Cuplikan Cerita Lentera, God's Story, Kegiatan Seni dan Budaya, Merayakan Keseharian

Di Balik Lomba Musikalisasi Puisi antar Guru pada Semarak Bulan Bahasa 2017

Semarak Bulan Bahasa di Kupang rutin diadakan oleh Kantor Bahasa NTT.  Kalau setahun sebelumnya puncak acara dilaksanakan di Lippo Plaza Kupang, maka tahun ini tempatnya di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

IMG-20171027-WA0038.jpg
Kepsek SMA Lentera Harapan Kupang (ketiga dari kanan) turut hadir memberikan dukungan. Foto ini diambil seusai babak penyisihian, Jumat (27/10)

Ada beberapa hal yang dilombakan (bagusnya lomba-lomba itu merangkum beragam kategori dari anak usia dini hingga guru-guru😘😍) antara lain: mewarnai untuk anak Paud, orasi untuk siswa SD, menulis resensi untuk siswa SMP, cerdas-cermat untuk siswa SMA, IHaNi untuk mahasiswa S1, dan musikalisasi puisi untuk guru SMP/SMA/SMK/MA (sayang guru TK/SD tak disertakan).

Tim Musikalisasi Puisi SMP dan SMA. Mereka antara lain: Nathaly, Dwi, Elise, John (SMP) dan Jessie, Debima, Daud, dan Zimri (SMA)

Kalau tak salah, menurut saya baru kali ini kegiatan lomba-lomba dari Kantor Bahasa NTT ikut melibatkan guru-guru. Untuk kategori ini menurut saya patut diapresiasi👏👏👏. Dengan demikian guru-guru yang selama ini punya potensi dan menyimpannya diam-diam akhirnya terungkap juga (ini hasil pengamatan pribadi terhadap kawan-kawan saya sendiri👀👍👏🙏😄.

Dua peserta lomba menulis resensi, Ayu Oenunu dan Jessika Rambu

Terkait lomba-lomba untuk semarak bulan bahasa ini, dari Lentera Harapan Kupang, ada siswa SD ikut lomba orasi, siswa SMP siap mengikuti lomba menulis resensi, siswa SMA harusnya bisa ikut cerdas-cermat hanya telat memberikan informasi sehingga tak jadi, serta para gurunya juga langsung menyambut antusias lomba musikalisasi. Bahkan untuk yang terakhir, saking antusiasnya, saya sampai harus beberapa kali ‘deal’ dengan Pak Ardy, salah satu panitia dari Kantor Bahasa yang menjadi narahubung lomba musikalisasi ini.

Ceritanya, pada saat brosur lomba itu dibagikan di grup WA, sorenya seusai doa pulang, saya langsung didatangi lima kawan saya. “Kami mau ikut lomba musikalisasi puisi,” hampir serempak suara mereka ditambah lagi dengan mata yang berbinar-binar.

Respons cepat mereka saya sambut gembira tentunya. Hanya sayang bagaimana mungkin lima orang sementara di brosur tertulis maksimal empat orang untuk satu tim.

Ini mereka lima sekawan 😄

“Tak bisakah? Kami mau tampil seangkatan soalnya. Mewakili guru SMA.” 😄😅😄.

Oh, ya, SMA. Baik. Kalau SMP langsung terbentuk saat surat itu tiba di tangan kepsek berhubung ia juga adalah seorang pemusik andal😄. Saya menerima surat itu langsung dengan nama-nama anggota tim MP. Lengkap empat orang termasuk saya.

Nah, ini SMA harusnya juga 4 orang malah 5. Karena memang diminta jadi PIC, saya kemudian bertanya kepada Pak Ardy via WA. Jawabnya, akan dibicarakan di temu teknis nanti. Saya tahu pasti itu sebenarnya sebuah keberatan yang halus🙏😄.

Esoknya atau beberapa hari setelah itu, ada lagi pengajuan, dari SMA ada lagi yang mau ikut lomba musikalisasi puisi. Wah, sementara di persyaratan satu sekolah hanya boleh kirim satu tim. Bagaimana ini?

Pada suatu hari di sela-sela satu kegiatan literasi di salah satu SMP negeri di Kupang, tak sengaja saya bertemu Pak Ardy, sang narahubung lomba musikalisasi puisi, dan mencoba menanyakan terkait
di brosur persyaratan lomba ditulis peserta hanya boleh berjumlah 2-4 orang per tim, sementara kami malah siap lima, lalu satu sekolah hanya boleh mengirimkan satu tim, kami malah minta kalau boleh dua tim.

