God's Story, Refleksi

Kapsul 2: Berkat Hikmat dan Pengaruhnya bagi Dunia (Salomo, The Help,  dan Julie & Julia)

Tidak meminta kekayaan, umur panjang, atau nyawa musuh ketika ditanyai Tuhan,  Salomo justru meminta hati yang paham menimbang perkara serta hikmat untuk membedakan yang baik dan jahat. Permintaan itu di mata Tuhan dipandang sangat baik. Bahkan apa yang tidak dipinta pun ditambahkan. Sebab Tuhan tahu, Salomo telah meminta yang benar.

Kisah pertama yang datang setelah itu adalah kedatangan dua perempuan membawa perkara kepemilikan bayi mereka. Cerita ini pertama kali saya dengar waktu kecil bukan dari alkitab melainkan membacanya di buku, entah buku apa. Hanya yang masih jelas saya ingat adalah nama raja dengan kisah yang sama tersebut bukan Salomo melainkan Sulaiman atau Salomon. Awal mendengar kisah itu, saya terkagum-kagum dengan keputusan sang raja. Pikir saya itu hanyalah dongeng kuno dari dunia antah berantah, sehingga saya cukup kaget ketika pada satu kesempatan membaca saya bertemu kisah ini ternyata ada di kitab Raja-Raja.

Masih tentang hikmat Salomo. Selain menimbang perkara, berkat hikmatnya itu, bisa kau lihat, berapa banyak karya ia hasilkan?

Salomo semasa hidupnya dicatat mampu menghasilkan 3000 amsal dan 1005 nyanyian. Ia bersajak tentang seisi alam. Berbicara tentang mereka. Bahkan sampai orang-orang dari penjuru dunia berbondong datang padanya, untuk mendengarkan hikmatnya, serta tak lupa mereka membawa upeti sebagai persembahan mereka sebab hikmatnya sebagai raja kala itu.

Beranjak dari kisah Salomo, raja Israel yang baru dikokohkan itu, saya selama dua hari ini (terhitung dari kemarin) boleh punya kesempatan menonton dua film tentang menulis. The Help dan Julie & Julia.

Film The Help sudah beberapa kali saya tonton. Hanya entah kenapa saya tiba-tiba ingin lagi menontonnya. Sementara Julie & Julia meski sudah lama mendengar tentang film ini, saya baru kali ini sempat menontonya.

Meski kedua film ini sama-sama bercerita tentang menulis, pertama kali mendengar film The Help saya langsung tertarik karena bercerita tentang perbedaan warna kulit di Amerika kala tahun 1960-an, sementara film Julie & Julia saya tunda karena bercerita tentang masak-memasak yang mana saya tak begitu tertarik dengan kegiatan satu ini.

Saya sudah beberapa kali menonton The Help dan tak pernah bosan, sebaliknya saya baru kali ini menonton Julie & Julia dan menyesal kenapa tak dari sebelum-sebelumnya saya tonton.

Kedua film ini menunjukkan dampak dari menulis bagi dunia. Ketika mereka (para tokoh utama) diperhadapkan dengan berbagai kesulitan, entah itu dianggap berbeda oleh teman-teman, keluarga, dan masyarakat, tidak nyaman dengan kerjaan atau tempat kerja, atau merasa bingung harus berbuat apa untuk mengisi waktu-waktu seperti terlewati begitu saja, kemudian menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan menulis. Menulis sesuatu yang berbeda, yang unik, yang belum pernah ada sebelumnya atau kalau ada pun bukan yang sama persis, dan yang terpenting adalah dunia mereka. Dan memang benar, yang mereka tulis adalah bidang yang mereka minati, mereka cintai…sepenuh hati.

Di The Help, Ms Skeeter menuliskan kumpulan cerita pengalaman menjadi pembantu kulit hitam di rumah orang kulit putih di daerah Jackson. Buku itu kemudian menggemparkan dunia terutama wilayah Jackson yang kecil. Film ini diangkat dari sebuah novel karangan Kathryn Stockerr yang inspirasinya datang dari pengalaman nyata yang pernah ada di tahun 1960-an. Novel ini kemudian membuat teman satu kampungnya yang adalah seorang sutradara, Tate Taylor, jadi bernostalgia dengan Jackson, membuatnya menjadi sebuah film dengan melibatkan banyak sekali aktris/aktor berbakat dari bangsa kulit hitam.

Berbeda dengan film The Help yang diangkat dari novel fiksi, maka Julie & Julia besutan Nora Ephron ini diangkat dari kisah nyata dua penulis beda genarasi. Buku Julie Child di tahun 1960-an dan buku Julia Powell di tahun 2005. Kerajaan dua buku tersebut sama-sama membahas tentang memasak.

Julie Child meski sedari awal seolah tak tampak bakat memasaknya, namun kemudian, hasil karyanya, racikannya mampu menghebohkan negara-negara di Amerika dan Eropa sampai terbit banyak sekali buku, film, acara-acara TV, lagu, musik, riset-riset ilmiah, yang mengulas tentang buku memasaknya yang terkenal itu. Bahkan 40 tahun kemudian masih tetap melahirkan penggemar baru, salah satunya itulah Julia Powell yang begitu tergila-gila dengan chef penulis buku Mastering the Art of French Cooking ini. Pusing dengan pekerjaannya di kantor, Julia Powell mencoba mencari kegiatan menyenangkan sekaligus menantang dengan menulis di blog pribadinya selama 365 hari tentang kegiatannya memasak berdasarkan panduan dari buku idolanya. Hasilnya, banyak orang melirik kerjanya. Kumpulan tulisannya kemudian diterbitkan. Bahkan, lebih dari itu, Nora Ephron, seorang sutradara Amerika mengangkat kedua kisah ini menjadi film “Julie & Julie” yang membawa aktris Meryl Streep memenangkan berbagai penghargaan sebagai aktris terbaik dalam memerankan Julie Child (yang mungkin karena pengaruh namanya ‘Child’ itu–padahal itu nama dari suami, pembawaan Julie Child ini juga nampak seperti anak-anak, lucu dan naif. Tapi mungkin juga karena itu yang membuat ia dan Paul tampak manis sekali😜😍).

Jadi, poin penting dari tiga hal tersebut (keputusan Salomo, film The Help, film Julie & Julia) adalah Hikmat yang Mengubah Dunia. Maka itu, mintalah kepada Tuhan, pertama-tama adalah HIKMAT🙏. Niscaya, ia akan memakaimu sebagai perpanjangan tangannya membawa perubahan bagi dunia dengan hal kecil yang kau lakukan 😉👌💪. 

Iklan