Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Kapsul 6: Bertemu Pak Parapak dan Ibu Ban Garcia

IMG20180131155526.jpg

Sore tadi sepulang sekolah, kami guru-guru SDH dan SLH berkesempatan bertemu dengan Pak Jonathan Parapak. Beliau adalah rektor UPH di Karawaci Tangerang sekaligus salah satu dari pendiri Perkantas. Dalam pertemuan singkat itu, beliau menyampaikan maksud kedatangan dan beberapa hal terkait perkembangan SDH-SLH di Kupang. Selain mengapresiasi SDH dan SLH yang sudah memberi dampak bagi Kupang, beliau pun menambahkan beberapa pesan selayaknya orang tua kepada anak.

Terkait bapak ini, saya sendiri sebenarnya punya satu kesan khusus.

Pernah suatu kali saya baru saja keluar dari Books & Beyond (waktu itu namanya Times Bookstores) yang terletak di gedung A, satu gedung dengan rektorat, beliau juga baru saja keluar dari lift. Kami berpapasan di pintu keluar gedung A. Beliau berjalan pelan-pelan. Karena tahu beliau menuju gedung asrama, tempat tinggalnya di kampus (kami satu asrama, tapi punya beliau yang VIP tentunya. beda lift), saya pun sengaja berjalan perlahan-lahan. Maksud saya, ya, menemani sekalian siapa tahu bisa mengobrol langsung. Taman kampus tidak terlalu ramai tidak juga terlalu sepi. Jam normal sore, kira-kira pukul 16.00.

Merasa seseorang menguntitnya agak lama belakang, sudah setengah perjalanan, kira-kira 150 meter, beliau menoleh perlahan.

“Mau lebih dulu?” beliau bertanya. Karena saat itu kami sedang berada di setapak tunggal di taman.

Saya menggeleng dan terkekeh saja. “Tidak apa-apa, Pak,” begitu saya bilang.

“Saya jalannya pelan-pelan,” katanya.

Saya tidak tahu mau jawab apa. Jadi saya mempercepat langkah saya bermaksud menjajari langkahnya. Cukup muat ternyata setapaknya. Entah saya yang memulai atau beliau, akhirnya tercapai niat saya. Setelah biasanya hanya bisa mendengar dari mimbar chapel, akhirnya saya bisa mengobrol langsung dengan beliau. Obrolannya tidak berat-berat amat memang, karena hanya berupa basa-basi. Di pelataran depan gedung D, nampak mahasiswa teknologi pangan sedang mengadakan bazar kerak telur dan es goreng. Beliau menawarkan saya singgah melihat-lihat. Karena tak punya uang, dan kesannya sok SKSD juga kalau saya iyakan untuk singgah bersama-sama dengan rektor, saya pun menolak dengan sopan. Beliau singgah menengok bazar, saya melanjutkan perjalanan ke gedung asrama.

Demikian satu kesan saya tentang Bapak Parapak.

Selanjutnya, selesai beliau menyampaikan beberapa pesan kepada guru-guru, karena mesti ada jadwal wawancara dengan satu koran di Jakarta, beliau pun mengembalikan mik.

IMG20180131161651.jpg

Pertemuan dilanjutkan dengan Ibu Ban, seorang pembibing spirirual growth dari UPH. Beliau orang Filipina. Dulu alharhum suaminya yang juga berasal dari negara yang sama, adalah seorang teolog yang cukup berpengaruh di Asia Tenggara, yang juga pengajar di kelas teologi kami. Sepeninggal suaminya, ia masih tetap melayani mahasiswa hingga alumni dari UPH yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia termasuk Kupang.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan Ibu Ban Garcia. Dari yang bersifat esensial hingga berupa hal-hal praktis.

Di antara yang disampaikan, ada satu hal yang saya pikir istimewa. Meski itu hanya sempat disinggung saja. Tentang facing a task unfinished. Katanya perlu dibaca. Reflektif sekali. Karena itulah saya mencatat dan segera mencarinya dan mendapatnya. Terima kasih kepada Ibu Ban. Tuhan berkati selalu pekerjaan pelayaannya.

Berikut lagu “Facing a task unfinished” dari youtube dan syairnya yang saya cuplik dari gettymusic.

