Cerita-cerita

Kapsul 10, Sebuah cerita: Ibu Pergi Saat Hujan

Usiaku beranjak lima tahun kala itu. Baru masuk TK dua bulan. Sewaktu pulang sekolah, bersama dua orang temanku, Rosi dan Karlina, kami berjalan pulang sambil bermain air hujan yang menggenang di tengah lapangan. Kami mencoba mencari berudu untuk ditangkap. Sementara itu gerimis masih menitik turun. Rerumputan dan daun-daun hijau yang tumbuh di lapangan, disela bunga-bungaan liar memberi pemandangan dari jauh seolah-olah diselimuti permadani yang terhampar dari ujung ke ujung.

Tiba di ujung timur lapangan, dekat pinggiran sonaf*, sebuah truk mendekati kami dari belakang. Truk itu berwarna kuning. Aku melihat sekilas dalam hujan, ibuku ada di atas truk kuning itu. Duduk di depan, persis di samping supir.

Ibu melihatku dari atas tempat duduknya yang dalam pandanganku waktu itu sangatlah menjulang tinggi. Ia tersenyum padaku lantas melambaikan tangannya. Wajahnya nampak begitu cantik.

Aku balas melambaikan tangan dan berseru gembira, “Ibu…”

Truk kuning itu terus berlalu. Ibu masih hanya tetap melambaikan tangannya.

Pikirku mungkin ibu baru saja pulang entah dari mana dan ia akan kembali ke rumah mendahuluiku. Aku pun meneruskan kegiatan berburu berudu di genangan air hujan bersama dua orang temanku.

Bosan berburu berudu, kami mencoba bermain-main air dengan daun talas. Memetik helai-helai daun talas, menaruh sepercik air di atasnya lalu berusaha membasahi dengan meniup atau mengucek-nguceknya. Sekalipun tak berhasil, kami tetap ingin saling menantang siapa di antara kami berhasil membasahi maka dialah yang keluar sebagai pemenang. Bila ada yang berseru dia berhasil maka kami akan ramai-ramai menengoknya, tetapi orang yang berseru berhasil itu sendiri akan berlari menghindar. Ini membuat kami saling berkejaran, diiringi dengan tawa berderai. Kami tahu bahwa ia sebenarnya tidak berhasil membasahi daun talas.

Puas bermain-main daun talas, kami meneruskan perjalanan kembali ke rumah masing-masing.

Baru di jalanan depan rumah, seperti biasa Anoh, adikku laki-laki yang berusia tiga tahun  berjingkrak-jingkrak dan berseru senang menyambut.

“Hore, kakak datang…kakak datang…”

Segera kugandeng tangannya. Kami masuk ke dalam.

Siang itu untuk pertama kalinya ibu tak ada di rumah ketika aku pulang sekolah.

Kepada Anoh yang kutanyai, ia justru bertanya balik, kakak tidak lihat di mana ibu? “Tadi pergi ke sana,” tangannya menunjuk ke arah sekolah.

Seusai berganti seragam, aku menuju dapur. Di dalam lemari ada satu panci penuh potongan-potongan labu kuning berbentuk dadu yang sudah direbus. Kaumbil beberapa di piring dan memakannya di luar bersama Anoh.

Siang itu kami bermain seharian saja di halaman depan demi menunggu ibu pulang. Sambil menunggu, kami bermain dengan gembira. Tidak sedikit anak-anak tetangga yang bergabung dengan kami, atau juga anak-anak dari daerah atas yang lewat pergi mengambil air di pancuran di seberang jalan aspal, singgah sebentar dan bergabung. Di antara pengambil air itu, ada yang hanya singgah sebentar, bergabung, lalu meneruskan perjalanan mengambil air. Ada yang sampai lupa waktu sampai ibunya atau kakaknya harus datang menyusulnya dengan rotan, satu kebasan dikenai di betis lalu sang anak akan histeris sambil terbirit-birit membawa ember atau jergennya menuju pancuran.