Sebagaimana jawaban kemarin melalui HP, akan didiskusikan di temu teknis. Atau kalau tim yang satunya lagi mau tampil, boleh sebagai bagian ekshibisi di final nanti. Ah, bagaimanapun itu sudah penolakan yang halus. Wajarlah. Itu sudah terpampang di brosur yang tersebar. Masakan yang sudah tertulis harus diotak-atik lagi?

Maka jadilah demikian. Salah satu dari mereka yang 5 orang itu haruslah dengan rela melepaskan diri. Lima sekawan, sebutan bebas saya saja untuk mereka😄, tak lagi utuh kali ini.

Karena sudah fix empat orang dalam tim mereka, latihan pun dimulai. Setiap sore sepulang sekolah, di salah satu ruang kelas paling ujung itulah mereka pakai. Baru latihan permulaan saja mereka sudah memukau sampai-sampai hampir menciutkan semangat guru-guru SMP mengikuti lomba ini. Begitu pengakuan yang saya dengar.

Namun begitu, adalah tanggung jawab dan niat hati mereka dari awal untuk mengikuti lomba ini. Tim SMA sudah beberapa hari lebih dulu ketika tim SMP baru memulai latihan perdananya. Karena ada satu undangan kegiatan lain di Jakarta yang sebelumnya saya pikir belum pasti ternyata jadi dan saya mesti berangkat sementara latihan persiapan lomba mesti tetap berjalan. Lomba tinggal beberapa hari lagi. Saya minta digantikan dan merekomendasikan beberapa kawan saya. Saya percaya mereka bisa bahkan jauh di atas saya dalam hal berlagu.

Di hari diadakan temu teknis, baru kami tahu, seharusnya setiap tim mempersiapkan 2 dari 4 puisi yang sudah dimusikalisasi. Alasannya, puisi untuk penyisihan berbeda dengan nanti di babak final. Siapkan 2, siapa tahu masuk final, begitu katanya. Nah, selama ini kawan-kawan hanya mempersiapkan satu. Jadilah, dalam 2 hari itu mereka ngebut membuat musikalisasi puisi yang satu lagi untuk, yah siapa tahu masuk final. Cukup menegangkan dan banyak kejadian lucu selama 2 hari itu. Walau saya tidak masuk tim, saya tetap ada bersama mereka memberi dukungan tentunya serta ikut mengalami momen-momen itu terutama di tim SMP.  Momen bagaimana ketika ada satu nada yang sudah teramat bagus dan sangat bagus, demikian kami menyepakatinya, tiba-tiba terlupakan tanpa sempat direkam dan tiada satu orang pun di antara kami berlima mengingatnya. Sama sekali seakan tak pernah ada, tak pernah dibuat. Berbagai upaya dilakukan tapi sungguh nada itu tak kunjung kembali. Rasanya, saat itu kami ingin menangisinya bersama-sama😄😅😂.

Ada lagi ketika salah seorang anggota bertanya, apakah musikalisasi puisi harus ditampilkan seperti orang kerasukan? 😅😂😄 Saya menjawab, saya pun kurang tahu. Beberapa kali (dua kali tepatnya😄) mengikuti workshop musikalisasi puisi baik di Kupang bersama seorang bernama Fileski yang awal-awal ia saya kagumi tapi sekarang sudah tak lagi 😅 maupun baru-baru ini di Jakarta tepatnya di Salihara pada kegiatam LIFEs bersama penyair Adimas Imanuel dan pemusik Sri Hanuraga dan para pemateri ini tak pernah menyinggung sedikitpun tentang hal-hal samacam kerasukan dan saya pun lupa atau memang tak sempat berpikir untuk menanyakan hal itu. Begitu juga kebersamaan singkat pernah semobil dengan dua orang kawakan, Ari-Reda sewaktu MIWF 2017 (kalau ini mah pamer namanya 😎😅), tak ada unsur-unsur kerasukan dalam musikalisasi puisi mereka. Kawan kami itu, sebut saja P, yang awalnya tak suka ada unsur-unsur begituan di dalam penampilan musikalisasi puisi mereka, ketika satu waktu dirasa memang sepertinya boleh juga dicoba kemudian memeragakan salah satu kutipan yang sontak membuat kami terperangah. Itu bukan dirinya. Sungguh tak bisa dipercaya. Tak mungkin hal seperti itu akan ditampilkan di panggung. Sebab kalau yang begitu dipentaskan di panggung, percaya saja, itu bukan lagi namanya musikalisasi puisi tapi sudah akan berubah nama jadi lawakan paling konyol sepanjang sejarah😄😅😂😎😅😂.