Facing a task unfinished 
That drives us to our knees
A need that, undiminished
Rebukes our slothful ease
We, who rejoice to know Thee
Renew before Thy throne
The solemn pledge we owe Thee
To go and make Thee known

Where other lords beside Thee
Hold their unhindered sway
Where forces that defied Thee
Defy Thee still today
With none to heed their crying
For life, and love, and light
Unnumbered souls are dying
And pass into the night

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord

We bear the torch that flaming
Fell from the hands of those
Who gave their lives proclaiming
That Jesus died and rose
Ours is the same commission
The same glad message ours
Fired by the same ambition
To Thee we yield our powers

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord. 

atau video yang sekalian dengan liriknya:

https://www.youtube.com/watch?v=zOpt_bulJxY

Merayakan Keseharian

Kapsul 5: Terlaksana. Hari Khusus tentang Sharing Buku

Berbahagialah. Hari ini khusus untuk postingan sharing buku. 

Sebenarnya setelah ini mestinya kau cepat-cepat tidur. Besok masih ada hari. Pula sesuai agenda, sorenya ada pertemuan dengan rektor kampus tempat kau pernah tersaruk-saruk di sana. Rehatlah segera! 👌

Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Chapel Guru

Sharing buku di sesi kesaksian chapel guru sebelumnya sudah dimulai Ibu Elise Lobo, kepsek kami. Ada dua buku yang ia bagikan di dua waktu yang berbeda. Sayang sekali saya hanya sempat mengingat salah satunya yakni Perjumpaan dengan Salib Kristus yang ditulis oleh Yohan Candawasa. Meski ditulis orang Indonesia dan berbahasa Indonesia, buku ini justru ia beli di Melbourne ketika terpilih sebagai salah satu peserta mewakili guru math SMP di NTT mengikuti program belajar sebulan di sana.

Menurut kesaksiannya, nilai yang ia dapat dari buku tersebut melampaui segala pengalaman dan cerita yang mungkin ia saksikan dari perjalanannya. Bukan sekadar pemandangan, bukan sekadar mencecap aneka rasa masakan, bukan sekadar mempraktekkan Bahasa Inggris, bukan sekadar bertemu orang baru dan bertukar cerita, bukan sekadar bertukar budaya dan menambah wawasan, bukan sekadar metode mengajar baru.

“Saya pikir, saya dibawa Tuhan jauh-jauh ke sana hanya untuk bisa bertemu buku ini,” katanya.

Tepat katanya👌. Saya sebagai rekan kerja sekaligus kawan dekat bisa melihat itu.

***

Hari ini, Selasa, 30 Januari 2018, ada lagi guru yang maju memberi kesaksian berupa sharing buku. Ibu Ria, seorang guru Agama, maju dan berbagi buku yang berjudul Air Mata Pernikahan. Buku tersebut ditulis Billy Kristanto. Dengan gaya khasnya ia mulai mengulas dari bagian sampul buku. Apa makna di balik gambar sambul buku serta latar belakang sampai ia memilih merogoh koceknya demi buku tersebut.

Menurutnya, meski ada beberapa hal penting mengenai isi buku itu, namun ia hanya akan membagikan dua yang paling penting. Sebenarnya saya kurang jelas menangkap maksudnya, jadi saya hanya mencoba menguraikan kembali apa yang terdengar. Pertama, ketika pertama kali Hawa diadakan, keluar pujian dari mulut Adam, kemudian ketika mereka jatuh dalam dosa, justru keluar dari mulut yang sama keluar tuduhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ada penyelesaian. Kedua, pernikahan bukan satu-satunya solusi untuk penyelesaian masalah. (kurang lebih begitu). Intinya yang saya tangkap adalah bukan berarti kau sedih dan berpikir menikah agar kau merasa bahagia, atau bukan karena kau selalu merasa kesepian dan berpikir harus menikah agar kau punya teman, atau bukan berarti kau miskin dan berpikir bahwa jalan keluarnya adalah menikah supaya kau bisa kaya (ini contoh versi saya). Bila masalah itu sudah ada dalam dirimu, maka tidak menikah atau menikah pun tetap saja sama. Jadi pernikahan bukanlah satu-satunya yang mesti kita tuju. Pernikahan kita bukan pusat dan inti kehidupan orang percaya. Kalau begitu apa dan bagaimana penyelesaiannya? Jawabannya adalah Kristus. Ia adalah dasar dari pernikahan. Bahwa oleh Kristus, pernikahan sebenarnya adalah melambangkan pernikahan antara Allah dan kita sebagai jemaat-Nya.

