God's Story, Merayakan Keseharian

God Alone

God Alone

God and God alone

Created all these things we call our own

From the mighty to the small

The glory in them all

Is God’s and God’s alone

For God and God alone

***

Sabtu, 30 Desember 2017 @Nunbaun, Kretan.

Tuhan, tak ada potret tentang sesuatu itu. Tapi kutahu Kau mencatat. Kekalkanlah. Kekalkanlah. Tak ada alasan bermegah ataupun mengisut. Berdirilah saja tegak. Tataplah mereka. Mungkin saja mereka melihatmu dan bersyukur telah pernah ada kau. Tunduklah lalu tengadah. Tangkupkan tangan. Sebab segala adalah dari Dia oleh Dia dan kepada Dia.

🙏🙏🙏😇😇😇🙏🙏🙏😇😇😇🙏🙏🙏

Iklan
Catatan Buku, God's Story, Merayakan Keseharian

Bahan Bacaan Liburan Natal

Sekilas tentang buku-buku yang direncanakan baca dan dituliskan kembali:

IMG20171227190819.jpg1. Drama Doktrin oleh Kevin J Vanhoozer. Buku ini merupakan Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik pada Theologi Kristen.  Saya baru menengok bagian pedahuluannya. Cukup banyak dan agak berat isinya. Baru baca pendahuluan tapi serasa sudah membaca pembahasan babnya. Selama membaca buku ini, pensil selalu di tangan kanan saya. Kenapa? Untuk saya menandai dan mencoret-coret bagian pinggirannya demi saya bisa mengerti.

Dari bab pertama, ditekankan kepada ingin menjelaskan secara tepat apa yang telah Allah kerjakan di atas panggung sejarah dunia. Ialah Kabar Baik. Injil adalah “drama terbesar yang pernah dipanggungkan….” Ada panggung kosmik dan alur cerita kovenan; ada konflik; ada klimaks; ada penyelesaian. Kemudian beberapa poin berikut yang saya buat terpisah: 1) Bila teks Akitab bersifat narasi maka, drama/teater, sebaliknya lebih menunjukkan daripada menceritakan. Kita pun mesti tak membuat perbedaan tegas antara ‘kata’ dan ‘tindakan’. Bagaimanapun teater adalah ‘bahasa tindakan’, dan tugas dramawan adalah ‘mengajar melalui tindakan’ (hal 64) 2) Sementara dunia berada dalam drama penebusan yang terus menerus berlangsung ini, dunia yang menjadi panggung teater kita, apa adegan kita sebagai aktor yang mesti kita mainkan sementara menurut pendapat buku ini, Allah dan manusia adalah aktor dan pemirsa secara bergantian?  (hal 74) 3) Dunia adalah teater tindakan, bukan hanya perenungan; sebuah teater bagi operasi-operasi di mana perang kosmis sedang diperjuangkan di banyak medan budaya. Karena itu drama doktrin melibatkan pergumulan mengenai cara terbaik untuk mempertontonkan kemuridan seseorang” (hal 78).

2. Belum Kalah oleh Avent Saur. Buku ini adalah sekumpulan esai penulis selama menjalankan panggilannya sebagai imam yang juga bekerja sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Flores. Berisi tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di koran tersebut mengenai orang-orang yang didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan di sekitaran daratan Flores. Orang-orang tersebut disebutnya dengan orang-orang yang Belum Kalah. Diceritakan bahwa sekalipun sudah ada himbauan agar tidak ada lagi pemasungan, namun di Flores masih dijumpai banyak sekali orang-orang sakit yang dipasung, ataupun dibiarkan berkeliaran tak terurus baik oleh keluarga maupun pemerintah melalui dinas sosial. Tanggapan sekilas saya, buku-buku dengan isi semacam ini langka, pemahaman yang dibagikan kepada pembaca baik, mengajak kita agar tidak serta-merta membuang muka terhadap orang-orang belum kalah. Hanya saja teknik pembahasaan dan penyusunan kumpulan esai ini karena hanya sekadar melampirkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran membuat bacaan ini jadi sedikit membosankan bagi saya.

