Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 11: Sedang Membaca “God, Freedom, and Evil”

Orang yang jarang baca biasanya suka pamer kalau sedang membaca satu buku. Contohnya saya yang saat ini sedang membaca buku “God, Freedom, and Evil” atau yang diterjemahkan sebagai “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan.”

Saya malu sebenarnya bilang begini. Tapi apa boleh buat. Saya sudah komit untuk menerbitkan satu tulisan setiap menelan satu kapsul tiap hari.

Berhubung tulisan yang saya rencakan diterbitkan hari ini belum jadi, maka, “ya, sudah, pamerkan saja buku yang sementara kau pegang di tanganmu.”

Saya belum bisa menulis ulasannya karena belum selesai membaca. Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali dibaca karena di mata kuliah etika dulu juga sudah, hanya, ya, saya mesti menerima bahwa ada sesuatu yang bolong mungkin di otak saya sehingga membuat ingatan saya tentang isi buku ini tak begitu bagus. Itulah kenapa saya memutuskan membaca lagi.

Lagipula, terlalu sering membaca berita-berita (kehebohan terkini) dan artikel-artikel yang hanya bombastis di judul, membuat hari-harimu jadi terasa runyam. Berita-berita haboh dan artikel judul bombastis itu hanya membuat penasaran yang menyeretmu klik sana-klik sini, terbenam-tenggelam, lalu kemudian baru kau sadar dan menyesali waktumu terbuang hanya untuk sampah-sampah tak bernilai itu (meski sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menurutkan keinginan mata hanya karena judul yang sengaja dibuat bombastis, ‘5 hal yang belum kau tahu tentang mengikat tali sepatu’ misalnya, atau ‘si kakak bertemu adiknya yang baru pulang sekolah. Begini yang dikatakan di adik, bikin haru‘,  atau ‘kecewa! si dogi menggigit sandal tuannya hingga putus’.  Omg, kalau begitu, lantas kenapa tak dibuat atau digolongkan saja ke dalam cerpen sekalian, atau humor, atau apa kek, yang penting bukan, ah, apa ya, saya juga kurang tahu mestinya di bagian mana.

Kalau macam begini, baiklah kubilang, membaca cerpen-cerpen di koran minggu atau di media-media online atau membaca novel, atau nonton film, sungguh jauh lebih bermanfaat. Terlalu jauh.

Nah, tapi, tidak enak betul hanya baca-baca fiksi. Berasa ada yang kurang kalau lama-lama tak bersentuhan dengan buku non fiksi juga. Meski begitu, tidak semua buku non fiksi memuaskan hati dan pikiran. Hanya buku-buku tertentu yang kalau dibaca, kita seperti menemukan dunia baru yang rasanya berat untuk kita keluar kembali. Yang kalau sudah selesai dibaca, ada semacam kepuasan batin yang tak ternilai harganya yang menetap dan tidak mudah menguap begitu saja. Nah, akhirnya, saya baru dapat perbandingan yang tepat. Membaca berita-berita kekinian yang menghebohkan dan artikel berjudul bombastis itu, abis baca langsung menguap dan lenyap tak berbekas. Beda dengan kalau kau baca cerita (sastra) atau buku-buku non fiksi begini, abis baca pun masih ada bekasnya yang bahkan saat kau tidur, ataupun berdiri, ataupun berjalan, ataupun berlari, ataupun melakukan apa saja, ia masih seakan-akan terus hidup dan bercokol dalam dirimu tak mau keluar-keluar. Ada yang bersifat kekal dari yang kau baca.

Maka inilah salah satu dari sekian buku-buku yang memberi nilai kekal itu. Buku “God, Freedom, and Evil” atau dalam bahasa Indonesianya yaitu “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan“.

Hanya ingat, seperti yang sudah saya bilang di awal, saya belum menulis ulasannya karena masih dalam proses membaca. Meski begitu, saya senang kalau kau juga mau mencarinya dan membacanya. Sejauh ini bagi saya bagus, kok. Kau hanya butuh konsentrasi yang tinggi saat membacanya. Soalnya buku ini banyak memuat silogisme di sana sampai bisa buat kau pusing-pusing untuk menghubungkan😄👌👍💪.

Iklan