God's Story, Refleksi

Kapsul 1: Ketika Salomo diangkat menjadi Raja dan Inti Ajaran Yesus

Kapsul ini isinya 90 biji. Janji saya, setiap saya menelannya, saya akan melanjutkan bahan baca alkitab saya, sekaligus mesti terbit satu postingan di sini. Jadi, hari ini saya akan mulai dari kapsul pertama.

Kebetulan hari ini saya baru saja masuk di kitab 1 Raja-Raja 1. Ada dua pasal yang dibaca. Kisahnya tentang awal mula Salomo diangkat menjadi Raja. Kala itu, Daud sudah mulai sakit-sakitan karena usianya yang sudah uzur. Melihat situasi itu, Adonia anak pertama sesudah Absalom, mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. Atas anjuran Natan, maka datanglah ibunda Salomo, Batsyeba, ke hadapan Daud untuk mengingatkan anak yang dijanjikan menggantikan ayahnya, Raja Daud, memerintah kerajaan Israel.

Cerita tentang Salomo di sini masih belum menonjol. Ia masih pasif di bagian ini. Baru kemudian setelah diangkat, ia mulai mengatur dan melakukan  beberapa aksi sesuai wasiat ayahnya.

Dari semua tindakannya mematikan beberapa orang sesuai pesan ayahnya, saya masih belum mengerti terkait keputusannya menanggapi permintaan Adonia untuk memperistri Abisag, seorang gadis Sunem yang dulu pernah menjadi perawat ayahnya. Sesuai sabda Salomo di awal, ia tak akan menyentuh sehelai rambut Adonia pun, kecuali ia berniat jahat. Lantas, kenapa hanya dengan mengutarakan niat ingin memperistri Abisag, justru dijawab dengan dipancung mati. Adakah terkandung niat jahat dari Adonia ketika ingin meminta Salomo memperkenankan gadis itu menjadi istrinya? Apa kira-kira niat jahat itu? Kenapa permintaan kecil itu tak disanggupi saja biar masalah itu selesai? Pikir-pikir tak ketemu jawaban, saya mencoba mencarinya di google dan menemukan sedikit pencerahannya di Pemuda STEMI dan di Cahaya Pengharapan Ministries. Kedua artikel tersebut bagi saya membantu sekali. Ya, sudah benar tindakan Salomo. Kalau tidak, mana mungkin nama Salomo hingga hari ini paling terkenal di dunia sebagai hakim yang adil yang pernah ada.

Berikut adalah apa yang saya dapat dari isi khotbah Bapak Stephen Tong di PRK malam ini. Dari sekian panjang catatan saya, ada satu poin yang saya pikir penting untuk dibagikan di sini. Mengenai inti atau pokok ajaran Yesus selama masa pelayanannya.

Kira-kira selama masa tiga setengah tahun masa pelayanan Yesus, hal penting apa atau hal pokok apa yang sebenarnya mau diajarkan Yesus? Dari semua perumpamaan, khotbah, mujizat, dan kegiatannya selama tiga setengah tahun itu, hal pokok apa yang mau ia tunjukkan? Seberapa banyak orang yang mampu menangkap makna yang tersirat dari semua ajarannya itu? Sepenting apakah itu? Demikian yang mau Ia tunjukkan namun orang-orang terdekatnya begitu tidak peka melihat dan mengartikan apa inti ajaran Yesus. Sampai kemudian Ia mati dan bangkit. Sebelum masa kenaikan, Ia masih sempat lagi melanglang selama 40 demi mempertegas apa inti atau pokok ajaran yang Ia bawa. Meski sudah begitu, orang-orang terdekatnya (terutama para muridnya) masih juga belum mengerti apa yang ia maksud. Bahkan di hari Ia mau naik pun, mereka masih keukeuh bertanya, “Maukah Kau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kerajaan Israel melulu yang ditanya, kerajaan Israel melulu yang dipermasalahkan, kerajaan Israel melulu yang ada di kepala mereka. Sang pengajar bermaksud apa, sang murid menangkap apa? Demikianlah yang terjadi. Cerita tentang Kerajaan Allah (Kingdom of God)  ternyata tak sampai pada murid-murid yang bahkan sudah bergaul dekat selama beberapa tahun itu. Bagaimana dengan saya yang sudah baru ada sesudah dua ribu tahun kemudian yang berada jauh secara fisik dari tempat mereka pernah berada? Masihkan saya dipusingkan dengan masalah remeh- temeh tentang rasa lauk apa yang akan saya makan, warna baju seperti apa yang akan saya pakai, berapa banyak kata dan kalimat yang mesti saya ucapkan di kelas saat mengajar, dsb, lantas melupakan pesan penting apa sih yang mesti saya bawa dan sampaikan kepada mereka yang saya kasihi?