Demikian yang bisa saya tulis. Semoga saya tidak salah mendengar karena waktu sharing ini pikiran saya agak melenceng, “Sebentar nanti saya mau buat postingan tentang sharing buku ah..kebetulan hari ini di kelas ada siswa sharing buku, sekarang di chapel guru ada juga guru sharing buku. Lumayan buat postingan baru.” Maka ini akibat yang saya terima gara-gara semangat mau buat postingan baru tapi justru abai dengan materi di depan mata yang diniatkan posting.

Catatan Buku, Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Sesi BaKar

Sharing buku di sesi BaKar ini sudah mulai dilakukan tahun lalu, namun saya baru mulai memahatkannya sekarang. Karena semester ini baru dua orang yang khusus berbagi tentang buku, maka dua orang siswa inilah pembuka untuk edisi sharing buku di sesi BaKar. 

Sharing Buku “Laut Bercerita” 

Sharing buku di kelas 9.1 pada pertengahan Januari 2018 dari seorang siswa bernama Jesicca Rambu Loya. Buku yang ia baca berjudul Laut Bercerita, ditulis oleh Leila S Chudori. Buku ini mengangkat kisah tentang seorang mahasiswa bernama Biru Laut, sahabat, dan keluarganya saat kerusuhan 1998. Selain sinopsis yang ia bagikan, menurutnya ia senang membaca buku ini karena akhirnya bisa sedikit mengetahui kisah-kisah di balik kerusuhan 1998 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi dan mungkin tak banyak orang tahu. Namun, ia juga menyayangkan adanya beberapa bagian cerita yang bisa membatasi pelajar SMP untuk membaca buku tersebut.

***

Sharing buku “Natisha” 

Sharing buku berikutnya oleh Silvia Ndapatamu pada hari Selasa, 30 Januari 2018. Buku yang ia baca adalah Natisha oleh Khrisna Pabichara. Buku berlatar Makassar ini menceritakan tentang kisah Tutu, Rangka, dan Natisha. Tidak hanya bercerita tentang kisah cinta yang romantis sebagaimana novel-novel remaja umumnya, namun membaurkan antara pengkhianatan, dendam, dan juga budaya Makassar misalnya ilmu parakang yang bisa membuat kaya, awet muda, kebal, dll.

Sama seperti Jessica, Silvia pun menyukai bagian sejarah dan budayanya, namun menyangkan beberapa cerita yang menurutnya belum bebas dibaca pelajar SMP.

Cuplikan Cerita Lentera

Sesi BaKar (Baca Karya) ala Lentera Kupang

Di kelas 9.1, Jesicca berbagi tentang buku yang dibaca berjudul Laut Bercerita oleh Leila S Chudori, sementara Jovan membaca pantun yang dibuat sendiri

Di kelas, kami ada sesi rutin yang disebut BaKar. Kata BaKar merupakan akronim dari baca karya.

Ceritanya, ketika sesi ini baru awal-awal dimulai, saya sendiri selalu menggunakan kata ‘baca karya’ untuk mengingatkan siswa yang mendapat giliran baca. Hingga suatu hari seorang siswa mengajukan tangannya dan berkata, “Ibu, bagaimana kalau penggunaan kata baca karya ini diganti dengan BaKar, kan artinya masih tetap, baca karya.”

Mendengar itu, sontak saya teringat sesuatu, menyayangkan kenapa saya sendiri tak terpikirkan akronim ini, padahal model-model baca karya atau bicara karya seperti ini di Kupang sudah pernah dibuat dan saya sendiri pernah mengikutinya. Memang sudah cukup lama. Beberapa tahun yang lalu pernah ada pertemuan rutin antara penikmati-penikmat sastra di Kupang. Satu acara bulanan tersebut mereka namai Babasa, yang katanya merupakan akronim dari Baca dan Baomong Sastra. Kegiatan itu baik dan patut diapresiasi. Ia semacam festival kecil-kecilan. Hanya beberapa kali berlangsung, dan kemudian tak terdengar lagi.