Tak hanya bermain di di depan, kami pun menyebrang jalan depan rumah masuk ke daerah samping sonaf. Ada beraneka buah di sana yang bisa diambil untuk dimakan. Asyik bermain hingga  matahari pelan-pelan menghilang di ufuk barat, namun tanda kemunculan ibu belum juga nampak.

Kawan-kawan bermain kami sudah diteriaki pulang ke rumah masing-masing. Tinggal aku dan Anoh. Kami berpikir ibu sudah tak lagi datang, kami segera berpindah tempat ke ujung jalan yang mengarah ke kebun-kebun penduduk, duduk menunggu bapak.

Hari sudah hampir gelap. Nyanyian jangkrik lamat-lamat mulai terdengar. Ayam-ayam sudah naik ke pohon nangka di belakang rumah.

Kami duduk dengan gelisah. Di rumah para tetangga, lampu-lampu sudah dinyalakan. Hanya rumah kami saja yang masih gelap. Belum ada satu lampu pun yang menyala. Kami tak berani menyalakannya. Sebab dari dulu bapak tak mau kami bermain-main dengan listrik sekalipun itu hanya menekan tombol saklar. Kalau kami nekat menyelakan, bisa-bisa bapak marah lalu memukul kami.

Jendela-jendela rumah pun masih terbuka. Mereka terlalu tinggi dijangkau. Bisa-bisa kami yang jatuh sewaktu berusaha menjangkau daun jendelanya yang terbuka mengarah ke luar. Biarlah tetap terbuka. Lagipula tak akan ada pencuri yang masuk.

Kenapa bapak belum juga balik dari kebun. Kami berandai-andai, bagamana kalau bapak atau ibu dua-duanya tak datang. Di detik itulah suara tangis Enoh melengking. Aku berusaha menenangkan tapi tak dapat. Ia mulai memanggil-manggil bapak dan ibu. Hatiku ikut pula tersayat-sayat. Jadi takut, bagaimana kalau mereka benar-benar tak ada yang muncul malam ini. Bagaimana kami akan makan, bagaimana aku mesti sekolah, dengan siapa lagi kami tinggal, bagaimana dengan rumah ini, banyak pertanyaan berkelepatan di kepala sementara Anoh masih menggaungkan tangisannya.

Samar-samar mataku menangkap sosok  bapak di ujung jalan. Aku tahu betul cara berjalan bapak. Rasanya, saat-saat seperti itu adalah seperti surga sedang mendekat.

 Aku dan Anoh gembira bukan main. Kami segera saja berlari menyambutnya. Bapak heran melihat sisa-sisa isakan Anoh.

“Ada apa?” ia bertanya.

“Ibu belum pulang,” sahutku sambil memegang bahu Emon.

Bapak diam sebentar. Ia memandangi kami bergantian. “Memangnya ibu ke mana?”

“Tidak tahu,” aku dan adik menggeleng bersamaan.

Bapak menuntun kami menuju rumah. Di beranda samping, ia berhenti sebentar lalu melihat sekeliling. Lampu-lampu di rumah orang sudah menyala semua, kudengar bapak bergumam.

Ia menurunkan bakul yang dijinjingnya. Mengeluarkan botol air dari sana lantas meneguk sisa-sisa air dari dalamnya.

Beberapa saat itu kami semua hanya diam di dalam gelap kecuali sisa-sisa isakan Anoh yang sudah dengan tempo lambat terdengar.

“Kalian benar-benar tidak tahu ibu di mana?” mata bapak menelisik ke arahku.

Aku menoleh ke adik yang duduk dalam pangkuan bapak. Ekspresi mukanya datar. Bola matanya tidak berbicara apa-apa.

Kami diam lagi. Ada sesuatu yang menahanku ketika sebenarnya aku ingin bersuara.

“Bapak, tadi aku melihat ibu,” akhirnya keluar juga suaraku meski takut-takut.

“Kapan? Di mana?” sambar bapak cepat.

“Sepulang sekolah tadi di lapangan dekat sonaf. Ibu ada di dalam sebuah truk. Duduk di depan, dekat om supir,” seperti sebuah laporan aku memberitahu bapak.