Bahwa yang sesungguhnya adalah: Tetapi a) carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka b) semuanya itu akan ditambahkan kepadamu @Matius 6:33 (TB)  (http://www.bibleforandroid.com/v/27202e1e5eca). Fokuslah pada bagian a) dan bukan b).

Demikianlah pelajaran penting yang saya dapat dan yang bisa saya bagikan.

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, Kegiatan Pengembangan Guru

Kegiatan Profesional Development Semester Genap 2017/2018 SLH Kupang

Sudah menjadi program SLH setiap awal semester diadakan profesional development (PD). Pembicara untuk setiap PD bergantian dari Tim Professional Development and Curriculum Enrichment (PDCE) yang dibentuk YPPH maupun dari sister school, sebutan untuk sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH baik SDH maupun SDH untuk saling berbagi dengan SLH tertentu.

Bila semester sebelumnya SLH Kupang didatangi Tim PDCE dan SPH Cikarang, maka semester kali ini dari SPH Kemang Village dengan pembicara Ibu Riama Agustina Sinaga dan Ms Laura Dale Lee. Bila semester sebelumnya fokus PD adalah assesment as a blessings, maka kali ini lebih berfokus kepada pendisiplinan siswa dan strategi belajar untuk “struggling learner’.

Mengenai pendisiplinan pada sesi hari pertama, Ibu Agnes dan Ms Laura berbagi tentang perbedaan punishment atau hukuman dan consequences atau konsekuensi. Meski ini bukan lagi sebuah hal baru, tapi menurut beberapa testimoni beberapa guru, PD ini mengingatkan dan menyegarkan kembali akan bentuk pendisiplinan yang selama ini sudah diberikan kepada siswa.

Sebagai guru, penting sekali kita memahami perbedaan dua hal ini agar penerapannya tidak salah kaprah. Dibanding punishment atau hukuman, kenapa tidak sebaiknya yang diberikan kepada siswa adalah konsekuensi. Bahkan pemberian konsekuensi pun, bukan sembarang konsekuensi. Perlu dipertimbangkan dua hal berikut yakni natural consequences atau konsekuensi alami dan logical consequences atau consekuensi logis. Apa maksudnya? Penjelasan berikut mungkin bisa memberi gambaran. Konsekuensi natural yakni konsekuensi sebab akibat atau hasil dari sebuah tindakan yang terjadi secara alami. Contoh: seorang anak sudah diperingatkan mengenai waktu berangkat field trip, tapi kemudian datang terlambat, dan akibatnya adalah ia ditinggal pergi. Dengan demikian si anak belajar, bila saya datang terlambat dari waktu yang sudah ditetapkan, maka saya tidak ditinggal. Saya tidak berangkat bersama-sama dengan teman saya. Konsekuensi logis yakni akibat yang diterima dari suatu tindakan melanggar peraturan atau kesepakatan. Akibat atau konsekuensi tersebut harus bisa diterima, maauk akal, dan berhubungan dengan perilaku tersebut. Contoh: seorang anak yang sudah bersepakat dengan orang tua akan bermain PS hanya selama sejam sehari, melewatkan hingga dua jam, maka jatah main hari besoknya tidak boleh dipakai. Demikian sedikit catatan dari kegiatan PD hari pertama.

Mengenai strategi untuk ‘struggling learner’, sebutan untuk mengganti ‘slow learner’ atau pelajar yang lambat, pada hari kedua, Ibu Agnes dan Ms Laura membagikan banyak cerita terkait hal ini terutama tentang pentingnya persiapan guru. Satu hal menarik yang ditunjukkan yang bisa menjadi contoh adalah penggunaan attractive notebooks.

Penggunaan attractive notebooks hanyalah salah satu cara membuat siswa yang digolongkan dalam ‘struggling learner’ agar lebih menikmati belajar. Ada masih banyak cara lain yang bisa dipelajari di buku-buku tentang strategi mengajar atau di internet terutama yang direkomendasikan sekali adalah pinterest. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua metode dan strategi mengajar di sana dijiplak mentah-memtah untuk diterapkan. Kau boleh mempelajari contoh-contoh di sana, pelajari, baru sesuaikan dengan situasi kelasmu sendiri👌💪. 