Lantas terhadap usulan siswa tersebut, tentu saja langsung disambut baik. Saya menuliskannya di sini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap usulan ini. Terima kasih kepada Rick. Sstt..kamu dipakai Dia😊.

Kata BaKar pas sekali di sini. Ia tidak hanya merupakan akronim baca karya, tapi bisa juga berarti membakar semangat seusai SSR dan sebelum memulai pelajaran. Jadi waktu saya yang 90 menit per pertemuan itu, demikian saya pakai untuk SSR, mengisi jurnal baca, dan BaKar sebelum masuk ke materi belajar.

Satu hal yang saya syukuri dari sesi BaKar adalah anak-anak belajar bertanggungjawab sebab mereka sudah tahu kapan giliran mereka dan artinya harus siap, belajar mengapresiasi sebab ketika ada teman berdiri dan membacakan karya di depan itu berarti mereka harua diam dan memperhatikan serta memberi apresiasi tentunya apalagi bagi mereka itu karya yang bagus, serta bisa belajar mengerti. Belajar mengerti karena dari hasil karya mereka bisa dibaca apa yang sedang berenang di benak mereka. Intinya, ada banyak hal positif dan membangun dari sesi BaKar kami di kelas.

Sesi BaKar ini, anak-anak dipersilakan membuat karya tulis apa saja selama itu adalah hasil karya siswa tersebut. Mereka bisa membuat cerpen, puisi, pantun, cerita pengalaman berkesan, sharing buku, sharing film, atau bahkan menampilkan monolog. Meski tidak sebagus dan sekeren para profesional, bagi saya mereka sudah berusaha mengerjakan bagian mereka dengan baik. Ada beberapa karya mereka sudah saya kumpul. Berharap bisa segera dibagikan. Kalau bukan di sini, maka di blog sekolah👌. Doa saya menyertai mereka🙏😇. Imanuel.

Merayakan Keseharian

Kapsul 4: Dibantu Orang Tak Dikenal

Pagi tadi saya berangkat ke sekolah dari Penfui. Di tengah jalan, tepatnya di bundaran PU, persis di depan Hypermart Kupang 1, motor saya tiba-tiba mati. Syukurnya jalan di sana sedikit menurun sehingga saya bisa melewati jalur ramai alias jalur pertemuan dua arahnya. Saya berhenti dan mengecek kira-kira apa yang salah. Bensin masih ada, kunci masih aktif. Pasti masalah biasa. Motor mati tiba-tiba di jalan bukan yang pertama saya alami. Dan katanya, kata orang, ini akibat motor tidak dipanaskan terlebih dahulu sebelum dipakai. Ya, saya mengaku, itu memang sering terjadi. Adalah salah saya.

Kunci saya putar, matikan dan hidupkan, baru kemudian mencoba menyalakan kembali mesin motor namun tak kunjung berhasil. Saya hanya bisa mengecek, mematikan lagi, mencoba menyalakan kembali, dan menatap ke beberapa kenderaan yang meski masih pagi sekali tapi sudah lalu lalang. Beberapa lama kemudian, seseorang dengan sepeda motor berhenti dan menyapa, mungkin ia melihat permasalahan saya dari jauh. Ia memarkir motornya dan membantu saya. Dari caranya bicara, saya tahu ia bukan orang Kupang. Kelihatan juga dari tampakannya. Kemudian ceritanya agak panjang jadi tak saya tuliskan di sini. Intinya atas bantuan orang tersebut, motor saya kembali pulih, mesinnya kembali aktif. Alhasil saya pun bisa melanjutkan perjalanan saya menuju ke sekolah. Terima kasih kepada orang yang sudah membantu saya.

