Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 34: Berkat Sesi BaKar 


Merasa terberkati sekali dengan adanya sesi bakar di kelas👍👏🙏😍😚😇. 


Iklan
God's Story

Kitab Ayub dan Drama Goethe

Bisa sebagai referensi 🙏😇

BCC

Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 25 Juni 2014)

“Ketika bumi terdiam karena angin selatan, dapatkah engkau bentangkan keras angkasa cermin tuangan?” (Kitab Ayub). Dalam sebuah diskusi lesehan, yang saat itu tanpa sengaja kami tiba-tiba tertarik untuk membincang soal maraknya fenomena tindakan-tindakan anarkhisme dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, yang dalam hal ini atasnama Islam, salah-seorang teman nyeletuk bahwa tidak semua orang beragama itu religius. Tentu saja yang dimaksud salah-seorang teman itu adalah beberapa orang dan sejumlah kelompok Islam belakangan ini yang seakan-akan “pasti akan masuk surga” hanya dengan menyatakan diri sebagai seorang muslim tanpa dibarengi dengan sikap kesalehan dan sikap religius yang tidak mudah. Apa yang diceletukkan salah-seorang teman itu sebenarnya merupakan sebuah soal lama dan isu renungan klasik, semisal yang menjadi bahan renungannya Kitab Ayub dan Faust-nya pujangga Jerman: Goethe yang masyhur itu.

Seperti kita tahu, Faust, doktor yang gigih belajar itu, akhirnya tergoda bujukan Mephistopeles demi…

Lihat pos aslinya 1.458 kata lagi

Refleksi

Kapsul 31: Bagaimana Rasanya Menjadi Yoas bin Ahazia? 

Bagaimana rasanya menjadi Yoas bin Ahazia? 

Sewaktu bapak mati, kau malah diburu ingin dibunuh nenek sendiri. Oleh tantemu, saudara perempuan bapakmu, kau disembunyikan. Diselamatkan dari kebengisan ibunya.

Bersama inang pengasuh, kau bersembunyi selama 6 tahun di rumah Tuhan. Oleh ommu, kau ditampilkan di muka orang tahun ke-7. Dinobatkan menjadi raja di usia bocah.

Seperti apakah perasaanmu ketika melihat nenekmu datang tergopoh-gopoh dan terkejut mendapati kau masih hidup, malah sudah ada jamang kebesaran di kepalamu serta dilimpahi sorakan rakyat, “Hiduplah raja. Hiduplah raja!”

Kau hanya bisa melihat dan mengikuti saja apa yang dilakukan ommu kepada mertuanya itu, nenekmu.

Apa yang kira-kira ada dalam kepalamu saat itu? Apa kira-kira yang sedang kau rasakan? 

Senang? Sedih? Marah? Benci? Terharu? Atau apa?

Lalu seperti apa tahun-tahun selanjutnya ketika kau berstatus raja namun yang menjadi pengendali adalah ommu? Di antara masa-masa kerjamu sebagai raja, apakah kau masih sempat-sempatnya bermain? Bagaimana kau di antara anak-anak sebayamu? Seperti apa dan bagaimanakah saat-saat itu?

Oh ya, saya tiba-tiba teringat satu seri film petualangan Indiana Jones, Indiana Jones and The Temple of Doom. Jangan-jangan tampakanmu seperti Maharajah Zalim Singh di Pankot Palace itu. Kecil-kecil jadi raja, menjabat di antara orang dewasa.

Meski setelah itu namamu tak tercatat dan tak dianggap. Bukan salahmu. Itu akibat perbuatan kakek buyutmu. Karena dialah, kau beserta bapakmu dan anakmu, tak dianggap dari silsilah raja-raja. Tak dicatat sebagai salah satu moyang dari Isa, Yesus, Anak Daud.

Kau memang punya kesalahan sendiri. Sepeninggal ommu, kau mulai bermain serong, meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada tiang-tiang dan patung-patung berhala. Kau tak mau dikritik dan diperingatkan. Kau memerintah orang merajam sepupumu, anak om dan tante yang telah menyelamatkanmu. Entahlah, kenapa tak ada rasa terima kasih kau berikan sebagai balasan. Sudahlah, tidak perlu heran. Sebab kau memang sudah gelap mata. Terkait kesalahan itu, kau sudah punya tanggunganmu sendiri, dibunuh di tempat tidur oleh pegawai-pegawaimu. Dan sebagaimana kakekmu, kau juga tak mendapat tempat di pekuburan raja-raja.

Ah, tapi ini sudah masuk ke kehidupan masa dewasa. Saya tidak begitu tertarik dengan kehidupan masa dewasa karena sepertinya mirip-mirip dengan para raja di masa-masa itu.

Yang saya pertanyakan di sini adalah, kembali ke awal, ke masa-masa awal penobatanmu sebagai raja, bagaimana rasanya menjadi engkau saat itu?

 

Kegiatan Seni dan Budaya

Pementasan “Puisi Menolak Korupsi” di Aula Museum Daerah NTT, Kupang

Pementasan monolog “Nyonya Orange” oleh Sahadewa
Pembacaan Puisi oleh Romo Amanche Frank
Sosiawan Leak, Penyair
Pementasan monolog “Tuan Orange” (berhubung lupa judul jadi saya kasih nama demikian) oleh Abdi Keraf
Pak Bambang, penyair juga seorang aktor
Pementasan monolog “Batu” dari Teater Nara, Larantuka, Flores, NTT