Merayakan Keseharian

Kapsul 7: Kayu Cendana dalam Kisah Salomo dan Ratu Syeba

Kunjungan Ratu Syeba. Sumber: ancient origin

Niat awal saya untuk kapsul 7 sebenarnya mau melanjutkan tentang “Facing a task unfinished“. Tapi kemudian otak saya terseret saja dan beralih kepada kisah kuno Raja Salomo dan Ratu Syeba.

Bagian menarik menurut saya di sini adalah disebutkan kayu cendana di dalamnya. Saya mencoba mengecek, adakah lagi di bagian lain disebutkan mengenai kayu cendana, dan ternyata tidak selain kisah dalam kisah kunjungan Ratu Syeba saja. Penulisan kayu cendana hanya ada di 1 Raja-Raja 10 dan 2 Taw 9 (selain Mazm 45).

Bagian menarik di sini karena saya sendiri heran kenapa selama ini membaca kisah kunjungan Ratu Syeba namun tidak menaruh perhatian kalau di sana ada juga penulisan kayu cendana. Beberapa hari lalu atau kalau bukan ya minggu-minggu lalu, saya sempat berpikir karena penasaran dan ingin mencari tahu sejarah adanya pohon cendana di pulau Timor. Bermula dari membaca cuplikan-cuplikan sejarah perang yang pernah terjadi di pulau Timor, yang bermula dari datangnya pedagang-pedagang ke Pulau Timor ini.

Sewaktu baru pertama kali keluar dari tanah Timor ini, baru saya tahu bahwa orang-orang di luar sana terkadang menganggap Kupang atau pulau Timor ini seolah tidak ada apa-apanya yang patut dibanggakan (kesan saya pernah begitu). Padahal sebenarnya ada banyak hal dan dari berbagai sudut yang merupakan keunikan dari Kupang dan pulau Timor ini. Ya, saya percaya setiap tempat di bawah kolong langit, di manapun adanya punya keunikan masing-masing dan tiada duanya. Demikian juga Kupang dan Pulau yang Timor ini.

Nama Kupang hanyalah sebagian kecil dari Pulau Timor. Kupanh sekarang terdiri atas dua (entah apa sebutannya, nanti baru saya cari tahu sebentar) yaitu Kota dan Kabupaten. Daerah kota ada di tengah daratan. Sementara bagian pinggirannya atau pesisir pantai masih tergolong kabupaten. Selebihnya daratan tempat Kupang berdiri ini disebut Sebagai Pulau Timor. Membentang dari ujung barat yang merupakan area kabupaten Kupang hingga ujung timur yang disebut dengan Timlr Leste dan kini berdiri sebagai negara sendiri.

Dulu sekali, jauh sebelum kau dan saya lahir, orang-orang dari negeri jauh sana berlomba-lomba datang dan singgah di Kupang atau daratan Pulau Timor.

Nah, coba, kenapa kira-kira mereka mau datang ke Timor? Meski datang mungkin hanya untuk sekadar singgah? Kenapa mereka perlu datang ke Pulau yang disebut Pulai Timor? Pastinya, niat mereka tidak sesuci Robert Morrison atau Hudson Taylor mendatangi Tiongkok misalnya.

Kedatangan mereka pasti ada maunya. Mereka tahu, Pulau Timor punya harta karun pada tanahnya. Apakah itu? Pohon cendana.

Ya, cendana pernah membuat pulau ini dikenal dan dipuja-puji di dunia sebagai nusa cendana.  Namun, sekarang, di manakah cendana itu? Masih adakah? Saya waktu kecil sering sekali ketika kami yang lagi asyik bermain tiba-tiba membaui satu bauan yang kami tak tahu apa itu. Baru pada suatu kali, ada seorang om menjelaskan kepada kami bahwa itu wangi cendana. Baru saya tahu , oh itu wangi cendana? Kami pun terus mengendus-ngendus biar bisa lebih banyak mencium wangi cendana.

Cendana sekarang sudah jarang bahkan nyaris tak ada pernah lagi saya lihat. Cendana, meski dalam artikel nationalgeographic ditulis merupakan tanaman asli Pulau Timor, ia sebenarnya sudah ada di zaman Raja-Raja, sudah dipakai Salomo dalam membangun istana, dan dituliskan saat kunjungan Ratu Syeba.

Kesimpulannya, cendana tidak hanya ada di Pulai Timor. Cendana belum tentu juga merupakan tanaman asli pulau Timor. Jadi, boleh bangga tapi jangan overdosis. Boleh bangga bahwa cendana di Pulau Timor pernah digila-gilai bangsa-bangsa di dunia, tapi ia pun sudah pernah ada dan dipakai di masa pemerintahan Raja Salomo, tepatnya disebutkan pada kisah kunjungan Ratu Syeba.

PRK, Siaran

Jual Buku-buku Momentum di Kupang

Seusai kuliah di UPH dan ditempatkan bekerja di SLH Kupang, satu hal yang sedihkan adalah bagaimana nanti saya bisa mendapatkan buku-buku macam begini di Kupang. Tahun pertama berjalan baik tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang. Tahun kedua atau ketiga ada donatur menyumbangkan buku-buku untuk SLH Kupang, di antaranya banyak buku terbitan Momentum. Saya senang sekali melihat buku-buku tersebut akhirnya ada di perpustakaan SMP-SMA Lentera Harapan Kupang. Akhirnya bisa baca-baca lagi buku-buku tersebut.

Tahun 2017 kemarin, seusai kegiatan Refo500 di Kupang, seorang anggota PRK menyumbangkan buku-buku pribadi terbitan terbitan Momentum untuk dijual kepada umat yang hasil penjualan semuanya dipakai untuk pengembangan pelayanan PRK.

Bila Anda yang berlokasi di Kupang dan ingin membeli buku-buku tersebut (judul-judulnya seperti yang terlihat di foto), Anda dapat mendatangi tempat penjualannya di:

Sekretariat PRK (seberang POM bensin Frans Seda, Ruko antara Cafe Ratan dan Waroeng Steak, Jl Frans Seda, Fatululi, Kupang). Buka di hari Jumat, pukul 18.30-21.00 wita (hanya di hari kebaktian PRK😊Atau bisa juga dengan menghubungi No.hp: 081399247911.