God's Story, Refleksi

Kapsul 3: Balas-membalas Pesan atau Kumpulan Surat bisa menjadi Sebuah Buku

Sebuah pasal dalam kitab bisa hanya terdiri balas-membalas pesan. Seorang raja atau tuan memberi pesan kepada hambanya untuk menyampaikan pesan kepada raja lain di seberang kemudian sang raja yang menerima pesan tersebut membalas. Demikian juga terkadang dalam sebuah film atau sebuah novel bisa hanya terdiri kumpulan atau surat menyurat antar sahabat. Kumpulan surat yang disampaikan kepada sahabat jauh atau balas membalas surat antar sahabat beda tempat. Menceritakan keadaan di daerahnya, permasalahannya, orang-orang sekitarnya, serta meminta dukungan atau nasihat terkait permasalahannya, demikian akan datang balasan serupa dengan dari sahabat jauh tersebut.
Contoh balas-membalas pesan yang kemudian menjadi satu pasal misalnya dalam 1 Raja-Raja 5, atau kumpulan surat yang kemudian menjadi buku misalnya buku Maya Angelou, buku Bettina, buku CS Lewis, dll. Kalau kau tak sempat membaca buku, perhatikan saja bagian pembukaan beberapa film, biasanya ada yang memulai dengan: dear Lucy, dear Susan, dear bla-bla, etc, yang menandakan kalau cerita itu bermula dari sebuah surat kepada seseorang.

Ok, ini artinya, dokumen apapun (dalam hal ini terkait tulisan), yang kau pikir bisa jadi cerita berharga untuk generasi sesudahmu, tentu bisa juga dibuat buku, bukan? 😉😊

God's Story, Refleksi

Kapsul 2: Berkat Hikmat dan Pengaruhnya bagi Dunia (Salomo, The Help,  dan Julie & Julia)

Tidak meminta kekayaan, umur panjang, atau nyawa musuh ketika ditanyai Tuhan,  Salomo justru meminta hati yang paham menimbang perkara serta hikmat untuk membedakan yang baik dan jahat. Permintaan itu di mata Tuhan dipandang sangat baik. Bahkan apa yang tidak dipinta pun ditambahkan. Sebab Tuhan tahu, Salomo telah meminta yang benar.

Kisah pertama yang datang setelah itu adalah kedatangan dua perempuan membawa perkara kepemilikan bayi mereka. Cerita ini pertama kali saya dengar waktu kecil bukan dari alkitab melainkan membacanya di buku, entah buku apa. Hanya yang masih jelas saya ingat adalah nama raja dengan kisah yang sama tersebut bukan Salomo melainkan Sulaiman atau Salomon. Awal mendengar kisah itu, saya terkagum-kagum dengan keputusan sang raja. Pikir saya itu hanyalah dongeng kuno dari dunia antah berantah, sehingga saya cukup kaget ketika pada satu kesempatan membaca saya bertemu kisah ini ternyata ada di kitab Raja-Raja.

Masih tentang hikmat Salomo. Selain menimbang perkara, berkat hikmatnya itu, bisa kau lihat, berapa banyak karya ia hasilkan?

Salomo semasa hidupnya dicatat mampu menghasilkan 3000 amsal dan 1005 nyanyian. Ia bersajak tentang seisi alam. Berbicara tentang mereka. Bahkan sampai orang-orang dari penjuru dunia berbondong datang padanya, untuk mendengarkan hikmatnya, serta tak lupa mereka membawa upeti sebagai persembahan mereka sebab hikmatnya sebagai raja kala itu.

Beranjak dari kisah Salomo, raja Israel yang baru dikokohkan itu, saya selama dua hari ini (terhitung dari kemarin) boleh punya kesempatan menonton dua film tentang menulis. The Help dan Julie & Julia.

Film The Help sudah beberapa kali saya tonton. Hanya entah kenapa saya tiba-tiba ingin lagi menontonnya. Sementara Julie & Julia meski sudah lama mendengar tentang film ini, saya baru kali ini sempat menontonya.

Meski kedua film ini sama-sama bercerita tentang menulis, pertama kali mendengar film The Help saya langsung tertarik karena bercerita tentang perbedaan warna kulit di Amerika kala tahun 1960-an, sementara film Julie & Julia saya tunda karena bercerita tentang masak-memasak yang mana saya tak begitu tertarik dengan kegiatan satu ini.

Saya sudah beberapa kali menonton The Help dan tak pernah bosan, sebaliknya saya baru kali ini menonton Julie & Julia dan menyesal kenapa tak dari sebelum-sebelumnya saya tonton.

Kedua film ini menunjukkan dampak dari menulis bagi dunia. Ketika mereka (para tokoh utama) diperhadapkan dengan berbagai kesulitan, entah itu dianggap berbeda oleh teman-teman, keluarga, dan masyarakat, tidak nyaman dengan kerjaan atau tempat kerja, atau merasa bingung harus berbuat apa untuk mengisi waktu-waktu seperti terlewati begitu saja, kemudian menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan menulis. Menulis sesuatu yang berbeda, yang unik, yang belum pernah ada sebelumnya atau kalau ada pun bukan yang sama persis, dan yang terpenting adalah dunia mereka. Dan memang benar, yang mereka tulis adalah bidang yang mereka minati, mereka cintai…sepenuh hati.

