God's Story, Merayakan Keseharian

Libur Panjang Sekolah

IMG20171225222600Bila kau seorang guru, jelas liburanmu mengikuti masa liburan anak sekolah. Libur panjang sekolah yang ditunggu-tunggu dalam setahun tentu liburan seusai penerimaan rapor semesteran, antara bulan Juni-Juli dan Desember-Januari. Meski sama-sama merupakan liburan semester, untuk liburan masa Desember-Januari saya lebih suka menyebutnya liburan natal. Lebih manis kedengarannya.

Meski dua liburan panjang ini sama-sama berdurasi tiga minggu, isi dalamnya tentu berbeda. Bila di liburan Juni-Juli, itu tepat di musim kemarau, cukup panas, tak banyak kegiatan, hanya kalian orang sekolahan saja yang liburan sementara para pekerja lain tetap melakukan pekerjaan mereka hingga cukup membuat iri; sementara di liburan natal, tepat di saat musim hujan baru memulai, tanah-tanah menjadi basah dan lembab, segala yang hijau memunculkan keberadaannya, menyejukkan mata, hampir semua pekerja mendapat jatah liburan, mereka yang terpencar di bawah kolong langit kembali ke kampung halaman demi bertemu dan berkumpul dengan keluarga walau kadang hanya sehari-dua hari, berbagai kegiatan bersama di gereja, di rumah-rumah tetangga dan keluarga, ibadah rumahan malam natal dan malam tahun baru di mana semua anggota keluarga mesti duduk bersama-sama meski tak sampai sejam, bertemu sanak juga teman lama yang kadang tak disangka, melihat perubahan ini dan itu, jadi pelajaran dan inspirasi, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saking banyaknya kegiatan di masa liburan natal, saya yang sewaktu pulang ke rumah membawa serta banyak buku untuk direncanakan baca, batal. Meski disayangkan karena sudah memberati punggung malah tak dibaca, saya tetap tak menyesal. Momen-momen yang sudah disinggung di atas tentu tak bisa berulang dan ditunda. Sementara baca-baca buku dan tulis-tulisnya bisa ditunda, tak mesti di masa liburan natal, kan? Beriman saja diberi umur panjang oleh Tuhan 🙂

Sebagaimana baca-baca buku dan tulis-tulis, demikian juga nonton-nonton. Selama liburan, paket tau  yang 4G dan entertainment dari telkomsel tak terpakai karena di kampung baru hanya ada 2G/3G (berharap kalau bisa 4G segera juga sampai ke sana sebab sekolah-sekolah juga butuh). Maka, sepulang liburan inilah saya manfaatkan. Tak boleh terbuang percuma. Sayang sudah bayar mahal malah tak terpakai. Jadilah, film The Hours yang pernah saya dengar dan ingin sekali menonton sejak tahun 2009/2010 (waktu itu saya hanya sempat dapat beberapa potongan filmnya di youtube) dan berjanji mengakses film lengkapnya namun setelah itu saya tak ingat lagi, hingga jelang masuk liburan ini barulah saya bisa menonton dan mengetahui cerita The Hours seutuhnya. Astaga, lama sekali. Padahal di masa awal-awal ketika tertarik dengan dunia menulis, Virginia Woolf adalah salah satu idola saya, bahkan saya sampai memasang fotonya sebagai foto profil di akun facebook saya sebagai foto profil pertama (kalau tak salah karena itu adalah masa awal-awal orang mulai menggunakan facebook).

Meski mengidolakannya, saya dengan jujur juga malu mengaku bahwa buku berjudul Mrs. Dalloway yang ditonjolkan dalam film ini belum pernah saya baca. Maka di sini saya sertakan link e-booknya, Mrs. Dalloway dari adelaide.edu agar nanti mudah saya buka dan baca.

👌🙏😊

 

 

Iklan