Mata bapak mendelik ke arahku lagi. Pelan-pelan ia kemudian bangkit dari duduknya, berjalan ke arah rumah tetangga.

Kudengar suara bapak bertanya kepada salah seorang di sana. Tidak ada yang melihat, mereka bilang.

Bapak kembali ke rumah. Kami yang menunggu di halaman samping digiring masuk. Bapak lalu menutup jendela-jendela, menyalakan lampu, lalu kami dimandikan. Di ruang tengah sambil duduk menunggu bapak mandi, aku mengambil buku-buku dan memperlihatkannya pada Anoh. Ia berminat hanya sebentar lantas meninggalkanku untuk bermain-main di lantai. Seusai bapak mandi dan berganti pakaian, kami bertiga masuk ke dapur. Di sana ada sebuah balai-balai kecil. Aku dan Anoh duduk di atasnya untuk bermain sambil bernyanyi-nyanyi. Sementara bapak memasak untuk makan malam kami.

*Sonaf: istana raja

Iklan
Kegiatan Seni dan Budaya

LIFEs Salihara Hari Kedua-Keempat

LIFEs Hari kedua, 20 Oktober 2017

Kegiatan hari kedua lebih banyak dihabiskan di luar Salihara. Dimulai dari mengunjungi Yayasan Lontar, singgah di Kafe (saya lupa nama kafenya), lanjut ke Gedung DKJ (jadi mengungkit kenangan lama akan insiden jalan Cikini Raya :D).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

LIFEs Hari ketiga, 21 Oktober 2017

LIFEs Hari kedua, 22 Oktober 2017

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Sumber gambar: Album Anaci

 

Cuplikan Cerita UPH, Kegiatan Seni dan Budaya

Bertemu Ayu Utami

Di Times Bookstore UPH Karawaci. Terima kasih kepada sang pemotret, seorang kawan saya yang sudah saya lupa siapa. saya sedang berusaha mengingat-ingat. yang jelas ia berjasa sekali memakai kamera hp-nya mengabadikan momen ini kemudian mengirimkannya pada saya😊🙏

Cerita pertemuan pertama.

Saat itu saya sedang tidur. Setengah sadar setengah pulas. Tiba-tiba datang kawan saya, orang Toraja, Arni namanya. Membangunkan saya tergesa-gesa dan bilang, “Mace, cepat kau bangun. Segera ke Times. Ada Sri Utami di sana.” Saya kaget bangun.

Sri Utami? Memangnya kenapa dengan Sri Utami? Sri Utami adalah salah satu kawan kamar saya di tahun pertama sewaktu kami di kamar 3805 dan saat itu kami sudah beda kamar beda lantai. Apa istimewanya dia kalai sekarang dia lagi di sana.

“Itu Sri Utami yang penulis itu. Cepat.” Ia sendiri kelihatan tak sabar.

Saya bangun ogah-ogahan. Maunya terus tidur karena saya baru saja pulang SOW di perpustakaan. Saya masih belum mengerti hubungan antara nama Sri Utami dan penulis. Setelah bangun dan mulai mikir-mikir, baru saya tiba-tiba teringat. Jangan-jangan Ayu Utami, penulis novel Saman.

Kebetulan juga kawan saya, Sri Utami, membuat nama akun facebooknya dengan nama Ayu Utami, meski hampir semua kawan fasih mengingat namanya adalah Sri Utami. Saya menjadi yakin. Pasti Ayu Utami. Kawan saya ini mungkin antara kabur-kabur mendengar nama penulis itu dengan kawan kami, Sri di kampus.

Segera dengan cepat saya bergerak turun. Tak sempat mandi lagi. Hanya mencuci buku dan mengambil sembarang baju di lemari dan segera berlari ke luar asrama menuju times bookstore yang ada tepat di gerbang kampus.