Di The Help, Ms Skeeter menuliskan kumpulan cerita pengalaman menjadi pembantu kulit hitam di rumah orang kulit putih di daerah Jackson. Buku itu kemudian menggemparkan dunia terutama wilayah Jackson yang kecil. Film ini diangkat dari sebuah novel karangan Kathryn Stockerr yang inspirasinya datang dari pengalaman nyata yang pernah ada di tahun 1960-an. Novel ini kemudian membuat teman satu kampungnya yang adalah seorang sutradara, Tate Taylor, jadi bernostalgia dengan Jackson, membuatnya menjadi sebuah film dengan melibatkan banyak sekali aktris/aktor berbakat dari bangsa kulit hitam.

Berbeda dengan film The Help yang diangkat dari novel fiksi, maka Julie & Julia besutan Nora Ephron ini diangkat dari kisah nyata dua penulis beda genarasi. Buku Julie Child di tahun 1960-an dan buku Julia Powell di tahun 2005. Kerajaan dua buku tersebut sama-sama membahas tentang memasak.

Julie Child meski sedari awal seolah tak tampak bakat memasaknya, namun kemudian, hasil karyanya, racikannya mampu menghebohkan negara-negara di Amerika dan Eropa sampai terbit banyak sekali buku, film, acara-acara TV, lagu, musik, riset-riset ilmiah, yang mengulas tentang buku memasaknya yang terkenal itu. Bahkan 40 tahun kemudian masih tetap melahirkan penggemar baru, salah satunya itulah Julia Powell yang begitu tergila-gila dengan chef penulis buku Mastering the Art of French Cooking ini. Pusing dengan pekerjaannya di kantor, Julia Powell mencoba mencari kegiatan menyenangkan sekaligus menantang dengan menulis di blog pribadinya selama 365 hari tentang kegiatannya memasak berdasarkan panduan dari buku idolanya. Hasilnya, banyak orang melirik kerjanya. Kumpulan tulisannya kemudian diterbitkan. Bahkan, lebih dari itu, Nora Ephron, seorang sutradara Amerika mengangkat kedua kisah ini menjadi film “Julie & Julie” yang membawa aktris Meryl Streep memenangkan berbagai penghargaan sebagai aktris terbaik dalam memerankan Julie Child (yang mungkin karena pengaruh namanya ‘Child’ itu–padahal itu nama dari suami, pembawaan Julie Child ini juga nampak seperti anak-anak, lucu dan naif. Tapi mungkin juga karena itu yang membuat ia dan Paul tampak manis sekali😜😍).

Jadi, poin penting dari tiga hal tersebut (keputusan Salomo, film The Help, film Julie & Julia) adalah Hikmat yang Mengubah Dunia. Maka itu, mintalah kepada Tuhan, pertama-tama adalah HIKMAT🙏. Niscaya, ia akan memakaimu sebagai perpanjangan tangannya membawa perubahan bagi dunia dengan hal kecil yang kau lakukan 😉👌💪. 

God's Story, Refleksi

Kapsul 1: Ketika Salomo diangkat menjadi Raja dan Inti Ajaran Yesus

Kapsul ini isinya 90 biji. Janji saya, setiap saya menelannya, saya akan melanjutkan bahan baca alkitab saya, sekaligus mesti terbit satu postingan di sini. Jadi, hari ini saya akan mulai dari kapsul pertama.

Kebetulan hari ini saya baru saja masuk di kitab 1 Raja-Raja 1. Ada dua pasal yang dibaca. Kisahnya tentang awal mula Salomo diangkat menjadi Raja. Kala itu, Daud sudah mulai sakit-sakitan karena usianya yang sudah uzur. Melihat situasi itu, Adonia anak pertama sesudah Absalom, mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. Atas anjuran Natan, maka datanglah ibunda Salomo, Batsyeba, ke hadapan Daud untuk mengingatkan anak yang dijanjikan menggantikan ayahnya, Raja Daud, memerintah kerajaan Israel.

