Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Chapel Guru

Sharing buku di sesi kesaksian chapel guru sebelumnya sudah dimulai Ibu Elise Lobo, kepsek kami. Ada dua buku yang ia bagikan di dua waktu yang berbeda. Sayang sekali saya hanya sempat mengingat salah satunya yakni Perjumpaan dengan Salib Kristus yang ditulis oleh Yohan Candawasa. Meski ditulis orang Indonesia dan berbahasa Indonesia, buku ini justru ia beli di Melbourne ketika terpilih sebagai salah satu peserta mewakili guru math SMP di NTT mengikuti program belajar sebulan di sana.

Menurut kesaksiannya, nilai yang ia dapat dari buku tersebut melampaui segala pengalaman dan cerita yang mungkin ia saksikan dari perjalanannya. Bukan sekadar pemandangan, bukan sekadar mencecap aneka rasa masakan, bukan sekadar mempraktekkan Bahasa Inggris, bukan sekadar bertemu orang baru dan bertukar cerita, bukan sekadar bertukar budaya dan menambah wawasan, bukan sekadar metode mengajar baru.

“Saya pikir, saya dibawa Tuhan jauh-jauh ke sana hanya untuk bisa bertemu buku ini,” katanya.

Tepat katanya👌. Saya sebagai rekan kerja sekaligus kawan dekat bisa melihat itu.

***

Hari ini, Selasa, 30 Januari 2018, ada lagi guru yang maju memberi kesaksian berupa sharing buku. Ibu Ria, seorang guru Agama, maju dan berbagi buku yang berjudul Air Mata Pernikahan. Buku tersebut ditulis Billy Kristanto. Dengan gaya khasnya ia mulai mengulas dari bagian sampul buku. Apa makna di balik gambar sambul buku serta latar belakang sampai ia memilih merogoh koceknya demi buku tersebut.

Menurutnya, meski ada beberapa hal penting mengenai isi buku itu, namun ia hanya akan membagikan dua yang paling penting. Sebenarnya saya kurang jelas menangkap maksudnya, jadi saya hanya mencoba menguraikan kembali apa yang terdengar. Pertama, ketika pertama kali Hawa diadakan, keluar pujian dari mulut Adam, kemudian ketika mereka jatuh dalam dosa, justru keluar dari mulut yang sama keluar tuduhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ada penyelesaian. Kedua, pernikahan bukan satu-satunya solusi untuk penyelesaian masalah. (kurang lebih begitu). Intinya yang saya tangkap adalah bukan berarti kau sedih dan berpikir menikah agar kau merasa bahagia, atau bukan karena kau selalu merasa kesepian dan berpikir harus menikah agar kau punya teman, atau bukan berarti kau miskin dan berpikir bahwa jalan keluarnya adalah menikah supaya kau bisa kaya (ini contoh versi saya). Bila masalah itu sudah ada dalam dirimu, maka tidak menikah atau menikah pun tetap saja sama. Jadi pernikahan bukanlah satu-satunya yang mesti kita tuju. Pernikahan kita bukan pusat dan inti kehidupan orang percaya. Kalau begitu apa dan bagaimana penyelesaiannya? Jawabannya adalah Kristus. Ia adalah dasar dari pernikahan. Bahwa oleh Kristus, pernikahan sebenarnya adalah melambangkan pernikahan antara Allah dan kita sebagai jemaat-Nya.

Demikian yang bisa saya tulis. Semoga saya tidak salah mendengar karena waktu sharing ini pikiran saya agak melenceng, “Sebentar nanti saya mau buat postingan tentang sharing buku ah..kebetulan hari ini di kelas ada siswa sharing buku, sekarang di chapel guru ada juga guru sharing buku. Lumayan buat postingan baru.” Maka ini akibat yang saya terima gara-gara semangat mau buat postingan baru tapi justru abai dengan materi di depan mata yang diniatkan posting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s