Bersyukur bahwa untuk PD kali ini, SLH tidak sendiri. Tapi beberapa perwakilan guru dari sekolah-sekolah tetangga yang berada di bawah naungan Yapenkris Nehemia Kupang juga ikut diundang. Sekolah tersebut antara lain SMA Kristen 1 Kupang, SMK Kristen 1 Kupang, dan SMK Kristen 2 Kupang. Berharap, bapak/ibu guru tersebut bisa memperoleh hal bermanfaat dari kegiatan PD SLH Kupang ini dan membagikannya kepada sekolah masing-masing. Soli Deo Gloria. 


 

Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Cerita Pertama Kali Praktikum Mengajar atau PPL 1 di SDH Lippo Karawaci

Saya teringat pengalaman ini ketika di kegiatan Profesional Development (PD) buat guru-guru SMP/SMA Lentera Harapan Kupang hari ini, Ibu Agnes sempat berbagi pengalamannya pertama kali mengajar di SPH Kemang Village di mana dengan mesti berbahasa Inggris.

Ibu Agnes, guru SPH Kemang Village, membawakan materi PD hari pertama di aula SMA Lentera Harapan Kupang, Kamis, 25 Januari 2018

Pengalaman saya ini terjadi antara bulan September-Oktober 2008. Kami mahasiswa semester 3 di UPH Teachers Colege mesti menjalankan praktikum pertama. Praktikum ini akan dilaksanakan selama 2 minggu di bulan Oktober. Awal masuk semester 3, kami sudah menunggu dengan was-was. Bertanya-tanya, di sekolah manakah nanti saya akan ditempatkan, kelas berapa, mata pelajaran apa, seperti apa situasi kelasnya, siswa-siswinya, guru mentornya, dsb.

Hari mendebarkan itu tiba. Sore-sore, heboh anak-anak saling mengabarkan via SMS, penempatan praktikum mahasiswa/i semester 3 sudah ditempel di papan pengumuman. Saya yang sementara berada di tempat SOW di lapangan basket meski ingin sekali segera ke sana tapi berhubung jam kerja belum selesai maka mau tak mau harus menahan diri dan hanya bisa menerka-nerka. Begitu jam kerja selesai, saya langsung bergerak cepat ke TC hall,  begitu kami menyebut satu ruangan besar di lantai 6 gedung B yang menjadi area tempat segala aktivitas Techers College berlangsung.

Di sana, tepatnya di depan papan pengumuman, masih terlihat banyak anak berkerumun. Anak-anak kelas 2IMMI banyak juga uang di sana. Salah satu di antara kerumunan itu yang saya masih ingat jelas adalah Elise, kawan sekamar saya di 3805, yang sekarang adalah kepsek ki di SMP LH Kupang. Tak sabar saya mendelati kerumunan itu. Ikut berdesak-desakan di dalamnya.

Setelah melalui perjuangan yang cukup berat karena ukuran saya yang pendek, saya akhirnya bisa melihat nama saya. Sekolah tempat praktikum: SDH Lippo Karawaci, kelas: 8, mata pelajaran Agama dan Bahasa Inggris, mentor: Sebut saja Ibu Novie (saya lupa nama belakangnya) . Mendapati yang info mata pelajaran itu, saya lemas seketika itu juga. Kedua mata pelajaran itu masalahnya, terutama Bahasa Inggris. Di SDH Lippo Karawaci pula, yang mana kami tahu di sekolah itu rata-rata anak berbicara bahasa Inggris sebagaimana anak-anak Indonesia berbicara Bahasa Indonesia. Saya lemas karena saya pun sangat tahu kemampuan saya dalam berbahasa Inggris saat itu, semester 3, baru setahun lebih telinga ini akrab dengan yang namanya Bahasa Inggris.

Saya ingat sekali dalam keadaan lemas itu saya hanya berdiri diam, tak berkata apa-apa, tak bergerak dan tak bergeser pun. Hanya diam di tempat lalu tak lama kemudian seperti baru sadar saya kembali melihat lagi, apakah benar saya tak salah membaca? Namun, lagi-lagi tak ada yang salah. Itu sudah benar apa yang terpampang.