3. Vegetarian, sebuah novel dari penulis Korea Selatan, Han Kang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Deborah Smith. Buku ini terdiri dari tiga bagian cerita. Menceritakan tentang satu orang tokoh dari tiga sudut berbeda. Bagian pertama dari sudut pandang sang suami, bagian kedua intens bersama sang ipar laki-laki, dan yang ketiga bersama saudara perempuannya. Dari tiga bagian cerita ini, saya lebih menyukai bagian pertama karena menceritakan tentang pergumulan suaminya ketika pertama mendapati tingkah aneh istrinya (meski dari awal perkenalan sudah ada tampak gejala-gejala keanehan itu). Satu bagian yang paling berjejak dalam kepala saya yakni terdapat pada paragraf 3 halaman 57.

It was early in the morning, still dark. Driven by a strange compulsion, I pulled back the blanket covering my wife. I fumbled in the pitch-back darkness, but there was no watery blood, no ripped intestines. I could hear the other patient’s sleeping breath coming in little gasps, but my wife unnaturally silent. I felt an odd trembling inside myself, and reached out with my index finger to touch her philtrum. She was alive. (Vegetarian, p 57)

4. The Goldfinch oleh Donna Tartt. Buku ini baru beberapa halaman awal yang saya baca meski sudah beli beberapa bulan lalu. Rencananya mau diselesaikan di masa liburan ini.

5. Sai Rai oleh Dicky Senda. Sai Rai adalah sekumpulan cerita pendek, dan penulisnya ini adalah juga salah satu anggota di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, satu komunitas tempat saya bergabung. Bukunya sudah selesai saya baca. Niatnya mau buat ulasan. Tapi lihat saja sendiri. Seperti yang saya tuliskan di atas, liburan natal begini mana sempat duduk untuk baca-baca kembali dan buat tulisannya.

6. Kekekalan oleh Milan Kundera. Novel ini terbilang unik. Sudah selesai saya baca. Awalnya agak rumit dimengerti, tapi perlahan-lahan akhirnya bisa diikuti dan dimengerti mau dibawa ke mana cerita ini. Membaca buku ini, ponsel pintar saya harus selalu di dekat saya. Kenapa? Tentu, saya butuh referensi.

7. Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita oleh Bayu Pratama. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek, dengan penulisnya adalah salah satu anggota Komunitas Akar Pohon, sebuah komunitas sastra di Mataram. Ia juga salah satu peserta yang lolos dalam seleksi emerging writers MIWF bersama dengan saya tahun 2017. Hanya ini buku yang terpakai sesuai tujuan. Niatnya dibaca dan terlaksana. Cerita-cerita ini rata-rata sudah pernah diterbitkan di beberapa media baik cetak atau online. Sebagian sudah saya pernah baca juga sebelum buku ini diterbitkan.

Cuap-cuap, Merayakan Keseharian

Baca Buku di Momen Natal?  

Gaya doang bawa banyak buku. Niatnya baca-baca dan tulis-tulis selama liburan. Baca-baca yang belum dibaca, dan tulis-tulis yang sudah dibaca sebagai pengingat. Nyatanya, ah, tahulah kalau liburan di masa natal, beda kalau liburannya Juli. Namanya saja liburan masa natal. Tentu saja akan ada banyak acara natalnya. Natal umum, natal rayon ini rayon itu, natal keluarga ini keluarga itu :D.
Banyak bertemu sanak, kawan lama, dsb. Kalau mau dihitung, yah, anggap saja nilainya sama dengan membaca beberapa buku begitulah. Ataupun kalau beda, baca-baca dan tulis-tulis tentang buku-buku ini setidaknya masih bisa ditunda tak apalah. Untuk buku-buku itu, masih ada kesempatan lain. Tapi semacam bertemu mereka yang terpencar di sana sini, mengunjungi beberapa tempat baru ataupun tempat lama yang sudah berubah jadi lebih baik, serta mengalami berbagai hal tepat di saat udara sejuk begini (ini mah tak bisa digambarkan😄) tak ada di luburan-liburan lain. Momen-momen model begini hanya bisa kau temukan di liburan masa natal ini.

***

Catatan ini saya buat di salah satu kebun jagung milik keluarga. Pemandangannya langsung ke arah pesisir laut selatan yang di pinggiran pantainya sedang dibangun jalan negara di masa pemerintahan presiden Jokowi.

Di foto ini nampak ba’i saya, paman dari bapak. Ia baru saja selesai mencabuti gulma-gulma yang sedang tumbuh liar menyaingi tanaman jagungnya dan sedang duduk beristirahat. Kesehariannya hanya begitu dan begitu. Tak pernah ia tinggal seharian di rumah kecuali sakit. Saya melihatnya dan berpikir, sepertinya ia tak pernah bosan dengan rutinitasnya. Mungkin, sudah begitu bentuk ibadahnya.