Sudah. Demikian tentang masa persiapan. Kita akan lanjut dengan masa pementasan.

Babak penyisihan berlangsung hari Jumat, 27 Oktober 2017. Tim SMP mendapat nomor undian ke-11 sementara Tim SMA di nomor undian ke-16. Berhubung hari itu adalah hari efektif, maka kelas tetap tak bisa ditinggal pergi begitu saja. Kelas harus tetap berjalan. Mesti ada yang memantau, kita hanya pergi saat mau tampil saja kemudian bisa kembali. Kebetulan tempat lomba tidak begitu jauh dari sekolah. Paling keluar dari kelas 20 menit untuk kemudian kembali. Maka harus ada di antara mereka delapan orang itu yang punya jam kosong untuk bisa bergantian berjaga dan memantau di tempat lomba. Ternyata setelah cek and ricek, urusannya malah jadi agak ribet dan pelik.

Disepakati saya yang sekalian mendampingi siswa mengikuti lomba sekalian memantau dan melaporkan perkembangan lomba musikalisasi puisi. Toh, semua lomba ada di satu lokasi yakni di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

Hari Jumat, tanggal 27 Oktober 2017 itu, saya mendampingi dua siswi SMP mengikuti lomba menulis resensi yang katanya akan dimulai pukul delapan pagi sehingga sudah dari pagi-pagi di sesi satu saya izin tidak masuk kelas.
Karena sementara para siswa mengikuti lomba menulis resensi yang beberapa jam itu tak mungkin saya berjaga di pintu mengawasi mereka. Sayalah yang akan memantau waktu kapan perlombaan musikalisasi puisi dimulai, bagaimana perkembangannya, sudah di nomor undian ke berapakah penampilan yang sedang berlangsung, dsb. Saya kurang tahu bagaimana tingkat ketenangan hati mereka sementara mengajar di dalam kelas dan mengikuti laporan saya yang masuk dari menit ke menit, tapi saya merasa mereka sepertinya ada juga sedikit debar-debarnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ayu dan Jessika, dua siswi peserta lomba menulis resensi yang ternyata jadwal lomba mereka diundur karena ruangan mereka masih dipakai adik-adik Paud untuk lomba mewarnai duduk di samping saya dan dengan gelisah terus bertanya di mana bapak-ibu guru yang ikut lomba musikalisasi puisi. Sudah beberapa tim yang tampil dan terus berlanjut tanpa henti. Mereka merasa was-was sebab sesuai pengumuman peserta yang tidak muncul pada panggilan ke-3 akan didiskualifikasi. Mereka takut apabila itu terjadi pada bapak-ibu gurunya.

Hingga di nomor undian 6 lalu melangkah ke nomor 7, melihat bapak-ibu gurunya belum tampak, dua anak ini beranjak mengecek di luar, bahkan karena hari itu memang saya izinkan membawa HP, salah satunya sampai menelpon atau entah mengirim pesan kepada wali kelasnya yang juga adalah salah satu dalam tim musikalisasi puisi ini. Bayangkan, betapa mereka yang seharusnya lebih berkonsentrasi untuk lomba mereka sampai ikut merasa was-was, nomor urut bapak ibu gurunnya sudah mau dipanggil tapi kok tak ada tanda-tanda tampak.

Giliran nomor undian 8 tampil di mana peserta nomor 9 harus berdiri di samping panggung untuk bersiap. Sementara nomor 8 tampil dan nomor 9 sudah berdiri di tempat yang diharuskan, saya mencoba mencari tanda-tanda penampakan nomor undian 10. Tapi sepertinya mereka tidak hadir.

Kalau tadinya saya hanya duduk dan berdiri di tempat sambil sesekali mengambil gambar, kali ini saya bangkit dan berdiri di dekat pintu agar bisa menengok ke luar. Kawan-kawan saya belum juga nampak. Saya kirimkan pesan ke grup. Ada yang membalas. Mereka sementara di perjalanan menuju tempat lomba.

