itu. Saya yang orang asli sini saja suka melihat suasana desa-desa lain apalagi orang baru dari luar yang ingin sejenak meninggalkan kepenatan kota demi menghirup aroma desa. Hanya saja sayang, infrastruktur jalan di desa-desa ini memprihatinkan. Demikian juga penataan desanya. Rumah-rumah dan pekarangan yang saya lihat sekarang seolah hanya sekadar dibangun untuk melindungi diri dan hujan angin dan terik matahari. Tak lagi dirawat. Satu pot bunga di rumahpun bahkan tak ada, terutama di desa ini. Pekarangan rumahpun seolah sudah ditinggal beberapa bulan sehingga rumput dan semakpun bisa menjalar di mana-mana dan tak terjamah.

Saya ingat sewaktu saya SD, di desa ini hampir setiap rumah pasti ada bunga di depan rumahnya. Taman-taman di tempat-tempat umum seperti di gereja,  sekolah, klinik/postu, pasti selalu terawat. Setiap orang seperti berlomba di rumahnya harus tak boleh kosong tanpa tanaman. Bahkan pernah ada program desa atau kecamatan waktu itu, dari bagian PKK, mengharuskan setiap rumah untuk mengadakan dapur hidup. Saya ingat jelas suatu pagi,  para ibu PKK berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, memeriksa dapur hidup di setiap rumah. Bagi yang tak punya, akan dikenakan denda.

Selain itu, ada lagi satu tempat yang saya kira, kalau seandainya masih eksis di hari-hari ini,  bisa-bisa ia dijadikan tempat wisata. Tempat itu, sonaf, begitu kami menyebutnya, adalah bekas tempat tinggal raja dulu.

Lokasi itu cukup luas.  Di dalamnya terdapat beraneka pohon buah dan bunga. Aliran air dari sumber air yang terletak di seberang jalannya pun lancar. Rumput hias yang hijau nan cantik menghampar memenuhi halaman depan dan samping. Tanaman pandan yang tumbuh di sekeliling pinggiran kolam kecil di pekarangan samping pun tak mau kalah dengan bunga-bunga lain menguarkan aroma khasnya.

Walau tempat itu cukup bagus dan menarik, oleh mereka yang semestinya tinggal dan merawatnya justru meninggalkannya terbengkalai. Petugas yang kepadanya diberi wewenang menjaga tak setiap hari berada di sana. Makin lama tempat itu semakin tak terurus.

Hari ini bisa kau lihat, tak ada lagi sisa-sisa keindahan yang dulu sewaktu SD pernah saya sanjung dan kagumi,  sekaligus saya takuti karena konon rumah itu semacam ada penunggu rahasianya yang membuat anak-anak kecil yang berangkat atau pergi ke sekolah tak pernah mau melewatinya seorang diri kalau tidak dengan berlari atau bahkan orang-orang dewasa pun akan berpikir berkali-kali lipat untuk melewatinya di malam hari. Tempat itu semacam radley place  di mata Scout dalam novel To Kill a Mockingbird. 

Hari ini, sonaf adalah simbol keruntuhan desa yang dulu pernah saya sanjung dan saya kagumi. Sebagaimana sonaf yang terlihat mati dan kerontang, maka demikian juga penampakan rumah-rumah di sekitaran desa. Mereka sudah nampak tua dan mati. Hanya beberapa saja yang masih terlihat mau merawat pekarangan rumahnya entah dengan menanam sayuran, entah dengan meletakan beberapa pot bunga di depan rumah, atau dengan cara-cara lainnya yang membuat suasana dan penampakan rumah menjadi lebih hidup.

Oh ya, tentang foto di atas, adalah satu-satunya yang sempat saya abadikan sebelum baterai hp saya melemah dan mati total. Ketiga orang tersebut adalah sepupu laki-laki saya dari tiga saudara perempuan ibu. Latar fotonya adalah mata air Kretan, sumber air yang kira-kira berjarak 200-300 meter dari rumah kami.

Anak-anak ini, selain manis-manis budi bahasa, laku, dan hati mereka (poin penting), sebagai pengagum Nicholas Saputra dan Chris Pine, saya akui cucu-cucu Bai Lewi dan Nene Pina tak boleh diragukan ketampanannya (sekaligus kecantikannya bagi yang cewek, eh, Sang Nona tak sempat saya ambil fotonya karena lowbat itulah) 😉😊😇

Iklan

One comment on “Seusai Tour Desa

  1. darkdaka berkata:

    We appreciate your work , We also appreciate if you FOLLOW US which inturn increases the amount of LIKES on your FRESH posts . The people on our TEAM like and SHARE good posts regularly.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s