Cerita tentang Salomo di sini masih belum menonjol. Ia masih pasif di bagian ini. Baru kemudian setelah diangkat, ia mulai mengatur dan melakukan  beberapa aksi sesuai wasiat ayahnya.

Dari semua tindakannya mematikan beberapa orang sesuai pesan ayahnya, saya masih belum mengerti terkait keputusannya menanggapi permintaan Adonia untuk memperistri Abisag, seorang gadis Sunem yang dulu pernah menjadi perawat ayahnya. Sesuai sabda Salomo di awal, ia tak akan menyentuh sehelai rambut Adonia pun, kecuali ia berniat jahat. Lantas, kenapa hanya dengan mengutarakan niat ingin memperistri Abisag, justru dijawab dengan dipancung mati. Adakah terkandung niat jahat dari Adonia ketika ingin meminta Salomo memperkenankan gadis itu menjadi istrinya? Apa kira-kira niat jahat itu? Kenapa permintaan kecil itu tak disanggupi saja biar masalah itu selesai? Pikir-pikir tak ketemu jawaban, saya mencoba mencarinya di google dan menemukan sedikit pencerahannya di Pemuda STEMI dan di Cahaya Pengharapan Ministries. Kedua artikel tersebut bagi saya membantu sekali. Ya, sudah benar tindakan Salomo. Kalau tidak, mana mungkin nama Salomo hingga hari ini paling terkenal di dunia sebagai hakim yang adil yang pernah ada.

Berikut adalah apa yang saya dapat dari isi khotbah Bapak Stephen Tong di PRK malam ini. Dari sekian panjang catatan saya, ada satu poin yang saya pikir penting untuk dibagikan di sini. Mengenai inti atau pokok ajaran Yesus selama masa pelayanannya.

Kira-kira selama masa tiga setengah tahun masa pelayanan Yesus, hal penting apa atau hal pokok apa yang sebenarnya mau diajarkan Yesus? Dari semua perumpamaan, khotbah, mujizat, dan kegiatannya selama tiga setengah tahun itu, hal pokok apa yang mau ia tunjukkan? Seberapa banyak orang yang mampu menangkap makna yang tersirat dari semua ajarannya itu? Sepenting apakah itu? Demikian yang mau Ia tunjukkan namun orang-orang terdekatnya begitu tidak peka melihat dan mengartikan apa inti ajaran Yesus. Sampai kemudian Ia mati dan bangkit. Sebelum masa kenaikan, Ia masih sempat lagi melanglang selama 40 demi mempertegas apa inti atau pokok ajaran yang Ia bawa. Meski sudah begitu, orang-orang terdekatnya (terutama para muridnya) masih juga belum mengerti apa yang ia maksud. Bahkan di hari Ia mau naik pun, mereka masih keukeuh bertanya, “Maukah Kau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kerajaan Israel melulu yang ditanya, kerajaan Israel melulu yang dipermasalahkan, kerajaan Israel melulu yang ada di kepala mereka. Sang pengajar bermaksud apa, sang murid menangkap apa? Demikianlah yang terjadi. Cerita tentang Kerajaan Allah (Kingdom of God)  ternyata tak sampai pada murid-murid yang bahkan sudah bergaul dekat selama beberapa tahun itu. Bagaimana dengan saya yang sudah baru ada sesudah dua ribu tahun kemudian yang berada jauh secara fisik dari tempat mereka pernah berada? Masihkan saya dipusingkan dengan masalah remeh- temeh tentang rasa lauk apa yang akan saya makan, warna baju seperti apa yang akan saya pakai, berapa banyak kata dan kalimat yang mesti saya ucapkan di kelas saat mengajar, dsb, lantas melupakan pesan penting apa sih yang mesti saya bawa dan sampaikan kepada mereka yang saya kasihi?

Bahwa yang sesungguhnya adalah: Tetapi a) carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka b) semuanya itu akan ditambahkan kepadamu @Matius 6:33 (TB)  (http://www.bibleforandroid.com/v/27202e1e5eca). Fokuslah pada bagian a) dan bukan b).

Demikianlah pelajaran penting yang saya dapat dan yang bisa saya bagikan.