Saya tiba dengan napas tinggal satu-satu. Masuk melalui pintu belakang toko twntunya Ternyata acaranya sudah usai. Tinggal kursi-kursi kosong berbalutkan kain putih yang elegan. Orang-orang sementara mengbrol satu sama lain. Nampak di bagian depan, ada orang berkerumun. Nah, itu dia. Pasti itu sang tamu yang sedang dikerumuni. Siapa laginkalau bukan dia. Saya menunggu dari jauh sambil berkeliling melihat-lihat buku yang dipajang saat itu. Cukup lama sampai kerumunan itu pelan-pelan berkurang.

Tinggal seorang bapak. Saya yakin itu pasti staf UPH kalau bukan maka dosen (yang jelas bukan dosen TC), dilihat dari pakaian yang ia kenakan. Saya mencoba mencuri dengar apa pertanyaannya, biar saya bisa belajar kalimat apa yang kira-kira akan saya pakai untuk jadi kalimat pertama saya menyapa sang penulis.

Saya mendengar ia kurang lebih bertanya demikian, “Mbak, saya ini masih kagum dengan cara Mbak menulis Saman. Apa yang ada di benak Mbak ketika menuliskannya?” Saat itu saya begitu kagum mendengar pertanyaannya. Dan kemudian karena sibuk memikirkan kalimat apa yang akan saya ucapkan kepada sang penulis, saya tidak memperhatikan apa jawaban Mbak Ayu kepada bapak tersebut.

Perbincangan dengan bapak itu selesai. Tinggal Mbak Ayu dengan beberapa staf Times Bookstores. Saya baru kemudian mendekat. Memperkenalkan diri dan meminta maaf kalau saya saya baru datang sehingga tak sempat mengikuti dari awal. Lantas, entah bagaimana yang saya tanyakan adalah bagaimana Mbak Ayu bisa memutuskan menjadi penulis, apakah sudah merupakan cita-cita dari kecil ataukah pernah ingin menjadi sesuatu baru kemudian beralih menjadi penulis. Yang saya ingat dari jawaban Mbak Ayu adalah cita-citanya sebelumnya adalah ingin menjadi pelukis. Tapi karena beberapa hal ia kemudian mengambil studi sastra dan merambah juga ke dunia jurnalis yang di tengah-tengahnya ia menulis buku itu.

Entah percakapan apa lagi atau mungkin hanya itu saja, saya kemudian mengambil satu buku yang saat itu dipajang, membayarnya di kasir, meminta tanda tangannya, dan foto bersama. Selesai hari itu,  dan saya merasa ada yang mekar dalam diri saya.

Pertemuan kedua, terjadi di tahun 2015. Ayu Utami dari Komunitas Salihara bersama Hivos menjadi sponsor utama festival pertama Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang. Karena saya bergabung dalam komunitas ini, maka tentu saja selama kurang lebih tiga hari di Kupang, meski tak intens karena hari-hari itu adalah hari-hari sekolah, pasti saya sempatkan diri datang ke festival terlibat dalam festival ini.

Sumber gambar: bilanganfu

Rasa senang saya dobel karena kedatangan Mbak Ayu Utami di Kupang ini, anak-anak murid saya di SMP-SMA Lentera Harapan Kupang pun bisa bertemu dan belajar berama Ayu Utami. Itu tepat berlangsung di hari kedua festival, Mbak Ayu menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan workshop menulis kreatif. Bahkan foto bersama mereka diunggah Mbak Ayu dalam satu akun media sosialnya.

 

Pertemuan ketiga inilah yang berlangsung di Salihara, tempat bergiat Mbak Ayu Utami dan rekan-rekannya.

Kegiatan Seni dan Budaya

Menulis Ulasan tentang Salihara

IMG_20180202_233603.jpg
muncul setelah tiga bulan berlalu 19/18/17 – 2/02/18

Kau pernah pergi ke suatu tempat, atau singgah sebentar di sana, lalu terus ke tempat lain. Tanpa kau sadari keberadaanmu pun diikuti selama di tanganmu tergenggam yang namanya telepon pintar.

Antara yang baik dan tidak. Tapi ini dunia sekarang yang kau hadapi. Tak ada lagi ruang pribadi untukmu. Kau pikir hanya Tuhan saja yang tahu keberadaanmu? Ah, apakah pembanding ini bersifat aple to aple? 

