Merayakan Keseharian

Kapsul 5: Terlaksana. Hari Khusus tentang Sharing Buku

Berbahagialah. Hari ini khusus untuk postingan sharing buku. 

Sebenarnya setelah ini mestinya kau cepat-cepat tidur. Besok masih ada hari. Pula sesuai agenda, sorenya ada pertemuan dengan rektor kampus tempat kau pernah tersaruk-saruk di sana. Rehatlah segera! 👌

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Chapel Guru

Sharing buku di sesi kesaksian chapel guru sebelumnya sudah dimulai Ibu Elise Lobo, kepsek kami. Ada dua buku yang ia bagikan di dua waktu yang berbeda. Sayang sekali saya hanya sempat mengingat salah satunya yakni Perjumpaan dengan Salib Kristus yang ditulis oleh Yohan Candawasa. Meski ditulis orang Indonesia dan berbahasa Indonesia, buku ini justru ia beli di Melbourne ketika terpilih sebagai salah satu peserta mewakili guru math SMP di NTT mengikuti program belajar sebulan di sana.

Menurut kesaksiannya, nilai yang ia dapat dari buku tersebut melampaui segala pengalaman dan cerita yang mungkin ia saksikan dari perjalanannya. Bukan sekadar pemandangan, bukan sekadar mencecap aneka rasa masakan, bukan sekadar mempraktekkan Bahasa Inggris, bukan sekadar bertemu orang baru dan bertukar cerita, bukan sekadar bertukar budaya dan menambah wawasan, bukan sekadar metode mengajar baru.

“Saya pikir, saya dibawa Tuhan jauh-jauh ke sana hanya untuk bisa bertemu buku ini,” katanya.

Tepat katanya👌. Saya sebagai rekan kerja sekaligus kawan dekat bisa melihat itu.

***

Hari ini, Selasa, 30 Januari 2018, ada lagi guru yang maju memberi kesaksian berupa sharing buku. Ibu Ria, seorang guru Agama, maju dan berbagi buku yang berjudul Air Mata Pernikahan. Buku tersebut ditulis Billy Kristanto. Dengan gaya khasnya ia mulai mengulas dari bagian sampul buku. Apa makna di balik gambar sambul buku serta latar belakang sampai ia memilih merogoh koceknya demi buku tersebut.

Menurutnya, meski ada beberapa hal penting mengenai isi buku itu, namun ia hanya akan membagikan dua yang paling penting. Sebenarnya saya kurang jelas menangkap maksudnya, jadi saya hanya mencoba menguraikan kembali apa yang terdengar. Pertama, ketika pertama kali Hawa diadakan, keluar pujian dari mulut Adam, kemudian ketika mereka jatuh dalam dosa, justru keluar dari mulut yang sama keluar tuduhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ada penyelesaian. Kedua, pernikahan bukan satu-satunya solusi untuk penyelesaian masalah. (kurang lebih begitu). Intinya yang saya tangkap adalah bukan berarti kau sedih dan berpikir menikah agar kau merasa bahagia, atau bukan karena kau selalu merasa kesepian dan berpikir harus menikah agar kau punya teman, atau bukan berarti kau miskin dan berpikir bahwa jalan keluarnya adalah menikah supaya kau bisa kaya (ini contoh versi saya). Bila masalah itu sudah ada dalam dirimu, maka tidak menikah atau menikah pun tetap saja sama. Jadi pernikahan bukanlah satu-satunya yang mesti kita tuju. Pernikahan kita bukan pusat dan inti kehidupan orang percaya. Kalau begitu apa dan bagaimana penyelesaiannya? Jawabannya adalah Kristus. Ia adalah dasar dari pernikahan. Bahwa oleh Kristus, pernikahan sebenarnya adalah melambangkan pernikahan antara Allah dan kita sebagai jemaat-Nya.

Demikian yang bisa saya tulis. Semoga saya tidak salah mendengar karena waktu sharing ini pikiran saya agak melenceng, “Sebentar nanti saya mau buat postingan tentang sharing buku ah..kebetulan hari ini di kelas ada siswa sharing buku, sekarang di chapel guru ada juga guru sharing buku. Lumayan buat postingan baru.” Maka ini akibat yang saya terima gara-gara semangat mau buat postingan baru tapi justru abai dengan materi di depan mata yang diniatkan posting.

Catatan Buku, Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Sesi BaKar

Sharing buku di sesi BaKar ini sudah mulai dilakukan tahun lalu, namun saya baru mulai memahatkannya sekarang. Karena semester ini baru dua orang yang khusus berbagi tentang buku, maka dua orang siswa inilah pembuka untuk edisi sharing buku di sesi BaKar. 