Cuplikan Cerita Lentera, Kegiatan Pengembangan Guru

Kegiatan Profesional Development Semester Genap 2017/2018 SLH Kupang

Sudah menjadi program SLH setiap awal semester diadakan profesional development (PD). Pembicara untuk setiap PD bergantian dari Tim Professional Development and Curriculum Enrichment (PDCE) yang dibentuk YPPH maupun dari sister school, sebutan untuk sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH baik SDH maupun SDH untuk saling berbagi dengan SLH tertentu.

Bila semester sebelumnya SLH Kupang didatangi Tim PDCE dan SPH Cikarang, maka semester kali ini dari SPH Kemang Village dengan pembicara Ibu Riama Agustina Sinaga dan Ms Laura Dale Lee. Bila semester sebelumnya fokus PD adalah assesment as a blessings, maka kali ini lebih berfokus kepada pendisiplinan siswa dan strategi belajar untuk “struggling learner’.

Mengenai pendisiplinan pada sesi hari pertama, Ibu Agnes dan Ms Laura berbagi tentang perbedaan punishment atau hukuman dan consequences atau konsekuensi. Meski ini bukan lagi sebuah hal baru, tapi menurut beberapa testimoni beberapa guru, PD ini mengingatkan dan menyegarkan kembali akan bentuk pendisiplinan yang selama ini sudah diberikan kepada siswa.

Sebagai guru, penting sekali kita memahami perbedaan dua hal ini agar penerapannya tidak salah kaprah. Dibanding punishment atau hukuman, kenapa tidak sebaiknya yang diberikan kepada siswa adalah konsekuensi. Bahkan pemberian konsekuensi pun, bukan sembarang konsekuensi. Perlu dipertimbangkan dua hal berikut yakni natural consequences atau konsekuensi alami dan logical consequences atau consekuensi logis. Apa maksudnya? Penjelasan berikut mungkin bisa memberi gambaran. Konsekuensi natural yakni konsekuensi sebab akibat atau hasil dari sebuah tindakan yang terjadi secara alami. Contoh: seorang anak sudah diperingatkan mengenai waktu berangkat field trip, tapi kemudian datang terlambat, dan akibatnya adalah ia ditinggal pergi. Dengan demikian si anak belajar, bila saya datang terlambat dari waktu yang sudah ditetapkan, maka saya tidak ditinggal. Saya tidak berangkat bersama-sama dengan teman saya. Konsekuensi logis yakni akibat yang diterima dari suatu tindakan melanggar peraturan atau kesepakatan. Akibat atau konsekuensi tersebut harus bisa diterima, maauk akal, dan berhubungan dengan perilaku tersebut. Contoh: seorang anak yang sudah bersepakat dengan orang tua akan bermain PS hanya selama sejam sehari, melewatkan hingga dua jam, maka jatah main hari besoknya tidak boleh dipakai. Demikian sedikit catatan dari kegiatan PD hari pertama.

Mengenai strategi untuk ‘struggling learner’, sebutan untuk mengganti ‘slow learner’ atau pelajar yang lambat, pada hari kedua, Ibu Agnes dan Ms Laura membagikan banyak cerita terkait hal ini terutama tentang pentingnya persiapan guru. Satu hal menarik yang ditunjukkan yang bisa menjadi contoh adalah penggunaan attractive notebooks.

Penggunaan attractive notebooks hanyalah salah satu cara membuat siswa yang digolongkan dalam ‘struggling learner’ agar lebih menikmati belajar. Ada masih banyak cara lain yang bisa dipelajari di buku-buku tentang strategi mengajar atau di internet terutama yang direkomendasikan sekali adalah pinterest. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua metode dan strategi mengajar di sana dijiplak mentah-memtah untuk diterapkan. Kau boleh mempelajari contoh-contoh di sana, pelajari, baru sesuaikan dengan situasi kelasmu sendiri👌💪. 

Bersyukur bahwa untuk PD kali ini, SLH tidak sendiri. Tapi beberapa perwakilan guru dari sekolah-sekolah tetangga yang berada di bawah naungan Yapenkris Nehemia Kupang juga ikut diundang. Sekolah tersebut antara lain SMA Kristen 1 Kupang, SMK Kristen 1 Kupang, dan SMK Kristen 2 Kupang. Berharap, bapak/ibu guru tersebut bisa memperoleh hal bermanfaat dari kegiatan PD SLH Kupang ini dan membagikannya kepada sekolah masing-masing. Soli Deo Gloria.