God's Story, Merayakan Keseharian

Pementasan Drama dalam Ibadah Natal GMIT Siloam Kretan Retraen 2017

Ibadah natal di GMIT Siloam Kretan Retraen kali ini ditutup dengan pementasan drama singkat. Naskah ceritanya diambil dari kisah Alkitab. Tidak berkaitan langsung dengan cerita kelahiran Yesus Kristus tapi masih berhubungan, apa dan bagaimana harusnya lakumu di muka bumi ini kalau Kristus sudah menebus dan membebaskan kamu dari hukuman kekal itu? Salah satu contohnya adalah “Teladanilah sikap orang Samaria yang murah hati”.

Puji dan hormat hanya kepada Tuhan🙏 Andi Tnunay dalam pementasan drama singkat di acara Natal GMIT Siloam Kretan Retraen 2017

Naskah ini dipilih dan dikembangkan para Pemuda GMIT Siloam Retraen. Pemainnya pun dari mereka semua. Salah satu pelakonnya adalah adik laki-laki saya. Ia berperan sebagai orang yang sedang bepergian dan menjadi korban penyamun yang kemudian ditolong oleh orang Samaria itu.

Ini adalah pertama kali saya melihatnya bermain lakon. Untuk ukuran seorang pemula, saya menganggapnya ia luar biasa. Rasa percaya dirinya cukup mengagumkan. Menjadi modal utama selama ia berakting. Gerak-gerik tubuhnya, gaya berjalan caranya berdialog, menjadi lebih hidup, nyaris lebih hidup dari tokoh yang ada dalam cerita alkitab.

Karena aktingnya selama mereka membawakan lakon singkat tadi, ia malah seolah-olah yang jadi pemeran utamanya. Aneh bukan? Ya, karena mestinya yang pemeran utama dalam cerita itu adalah Si Orang Samaria itu. Ini justru kebalikannya. Saking menonjolnya si orang bepergian yang jadi korban itu, ia malah yang akhirnya seakan disorot-sorot sebagai pelaku utama😀😄.

Drama mereka meski singkat, bersyukur bisa menarik perhatian. Sayang, perhatian penonton lebih terarah kepada peristiwa atau adegan, bukan kepada pesan yang ditinggalkan. Ditambah lagi saat pementasan bertepatan juga dengan mati lampu sehingga beberapa bagian lakon itu kurang jelas diikuti. Para penonton tidak bisa melihat dengan jelas siapa para pelakon yang terlibat dan apa saja tugas mereka dalam lakon tersebut.

Meski demikian, lakon yang dipentaskan berlangsung baik hingga selesai. Meski mati lampu, jemaat masih dengan setia duduk di tempat masing-masing dan mengikuti pementasan tersebut.

Sempat saya jepret beberapa adegannya, sayang hampir semuanya gelap karena mati lampu itu. Sesuai rencana ingin merekam (buat video) kerena permintaan si bungsu yang adalah mahasiswa baru karena kali ini ia tidak merayakan natal bersama kami dan ingin melihat penampilan kakaknya, tapi karena gelap maka rencana itupun tak jadi dijalankan. Biarlah ia nanti melihat hasil jepretannya saja. Foto di atas itulah satu-satunya yang bisa diperlihatkan karena sisanya gelap semua. Semoga ia melihat dan ikut merasa bersyukur sebagaimana malam ini saya melihat dan bersyukur kepada Tuhan atas satu talenta kecil yang Ia percayakan pada adik saya yang sering terkena serangan asma ini.

Segala puji dan hormat dihaturkan kembali hanya kepada-Nya.

Cuap-cuap, Merayakan Keseharian

Menyinggahi Bukit Cinta Penfui

Sudah beberapa konsep yang mau diposting. Sayang, kekuatan sinyal tak mendukung untuk menyertakan foto. Sementara kalau postingan tanpa foto, berasa seperti ada yang kurang.

Btw, apa yang mau saya tulis sebenarnya. Oh, ya, tentang salah satu bukit di daerah Penfui. Bukit itu oleh orang-orang sekarang lebih dikenal karena keindahan dan pemandangan dari sananya dibanding sejarahnya. Padahal, bukit itu menyimpan sejarah yang cukup bernilai.