Sharing Buku “Laut Bercerita” 

Sharing buku di kelas 9.1 pada pertengahan Januari 2018 dari seorang siswa bernama Jesicca Rambu Loya. Buku yang ia baca berjudul Laut Bercerita, ditulis oleh Leila S Chudori. Buku ini mengangkat kisah tentang seorang mahasiswa bernama Biru Laut, sahabat, dan keluarganya saat kerusuhan 1998. Selain sinopsis yang ia bagikan, menurutnya ia senang membaca buku ini karena akhirnya bisa sedikit mengetahui kisah-kisah di balik kerusuhan 1998 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi dan mungkin tak banyak orang tahu. Namun, ia juga menyayangkan adanya beberapa bagian cerita yang bisa membatasi pelajar SMP untuk membaca buku tersebut.

***

Sharing buku “Natisha” 

Sharing buku berikutnya oleh Silvia Ndapatamu pada hari Selasa, 30 Januari 2018. Buku yang ia baca adalah Natisha oleh Khrisna Pabichara. Buku berlatar Makassar ini menceritakan tentang kisah Tutu, Rangka, dan Natisha. Tidak hanya bercerita tentang kisah cinta yang romantis sebagaimana novel-novel remaja umumnya, namun membaurkan antara pengkhianatan, dendam, dan juga budaya Makassar misalnya ilmu parakang yang bisa membuat kaya, awet muda, kebal, dll.

Sama seperti Jessica, Silvia pun menyukai bagian sejarah dan budayanya, namun menyangkan beberapa cerita yang menurutnya belum bebas dibaca pelajar SMP.

Cuplikan Cerita Lentera

Sesi BaKar (Baca Karya) ala Lentera Kupang

Di kelas 9.1, Jesicca berbagi tentang buku yang dibaca berjudul Laut Bercerita oleh Leila S Chudori, sementara Jovan membaca pantun yang dibuat sendiri

Di kelas, kami ada sesi rutin yang disebut BaKar. Kata BaKar merupakan akronim dari baca karya.

Ceritanya, ketika sesi ini baru awal-awal dimulai, saya sendiri selalu menggunakan kata ‘baca karya’ untuk mengingatkan siswa yang mendapat giliran baca. Hingga suatu hari seorang siswa mengajukan tangannya dan berkata, “Ibu, bagaimana kalau penggunaan kata baca karya ini diganti dengan BaKar, kan artinya masih tetap, baca karya.”

Mendengar itu, sontak saya teringat sesuatu, menyayangkan kenapa saya sendiri tak terpikirkan akronim ini, padahal model-model baca karya atau bicara karya seperti ini di Kupang sudah pernah dibuat dan saya sendiri pernah mengikutinya. Memang sudah cukup lama. Beberapa tahun yang lalu pernah ada pertemuan rutin antara penikmati-penikmat sastra di Kupang. Satu acara bulanan tersebut mereka namai Babasa, yang katanya merupakan akronim dari Baca dan Baomong Sastra. Kegiatan itu baik dan patut diapresiasi. Ia semacam festival kecil-kecilan. Hanya beberapa kali berlangsung, dan kemudian tak terdengar lagi.

Lantas terhadap usulan siswa tersebut, tentu saja langsung disambut baik. Saya menuliskannya di sini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap usulan ini. Terima kasih kepada Rick. Sstt..kamu dipakai Dia😊.

Kata BaKar pas sekali di sini. Ia tidak hanya merupakan akronim baca karya, tapi bisa juga berarti membakar semangat seusai SSR dan sebelum memulai pelajaran. Jadi waktu saya yang 90 menit per pertemuan itu, demikian saya pakai untuk SSR, mengisi jurnal baca, dan BaKar sebelum masuk ke materi belajar.

Satu hal yang saya syukuri dari sesi BaKar adalah anak-anak belajar bertanggungjawab sebab mereka sudah tahu kapan giliran mereka dan artinya harus siap, belajar mengapresiasi sebab ketika ada teman berdiri dan membacakan karya di depan itu berarti mereka harua diam dan memperhatikan serta memberi apresiasi tentunya apalagi bagi mereka itu karya yang bagus, serta bisa belajar mengerti. Belajar mengerti karena dari hasil karya mereka bisa dibaca apa yang sedang berenang di benak mereka. Intinya, ada banyak hal positif dan membangun dari sesi BaKar kami di kelas.

Sesi BaKar ini, anak-anak dipersilakan membuat karya tulis apa saja selama itu adalah hasil karya siswa tersebut. Mereka bisa membuat cerpen, puisi, pantun, cerita pengalaman berkesan, sharing buku, sharing film, atau bahkan menampilkan monolog. Meski tidak sebagus dan sekeren para profesional, bagi saya mereka sudah berusaha mengerjakan bagian mereka dengan baik. Ada beberapa karya mereka sudah saya kumpul. Berharap bisa segera dibagikan. Kalau bukan di sini, maka di blog sekolah👌. Doa saya menyertai mereka🙏😇. Imanuel.