Elise, waktu itu sempat menengok ke arah saya dan mungkin mendapati muka saya yang pucat, kemudian ia pun mencoba menengok nama saya. Baru di sana ia mengerti. Ia tahu, pasti Bahasa Inggris yang membuat saya shock dan terlihat lemas itu. Mengerti situasi itu, ia pun mengatakan beberapa patah kata yang intinya adalah apa yang sudah terpampang di sini jelas tak bisa diubah lagi, tentu sudah direncanakan, Tuhan pasti maksud tertentu di balik itu, terima saja dan persiapkan diri. Kalau Tuhan punya maksud tertentu, pasti Ia bantu. Pasti bisa dilewati. Kata-katanya memang bekerja dengan baik. Meski masih ada ragu dan bertanya-tanya diam-diam, saya pun mulai menerima tugas itu dan mulai mempersiapkan diri. Meski apa sih kemajuan yang bisa didapat dalam waktu dua minggu? Tak banyak. Karena kau kan tudak seharian saja berada di kamar untuk hanya belajar. Kuliah, SOW, semua kegiatan kerohanian masih berjalan normal. Hanya bisa di sela-sela waktu itulah saya menyempatkan diri membaca buku mengenai Bahasa Inggris di perpustakaan, mencari bahan atau materi-materi pelajaran bahasa inggris kelas 8 di internet, mendengarkan kaset /CD Bahasa Inggris di ruang audio-visual, begitu saya menyebut satu ruangan khusus di lantai 4 samping perpustakaan, atau malam-malam sebelum tidur saya menyetel chanel radio yang berbahasa Inggris. Begitu intens saya mempersiapkan diri selama dua atau tiga minggu itu meski nyatanya tak begitu banyak perkembangan berarti.

Hari mendebarkan itupun tiba. Kami satu tim SDH Lippo Karawaci berangkat pagi-pagi hari dengan angkot carteran. Jaraknya tak begitu jauh, paling antara satu sampai dua kilometer, tapi karena menghindari macet di daerah Islamic Center dan jalan Imam Bonjol tempat bis-bis yang pulang pergi area Jakarta, kami memilih berangkat pagi-pagi sekali.

Sekolah tersebut berada di lingkungan perumahan yang cukup asri. Perumahan Lippo tentunya. Sekolah juga masih sepi ketika kami tiba di sana. Hanya ada security yang pertama-tama menyambut kami. Karena masih sepi,  kami bebas dan dengan leluasa berjalan mengelilingi area sekitar sekolah. Sambil melihat-lihat sambil menerka-nerka. Seperti apakah kira-kira anak-anak di sana?

Beberapa lama kemudian, satu per satu anak pun mulai datang, demikian juga guru-gurunya. Anak-anak ini, tampaknya mereka manis-manis. Melihat kami, mereka memberi salam dan berlalu menuju kelas masing-masing. Mereka tampak tenang-tenang saja. Pikir saya sebelumnya, mereka akan terkejut melihat masih pagi sudah ramai orang berkumpul di sekolah. Tapi tidak. Laku mereka biasa saja. Mungkin karena sudah SMP dan SMA, mereka tampak tenang, lebih dewasa, dan lebih tahu bagaimana bersikap.

20 menit sebelum pukul 07.00, kami diminta berkumpul di satu ruangan, beda SMP dengan SMA, untuk devosi pagi sekaligus penyambutan dan perkenalan. Di situ kami pun dipertemukan dengan mentor masing-masing. Ibu Novie, seorang yang masih muda. Ketika mengetahui saya orang Kupang, ia pun bilang kalau salah satu orangnya juga adalah orang Flores. Saya agak lupa-lupa ingat, entah itu bapaknya atau ibunya. Ibu Novie adalah mentor saya untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Karena ia juga adalah wali kelas 8b, maka saya pun ditempatkan berada di ruangan itu. Sementara untuk pelajaran Agama, saya mendapat mentor Ibu Ullie. Beliau seorang Batak. Juga wali kelas 8. Minggu pertama saya full mengikuti Miss Novie di pelajaran Bahasa Inggris. Seminggu berikutnya barulah saya bersama Ibu Ullie untuk pelajaran agama.

Minggu pertama berjalan baik. Begitupun minggu kedua. Namun dari dua minggu di kelas berbeda itu, banyak hal yang membuat kaya itu justru saya alami di pelajaran Bahasa Inggris. Pengalaman ini baiklah saya ceritakan di postingan berikut.