Di sekitaran bukit itu banyak sekali terdapat gua-gua kecil dan lubang perlindungan juga tiang gantung. Bukit itu sangat luas. Sejauh memandang, kita dapat melihat hampir keseluruhan daerah kota dan kabupaten Kupang di bawahnya.

Saya pernah mendengar secuplik cerita tentang perang Penfui dari bacaan internet kalau tak salah. Hanya saya tak menyangka daerah perlindungan itu tepat di bukit yabg disebut orang bukit cinta itu. Aneh, bukit bersejarah itu lebih dikenal dengan embel-embel cintanya daripada sejarahnya. Kenapa tidak dinamakan saja bukit perlindungan atau apalah yang setidaknya mengingatkan orang akan sejarah perjuangan orang-orang Kupang mempertahankan tanah leluhurnya.

Yah, cukup sekian dulu cuap-cuap kali ini. Btw, selamat natal untuk kita semua. Salam damai🌱🌴🌷🍀🌵🌿🌾😊

God's Story

Belajar Mengerti

Mama saya 12 bersaudara. Sama seperti jumlah anak-anak Yakub. Bedanya jumlah laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga mama, mereka ada empat laki-laki dan delapan perempuan. Di antara mereka ada yang kembar. Salah satunya mama.

Semalam saya mendapat kabar, salah satu om dipanggil Tuhan. Sewaktu mendengar itu, saya tak tahu berespons apa. Lebih condong ke datar-datar saja. Toh, selama hidup, saya tak pernah bertemu beliau. Ia sudah merantau di Jakarta sebelum saya lahir, bahkan ketika adik-adiknya masih bocah, contohnya mama saya baru 12 tahun, dan bertahun-tahun di sana tak kembali.

Mama dan bapak menikah hingga lahir saya pun, mungkin ia tak pernah tahu. Nama saya pun mungkin tak pernah ia dengar. Entahlah.

Ia bekerja di Jakarta dan tak pernah pulang. Selama saya kuliah di Tangerang dan sering bolak-balik ke Jakarta pun, kami tidak pernah bertemu.

Pernah suatu kali libur natal tahun baru, saya bertanya ke sana-sini nomor hp-nya. Dapat. Menelpon untuk kalau bisa sempat berkunjung ke sana. Beberapa kali telpon. Katanya ia atau putranya atau mungkin satu anak buahnya (ia termasuk salah satu bos, kata orang begitu, di tempat kerjanya). Tapi ditunggu-tunggu, hari-hari libur makin menipis.

Syukur ada kawan kamar saya, orang Batak tinggal di Bogor, mengajak saya berlibur di rumahnya. Keluarganya yang baik hati itu membuat saya seperti berada di tengah keluarga sendiri. Mengisi hari libur dengan mengunjungi hampir semua saudara bersaudara mereka selama masa natal dan tahun baru di sana. Tak hanya berkunjung ke rumah-rumah bapa-mama tua mudanya, tapi juga beberapa tempat wisata sekitaran Bogor. Saya terlalu menikmati masa liburan di Bogor hingga lupa kalau sempat berharap pergi berlibur di rumah kakak mama itu. Ketika libur tinggal beberapa hari lagi, datang telpon dari om. Meminta maaf karena tak sempat menjemput. Saya iyakan saja. Toh, saya sudah berlibur di rumah kawan saya. Saya maklumi saja. Mungkin ia sibuk. Lagipula, siapa saya. Adik kandungnya sendiri ia tak lagi tahu-menahu, apalagi saya.

Sejak itu anggapan yang dulu pernah ada semakin kokoh. Menyebut ia, siapa itu? Apakah ada pengaruh? Tidak. Bahkan sekuku pun. Sudah saja. Mari bicara yang lain.

Dan, segala baru terang hari ini, ketika saudara-saudaranya yang lain berkumpul dan saling bertukar cerita. Baru saya tahu, ternyata ia punya alasan kenapa ia begitu abai terhadap saudara-saudarinya apalagi anak-anak mereka bahkan ayah-ibu kandungnya sendiri. Saya baru belajar mengerti. Yah, sedang belajar mengerti meski tak sepenuhnya setuju dengan tindakannya. Hanya mau belajar mengerti saja, dan berusaha menarik kembali rasa marah saya.