Antara senang atau tidak dengan apapun nama aplikasi ini, baiklah, dia membantu mengingatkan. Namun, apakah akan baik selalu begitu? Tak juga.

Tapi karena yang diminta di sini (permintaan yang muncul begitu saya membuka akun facebook saya) adalah Komunitas Salihara maka baiklah saya menyanggupinya. Saya bersedia menulis sedikit tentangnya. Tapi bukan di tempat yang diminta. Saya memilih menuliskannya di blog ini.

Ok, langsung mulai saja.

Pada bulan Oktober 2017 lalu, Komunitas Salihara pernah mengundang saya dan beberapa teman sebagai peserta Forum Penulis Muda Indonesia untuk mengikuti festival mereka yang disebut dengan LIFEs. Saya pun berangkat ke sana dari Kupang.

Setibanya di sana, kami disambut Mbak Wikan dari Yayasan Lontar dan Rebbeca yang adalah koordinator kegiatan LIFEs ini.

Komunitas Salihara ini punya beberapa gedung. Ada galeri, gedung teater, taman, kafe, butik, wisma, dan beberapa ruang lain lagi.

Nah, selama mengikuti kegiatan lifes itu, kami yang tergabung dalam FPMI menginap di Wisma Salihara. Terletak di salah satu gedung lantai 2 dan 3.
Keadaannya cukup tenang. Mungkin karena terletak agak ke dalam, tidak langsung berhadapan dengan jalan raya. Kami menikmati makan siang yang disajikan sambil menunggu kedatangan kawan-kawan lain.

Tak berapa lama, Mbak Ayu Utami, sebagai yang mengundang kami, datang. Di tangannya ada sekantung plastik botol-botol kecil kopi. Ukurannya seperti botol yogurt atau mungkin lebih kecil lagi.

Ada dua alasan saya senang dengan kedatangan itu.

Pertama, ini yang ketiga kalinya saya bertemu dengan Mbak Ayu. Pertemuan ketiga ini jauh lebih tenang. Tidak seheboh kali pertama ketika Mbak Ayu bertandang ke UPH dan saya sendiri adalah mahasiswa semester 5. Peristiwa itu masih terekam baik di kepala saya.

Alasan kedua, saya menyukai kopi. Apalagi kopi ini baru. Lumayan bisa cicip-cicip kopi baru.

Berbincang-bincang sebentar kemudian kami beristirahat sebelum memulai sesi sore itu hingga malam. Hari pertama Lifes itu berkisar tentang penerbitan buku serta acara perayaan ulang tahun Yayasan Lontar.

Cerita tentang hari pertama LIFEs sudah saya posting sebelumnya. Di LIFEs Hari Pertama. Berikutnya hari kedua, ketiga, hingga hari keempat sebagai hari terakhir, punya momen dan kesannya sendiri-sendiri. Akan menyusul tulisannya juga.

IMG20171022221137Namun secara keseluruhan, saya berterima kasih pernah dibawa ke Komunitas Salihara untuk melihat langsung dari dekat program-program mereka tentang kesenian dan kebudayaan. Meski tak semua bisa dipelajari hanya dalam tiga empat hari, tapi setidaknya punya gambaran tentang tempat mereka berkegiatan, aktivitas seperti apa saja yang dilakukan, bentuk kerja sama seperti apa yang mereka jalin dengan pihak lain, siapa orang-orang yang bisa diundang atau tertarik datang ke sana, seperti apa situasinya ketika kegiatan berlangsung, semangat dan mimpi apa yang ingin mereka sebarkan, dan berbagai hal lainnya. Tentunya, pengalaman saya mengikuti kegiatan di Komunitas Salihara sangat memperkaya.

Akhir kata, saya rekomendasikan saja kalau kau orang yang tinggal di sekitaran Jakarta dan berminat dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, silakan saja cek-cek agenda mereka di websitenya, salihara.org, siapa tahu kau tertarik dan mau bergabung, minimal ikut belajar saat mereka mengadakan workshop atau diskusi yang bersifat terbuka untuk umum.