Tak lama kemudian, terdengar dari pelantang, nomor undian 9 dipanggil tampil. Nomor 10 bersiap di samping panggung. Tiga kali digaungkan, tak juga ada tanda-tanda muncul peserta nomor undian 10. Pada waktu itulah saya lihat Ayu dan Jessika muncul di lobi dengan muka berseri menunjuk dua gurunya yang baru saja tiba. Mereka masuk tepat nomor undian 11 diminta bersiap di sisi kanan panggung. Sementara nomor 9 tampil, dua kawan yang lain masih juga belum tiba. Saya menelpon tapi tak diangkat. Peserta nomor undian 9 hampir selesai ketika terlihat dua kawan lain dalam Tim SMP ini muncul lagi-lagi didahului dua siswi kami yang juga belum mulai lomba menulis resensinya. Keduanya datang dan tak sempat duduk ataupun mengambil jeda sejenak. Langsung mengeluarkan gitar dan maju di panggung karena memang sudah dipanggil tampil. Tim ini kalau boleh saya bilang sebagai orang Kupang, dong tarek napas di atas panggung. 

Sementara mereka tampil, muncullah Tim SMA yang mendapat nomor undian 16. Mereka berempat datang bersamaan. Ada serta mereka sang kepsek. Kalau tim SMP tadi datang dengan motor datangnya, maka kemungkinan tim SMA ini dengan mobil. Peduli amat mau pakai apa, yang penting lega sudah tugas saya sebagai pemantau dan reporter.

IMG20171027105146
Tim SMP dengan puisi “Padamu Jua”
IMG20171027104909
Mumpung lomba menulis resensi belum dimulai, dua siswi ini ikut merekam penampilan bapak-ibu gurunya

Selesai tim SMP ini tampil, baru saya dengar cerita, dua orang kedua ternyata sempat nyasar cukup jauh sebelum akhirnya mereka berani bertanya di mana letak taman budaya yang dimaksud🙈🙉😄😅.

IMG20171027110635
Tim SMA dengan puisi “Doa”

Penampilan mereka di tengan keterbatasan itu, puji Tuhan, alhamdulillah,  memuaskan. Sujud syukur, dari semua peserta, mereka keluar sebagai peserta ke-3 dan ke-4 terbaik di babak penyisihan. Mereka akan tampil lagi di babak final, Sabtu (28/10). Membawakan musikalisasi puisi yang baru disiapkan setelah hari temu teknis, dua hari. Ajib.

Bila di babak penyisihan tim SMP membawakan puisi Padamu Jua, maka di babak final mereka akan menampilkan puisi Doa. Sedangkan tim SMA di babak penyisihan dengan puisi Doa, di babak final mereka maju dengan Kembalikan Indonesia Padaku. 

Penampilan mereka di babak final ini bagi saya menakjubkan mengingat waktu latihan hanya dua hari di jam sepulang sekolah. Mengenai penampilan mereka, akan saya tampilkan videonya. Silakan menyaksikan sendiri dan berikan penilaian Anda.

Tentu video ini bukan untuk dicari jumlah like terbanyak atau komentar terbaik😄😍. Ini hanya sebagai apresiasi saya atas kerja keras mereka sekalipun mereka bukan menduduki juara 1, 2, 3, dst, meski memang Tim SMP menjadi pemenang harapan 2 sementara Tim SMA tidak di dalam jajaran itu, toh itu hanya masalah angka. Urutan atau angka itu bukan ukuran atau penentu. Demikian yang saya tahu dan saya percayai dan juga mungkin Anda sekalian, bukan? 😄😎

Catatan, untuk video kedua (tim SMA) kalau kau menemukan ada satu kejanggalan terkait isi puisi di situ, abaikan saja. Kesalahan itu sudah diakui sang pengucapnya. Kami sudah menganggapnya sebuah momen yang punya arti tersendiri bagi kami. Katanya, dari situ penampilan selanjutnya sudah jadi blunder😄😊. Semoga Bapak Taufik Ismail tidak marah. Satu hal yang lucu adalah, ada satu komentar di antara kawan-kawan, jangan-jangan itu ramalan buat Jakarta😅😂mengingat Jakarta paling santer muncul di media-media dengan berbagai masalahnya seolah-olah Indonesia hanyalah Jakarta (iya, dong. itu kan ibukota🙈🙉). Mungkin begitu🙊😄.

Ada juga hal-hal indah yang tak lupa mau saya pahatkan. Status WA satu kawan saya. Namanya juga status WA, akan kau lihat di mana lagi kalau sudah lewat 24 jam?  😎😎😎

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Di Balik Lomba Musikalisasi Puisi antar Guru pada Semarak Bulan Bahasa 2017”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s